Dalam beberapa hari ini Embun mati-matian kerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan miliknya dan juga laporan kerja milik Bagas sang kekasih hati.
Walau kantung matanya terlihat sedikit menebal, bahkan kepalanya terasa berputar-putar karena selalu menatap layar komputernya siang dan malam, namun dia masih bisa tersenyum.
"Fuh... akhirnya kelar juga pekerjaan gue, baru beberapa hari tidak melihat dunia luar rasanya sudah kayak setahun berkarat di meja Kantor." Embun menaikkan kedua tangannya ke udara sebagai tanda kemerdekaan dari pekerjaannya.
"Udah kelar deadline kamu Mbun-Mbun?" Tanya rekan kerjanya yang sebenarnya kasihan juga melihatnya, mau membantu namun pekerjaannya sendiri juga menumpuk.
"Udah nih, kedua mataku sampai panas ini, semoga saja minus mataku tidak bertambah." Ucap Embun yang langsung melepas kaca matanya dan menyandarkan tubuhnya di bahu kursi.
"Haha... ya sudah, akhir pekan ini bisa kencan kamu, nanti kelamaan dianggurin cowok kamu kecantol Purel dijalanan lagi." Ledek rekan kerjanya sambil terkekeh.
"Ckk... doa nya itu loh, jelek banget! nggak bakalan lah, aku banyak kerja lembur juga demi dia, masak iya dia tega selingkuh dariku?" Jawab Embun sambil melengos, sedari dulu dia menaruh kepercayaan yang lebih kepada Bagas.
"Jantan jaman sekarang ngeri-ngeri Bestie, lama nggak dibelai langsung deh kegatalan kalau lihat Betina lewat." Rekan Embun yang satu itu memang kalau bicara suka ceplas-ceplos tanpa rem.
"Aku yakin Bagas bukan seperti itu orangnya, hubungan kami sudah cukup lama terjalin, masak iya dia rela melepas burung cenderawasih demi kupu-kupu malam?" Celetuk Embun dengan rasa percaya dirinya yang melambung, karena memang dia sudah banyak berkorban waktu demi kekasih hatinya itu.
"Heleh... ingat Mbun-Mbun, yakin itu hanya kepada Alloh, bukan dengan kekasihmu itu." Jawab rekan Embun tak mau kalah.
"Hehe... kalau itu bener juga sih." Embun menggaruk kepalanya sendiri, sedari kemarin dia jarang bisa bersenda gurau karena terlalu banyak kerjaan.
"Ya udah pulang sono, jangan lupa perawatan wajah, kantung matamu itu sudah seperti kantong ajaib milik Doraemon!" Ejeknya kembali.
"Siapa tahu bisa keluar duit ya kan, hehe!"
"Halu kamu!"
"Ya sudah, aku pulang duluan ya Tie bestie, mau kencan sambil pulang kerja!" Jawab Embun dengan girang.
"Jangan lupa cas full Bes, biar nggak kabur okey!" Ledeknya tanpa sensor.
"Sembarangan aja kalau ngomong, BYE!"
Embun langsung melempar gulungan kertas ke arah meja rekannya karena sedari tadi asyik membuli dirinya dan kekasihnya saja.
Saat dia keluar dari ruangannya, dia sudah melihat Bagas berdiri di pojokan ruangan sambil bersenda gurau dengan rekan kerjanya.
"Sayang." Teriak Embun sambil melambaikan tangan kearahnya.
"Hmm." Entah mengapa senyumnya langsung surut saat Embun datang menyapanya.
"Kita pulang bareng ya, aku sudah belikan makanan buat kamu, nanti kita makan di taman biasa." Namun Embun masih tetap tersenyum dengan manisnya.
"Okey, sampai jumpa disana." Jawab Bagas sambil menaikkan kedua alisnya.
"Nggak mau bareng aja ke Tamannya Yank?" Embun terlihat sedikit kecewa atas tanggapan dari kekasihnya itu.
"Kita kan bawa kendaraan sendiri-sendiri?" Ucap Bagas dengan wajah datarnya.
"Atau mobilku aku tinggal di Kantor saja, kita pakai mobilmu, gimana?" Embun sudah sangat rindu ingin berduaan dengan kekasihnya itu, namun malah begini reaksinya.
"Nggak usah, pakai mobil sendiri-sendiri aja." Jawabnya lagi, karena ada hal yang dia ingin lakukan tanpa sepengetahuan dari Embun.
"Kenapa sih sayang, kamu masih ngambek karena aku sibuk kerja, tapi semua ini aku lakukan demi kamu juga, tapi sekarang kerjaanku udah kelar kok sayang, kita bisa keluar jalan-jalan lagi menikmati indahnya sore sampai malam berdua saja, okey?" Embun langsung memeluk lengan Bagas dengan manja.
"Emm... aku emang pengen ngomong sesuatu sama kamu, tapi nggak bisa lama-lama karena setelahnya aku harus pergi nganterin Mama."
"Pergi kemana? besok weekend loh Yank, kamu nggak mau ngabisin waktu sama aku?" Rengek Embun kembali.
