Hari ini adalah akhir pekan, hari yang paling tidak Embun harapkan dalam hidupnya, padahal biasanya saat weekend seperti ini adalah hari yang paling dia tunggu untuk melepas rasa penat dan lelah setelah bekerja selama sepekan.
Tadi malam dia mendapatkan kabar bahwa permainan pertukaran pasangan mereka sudah disetujui oleh semua pihak.
Padahal dia berharap Arsenio Hernandes berhasil menolak mentah-mentah permintaan Bagas kemarin dan menggagalkan rencana gila ini, namun yang terjadi ternyata diluar ekspetasi, ternyata dia menerimanya.
Ponsel Embun sepagi itu sudah berdering, dan dia tahu betul siapa pemanggilnya, karena dia memberikan nada khusus untuknya.
"Hallo." Jawabnya dengan nada ogah-ogahan.
"Sayang udah bangun belom, kamu nggak lupa kan kalau kita sudah janjian penting berempat hari ini?" Ucap kekasihnya dengan nada suara yang terdengar nyaring di telinga karena dia pasti sangat bahagia dengan keputusan ini.
"Ckk... janjian serah terima pasangan doang, nggak penting! kalau serah terima jabatan baru, keren!" Umpat Embun dengan nada suara pelan, bahkan mungkin tidak terdengar jelas olehnya.
"Ngomong apa sayang, nggak jelas nih, apa kamu belum makan, kok suaranya lemes banget?" Tanya Bagas yang sok perhatian nanyain makan, padahal biasanya Embun yang selalu terhegeh-hegeh datang ke rumah dia untuk memberikan makanan untuknya, namun karena dia tengah bahagia karena akan segera bertukar pasangan jadi dia memberikan perhatian lebih kepada Embun.
"Nggak papa, aku mau mandi dulu, kamu jangan lupa sarapan."
Saat dia menggila seperti itu pun Embun masih terus memperhatikan dia dan mengkhawatirkan dia walau dalam diam.
"Ya sudah, kamu sekarang siap-siap ya, nanti aku jemput." Ucapnya kembali.
"Okey Yank, kalau begitu setengah jam lagi kamu datang ke rumah ya, kita sarapan dulu sebelum berangkat, okey?" Perihal makanan kekasihnya itu memang selalu Embun yang memperhatikannya, bahkan dia sudah seperti ibunya yang tidak ingin melihat putranya sampai kelaparan.
"Nggak bisa sayang, aku mau jemput Nevika dulu, setelah itu baru ke rumahmu, kan rumah kalian sejalan?"
Embun sempat terkejut dan berhasil membuat kedua alisnya terangkat, padahal dia berpikir Arsen kan juga ikut nantinya.
"Emang Nevika nggak dijemput Arsen aja?" Tanya Embun dengan nada yang sudah melemah.
Sesabar-sabarnya Embun saat meladeni segala tingkah gilanya, namun Embun juga manusia biasa, yang bisa merasakan apa itu yang disebut dengan kalimat cemburu.
"Enggak, katanya mau sekalian bareng sama kita aja, soalnya Arsen katanya mau pergi dulu sebentar, ada perlu sedikit pagi ini." Terlihat sekali disana Arsen tetep kekeh ingin menjemput Nevika.
"Emm... ya sudahlah, aku siap-siap dulu." Dan seolah sudah habis kata-kata Embun, atau bahkan karena dia sudah terlalu kesal dengan kekasihnya itu.
"Okey sayang, bye!"
Setelah hampir satu jam, mobil milik Bagas akhirnya memasuki pelataran perumahan yang dia beli sendiri selama dia bekerja di perusahaan yang sekarang.
Tak lama kemudian Bagas turun sendirian, dan Embun sengaja hanya melihat mereka dari teras rumah, tanpa berkeinginan untuk berdiri dan menyambut kedatangan mereka.
"Sayang, udah siap belum?" Ucapnya dengan wajah seolah tanpa beban apalagi merasa berdosa.
"Udah, emang nggak mau duduk dulu?" Tanya Embun, karena biasanya kalau mereka berdua mau berpergian selalu ngobrol dulu di teras, sambil menikmati secangkir kopi.
"Nggak usah, soalnya Nevika nggak mau turun, jadi kita nunggu Arsen ditempat yang aku pesan saja, kan kita bisa sambil jalan-jalan dulu nanti."
Dia seolah lebih mementingkan Nevika sekarang dibanding Embun dan bodohnya Embun hanya bisa tersenyum kesal saat mendengarnya, entah mengapa firasatnya mengatakan Bagas memang sengaja melakukan permainan ini karena tertarik dengan Nevika.
