Siang ini Bagas terlihat bersemangat sekali saat bekerja, karena saat jam makan siang nanti dia berencana untuk mempertemukan Embun dengan Nevika di Kantin Kantor, untuk membahas rencana gila mereka dalam satu bulan ke depan.
"Sayang." Begitu jam makan siang tiba, Bagas langsung datang ke meja kerjanya milik Embun.
"Hmm." Baru kali ini Embun merasa tidak semangat saat didatangi oleh kekasihnya, karena dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Bagas nantinya.
"Ayo kita ke Kantin yank, Nevika sudah menunggu kita." Ucapnya dengan senyum yang sedari tadi dia pamerkan.
"Kamu dulu aja, nanti aku menyusul." Jawab Embun dengan ogah-ogahan, hati nalurinya sebenarnya tetap menolak keras ide pertukaran pasangan ini.
"Kita bareng aja, udah jam makan siang ini, kamu kan juga harus makan?" Ucap Bagas yang sok perhatian.
"Masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Embun yang sebenarnya hanya mencari alasan saja.
"Nanti lagi kan bisa, jam kerja juga masih panjang, ayo buruan!" Bagas langsung saja menutup laptop kerja Embun dengan paksa, kalau dia sudah berkehendak memang seolah pantang untuk bilang nanti.
"Astaga, ya sudah kalian saja yang bicara, pokoknya terserah kalian aja mau gimana." Embun sudah pasrah saja menerima keputusan dari mereka.
"Embun, kamu kenapa? tinggal duduk manis aja apa susahnya, si Arsen juga ada nanti disana." Bujuk Bagas kembali, dia sudah menyuruh Nevika mengajak kekasihnya juga nanti dalam pertemuan mereka.
"Aku tidak terlalu mengenalnya." Jawab Embun dengan jujur, karena dia hanya tahu saja, bahkan seolah enggan juga berurusan dengan dia dalam pekerjaan Kantor.
"Maka dari itu kamu sekarang ikut, biar kalian bisa kenal lebih dekat!" Pinta Bagas kembali.
"Ckk... kalau begitu aku ke kamar mandi saja dulu." Dia malas sekali sebenarnya.
"Ngapain, nggak usah dandan, si Arsen itu biasa aja orangnya, nggak ada istimewa-istimewanya, jadi tidak perlu heboh saat menyambutnya." Celoteh Bagas yang seolah merasa tidak terima.
"Aish." Embun hanya bisa mengeluh dalam diam saja dan mau tidak mau tetap harus mengikuti langkah Bagas, karena dia sudah menarik lengannya menuju Kantin Kantor.
"Hai Nevika?" Sapa Bagas yang langsung sumringah saat masih berjalan mendekat ke arah mejanya.
"Owh Hai Bagas, hai Embun?" Sapa Nevika dengan gaya centilnya.
"Hmm." Namun Embun hanya menggumam saja, dia memilih langsung duduk dalam diam saja dan membuang arah pandangannya ke sembarang arah.
"Mana kekasihmu Nev, apa dia masih ada pekerjaan?" Bahkan Bagas langsung duduk di samping Nevika, sedangkan Embun duduk dihadapan mereka berdua, padahal permainan ini belum juga dimulai, namun Bagas seolah sudah tidak sabar ingin memainkan perannya.
"Itu dia masalahnya, Arsen belum setuju, dia susah sekali dibujuk, aku tidak tahu harus bicara apa lagi dengannya?"
Dan orang yang paling bahagia saat mendengar ocehan Nevika tak lain dan tak bukan sudah pasti Embun lah orangnya, dia bahkan menutupi mulutnya dengan satu tangannya karena sedang tersenyum saat ini.
Walaupun Embun tidak begitu mengenal sosok Arsen, tapi dia sering mendengar keluhan dari orang-orang bawahannya, tentang bagaimana kerasnya sifat seorang Arsenio Hernandes, jadi sudah pasti akan sulit membujuknya untuk mengikuti permainan gila seperti ini.
"Bujuk lagi dong Nev, kamu sudah bilang kan permainan ini hanya satu bulan saja?" Ucap Bagas yang seolah merasa kecewa dengan Nevika karena semua tidak berjalan lancar sesuai dengan apa yang Bagas harapkan.
"Sudah, tapi dia tetap bersikeras menolaknya!" Jawab Nevika yang seolah sudah prustasi mencobanya.
"Ckk... dimana dia sekarang?" Tanya Bagas dengan sok jantan.
"Masih di meja kerjanya, dia bahkan tidak memperdulikan ajakanku tadi, seolah dia pura-pura tidak mendengar ucapanku." Keluh Nevika kembali.
"Aish... keras kepala sekali dia, orang nyebelin seperti dia itu kenapa kamu pacarin!" Bagas langsung kembali bangkit berdiri.
"Hei... kamu mau kemana Bagas?" Tanya Nevika yang langsung terlihat khawatir.
