Nasip Arsen pun tak jauh beda dari Nevika, dia pun hari ini seolah enggan datang ke tempat yang mereka janjikan, bahkan alam seolah ikut menjadi penghalang keberangkatan Arsen hari ini.
Saat Arsen sedang mengendarai mobilnya menuju lokasi, tiba-tiba mobilnya menjadi oleng, akhirnya dia menepikan mobilnya di bahu jalan raya.
"Aish... kenapa ban mobilku pake acara kempes segala, mana nggak bawa ban cadangan lagi!" Umpat Arsen yang hanya bisa berkacak pinggang sambil menendang ban mobilnya yang sudah kempes.
"Kalau nunggu tukang derek mobil juga pasti lama, nanti kalau aku telat dikira aku manusia nggak bisa on time lagi, atau aku hubungi Nevika aja ya, mereka kan pasti juga lewat jalan ini nantinya."
Arsenio sudah dididik menjadi pribadi yang disiplin sedari kecil, jadi dia selalu tepat waktu dalam segala hal.
"Hallo sayang, kalian dimana?" Arsen tidak punya pilihan lain, karena mencari taksi didaerah itu pun sulit.
"Kami masih dijalan, apa kamu sudah sampai di lokasi?" Tanya Nevika dari balik telponnya.
"Belum, ban mobil aku kempes dijalan ini, mana jauh dari tukang tambal lagi." Ucap Arsenio sambil menghela nafas beratnya.
"Kalau begitu share lokasi aja, biar sekalian berangkat dengan kami." Ucap Nevika yang memberikan solusi, lagipun kalau mereka hanya di mobil bertiga saja suasana jadi terasa canggung menurutnya.
"Okey, nanti biar mobilku diurus bengkel langgananku saja." Jawab Arsen yang kemudian langsung menutup panggilannya telponnya.
Tak butuh waktu yang lama, mobil Bagas akhirnya sudah sampai di lokasi yang Arsen kirimkan.
"Hai sayang, sudah panggil tukang bengkelnya belum?" Sapa Nevika dengan santainya, bahkan dari dalam mobil saja tanpa berniatan untuk keluar dan melihat kondisi kekasih aslinya itu.
"Hmm.. sebentar lagi mereka pasti datang." Ucap Arsen sambil mengamati tempat duduk Nevika yang ada didepan, sedangkan Embun duduk diam dibelakang.
"Ya sudah, gimana kalau kita berangkat sekarang aja." Ucap Nevika yang seolah tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
"Okey, biar aku titipkan kunci mobilku di toko sebelah."
Kebetulan ditepi jalan itu ada sebuah Toko, jadi Arsen menitipkannya disana agar mobilnya bisa diambil oleh Tukang Bengkel langganannya.
"Ayok, langsung masuk mobil aja." Ucap Nevika dengan riangnya.
"Kamu duduk didepan?" Tanya Arsen kembali yang seolah enggan masuk.
"Iya, kamu duduk dibelakang sama Embun nggak papa kan?" Ucap Nevika bahkan dengan senyuman manisnya.
"Tapi--?"
"Itung-itung biar kalian berdua bisa adaptasi dan kenal lebih dekat juga kan." Bagas langsung ikut bersuara disana, karena sudah pasti dia akan mendukung Nevika juga.
"Masuklah, tidak ada gunanya berdebat di pinggir jalan."
Embun langsung membantu membukakan pintu mobil belakang dari dalam, karena dia sudah paham, kalau dua orang di kursi depan itu seolah sudah tidak mau dipisahkan oleh jarak, walau hanya beberapa meter saja.
"Huft... ya sudahlah."
Sebenarnya Arsen masih ingin protes, namun saat melihat Embun terlihat berlapang dada duduk dibelakang dia akhirnya mau masuk juga.
"Mau minum? aku bawa air mineral tadi." Embun menyodorkan satu botol air mineral kepada Arsen.
"Aku memang haus!" Jawab Arsen yang langsung menerima air itu.
"Aku sudah menduganya, karena walau matahari seolah berlindung digelapnya awan, cuaca akan tetap panas karena kedekatan mereka berdua kan?" Bisik Embun sambil mencondongkan kepalanya disamping Arsen, sebenarnya dia juga kesal dengan kelakuan Nevika dan Bagas saat ini.
"Cih... kamu menyindirku atau menyindir diri sendiri?" Jawab Arsen yang ikut berbisik.
