“Cepat, lempar segenggam cacing ini ke bagian bawah pohon!” Marina memegang sebuah kendi yang berisi cacing besar menggeliat di dalamnya.
“Hihh! Bos! Cepat kan bos yang di suruh nyonya besar”
Melemparkan cacing sesuai perkataan ibunya. Risa terlihat pingsan di dekat pelepah batang pohon. Dia mengangkat istrinya, memerintahkan semua anggotanya tetap tinggal menemani ibunya di dalam perkebunan. Tapi, jalan keluar buntu di depan langkahnya kembali ke titik semula.
“Hihih! Adit, kau adalah laki-laki busuk!” gema suara wanita menerbangkan angin yang sangat kencang.
Sosok makhluk ganas berhenti melihat Marina membawa bala bantuan makhluk begu ganjang peliharaannya. Sosok hitam itu menghilang di kegelapan bersama hilangnya salah satu anggota Adit. Beno yang berdiri paling belakang menghilang di tarik sosok makhluk tidak terlihat. Para anggota lainnya menyorot senter mencarinya, suara teriakan menemukan sebuah bola mata yang terlepas di atas rerumputan.
“Ma_ma-Mata!” teriak *****.
“Cepat, kita tinggalkan tempat ini!” ucap Marina.
Mendengar kabar mengenai adiknya, Bilqis tidak bisa berbuat apapun. Tidak bisa di pungkiri, dia semakin lama hampir gila di ganggu berbagai macam penampakan. Pesan-pesan yang masuk dari pihak ipar yang menyerbunya menggunakan perkataan pedas.
Pesan whatsapp.
_Bilqis, ini kak Juna. Kakak harap, kamu jangan sering suruh suami mu minta uang sama ibu. Kamu jadi istri jangan boros dong. Mengelola keuangan rumah tangga aja nggak bisa_
_Ini kak Tina, kakak nggak habis pikir gimana ceritanya adiknya kakak si Darma. Kamu jadi istri yang baik. Jangan buat malu keluarga ya! Adik kakak itu nggak salah_
Berteriak di hadapan atau tepat di telinga mereka merupakan hal kesi-siaan. Keluarga Darma tetap membela suaminya dan dia selalu di salahkan. Pada bulan berikutnya, Bilqis melihat hasil test pack garis dua. Perasaan ingin pergi menjauh agar terlepas dari jeratan laki-laki itu hanya di dalam angan mimpi. Mengandung anak kedua, Bilqis menunjukkan hasil test pack di jawab tatapan dingin Darma yang biasa-biasa saja.
Hari demi hari dia lalui menjalani hidup seperti tidak memiliki suami. Bahkan mengganti bola lampu yang putus pun dia harus kesusahan memanjat tangga lipat.
Menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, memeriksa tali jemuran sampai urusan rumah lainnya. Bercermin di depan kata, usia kehamilan yang menginjak tujuh bulan tidak memperlihatkan perutnya yang membesar.
Memeriksa kehamilan tanpa di temani suami. Bilqis menyewa ojek becak sepeda angin untuk mengantar pulang, pergi dirinya dan anaknya. Posisi letak bayinya yang sungsang, setelah peksi kehamilan, dia membayar lebih supir agar mengantarkannya ke rumah orang tuanya. Kekhawatirannya melahirkan anak yang kedua nanti membuat dia meminta ibunya agar membantu merawat anaknya Lysa.
Hani mencarikannya tukang pijat wanita hamil agar bisa membantu mengembalikan posisi tubuh anaknya di dalam Rahim. “Sulit sekali membetulkannya bu, bayi tetap berada di bawah dan kepala di bagian atas. Saya tidak bisa memaksakan karena tidak mau mengambil resiko tinggi” ujar wanita tua yang memakai tusuk sanggul di kepalanya.
Selesai di pijat, Hani menuju ke kamar Risa. Di dalam ruangan itu tidak ada lagi barang-barang miliknya. ”Ibu lupa kasih kabar kalau adik mu tinggal di rumah bu Marina sambil menjalani pengobatan. Besok mereka akan pulang. Oh ya malam ini kamu menginap sama Lysa ya, nanti ibu siapkan kamar.”
Bilqis memberi kabar kalau dia berada di rumah orang tuanya. Memahami sikap Hani adalah mertua yang suka menampar menantu. Laki-laki itu sontak meninggalkan para wanita selirnya dan bergegas melajukan kendaraan. Pesanan belanjaan memenuhi dapur, acara keluarga yang akan di gelar di langsungkan dengan doa bersama.
