Memetik apa yang di tanam

Proses perpindahan ahli waris tidak bisa secepat kilat tanpa ada jalurnya. Namun bukan berarti sang pelakor bisa menghentikan niatnya. Rita mempercayakan semua dokumen pada Najwa. Dia menegaskan agar jangan membeberkan semua dokumen bahkan menunjukkan surat asli pada Arun atau siapapun pihak-pihak terkait sebelum dia kembali.

Tanpa persiapan, Rita melakukan perjalanan panjang ke perkampungan pedalaman tempat orang tua Arun tinggal. Mereka mengemudi bergantian-gantian. Rita di waktu tengah malam berlanjut Yosep hingga siang hari. Ke rumah mak Purut, ibu mertua yang tidak pernah dia kunjungi setelah kelahiran anaknya Riky.

“Apa benar ini arahnya nyonya? Dari tadi bapak tidak melihat ada perumahan warga.

“Ya jalannya benar pak, namanya juga rumah pelosok. Nanti melewati beberapa kilo baru bapak lihat perumahan. Begitu seterusnya sampai di blok terakhir, rumah si Purut.”

Hata anaknya bisa membeli rumah di kota, mempunyai pekerja rumah dan orang yang bisa di bayar khusus untuk merawat hari tuanya. Tidak dengan ketetapan hati mak Purut, dia memilih tinggal di dekat kuburan suaminya.

Tin_tin_

Suara klakson mobil berhenti di depan rumah. Mak Purut melihat dari jendela, Rita keluar dari mobil bersama seorang pria yang tidak dia kenali. Purut membuang sirih dari mulutnya, dia merapikan sarung dan songkok yang dia kenakan.

Ketika membuka pintu, wajah Rita berderai air mata memeluknya. Dia bergetar senggugukan, ucapan terbata mengatakan Arun berselingkuh kedua kalinya. Purut yang tidak jelas mendengar menggiringnya masuk ke dalam. Amarahnya memudar melihat menantunya seperti bersungguh-sungguh menangis. Purut adalah wanita jaman dahulu yang sudah merasakan garam kehidupan lebih lama. Dia bisa membaca segala gelagat kesungguhan atau kepura-puraan orang yang berbicara padanya.

“Aku adalah wanita tua, mamak kedua yang engkau abaikan anak menantu ku. Ada apa dengan mu? mana anak ku Arun?”

“Hiks, maafkan aku mak. Bagaimana bisa aku membawa Riky yang sedari lahir tersemat sebagai anak autis ku bawa mempelihatkannya pada mu. Pasti engkau akan menganggap ku sebagai menantu yang tidak berguna. Hiks, hiks. Terlebih lagi, Arun telah berselingkuh mak. Kali ini wanita itu mau merampasnya dan berani datang ke rumah kami! Apakah engkau tetap membela anak mu mak?”

“Apa? Arun benar-benar membuat aib keluarga. Aku tidak menyangka dia melakukan perbuatan keji. Mana buktinya Rita, jangan kau fitnah anak ku yang berbakti itu!” bentak mak Purut memegangi jantungnya yang mulai tidak stabil.

Omongannya di patahkan melihat foto-foto mesra Arun bersama wanita yang berbeda. Kali ini Rita memperdengarkan rekaman suara volume handphone terdengar keras mengatakan wanita itu adalah wanita yang sangat dia cintai. Mawar sang sekertaris baru yang wajahnya sangat cantik jelita.

Nafas mak Purut mulai tersengal-sengal, dia menekan kuat jantungnya. Matanya mulai tertutup, tubuhnya sangat dingin membuat Rita kebingungan.

“Huhh! Jangan sampai aku jadi di tuduh membunuh mamaknya. Aku harus membawanya ke balai pengobatan kampung” gumam Rita menyuruh pak Yosep mengangkat wanita itu ke dalam mobil.

Hari yang beruntung di sela kepahitan hidupnya menerima perselingkuhan kembali. Nyawa mertuanya terselamatkan, wanita itu di infus hingga tersadar menoleh melihat Rita. Pantas saja dia menolak tinggal bersama anaknya di kota atau di bangunkan rumah dekat rumah mereka, seolah dia tau bagaimana akhir rumah tangga anaknya.