"Dua-duanya." Jawabnya cepat.
"Kenapa kamu mau mengalah demi mereka? bahkan rela duduk dibelakang agar mereka bisa duduk berdampingan?" Ucapnya kembali.
"Itu bukan inginku, tapi kemauan mereka berdua, aku hanya malas saja berdebat dengan mereka."
Akhirnya Arsen dan Embun malah saling berbisik sendiri dibelakang sambil melirik kekasih mereka masing-masing dari kursi belakang.
"Kalian berdua ngobrolin apa? kenapa bisik-bisik? apa itu rahasia?" Ucap Bagas sambil melirik ke arah mereka dan hal itu semakin membuat Arsen dan Embun melengos saat mendengarnya.
"Cie... duduknya pun sudah deketan nih, aku rasa kalian berdua juga cocok kok, jadi nggak sia-sia kita berempat melakukan pertukaran pasangan ini." Nevika pun ikut meledek mereka.
"Apaan sih kalian ini."
Sontak Arsen dan juga Embun langsung mengikis jarak dengan menggeser tubuh mereka masing-masing didekat pintu mobil.
"Nggak usah malu, karena setelah ini orang disamping kita adalah pasangan masing-masing, jadi wajar aja kalau duduk berdekatan, bahkan boleh lebih." Celetuk Bagas yang langsung membuat mata Arsen dan Embun kembali mendelik kesal.
"LEBIH?"
Tanya Arsen dan Embun dengan kompak secara bersamaan.
"Woah... kalian cukup kompak juga loh." Ledek Nevika lagi dan lagi.
"Maksud kamu lebih itu yang bagaimana Bagas?" Arsen seolah memperjelas makna dari ucapan Bagas.
"Ya sewajarnya orang pacaran aja, kita sudah sama-sama dewasa, pasti tau ya kan?" Ucap Bagas dengan santainya.
"Kita hanya bertukar pasangan selama satu bulan saja, jadi tidak perlu sampai berhubungan diluar batasan, mengerti kamu!" Tegas Arsen kembali.
"Sudah-sudah, Bagas pasti hanya bercanda tadi, jangan terlalu diambil hati okey?" Nevika langsung membela Bagas.
"Aku pernah berjanji dengan keluarga Nevika untuk menjaganya, jadi jangan rusak kepercayaan dari keluarganya, jadi jaga sikapmu nanti!" Titah Arsen kembali.
"Iya-iya, gitu aja marah, santai aja bro, bukannya kita susah sepakat kemarin?" Bagas langsung tersenyum miring melihat Arsen yang mudah terpancing emosi.
"Sudah cukup, tambah aja kecepatan mobilnya keburu macet nanti." Nevika langsung menengahi perdebatan mereka, karena dia tidak ingin pembahasan ini semakin melebar.
"Sabar Bro, sepertinya kita harus berlatih sabar mulai sekarang." Celetuk Embun sambil berbisik kembali.
"Ckk... menyebalkan sekali!" Umpat Arsen sambil melengos kesal.
Jiwa Arsen memang merasa tertantang dengan ucapan Bagas untuk membuat kekasihnya cemburu, karena selama ini Arsen memang tidak pernah berhubungan dengan wanita lain selain karena urusan Kantor.
Apalagi saat ucapan Bagas seolah meremehkan Arsen, karena dia bilang kalau Nevika saja mau bertukar pasangan dengan dia, tapi kenapa Arsen terus menolak.
Dan disanalah harga diri seorang Arsenio Hernandes terinjak-injak oleh kekasihnya sendiri, padahal selama ini Bagas begitu menyayanginya dan selalu menjaga pandangannya agar tidak melirik wanita lain selain Nevika seorang, namun seolah semua itu terlupakan dan terasa sia-sia.
Ketika hati telah dibuat kecewa, pasrah adalah jalan terbaik. Tak perlu berdebat dengan orang yang nggak pernah mau menghargai kita, nggak pernah mau mengerti diri kita, dan maunya hanya ingin dipahami saja, tapi tak pernah sadar dimana letak kesalahannya.
Diam dan biarkan dia dengan dunianya sendiri, kita cukup tahu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Diank
Sepertinya benar Embun,, sabarlah yang waras ngalah saja toh tidak ada gunanya berdebat
2023-05-31
1
Ghina Novita
lanjut kak iska,makin seru
2023-05-31
0
Anik Trisubekti
Sabar Arsen yang waras ngalah
2023-05-30
1