9.Menyerah.

Akhir pekan ini Embun benar-benar sudah seperti orang yang sedang putus cinta, pasalnya Bagas seolah sudah mengabaikan dirinya.

Bagas susah sekali dihubungi, bahkan saat Embun mengirimkan chat, hanya dibaca saja oleh Bagas, tanpa mau dibalasnya.

"Aku nggak mau digantung seperti ini, aku harus meminta penjelasan darinya."

Setelah seharian dia hanya membusuk diatas ranjang miliknya, tiba-tiba dia bergegas menuju kedalam kamar mandi dan ingin segera menemui Bagas.

Dan saat Embun sudah sampai didepan pintu rumah milik Bagas, dia hanya menatap pintu itu saja tanpa mau mengetuknya.

Bayangan-bayangan indah tentang mereka berdua di rumah itu seolah datang silih berganti, membuat kedua matanya kembali memerah dan air matanya seolah sudah menggenang di pelupuk mata.

Embun seolah belum rela jika keputusan yang akan dia dapatkan nanti adalah sebuah perpisahanan, walau itu belum pasti.

Ceklek!

Tiba-tiba pintu itu terbuka sendiri, bahkan sebelum Embun berniat untuk masuk.

"Nak Embun, apa kabar? sudah lama nggak main ke rumah? mau nyari Bagas ya? kebetulan kamu datang, tolong bangunin dia, mentang-mentang weekend apa, dia mau molor seharian."

Mama Bagas langsung menyambut kedatangan Embun dengan celotehan panjang lebar tentang putra kesayangannya.

"Iya Ma, emang Mama mau kemana?" Setelah Embun mengusap kedua matanya dengan cepat, Embun langsung menampilkan senyuman manis untuk menutupi lukanya.

"Mama ada acara arisan keluarga, nanti tolong kamu suruh Bagas makan juga ya, soalnya Mama harus pergi sekarang takut telat karena bawa mobil sendiri." Ucap Mama Bagas yang kelihatan sibuk dengan tas miliknya.

"Loh... nggak dianterin Papa?" Tanya Embun yang juga mengenal baik dengan Ayah Bagas.

"Papanya Bagas lagi istirahat, dia nggak enak badan dari kemarin, kalau nyuruh si Bagas mana mau dia ikut acara begituan." Mama Bagas tahu betul bagaimana kelakuan putranya, dia paling tidak suka menemani ibu-ibu yang menurutnya hanya ngerumpi, buang-buang waktu saja dan pasti lebih suka nongkrong dengan geng nya sendiri.

"Baik Ma." Jawab Embun dengan senyuman sendu nya.

"Mama pergi dulu ya, baik-baik kalian di rumah." Dia mengulurkan tangannya kepada Embun.

"Iya Ma, hati-hati dijalan."

Embun langsung menyambut dan menyalami tangan Mama Bagas.

Yang membuat hubungan Embun dan Bagas juga bertahan lama, tak lain dan tak bukan karena Mama Bagas juga selalu bersikap sangat baik dengan dirinya bahkan seperti sudah menggangap sebagai anak mantunya.

Saat Embun mulai melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Bagas, dia kembali menitikkan air matanya saat melihat Bagas tidur di sofa ruang tengah miliknya.

Wajahnya yang tenang saat tertidur membuat Embun kembali meneteskan air matanya yang seolah tidak mau berhenti mengalir sedari tadi.

"Ya Tuhan, aku sangat menyayangi pria ini, namun jika Takdirmu berkata lain, tolong curahkanlah kebahagiaan untuk kami berdua, dengan siapapun kami berjodoh, aku harap semua adalah yang terbaik untuk aku dan Bagas, amin."

Embun berjalan mendekat kearah sofa dan berjongkok didepan tubuh Bagas, sambil mengusap wajah tampan kekasihnya itu.

Entah mengapa, walau belum ada penjelasan yang pasti dari Bagas untuk hubungan mereka kedepannya, namun firasat Embun seolah mengatakan akan ada jarak diantara mereka berdua.

"Sayang?" Embun menepuk lembut pipi Bagas setelah cukup lama dia mengamati wajah kekasihnya yang masih memejamkan kedua matanya itu.

"Hmm." Jawab Bagas yang hanya mengeliat saja, namun kedua matanya seolah masih sulit untuk terbuka.

"Kangen yank." Bisik Embun disamping telinga Bagas, baru sehari saja dia tidak melihat dan berinteraksi dengan Bagas, rasa rindunya seolah sudah sangat menggebu.

"Heh?" Bagas langsung membuka kedua matanya saat mendengar kata 'kangen', dia baru menyadarinya jika itu pasti Embun.

