“Bi Sumi cepetan!” teriak Rita memukul kuat pintu.
Seperti biasa wanita yang kakinya bagai setriakaan itu sehari saja tidak terlewatkan dengan kata belanja. Tidak perduli pagi, siang atau malam. Dia berbelanjadan berpergian sesuai dengan suasana hatinya. Wanita itu adalah tipe ibu yang tidak memperdulikan anak, mengurusnya saja seperti suatu beban yang sangat berat.
“Baik nyonya, semuanya sudah siap bibi. Semua tas sudah bibi masukkan ke dalam bagasi” jawabnya gelagapan.
“Jangan lupa kasih obat si Riky. Bilangin ke nek Rina kalau sudah bangun, uang belanja saya letakkan di atas meja.”
“Ya non..”
Pergi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, musik full kuat hingga tanpa sadar dia mau menabrak seorang pengemudi sepeda motor. Rita mengambil sisi belok kiri, arah potongan jalan agar segera sampai di pusat karaokean terbesar di kota itu. Semua teman-temannya telah berkumpul menantikannya. Terutama Deni, para ajudan menyambutnya di depan pintu masuk. Satu meja khusu untuk Rita dan Deni, di sisi lainnya satu meja khusus teman-temannya.
Deni menyewa sebuah ruangan karokean terluas kelas VIP. Pada hari itu Bilqis bagai ratu yang di istimewakan. Suara Deni menyanyikan lagu untuknya, meski di dalam ruangan itu ada banyak wanita cantik menggoda. Deni tetap memuja kecantikan Rita dan selalu menatapnya penuh rasa sayang dan cinta.
Oh dunia, hubungan yang bersifat haram tanpa di halalkan kebanyak semanis madu. Setiap kekurangan masing-masing tetap terlihat sempurna di tutupi pandangan mata setan yang menyesatkan dalam lubang perselingkuhan. Kata mesra, perlakukan hangat dan rasa ingin bertemu keduanya setiap hari, Pada hari ini salah satu teman Rita ada yang risih melihat keromantisan keduanya.
“Aku juga mau punya selingkuhan tajir melintir! Lihat aja lu Ta! Gua bakal kasih perhitungan sama lu!”
Susi membayar seorang pelayan untuk mencampurkan minuman beracun. Agar menghilangkan jejak, dia memberikan sarung tangan sebagai pelapis saat menuang atau mengantarkan gelas. Susi meminta ijin pada yang lain beralasan ada panggilan mendesak mengenai keluarganya.
Sebelum pergi dia memastikan apakah Rita sudah meneguk air beracun itu. Alangkah bahagianya raut wajahnya melihat Rita meneguk habis meinuman yang di sulangkan Deni.
“Rasain lu! Sebentar lagi lu akan mati atau sekarat sementara pacar lu masuk penjara! Ahaha” gumam Susi melengos pergi.
Rita merasa kepalanya sangat pusing, dia menghempaskan tubuh ke pundak Deni. Wajah pria itu gelagapan melihat Rita yang tidak sadarkan diri. Deni membawanya ke rumah sakit khusus tempat menangani para bandit yang terluka. Di depan ruang UGD, di berdiri mondar-mandir tidak tenang.
Seorang dokter mengatakan pasien terkena racun sianida. Tidak memungkinkan nyawanya bisa melayang dalam kurang lebih lima belas menit. “Untung saja tuan segera membawanya ke rumah sakit. Kalau tidak nyawa pasien kemungkinan besar tidak bisa di selamatkan” ucap dokter tersebut.
“Tolong berikan penanganan sebaik-baiknya dok. Saya akan membayar berapa pun biayanya.”
“Saya akan berusaha tuan..”
Dokter itu melihat sang ketua mafia bersikap lebih lembut. Biasanya dia akan membentak atau menodongkan pistol ke arahnya. Setelah di perbolehkan masuk melihat Rita, pria yang berhati kapas itu menepis ujung genangan air matanya yang rapuh.
Dia memeriksa tasnya, ada atm miliknya dan milik Rita. Wanita itu hanya memiliki satu ponsel, tapi Deni tidak pernah mencari masalah menghubunginya di saat jam kerika mereka tidak bersama. Nomor Deni juga tertulis namanya yang lengkap. Deni berpikir dia adalah wanita pemberani yang telah siap siaga jika dirinya sewaktu-waktu mengim foto mesra atau meneleponnya di waktu tengah malam.