"Aku mau menemui kekasihmu itu." Celetuk Bagas sambil merapikan pakaiannya, didepan saingan dia harus terlihat sempurna pikirnya.
"Ngapain?" Tanya Nevika kembali.
"Biar aku yang berbicara langsung dengan dia!" Bagas seolab nekad demi bisa menjalankan misinya.
"Jangan, nanti kalian bertengkar!" Nevika langsung mencegahnya.
"Tidak, aku akan mencoba bicara baik-baik dan membuat kesepakatan dengan dia." Ucapnya dengan senyum penuh makna.
"Apa kamu yakin?" Nevika yang malah merasa takut kali ini.
"Kamu tenang saja, kalian berdua tetap disini, biar aku yang menemui Arsen si keras kepala itu."
"Aku ikut saja kalau begitu!" Nevika tidak mau ambil resiko dari akibatnya nanti.
"Nggak usah, kamu ngobrol aja dengan Embun disini." Pinta Bagas.
"Nggak mau, nanti kalian berdua malah berantem di Kantor lagi, bisa kena SP nanti kita semua." Ujar Nevika yang langsung meminum air putih banyak-banyak, agar tenggorokannya tidak kering, karena pasti akan ada perdebatan setelah ini nantinya.
"Sayang, kamu mau ikut sekalian nggak?" Ucap Bagas kepada Embun yang terlihat tenang sedari tadi.
Dan Embun hanya menggelengkan kepalanya saja, tanpa mau perduli dengan perdebatan mereka, jika ada orang yang mendoakan perseteruan dari mereka, Embun lah salah satu orangnya, apalagi jika permainan gila ini akan gagal, dia pasti orang yang pertama kali akan bersorak gembira.
"Ikut saja Embun, kita sekalian ngobrol di ruangan kekasihku nanti." Ajak Nevika.
"Tidak perlu, lakukan saja apa yang kalian mau, aku tidak perduli." Celetuk Embun tanpa mau melihat ke arah mereka.
"Embun, bukannya kita sudah sepakat tadi, kenapa kamu terlihat marah? apa kamu ingin menelusuri jejak Arsen juga?" Bagas langsung menatap jengah ke arah kekasihnya.
"Tidak juga, aku tunggu disini saja, lagipun kalau aku ikut kesana, pendapatku pun tidak akan pernah kalian dengarkan bukan, so... for what?" Ucap Embun dengan santainya, padahal hatinya sudah gundah gulana.
"Ya sudahlah, gimana enaknya kamu ajalah yank, jangan kemana-mana tunggu informasi dari kami okey?" Bagas langsung mengacak rambut Embun dengan sekilas, sebelum tangan Bagas berpindah ke tangan Nevika untuk menggandengnya.
Dan hal itu membuat Embun tersenyum kecut, bahkan dia langsung mengusap kasar rambutnya, seolah merasa kesal dengan perlakuan Bagas yang selalu menjadikan dia boneka hidup, walau pernah menjadi kesayangannya.
"Ya Tuhan, apapun Takdirmu terhadapku, aku hanya berharap, tabahkanlah hati hambamu dalam menghadapi kelakuan kekasih hambamu, jika aku boleh meminta, semoga mereka segera menemukan hidayah dari-MU, amin."
Tidak ada tempat yang paling nyaman untuk meminta selain kepada Sang Pencipta, karena DIA lah yang maha melihat dan maha mengetahui, apa yang akan terjadi kedepannya.
Semua Takdir kita sudah tertulis, sebagai makhluk-NYA kita hanya mampu berdoa dan berusaha, selebihnya serahkan saja kepada yang Maha Kuasa, karena dia yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.
*Sabar*...
*Hanya itu yang bisa aku katakan berkali-kali kepada diriku sendiri disaat aku sedang sedih dan sendiri. Saat harapku satu persatu mulai hilang dan saat aku merasa tersakiti. Karena aku tahu, hidup ini bukan sesuai dengan inginku, namun hidupku berjalan sesuai dengan kehendak-NYA, karena aku juga tahu, tak selamanya hidup itu harus merasa bahagia, ada kalanya dimana aku harus bersedih, agar aku tahu caranya bersyukur. Sebab Cinta Allah begitu besar dan luas, pertolongannya selalu dekat, jika aku bisa bersabar dan aku selalu percaya jika Allah itu Maha Baik*.
(*Rintihan hati Embun*)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Nenti iis Fatimah
diih emang pada egois si Bagas sama nevika mau diputusin sayang di pertahankan gak mau ya gitu deh jadinya
2023-10-16
0
Yofa Meisya
em.....kalau bukan di dunia halu, pasti lebih baik minta putus, gitu aja kok repot
2023-05-31
1
Diank
Cobaan itu datang untuk menguji kesabaranmu karena hanya kepada Nya tempat kita memohon pertolongan, semoga saja kesabaran Embun membuahkan hasil
2023-05-31
1