Mengigat menantunya di sakiti anaknya sendiri, suara mak Purut terbata mengucapkan kata mata atas namanya.

“Mak mohon maafkan Arun, dia sebatang kara di kota besar. Mak sudah tua nak, sebentar lagi umur emak akan habis.”

“Hiks, tapi Rita nggak mau di madu sampai tinggal bersama pelakor itu mak! Mamak sama ibu ku sama saja, mengikhlaskan ku di sakiti Arun berulang kali. Aku kesini meminta ijin bercerai dari Arun, jadi mamak jangan menyalahkan ku.”

Rita membanting pintu, dia membayar rawat inap beberapa hari dan segala kebutuhannya. Dia juga menitipkan uang di dalam amplop kepada salah satu suster untuk di berikan pada mak Purut.

“Maaf bu, sebaiknya kalau uang ini biar ibu saja yang memberikan pada mak Purut. Saya tidak berani memegang uang sebanyak ini.”

“Dia sudah menjadi mantan ibu mertua ku sus, aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya.”

Mak Purut menangis pilu, bantalnya basah kebas di banjiri air matanya yang sangat deras. Inilah kukum karma karena menghalalkan semua perbuatan Arun demi mendapatkan menantunya semasa gadis dahulu. Wanita tua itu melakukan praktik ilmu hitam agar Rita bertekuk lutut pada anaknya. Meski Rita mengatakan kata cerai, tapi dia meyakini menantunya itu tidak akan berani dan sanggup berpisah dari Arun.

“Gendam pelet dari dukum tua di kampung pedalaman ini sudah mendarah daging, dia tidak akan bisa melepaskan anak ku. Terimalah nasib buruk mu Rita”

Peristiwa delapan tahun lalu.

Angin kencang membawa badai hujan di dalam suara-suara aneh yang melayang di udara. Mayat yang telah membusuk itu di ambil kain kafannya sebagai ritual persembahan. Menerima dan mengambil sebagai imbalan atas kehendaknya. Siapa yang mengira nyawa yang di pilih tidak lain adalah orang yang dia cintai, suaminya sendiri sebagai penyambung hasrat duniawi anaknya.

Di dalam gubuk si dukun tua, dukun itu mulai memindahkan kain kafan bekas mayat ke tubuh Arun. Dia menyiram air bunga yang berisi foto-foto Rita.

“Ingat, mulai sekarang kau jangan pernah sesekali meninggalkannya atau kau akan menanggung sendiri akibat dari semua perbuatan mu!”

“Baik, saya tau itu mbah” jawab Arun lalu melihat mak Purut yang mengangguk setuju.

Sejak kejadian itu, Purut mengutuk dirinya sendiri bahwa semua kesialan biarlah menimpa padanya. Akan tetapi hukum alam tetap berlanjut, Arun mulai lupa diri menyalah gunakan semua kepercayaan dan mengabaikan semua perbuatan kelamnya.

“Aku gagal mendidik anak ku! hiks!”

“Permisi mak, ini ada titipan dari bu Rita. Saya tidak berani menerimanya tapi bu Rita memaksa menitipkannya mak. Sekarang sudah di tangan mamak ya” ucap sang suster mendekatinya.

......................

Di tengah perjalanan, Rita memikirkan apakah dia benar-benar siap menjadi janda. Berpindah menerima pinangan Deni atau pergi menghilang dari kota itu. Walau bagaimana pun keinginannya, dia tetap harus bertanya pendapat pada ibunya. Dia tidak mau mengabaikan atau menjadi anak yang durhaka meski harus menelan rasa malu melihat Arun akan menikah lagi.

“Kamu lama sekali. Oh ya ibu dimana? Seharian tidak kelihatan” kata Arun berdiri membuka pintu mobil.

Rita menampar wajahnya, gambar tangan lima jari membekas merah padam di wajah Arun. Semua orang yang melihat tidak berani mengomentari sampai ada yang mengambil arah pandangan lain. “Jangan menggangu ku! ceraikan aku sekarang juga!”

Terpopuler

Comments

Cik ngah

Cik ngah

terasa ada yang menarik rambut q

2023-06-01

0

👑keluarga author

👑keluarga author

💞💞💞💞

2023-06-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!