“Sampai saat ini entah mengapa aku tidak sanggup kalau harus mencari masalah dengan si Arun. Bisa saja ajudan ku menembak mati dalam satu detik dan aku menggantikannya sebagai suami di rumah itu” gumam Deni mengeluarkan semua isi uang di dalam dompetnya.
Satu tumpuk uang memadati tas selempang Rita. Dia duduk di samping menunggunya siuman. Semalaman Deni dengan sabar menunggu menahan rasa ngantuk. Suster yang mengganti infus dan mengecek keadaannya tidak berani mendekat meski kesulitan merawat Rita. Pria yang bertubuh tegap bertampang sangar membuat para suster ingin cepat buru-buru pergi.
......................
“Pak Yosep, mang! Haduh bagaimana ini? Riky demam lagi!” bi Sumi berlari keluar rumah meminta bantuan pada para pekerja yang lain.
Nomor Rita, nek Rina dan pak Yosep tidak aktif, dia memutar telepon memanggil dokter pribadi keluarga Arun. Berpikir biasanya sang majikan akan memberikan bayaran ketika pak dokter selesai memeriksa anggota kelurga yang sakit. Bi Sumi membuka laci uang tempat penyimpanan belanja.
“Semoga ini cukup” gumamnya menghitung nominal satu juta rupiah.
Deskripsi penggambaran telepon pada zaman dahulu.
Bentuknya yang antik dan unik, pemakaian memutar angka tombol akan berbunyi. Penerima akan mengangkat gagang telepon saat berbunyi. engguna telepon harus memutar tuas dan akan terhubung dengan petugas sentral telepon. Petugas sentral telepon akan bertanya nomor tujuan telepon dan menyambungkan dua kabel di papan hubung dan memutar nomor.
Pada zaman itu hanya orang-orang tertentu atau kelas menengah ke atas yang memilikinya.
Bi Sumi membayar pada pak dokter, dia mengingat-ingat semua obat yang jenisnya berbeda-beda. Karena terlalu banyak obat di dalam kemasan tablet maupun botol, bi Sumi meminta pak dokter mencacat tulisan setiap nama dan pergantian hari yang harus di minum Riky.
Kepulangan nek Rina mengerutkan dahi melihat kehadiran dokter keluarga di rumahnya. Tidak salah lagi di pikirannya pasti Riky sedang kambuh atau demam tinggi.
“Bagaimana keadaan cucu saya dok?” tanyanya mempercepat langkah naik ke atas loteng.
“Demamnya sudah menurun dan suhu tubuhnya kembali normal. Nyonya, saya mohon pamit.”
“Maaf dok, bi Sumi yang mengantar dokter sampai ke depan ya..” jawab nek Rina di tengah menaiki anak tangga.
Cucunya yang malang, sedari kelahiran hingga kini di usianya yang genap tujuh tahun tidak bisa merasakan aktivitas kehidupan normal seperti anak-anak lainnya. Dia jarang bersekolah, setelah Bilqis tinggal di asrama, Riky lebih sering mengamuk dan tidak mau makan maupun minum obat. Pemberontakan, amarah yang tidak terkendali dan perlawanan ingin keluar rumah. Nek Rina mengusap rambut lalu mengecup dahi cucunya.
“Kalau saja ada pengobatan yang bisa mnyembuhkan anak autis. Nenek akan berjuang meski harus ke ujung dunia” gumamnya.
Inilah karma yang harus dia terima atas semua kesalahannya di masa muda dahulu. Rina masih mengelus dada karena sampai saat ini hubungan rumah tangga anaknya tidak terpecah belah. Dia melihat Arun sangat penyabar meski pernah melakukan kesalahan berselingkuh dengan sekertarisnya. Dia tetap mempertahankan anaknya sebagai istri sah.
Semua itu Rina lakukan dengan menggunakan sihir yang setiap bulan dia minta dari seorang dukun di perkampungan luar kota. Menundukkan hati menantu agar patuh pada semua ucapan dan mencintai anaknya Rita. Hanya dia yang mengetahui semua rahasia hitam itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Mentari
miss ❤❤❤
2023-05-29
0
anak emak🧚♀️
rada merinding
2023-05-29
0
Grafika
nggak tanggung-tanggung ibu mertua main licik dongggg
2023-05-28
0