Air ketuban pecah, Bilqis mulai merasa akan segera melahirkan. Hani memanggil orang yang membantu persalinan. Sudah satu jam, Bilqis sulit mendorong bayinya keluar. Seluruh tenaganya telah habis, wanita itu bergetar karena mulai melihat cahaya putih di ujung pelupuk mata. Pandanga kembali normal mendengar suara tangisan Hani yang memanggil namanya. Ada bu Marina yang mengelilingi ruangan dengan dupa. Dia menabur kunyahan sirih melemparkan ke perut Bilqis. Tanda-tanda pergerakan pada bayinya mulai bereaksi. Bayi kedua Bilqis lahir menunjukkan bokongnya yang duluan keluar dari dalam Rahim.
“Terus dorong! Tarik nafas bu!”
Dukun beranak itu pasrah kalau di tuntun hukuman penjara karena berpikir telah mematahkan kaki atau anggota tubuh lain pada bayi Bilqis. Melihat anak tersebut sehat tanpa kekurangan apapun. Tangisannya kencang, memperlihatkan senyuman si wanita tua.
“Selamat anak ibu perempuan.”
“Yah, perempuan lagi. Aku kan maunya anak laki-laki. Setiap malam aku menulis nama di perut Bilqis dengan nama Bintang, galaksi atau bumi!” gumam Darma cemberut.
Bayi yang berukuran kecil, nafasnya yang tidak stabil di bantu alat pernapasan dengan penanganan dokter pribadi di rumah Hani. Kali ini Darma tidak bisa berfoya-foya membeli berbagai jenis wanita yang dia incar di rumah bordir, pinggir jalan atau kenalannya di kantor. Berat hatinya mengeluarkan uang untuk biaya pengobatan anaknya. Dia tidak bisa menelantarkan anaknya begitu saja melihat raut wajah mertuanya yang mulai tidak bisa di ajak kompromi.
Para tetangga yang melihat anak kedua Bilqis berpikir tinggal menunggu waktu kepulangan menghadap sang Illahi. Bayi itu tampak sekarat, tubuhnya dingin membuat bisikan para warga kampung.
“Bilqis, ibu mau bicara pada mu. Sukma anak mu lagi id tahan makhluk halus. Sosok peliharaan manusia yang dekat dengan mu telah lama mengincar anak ini sedari di dalam kandungan. Ibu tidak mengatakan dia adalah Darma, bisa jadi orang terdekat lainnya.”
“Maksud bu Marina, anak ku sukmanya lagi melayang dan kini aku hanya mengurus tubuhnya saja? Hiks. Bu, tolong selamatkan anak ku!” Bilqis menangis tersedu-sedu.
“Kenapa anak dan cucuku mengalami nasib seperti ini? aku harus tetap tegar di hadapan mereka! Hiks” gumam Hani menahan air mata.
Dia meminta agar besannya membantu cucunya, tidak ada di dunia ini yang lebih berharga selain melihat anak dan cucunya sehat walafiat. Cobaan hidup Bilqis bertubi-tubi, dia menunggu bu Marina memberikan petunjuk menyelamatkan anaknya. Di sisi lain, Risa yang baru saja datang langsung memeluknya. Dia menahan derita yang sama yang tidak bisa dia ceritakan pada keluarganya.
“Kakak! Ternyata di selingkuhi itu rasanya sakit sekali ya..” batinnya.
"Keponakan ku itu kuat kak. Dia pasti bisa melawan semuanya! kakak jangan khawatir ya" ucap Risa lalu membasuh air matanya.
"Ya, pasti. Terimakasih dik."
Mencari persyaratan sesajian tidak semudah mendapatkan di pasar. Mereka harus memesan bahan-bahan yang jarang di jual. Darma di temani Adit membeli sebagian bahan ritual kemudian hari berikutnya mengambil bahan yang di pesan dengan bayaran mahal.
Menurut Marina, bayi malang itu akan meninggal dalam waktu dekat kalau tidak segera di tolong. Dia tidak mau memvonis Darma pelaku mistis akibat ilmu yang dia anut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
swim
benci kali lihat si darma
2023-06-05
0
❁(𝗚)𝗜-𝗗𝗟𝗘❁
・ 。
🍂∴。
・゚*。🍂・
🍁 ・ 🍂 🍁
°*.* 🍂
・ ゚*。・゚。
🍂 ・🍁°*.
゚。·*・。゚ *.。🍂。 🌰
🍁 。・゚*.。🍁
*🍁🌰 🐿🍁 * 。
・゚。・🍂゚ 。🍂
2023-06-04
0
🚀Harley
Energi santet akan melemah ketika masuk jam 12 malem. Biasanya santet akan mengenai seseorang dari maghrib hingga jam 12 malem. 🥳🥳🥳
2023-06-04
0