Kelakuan Darma

Dia tidak leluasa bergerak, keinginannya bermain dengan wanita-wanita baru yang seksi tertunda karena harus berpura-pura menjaga sikap di depan mertua. Uang kantong menipis, untuk membeli sebatang rokok saja tidak bisa. Pria itu meminta uang kepada kedua orang tuanya dengan alasan biaya kebutuhan anaknya. Total cek sepuluh juta mendarat, hanya berdiri sepuluh menit dalam rengekannya. Senyum bahagian Darma yang mulai berpikir rencana apa saja yang akan dia buat dengan uang itu.

“Satu juta rupiah di tambah biaya makan lebih dari cukup. Nggak usah banyak-banyak, aku nggak mau si Bilqis ngasih orang tuanya!” gumam Darma menepikan sepeda anginnya.

Satu wilayah tempat perkumpulan rumah bordir, dia memesan seorang wanita sebagai pemuas nafsunya. Darma menikmati malam bersama wanita bayaran, dia melupakan status dan tanggung jawabnya.

Di dalam mabuk berat, tepat pada dini hari suara keributan di depan rumah Hani. Ibu mertua yang menegur menantunya bukan lagi dengan perkataan melainkan tindakan.

Lemparan mangkuk mengenai dahinya, darah yang bercucuran seolah menyadarkan pria itu dari rasa mabuk. Para tetangga keluar menyaksikan amarahnya, tidak ada yang berani ikut campur. Mereka hanya berani melihat dari jarak kejauhan.

Hani membanting pintu, dia yang bertekad memisahkan anaknya dengan Darma di halangi Yuga yang malah membawanya masuk ke dalam. Risa di minta membawakan kotak P3k. Karena kesal melihat sikap Darma, dia melengos di dalam benak berharap bisa memecahkan kepalanya.

“Obatin sendiri luka kamu, berani berbuat ya berani bertanggung jawab!” ucap Risa ketus.

Bayi mungil yang di panggil Lysa genap sepuluh hari. Bilqis menggendong bayinya berpamitan pulang kepada kedua orang tuanya. Dengan sikap angkuh, Darma hanya menunggunya di dalam mobil. Pria gila itu menunjukkan kesombongan membeli mobil agar menunjukkan pada seluruh warga kampung bawah dirinya adalah seroang Darma yang sukses.

“Mas Darma, punya otak nggak sih? Tolongin kak Bilqis naik dong!” ucap Risa mengetuk pintu mobil bagian depan.

......................

Melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Pagi-pagi sekali Bilqis mulai menimba air di sumur untuk mencuci piring, pakaian dan mengisi bak kamar mandi. Mesin airnya rusak, Darma hanya perduli dengan dirinya sendiri. Dia menarik selimut, menutupi telinganya lebih rapat mendengar suara tangisan Lysa.

“Berisik! Bilqis, anak kamu nangis! Tidur ku jadinya terganggu!” umpat Darma.

Menenangkan bayinya di dalam buaian walau bajunya basah kebas. Dia mengernyitkan dahi melihat Darma yang tidak menganggap anaknya. Bilqis menjauhkan Lysa dari ayahnya, dia menyiapkan perlak dan selimut hangat. Kelambu bayi merah jambu menutupi agar menghalangi dari gigitan nyamuk. Dia juga meletakkan gunting kecil, potongan Jeringau bengle setelah selesai mengunyah dengan *****.

Hal-hal yang di percaya bisa mengusir makhluk halus, tapi malam ini dia merasa

seperti ada makhluk halus yang mengikuti. Merasa bayinya tidak aman, Lysa melanjutkan pekerjaan rumah sambil menggendongnya. Walau terasa sulit, dia tetap berusaha agar anaknya terlindungi.

Makanan yang terhidang di meja di santap Darma tanpa mengajaknya duduk berdua. Dia buru-buru pergi selesai merapikan bajunya. Setelan kemeja lengan tiga suku, celana hitam dan tali pinggang. Aroma parfumnya sangat menyengat, dia hanya berkata akan pulang lebih lama. Kali ini sikap Darma lebih romantis dari biasanya.

Pria yang berselingkuh di belakang wanitanya cenderung melakukan sikap lebih manis. Menutupi kelakuannya di luar sana. Cara berpakaian yang lebih bergaya dan menarik mata, Darma yang tidak sabar bertemu seorang wanita muda, mempercepat melajukan kendaraannya.

Kerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit, dia duduk di salah satu kantor bagian meja gambar. Siapa yang mengira adik iparnya akan satu perusahaan bahkan letak meja mereka bersebelahan di ruang lainnya. Darma lebih sering bermain handphone, bertelepon dengan suara yang mirip seorang wanita.

Dia enggan menyapa atau bertanya, raut wajah sombong Darma yang menganggap abang iparnya seperti orang asing. Jam kerja belum selesai, kursi Darma sudah kosong.

“kemana perginya dia?” gumam Tomi.

Di sebuah cafe, Darma makan berdua bersama wanita yang berpakaian seksi. Tawa manja, suara menggoda hingga terang-terangan mereka bermesraan di depan umum. Bersama memadu kasih, Darma membawanya ke sebuh hotel yang jaraknya sedikit jauh dari kota. Pria yang maniak **** itu melanjutkan bertemu wanita lain selesai mengantar wanita yang seharian bersamanya tadi.

“Ini baru namanya hidup, incaran selanjutnya ya daun muda yang katanya nggak kalah cantik dari si Sintia! Hahah!”

Darma menepikan kendaraan, seorang wanita muda tersenyum melambaikan tangan dengannya. Dia sedikit berperilaku sombong, sikap yang jual mahal dan menepis gerakan tangan Darma yang mulai meraba pahanya.

“Mas, aku mau uangnya dulu ya. Lagian, kamu nggak ada niat jadiin aku istri?”

“Eh kamu mau jadi istri mas? Tapi gimana ya, mas sudah ada istri. Urusan poligami mas belum berani” jawabnya sedikit terbata.

“Yasuda aku tunggu kematian istri mas deh. Hihih”

Sanda gurau yang itu semakin menggila, Titin membuat Darma terpesona dan tidak mau melepaskannya. Setiap hari pria itu biasanya gonta-ganti wanita, tapi kali ini dia lebih menginginkan bersama Titin. Suara dering ponsel terbaca nama panggilan bang Tomi, dia terpaksa kembali pulang karena takut di laporkan pada Bilqis. Menyadari sedikit banyak Tomi pasti membaca semua kelakuannya. Terhitung di masa lajang dulu banyak wanita yang dia ajak kencan di kos-kosannya.

“Makannya masih hangat, mas mau minum teh?” tanya Bilqis.

Dia memakai daster sedikit agak tipis, kerana tidak sempat menyanggul rambutnya yang baru saja kena air mandi. Hal itu memicu Darma menariknya ke dalam kamar, bayi Lysa di tempatkan di dalam keranjang bayi. Dia yang sedikit rewel membuat Darma marah membentak di tarik Bilqis mendorong tubuhnya menjauh dari anaknya.

“Kamu jangan kasar ya mas sama anak kita. Dia masih bayi, belum tau apa-apa.”

Darma berlagak acuh tak acuh, menunggu Bilqis menenangkan anaknya. Melampiaskan hasrat di atas kasur, di pagi hari Bilqis merasakan demam hingga sulit buang air kecil. Dia jadi berpikiran apa yang di buat suaminya bersama para wanita di luar sana. Dia tidak mau terkena penyakit HIV akibat ulah suaminya yang dia ketahui sering mengoleksi wanita lain.

“Mas, bangun. Badan ku sakit semua. Bawa aku ke dokter.”

“Hah kamu sok kaya raya, sakit sedikit ngeluh. Jangan manja!”

Bilqis membungkus tubuhnya dengan beberapa selimut, dia harus tetap sadar menunggu suaminya pergi bekerja. Mendengar suara mobilnya meninggalkan halaman, Bilqis bersiap-siap pergi ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaan. Dia membayar menggunakan sisa uang belanja yang selalu dia sisihkan. Raut wajah bidan desa mengerut menatapnya. “Bu Bilqis, obat-obatan ini wajib ibu konsumsi tiga kali sehari. Oh ya bu, saran saya kalau ibu harus banyak istirahat. Lusa ibu kembali lagi untuk di periksa ya.”

Terpopuler

Comments

moci

moci

otak nya mereng si darma.

2023-06-04

0

Junior

Junior

nangis darah 🩸haduh sial ya ketemu si darma

2023-06-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!