Seperti ketika api dan es bersama, api tidak memancarkan kobarannya, hanya sebatas rasa hangat yang menenangkan, sementara itu es perlahan akan mencair seiring bersama sang Api.
Di bagian Divisi lain di perusahaan yang sama dengan Arsenio Hernandes dan Nevika Aulia, ada sepasang kekasih yang juga sudah lama terjalin, hubungan mereka memang sangat awet, bahkan semua rekan kerjanya merasa iri, padahal dibalik langgengnya hubungan mereka ada sosok wanita yang selalu mengalah, yang selalu mengatakan 'iya' dan rela mengucapkan 'aku tidak apa-apa', bahkan mungkin kalau ada penghargaan wanita paling sabar sejagad raya, Embun Damara lah yang akan menjadi pemenangnya.
Nama yang memang begitu cantik dan menyejukkan hati bahkan seperti orangnya, dia jarang sekali marah, bahkan saat dia merasa kesal ketika menghadapi kekasihnya yang terkadang bersikap seperti preman pasar itu, Embun tetap sabar dan menghadapi segalanya dengan senyuman.
"Sayang, aku lapar!"
Dan pria yang menjadi kekasih Embun itu bernama Bagas Arkana.
Pria itu berkulit sawo matang dengan body kekar dan juga ada beberapa tatto di tubuhnya, namun kata-katanya memang selalu manis, kalau ada maunya, apalagi ketika Embun memenuhi segala keinginannya, sudah pasti Embun akan klepek-klepek dengan segala rayuannya.
"Apa tadi waktu istirahat kamu nggak makan mas?" Tanya Embun dengan suara lembutnya.
"Makan tapi cuma sedikit, nggak enak tadi makanannya." Umpat Bagas sambil duduk diatas meja kerja Embun, kerjaannya memang sering main-main saja, namun hasilnya luar biasa, karena ada Embun yang selalu membantunya.
"Trus gimana, mau aku belikan sesuatu di Kantin?" Disaat pekerjaannya menumpuk dia masih sabar meladeni rengekan dari kekasihnya itu, walau tangan dan kedua matanya saat ini terus terpusat di layar komputer karena pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini juga.
"Kalau cuma makanan di Kantin sama aja nggak enak?" Bagas memang selalu begini, walau tampangnya seperti preman tapi dengan Embun dia selalu manja, karena memang Embun begitu menyukainya dan rela tersiksa asalkan Bagas bisa bahagia.
Karena terkadang cinta memang bisa membuat orang menjadi bodoh.
"Tapi kalau aku pergi beli diluar, pekerjaanku banyak sekali ini mas, dan harus selesai hari ini juga loh, belum lagi ngerjain laporan kamu yang belum selesai tadi kan?" Ucap Embun yang sebenarnya keberatan, tapi dia tidak bisa bilang 'tidak'.
Bahkan Embun rela istirahat hanya dengan makan roti dan minum teh kemasan, demi tetap berada di ruangannya untuk mengerjakan laporan kekasihnya, yang selalu saja dibebankan kepada dirinya.
"Tapi aku pengen makan makanan dari Kafe baru didepan sana, beliin sana Yank!" Titah Bagas yang seolah tidak perduli dengan kondisi kekasihnya, yang dia pikirkan cuma perutnya sendiri, tanpa memikirkan betapa lelahnya kekasihnya itu saat meladeni semua apa yang dia pinta dan harus terlaksana saat itu juga.
"Nanti aja pulang kerja ya mas, kita mampir makan disana, okey?" Dan Embun pun masih menjawabnya dengan nada lembut, bahkan menyelipkan senyuman diantara setiap perkataannya.
"Tapi aku maunya sekarang Yank, kamu mau aku busung lapar atau mati karena kelaparan, begitu!" Bagas seolah semakin menjadi, saat permintaannya tidak dikabulkan oleh kekasih hatinya.
"Ya enggak gitu juga mas, tapi pekerjaanku banyak banget ini, kalau aku tinggal nanti bisa-bisa aku pulang malam karena kerja lembur tapi tanpa gaji?" Embun mengusap kedua matanya yang seolah sudah lelah karena sudah hampir setengah hari lebih kedua matanya itu tidak berhenti menatap layar komputer, bahkan jari-jarinya seolah sudah keriting karena terus mengetik diatas keyboard disana, tapi masih harus mendengarkan ocehan kekasihnya yang seperti anak kecil.