"Lain kali saja, aku kemasi barang-barangku dulu, kamu pergi duluan aja ke Taman, nanti aku menyusul." Bagas langsung melepas pelukan dari Embun terlebih dahulu.
"Tapi Yank?" Sesungguhnya Embun merasa sangat keberatan.
"Sudahlah, jangan melawan okey!"
Bagas langsung mengacak rambut milik Embun kemudian melenggang pergi meninggalkan dirinya yang masih mematung ditempat.
"Salahku apa sih? kenapa dia jadi beda sekarang?"
Embun hanya bisa menghela nafasnya dengan kesal, bukan begini yang dia bayangkan setelah dia menyelesaikan pekerjaannya.
Dia berharap kekasihnya itu berwajah sumringah saat mendengar bahwa pekerjaannya sudah selesai dan mungkin mau mengajaknya liburan romantis, tapi ternyata realita tidak seindah apa yang dia bayangkan.
Seperti rutinitas sebelumnya, saat hari terakhir kerja dalam seminggu mereka berdua memang sering membeli makanan dan cemilan lalu dibawa ke Taman kota untuk sekedar ngobrol dan melepas lelah berdua sambil menikmati pemandangan sore disana.
"Akhirnya kamu datang juga, kenapa lama sekali Yank?" Hampir setengah jam Embun menunggu di Taman, padahal Bagas tadi berjanji akan segera menyusul.
"Tadi beli pesanan dari Mama sebentar." Jawabnya singkat.
"Emang Mama pesen apa?" Tanya Embun yang merasa aneh, karena dia sudah mengenal Mama Bagas juga, dan setahu dia semua kebutuhan ibu rumah tangga ada didekat rumahnya, karena rumah Bagas ada di pusat kota, dan tidak biasanya beliau pesan-pesan seperti itu pikirnya.
"Sudahlah, nggak usah dibahas itu hanya pesanan orang tua saja." Jawab Bagas kembali.
"Ya sudahlah, makan yuk Yank, sedikit aja, sayang kalau dibuang, udah terlanjur dibeli, sini aku suapin." Embun langsung menarik lengan Bagas agar dia duduk.
"Nggak mau, sudah aku bilang, aku nggak lapar!" Jawab Bagas yang wajahnya sudah terlihat tidak mood.
"Sedikit aja loh, ini makanan kesukaan kamu, ayo buka mulutnya." Embun mencoba sedikit memaksakannya.
Brak!
Namun Bagas langsung mengibaskan makanan itu.
"Astaga Sayang, kamu kenapa sih?" Embun langsung tersentak kaget karenanya.
"Sudah aku bilang aku kenyang, kenapa masih maksa aja sih, kamu itu yang kenapa?" Jawab Bagas dengan ketus.
"Sayang... sebenarnya aku salah apa? Tolong bicarakan semuanya baik-baik, kamu kok jadi beda sama aku sih?" Embun merasa ada yang janggal dengan kekasihnya itu.
"Kamu rasa hubungan kita garing nggak?" Ucap Bagas dengan tatapan tajamnya.
"Garing gimana? Aku nggak ngerti?" Perasaan Embun seolah sudah tidak enak.
"Embun, kamu sayang kan sama aku?" Ucapnya kembali.
"Sayang lah, kenapa kamu masih menanyakan hal itu."
"Kalau begitu, bisa dong mengabulkan permintaan aku?" Bagas memegang kedua lengan Embun.
"Tentu saja, kamu mau apa sayang, nanti aku belikan." Karena biasanya Bagas memang selalu meminta ini itu dengannya.
"Aku bukan mau barang."
"Jadi."
"Aku mau kita Tukaran Pasangan."
"APA? maksud kamu gimana sih Yank?" Sudah pasti Embun merasa tidak terima akan hal itu.
"Kamu kenal pasangan Nevika dan Arsen kan? dalam satu bulan kedepan, kita tukaran pasangan, aku dengan Nevika dan kamu dengan Arsen." Ucapnya yang seolah sudah seperti titah Raja.
"NGGAK!" Bantah Embun dengan keras.
"Keputusan tetap ada ditanganku, aku sebenarnya tidak mau meminta pendapat darimu, aku hanya sekedar memberitahumu saja." Ucap Bagas tidak perduli dan bersikap masa bodoh.
"Tapi Yank?"
"Bye!"
Bagas langsung pergi meninggalkan Embun yang seolah masih belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.
*Tahukah kamu apakah hal yang paling mengerikan dalam sebuah pengkhianatan? Yaitu sebuah pengkhianatan yang datang dari orang terdekatmu, bukan dari musuhmu*.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Abimanyu Rara Mpuzz
kisahnya seperti ftv ryan Delon Sharena tukeran pasangan
2024-04-16
0
Diank
Sadar Embun, itu tandanya Bagas mulai berkhianat denganmu, hadeehh...kok bisa sech punya niatan mau bertukar pasangan artinya sudah tidak ada lagi kesetiaan didirinya
2023-05-31
0
Ghina Novita
tinggalin aja Bagas embun, geregetan liatnya
2023-05-31
0