"Kamu jahat banget, nggak mau angkat telponku, chat pun hanya dibaca doang, kamu kira aku koran apa?" Ucap Embun dengan manjanya, dia mencoba menyembunyikan kesedihan didalam hatinya.

"Siapa suruh kamu nggak mau ngabulin permintaan aku?" Ucap Bagas tanpa merasa bersalah sama sekali.

"Kenapa sih kita harus bertukar pasangan?" Embun seolah belum puas dengan alasan yang diberikan oleh Bagas.

"Aku nggak mau mengulang untuk yang kedua kalinya, aku rasa ucapanku kemarin sudah sangat jelas kan?" Tegas Bagas kembali.

"Apa itu harus?" Embun memijit lengan Bagas perlahan, masih dengan posisi jongkok dihadapannya.

"Harus." Jawab Bagas dengan cepat.

"Harus banget gitu?" Embun masih berusaha di titik-titik terakhir.

"Kita coba aja dulu yank, apa susahnya sih, si Arsen itu juga nggak jelek-jelek amat kan, nggak malu-maluin banget dijadikan pasangan, walau memang lebih tampan kekasihmu ini sih." Dia kembali merayu Embun dengan segala cara.

"Pede kok pake banget." Rasa lelah membujuk tiba-tiba muncul dari diri Embun, daripada Bagas menggangapnya sebagai musuh, lebih baik dia menyerah saja.

"Hehe... mau ya sayang? Sebulan aja kok, nggak akan lama, bisa melatih kesabaran kita juga kan?" Bujuk Bagas sambil mengusap-usap lengan Embun yang sudah menundukkan kepalanya dengan wajah lesu.

"Ya sudahlah."

Dengan berat hati Embun memilih mengiyakan saja, walau hatinya benar-benar kalut saat itu.

Tapi dia mengingat kata-kata dari sahabatnya, untuk tidak terlalu menggantungkan perasaannya terhadap seseorang, yang sudah tunangan aja bisa pisah, apalagi yang masih pacaran.

Embun sudah memasrahkan saja semuanya kepada sang Pencipta Alam semesta, jika memang Bagas adalah jodohnya, pasti akan ada jalan menuju Halal dengannya.

"Yes... makasih sayang, sini aku peluk!"

Bagas langsung menarik tubuh Embun kedalam pangkuannya dan langsung memeluknya dengan gemas serta menghujani kecupan diseluruh wajah Embun, seperti sedang memeluk boneka hidup.

"Sebahagia itu kamu mau barter pacar, apa kamu sebegitu sukanya dengan Nevika?"

Tak ada guratan senyuman sedikitpun diwajah Embun, dia bahkan menahan rasa sesak didada.

"Ya enggak juga Yank, aku cuma mau kita banyak belajar dari pasangan lain saja, agar kedepannya kita bisa lebih tahu banyak tentang memperlakukan pasangan ketika mood kita berubah-ubah, ya kan?"

"Kirain karena kamu juga suka sama Nevika." Sindir Embun dengan lirikan mata kesalnya.

"Aku tetap lebih suka denganmu, buktinya dulu aku tetap memilihmu, padahal aku sudah berteman lama dengan Nevika, pokoknya kita nikmati saja masa-masa itu sayang, kita cari sensasi baru selama satu bulan dengan pasangan baru juga, okey?" Entah alasan apa-apa yang dia ucapkan, yang penting misinya berhasil.

"Terserah kamu sajalah, mau bilang nggak mau juga kamu maksa!" Umpat Embun kembali.

"Nanti setelah kita berpisah selama satu bulan, kita bisa kangen-kangenan lagi seperti sekarang, okey?"

"TERSERAH." Hanya kata itu yang kembali muncul dari mulut Embun, karena mau seperti apapun usahanya untuk menolak, tetap Bagas lah pemenangnya.

"Okey, kalau begitu senyum dong, jangan cemberut aja, nanti cantiknya ilang loh." Ledek Bagas yang kegirangan, seolah dia menang lotre hari ini.

Sedangkan Embun hanya terus menghela nafas nya dengan berat, saat Bagas memeluk dan menciumnya dengan gemas sebagai tanda terima kasih karena Embun telah menyetujui ide gilanya, walau secara tidak langsung.

Terpopuler

Comments

Yani Cuhayanih

Yani Cuhayanih

Aneh bin abnormal tuker pasangan emang nya cobek bisa tukeran sama ulekan....

2023-06-17

0

Yofa Meisya

Yofa Meisya

Bagas kamu itu g tau malu....awas aja ntar kamu bakal merasa kehilangan embun....aku pastikan itu

2023-05-31

1

Diank

Diank

Sudah ikuti saja permainannya dan nanti juga ada yang kena batunya si Bagas dan menyesali perbuatannya sendiri

2023-05-31

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!