17.Tersulut Emosi.

Takkan ada kata bahagia bila tak ada kata sedih, jadi kebahagiaan akan lebih terasa, apabila kita pernah merasakan kesedihan.

Namun Embun hanyalah manusia biasa, yang tidak sekuat kekasih Allah yang tetap tersenyum walau setelah diludahi.

Hanya dengan melihat foto Bagas dan Nevika saling menabrakkan bibir mereka saja hatinya seolah sudah tersayat-sayat oleh sembilu tajam.

Namun dia mencoba mengambil sisi positifnya saja, bahwa saat dia merasakan sakit, ingatlah.. mungkin itu pertanda bahwa dosa-dosa kita akan semakin berkurang.

"Ini surat izinmu, ayo aku antar pulang." Arsen menyerahkan selembar kertas saat dia menemui Embun di Loby Kantor.

"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri kok, lagian kamu juga harus bekerja kan, aku akan baik-baik saja, terima kasih sudah membantuku." Ucap Embun yang merasa tidak enak hati.

"Emm... Embun, kalau mereka saja sudah berani berbuat seperti itu, kenapa kita tidak ikut mencobanya?" Ucap Arsen yang membuat Embun terkejut dan langsung tersedak dengan ludahnya sendiri.

"Uhuk.. uhuk.. maksud kamu gimana, kita berci-- emm.. berciuman gitu?" Seolah Embun tidak sanggup untuk mengucapkannya, namun dia penasaran juga.

"Eherm... maksud aku belum sejauh itu juga, kita bisa berkenalan lebih dekat lagi, saling mengenal lebih jauh lagi, soalnya aku tidak tahu apa-apa tentang kamu." Jelas Arsen yang juga masih terasa kaku jika sudah menyangkut soal wanita baru baginya.

"Owh... kirain?" Embun kembali tersenyum canggung karenanya.

"Atau kamu ingin mencoba berciuman juga denganku?" Celetuk Arsen yang hanya menduga saja.

"Ahaha.. bukan! bukan begitu maksudku tadi." Embun semakin grogi jadinya, bahkan dia jadi tidak sanggup melihat wajah Arsen yang sedari tadi terus menatapnya.

"Luka itu tidak akan sembuh jika kita terus meratapinya, jadi bukannya lebih baik kita juga memerankan peran kita sebagai pasangan kekasih?" Arsen cukup tersulut emosi dengan kejadian hari ini, jadi dia pun ingin melakukan hal yang sama dengan Nevika.

"Emm... gimana ya?" Embun pun masih terlihat ragu tentang hal itu.

"Kita tunjukkan kepada mereka, bukan hanya mereka saja yang bisa mengumbar kemesraan, kita pun bisa, bahkan bisa lebih romantis dari mereka!" Ucap Arsen dengan sorot mata kebencian darinya.

"Apa ini termasuk ajang balas dendam kita?" Tanya Embun, karena ternyata bukan hanya dia yang tersakiti.

"Terserah saja apa tanggapan orang lain tentang kita, kalau mereka tega, kenapa kita tidak, emang kamu mau melihat mereka bersenang-senang terus diatas penderitaan kita?" Jiwa kelaki-lakiannya seolah tertantang saat ini.

"Enggak juga sih?"

"Jangan sampai mereka tahu kalau kamu lemah Embun, nanti mereka akan meremehkan kita." Arsen seolah menyalurkan kekuatan dari dirinya kepada Embun walau sebenarnya tidak seberapa.

"Iya juga ya?"

"Gimana, apa mulai hari ini kita berkencan saja?" Ucap Arsen yang langsung to the point saja.

"Berkencan?"

"Emm... sebenarnya aku tidak begitu tahu caranya berkencan romantis dengan seorang wanita, mungkin juga karena itu Nevika semangat sekali saat ingin bertukar pasangan." Arsen pun menyadari bagaimana dirinya.

"Aku pun sama, mungkin aku terlalu banyak bekerja, sehingga Bagas merasa jenuh dengan hubungan kami." Begitupun Embun yang selalu berusaha mengkoreksi diri sendiri.

"Kita memang senasip, apalagi pekerjaan kita sama, selalu saja harus lembur untuk kejar deadline bukan?"

"Iya, malang sekali nasip kita kan?"

"Sudahlah, jangan terlalu bersedih, karena itu tidak baik, mungkin kita bisa bergandengan tangan untuk melewati hal ini?" Ucap Arsen kembali.

"Nggak bisa juga, bukannya kamu harus kerja?" Jawab Embun dengan sedikit senyuman.

