Bilqis semakin kurus kering, dia bahkan hanya menanggul rambutnya menggunakan sumpit dapur. Suara pecahan piring di dengar Hani, dia berlari ke belakang melihat anaknya membersihkan pecahan kaca. Masakan mengepul, irisan sayur, suara mesin cuci, Hani membantu Bilqis menyiapkan semua pekerjaannya.
“Nggak usah bu, ibu duduk saja. Bilqis sebentar lagi selesai.”
“Sudah diam aja jangan banyak komentar. Mana si Rita?”
“Kakak masih tidur bu. Lagi kurang sehat, jadi Bilqis hari ini yang melakukan pekerjaan rumah”
“Hari ini? terus semalam dan kemarin? Jangan bohongi ibu ya ibu pikir nggak tau gimana sifat rita?”
“Maaf bu, kasian Riky sering kambuh. Nanti kalau dia baikan, Bilqis balik lagi ke asrama.”
“Ibu tau kamu pasti di suruh si Rita cuti sekolah! Sama saja mengulang tahun depan. Kalau kamu nggak mau ikut ibu pulang. Ibu putuskan ikatan tali Rahim pada mu, kau bukan anak ku lagi” ancam Hani membisikkan di telinganya.
“Huaahh! Bilqis! Lu dimana? Gua laper nih!” jerit Rita menuruni tangga.
Melihat kedatangan Hani, dia tersenyum meringis membantu mengambil masakan di dalam kuali. “Eh ada kakak, kapan datangnya? Anak gadis jam segini kalau nggak di komando molor doang!”
Hani tidak menjawab, dia menahan amarah karena mengingat Rina dan segala kebaikan keluarga itu. Selesai makan bersama, bilqis melakukan kewajiban rutin memberi minum obat untuk Riky. Di dapur hanya ada Hani dan Rita yang masih terdiam membisu. Arun yang baru saja tiba tersenyum sumringah melihat kedatangan Hani.
“Kakak kok nggak kasih kabar sih kalau mau datang! Arun kan bisa jemput di bandara!”
“Nggak apa-apa. Kamu pasti sibuk bekerja, kakak udah terbiasa sendiri kok. Oh ya kakak mau bicara sama kalian berdua. Kedatangan kakak disini mau menjemput Bilqis pulang.”
“Nggak bisa gitu dong kak. Bilqis kan mau mencapai cita-citanya. Walau dia cuti, tapi uang sekolah tetap lancar, semua tugas beres bahkan di tahun depan dia langsung lulus. Arun sudah membeli nilai raportnya kak.”
“Kakak jangan seenaknya datang terus minta si Bilqis pulang. Kakak aja belum ziarah ke makam ibu kan?”
“Maaf sebelumnya, kalian itu memanggil kakak bukan kakak. Tapi bulek, atau tepatnya ibu."
“Maaf kak, bahasa kota emang gitu. Makam ibu ada di belakang rumah. Besok pagi saja kita berziarah ya kakak malam ini menginap disini atau sampai kapan pun kakak tinggal, Rita nggak ngelarang kok.”
“Keluarga kakak menunggu di rumah. Kakak kesini bukan untuk jalan-jalan. Niat kakak sudah bulat, menjemput Bilqis.”
“Kak! Kalau besok kakak bawa Bilqis pergi! Rita nggak akan menjalin hubungan lagi dengan kakak! Cuma Bilqis penyambung rantai keluarga ini!” ucap Rita mengeraskan suaranya.
Bilqis mendengar jelas perdebatan mereka, dia berbalik ke kamar tidak mau ikut campur. Semua keputusan di tangannya. Tapi, mendengar ibunya mengatakan akan melepaskan ikatan tali Rahim membuat dia bergetar tidak berani membantah.
“Mungkin ini udah jalannya. Aku tidak bisa bersikeras menuntut keinginan diri ku sendiri”
Dia mengemasi barang-barangnya, menghitung sisa uang simpanan tabungan dan mengambil kotak perhiasan miliknya.
“Perjalanan pulang pergi pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Aku harus menjual perhiasan untuk ongkos pulang sama ibu” gumam Bilqis lagi sambil menghela nafas.
Tidak berani memberitahu Wijaya akan kepulangannya. Dia menonaktifkan kedua handphonenya. Semua cerita akan berakhir, Bilqis di dalam hati mendo’akan Wijaya agar selalu baik-baik saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Tianka
lanjutkan kebiasaan gila mu rita
2023-06-01
0
Kang senyum
bagus mak bawa pulang aja si bilqis. bisa mati perlahan dia disitu
2023-06-01
0
🕵♀️Detektif
bilqis kena mental kalo seumur hidup ngurus riky
2023-06-01
0