Padahal selama ini Embun selalu memprioritaskan Bagas daripada dirinya sendiri, tentang segala hal, namun kenyatannya dia sama sekali tidak bisa menjaga perasaan Embun sedikit saja.
"Ayok buruan sayang, Nevika sudah menunggu di mobil."
Hati Embun seolah benar-benar hancur saat ini, sebenarnya dia ingin marah, ingin memaki kekasihnya itu habis-habisan, tapi lagi dan lagi, dia tidak pernah bisa marah dengannya, karena Embun selalu saja lemah dihadapannya.
"Okey, aku ambil tas ku dulu."
Dengan dada yang terasa sebak Embun pergi ke meja Dapur terlebih dahulu untuk minum, padahal tadi dia sempat menyiapkan jus buah kesukaan kekasihnya dan juga cemilan, karena dia pikir Bagas mau duduk dulu sebentar, namun kenyataannya jangankan mau masuk ke dalam rumah, bahkan Bagas saja hanya berdiri menunggunya di Teras rumah, seolah ingin segera buru-buru pergi dan tidak ingin meninggalkan Nevika terlalu lama sendirian didalam mobil.
"Ayok kita pergi sekarang." Dia langsung berjalan mendahului saat Embun baru mengunci pintu rumahnya.
"Hmm." Dengan langkah lunglai Embun berjalan menuju mobil, bahkan tanpa digandeng, seolah dia menjaga perasaan wanita yang berada dimobilnya, padahal Embun lah kekasihnya.
"Sayang, kamu duduk di belakang aja ya, daripada Nevika harus pindah?" Ucap Bagas dengan santainya.
Ingin sekali Embun menjerit dan mengamuk saat ini, apa susahnya Nevika pindah kursi ke belakang, padahal disini Embun lah kekasih Bagas yang sesungguhnya, tapi kenapa seolah Embun yang menjadi pihak ketiga diantara mereka.
"Apa drama ini sudah dimulai sekarang?" Tanya Embun dengan nada sinis, karena dia sungguh tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa itu dengannya.
"Emm... belum sih, kenapa? Kamu nggak marah kan?"
Bahkan dia masih bisa bertanya, padahal sudah pasti Embun marah, tapi Embun mengambil jalan tengahnya saja, daripada harus ribut-ribut didepan rumah malu sama tetangga, jadi Embun memilih mengalah saja.
"Nggak." Jawab Embun dengan cepat, bahkan Bagas tidak membukakan pintu mobil untuk Embun.
Sebenarnya Embun tidak berharap banyak dalam hubungannya, karena dia terbiasa mandiri sejak dulu, namun apa susahnya memperlakukan seorang kekasih dengan istimewa, apalagi dia akan ditukar, seolah Embun ini tidak berharga sama sekali didalam hidupnya.
Brak!
Dengan tampang kesalnya, Embun sengaja membanting pintu mobil itu saat menutupnya, bahkan membuat mereka berdua kaget dan langsung menoleh ke belakang.
"Kenapa sayang, kamu marah? mau pindah ke depan?" Tanya Bagas dengan wajah yang sulit diartikan.
"Nggak perlu, pintunya agak susah tadi, atau mungkin aku terlalu kuat menariknya, karena terlalu kenyang." Jawab Embun sedikit berbohong.
Dia memang terlalu kenyang, tapi kenyang dengan kenyataan pahit dan rasa sakit hati yang berhasil Bagas torehkan.
"Owh begitu, okey kita berangkat ya!"
Bagas bahkan bisa tersenyum manis saat menatap Nevika padahal Embun begitu terluka dan kecewa karenanya.
Akan lebih mudah untuk memaafkan orang biasa, daripada memaafkan luka yang diberi oleh orang tercinta.
Dan cukup kalian tahu, seseorang yang mencintaimu tidak akan pernah menempatkan diri dalam posisi untuk kehilanganmu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Eni Istiarsi
gemes!!!...selama ini micin masih menduduki peringkat pertama yang diblaming sebagai penyebab kebodohan. ternyata sebentar lagi posisinya bakal tergeser oleh cinta!!! 🙄
2023-06-05
0
Yofa Meisya
embun jangan terlalu bodoh dong......hempaskan Bagas, aku berada di garda terdepan buat dukung kamu
2023-05-31
2
Diank
Aihhhh... lelah menghadapi kekasih seperti itu, cukup sebagai bukti tidak ada yang perlu dipertahankan lagi tinggalkan adalah pilihan terbaik
2023-05-31
1