"Aku nggak mau tahu, pokoknya kalau kamu nggak mau beliin aku makanan dari Kafe itu, aku tidak mau makan, biar saja aku kelaparan dan pingsan disini."
Bisa-bisanya Bagas mengancam Embun, padahal itu semua terjadi karena kekasihnya itu yang malas bekerja dan menyerahkan segalanya kepada Embun si wanita paling penurut sedunia, dia semangat kalau menerima gaji per bualannya saja, tapi untuk masalah pekerjaan suka-suka hati dia saja, bahkan mungkin jika Embun tidak mengcover semua pekerjaannya, mungkin sudah lama dia di pecat oleh perusahaan itu karena malas bekerja.
"Huft... ya ampun mas, kalau begitu kamu selesaikan laporanmu sendiri, biar aku belikan makanan untukmu di luar Kantor, gimana?" Akhirnya Embun memberikan sebuah pilihan karena dia tidak sanggup jika harus melakukan keduanya dalam waktu yang sama.
"Nggak mau, kepalaku sudah pusing sedari tadi ngitung angka terus, kamu mau aku sakit kepala begitu? Masak bantuin pacar sendiri aja kamu nggak mau sih!" Bagas langsung lepas tangan, selalu saja begitu, jika ada pekerjaan yang memberatkan dirinya, dia langsung menyerahkan kepada Embun yang memang tidak pernah protes atau menolaknya.
"Mau mas, tapi aku nggak bisa ngerjain dua-duanya, ditambah lagi masih harus keluar Kantor mas, tolonglah mengerti sedikit saja mas?" Pinta Embun sambil mengusap lembut lengan kekar kekasih hatinya itu dengan stok kesabaran yang begitu tinggi.
"Ckk... ya sudahlah, nanti aku ke Kafe itu sendiri saja, kamu kerjakan laporanku cepat, soalnya aku harus menyerahkan itu hari ini juga." Akhirnya Bagas memilih pergi sendiri saja dari sana daripada dia harus pusing-pusing mengerjakan pekerjaannya lebih baik dia keluar sendiri pikirnya sambil menyantap makanan sekaligus cuci mata.
"Trus kamu nggak jadi makan mas?" Tanya Embun kembali.
"Udah males, aku mau balik ke ruanganku saja, kerjakan cepat laporanku! nanti kalau sudah selesai kamu antar ke ruanganku!" Umpat Bagas sambil melenggang pergi setelah memberikan titah kepada kekasih yang sudah seperti asisten pribadinya saja.
Entah apa yang membuat Embun suka dengan Bagas, namun yang pasti Embun begitu perhatian dan begitu menyayanginya. Mereka berdua bekerja dalam satu divisi, namun beda ruangan karena Embun adalah Ketua Divisi mereka.
"Fuuh... baik mas."
Dan Embun pun hanya bisa menghela nafas panjangnya, selalu saja begitu perangai pacarnya, jika ada laporan yang sedikit rumit saja, pasti Embun lah yang akan menyelesaikan segalanya, setiap hari dia seperti kerja double, tapi gaji single.
Namun dia selalu bertahan dengan harapan kelak kalau sudah menikah suaminya itu bisa berubah menjadi lebih bertanggung jawab dan menyayangi dirinya.
Bagi Embun tidak apa-apa sekarang capek-capek terlebih dahulu dengan membantu pekerjaan kekasihnya itu, karena harapan terbesarnya, jika mereka sudah menikah dan Embun menjadi ibu rumah tangga, suaminya yang akan kerja keras membanting tulang saat bekerja dan dia hanya tinggal mengurus anak-anak dan rumah saja.
Cinta itu diibaratkan seperti api, apakah itu akan menghangatkan perapian Anda atau membakar rumah Anda, Anda tidak akan pernah tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Aurellie Azzahra
ada ya cewek pinter tp bego😬😬
2023-12-21
0
Utit Dewisetyowati
embun sadarlah jàngan mau mengerjakan tugas pacar loe
2023-11-02
0
titiek
kasihan Embun. buka mata dong say. lah hrsnya kt perempuan yg dimanja
2023-06-05
1