"Siapa bilang, aku sudah mengambil cuti tahunan kita, walau harus berdebat dengan atasan, tapi akhirnya berhasil juga, kita bisa mengambil cuti bersama selama dua hari."

"Hah, benarkah? emang boleh kita cuti barengan?" Tanya Embun yang seolah tidak percaya.

"Kita beda Divisi dan ada wakil KaBag juga kan, mereka bisa menggantikan pekerjaan kita selama dua hari." Jelas Arsen yang punya rencana dadakan tadi.

"Aku sampai tak tahu harus mengucapkan terima kasih kepadamu dengan cara apa lagi Arsen."

"Cukup mencoba seperti mereka, dengan cara dan versi kita sendiri, gimana?"

"Deal."

"Kalau begitu kita pulang bareng yuk?"

"Mobil aku gimana dong?"

"Emm... kalau begitu boleh aku mengantarmu sampai rumah? nanti biar mobilku dibawa oleh wakilku, aku takut kamu nggak konsentrasi menyetir, pikiran kamu sepertinya terlihat kacau."

"Baiklah."

Embun pun menyetujuinya, karena memang pikirannya sangat kalut hari ini, dia takut tidak bisa konsentrasi menyetir nantinya.

Setelah menghabiskan waktu hampir dua puluh menit, mobil Embun sudah memasuki pelataran perumahan miliknya.

"Ini rumahmu?" Tanya Arsen sambil mengamati rumah minimalis namun sangat terlihat asri dan sejuk dipandang mata, karena Embun menanam banyak bunga di pelataran rumahnya, walau tidak begitu lebar tapi terlihat sangat indah menurutnya.

"Hmm... ayo masuk, kita ngobrol didalam saja." Ajak Embun setelah membuka pintu rumahnya.

"Kok sepi, kamu tinggal sendirian di perumahan ini?"

"Iya, aku sengaja beli perumahan disini, agar tidak terlalu jauh saat pergi ke Kantor, rumah keluargaku juga di kota ini, tapi di ujung kota sana, jadi butuh waktu dua jam bahkan lebih kalau jalanan macet."

"Kamu mandiri juga ternyata." Arsen langsung kagum dengan Embun.

"Mungkin karena keadaan juga yang menuntut, owh ya.. mau minum apa?" Jawab Embun yang selalu merendah.

"Apa aja, air putih pun boleh, tapi yang dingin ya, soalnya panas banget diluar." Pinta Arsen.

"Kalau kita habis kena panas yang ekstrim, seharusnya jangan minum-minuman yang dingin, kalau tubuh kita nggak fit bisa bahaya loh, aliran darah kita bisa membeku dan bisa sampai pingsan juga, jadi lebih baik aku buatin teh hangat dulu, nanti kalau suhu tubuh kita sudah normal aku buatin es jus, okey?"

"Kamu perhatian sekali, Bagas pasti beruntung punya kekasih seperti kamu." Arsen langsung terkesima melihat Embun yang begitu memperhatikan tentang kesehatannya.

"Nggak juga, kenyataannya dia orang yang paling semangat dalam permainan pertukaran pasangan ini, bahkan mungkin dia pelopor utamanya."

"Ahehe... mungkin dia pria tak tahu diuntung, yang kurang bersyukur."

"Sudahlah, jangan bahas mereka dulu, aku lemes kalau ingat mereka."

"Maaf, sebenarnya aku pun kesal saat mengingatnya."

"Ini teh hangatnya, minum dulu." Embun meletakkan teh hangat itu dihadapan Arsen.

"Okey, maaf merepotkanmu."

"Enggak papa kok,... ehh--"

Grep!

Saat Embun ingin kembali ke Dapur, kakinya tersandung karpet ruang tamu miliknya, dan Arsen yang berada tepat dibelakangnya langsung menangkap tubuhnya agar tidak jatuh terkena meja ruang tamu.

Cup!

Tanpa sadar bibiir mereka saling bertemu saat Embun menoleh kearah wajah Arsen, bahkan deru nafas Embun begitu terasa menyapu area wajahnya, karena saat ini Embun berada didalam pangkuan seorang Arsenio Hernandes.

Terpopuler

Comments

fitriyana

fitriyana

ahahaha arsen &embun dpt rejeki nomplok kie

2023-06-23

0

Yofa Meisya

Yofa Meisya

ayo balas mereka..... semangat 💪💪

2023-05-31

1

Diank

Diank

hahaha 😂 rejeki memang ga ketuker

2023-05-31

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!