Riky duduk di sudut menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Sedari tadi malam dia belum minum obat sampai dia menahan sakit karena demam mulai menyerang tubuhnya. Arun berlutut di hadapan Rita, dia minta maaf tidak bisa menuruti semua keinginannya. Permintaan Poliandri yang dia utarakan membuat hatinya terpukul.
“Rita, lebih baik aku bunuh diri dari pada menyaksikan engkau memadu ku! Apa nanti kata orang tua ku?”
“Hahahah, kau pikir aku terkesima dengan apa yang kau bilang? Setelah perselingkuhan mu, aku juga bisa main api dengan pria idaman ku! Kau masih bersyukur ibu mu belum mendengar kelakuan anaknya. Apa jadinya kalau dia tau? Kau ingat dia punya penyakit serangan jantung bukan? Lantas apa sekarang kau benar-benar setia?"
Ucapan Rita menelaah pengakuan yang tidak bisa dia katakan sejujurnya.
Benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya untuk Mawar. Arun mempertahankan rumah tangganya, dia berjanji akan memberikan semua aset atas namanya. Pada hari itu juga sekretarisnya Mawar di undang untuk bertemu di salah satu Cafe dekat rumah sakit. Rita dan Arun duduk di satu meja yang kursinya berjauhan sementara Riky di titipkan ke tempat penitipan anak.
“Kamu jadi ibu tidak pernah memberikan sentuhan kasih sayang sama anak kita. Apa salahnya kalau Riky ikut?”
“Diam! Aku tidak mau dia mengetahui semua urusan pribadi orang tuanya atau mendengar kata selingkuh terus-menerus!”
Dua gelas kopi di teguk mengalihkan pandangan mencium aroma parfum yang sangat menyengat. Rita melirik wanita yang di sebut sekertaris di perusahaan suaminya. Pakaian seksi, rambut catokan sebahu, dia mengambil kursi duduk di sebelah Arun. Wanita itu hanya menyapa Arun hingga mengecup pipi kanan dan kirinya. Melihat gelagat pemberani sekertaris yang tidak menganggap dia ada. Rita mulai meradang menjambak rambutnya.
“Ahh sakit! Pak Arun siapa dia? Kurang ajar sekali!”
“Kamu harus bersikap baik pada istri saya bu Mawar. Ayo cepat minta maaf”
“Kenapa susuk ku tidak bereaksi? Arun membela istrinya bahkan menyuruhku__” batin Mawar.
“Cepat! Kau mau di pecat? Dasar wanita tidak tau diri!” bentak Rita.
Karena tidak tahan atas sikap Rita, dia hanya terdiam mematung menunggu reaksi Arun berharap membelanya. Rita sangat geram, emosinya tidak bisa di bendung melihat sekertaris itu menatap suaminya. Dia merampas semua dokumen di tangannya lalu mengusirnya. Belum puas meluapkan amarah, Rita melempar kepala wanita itu dengan cangkir bekas kopi.
“Sudah malu di lihat orang, ayo kita pulang” ajak Arun.
Dia membayar ganti rugi gelas dan meminta maaf atas keributan di mejanya. Arun tidak mau reputasinya rusak karena kesalahannya sendiri. Di dalam mobil, dia menunggu Rita membuka satu persatu lembar segala aset yang dia tanda tangani. Semua surat warisan seutuhnya untuknya dan di pindah serah pada Riky kalau dia meninggal dunia.
“Jangan sampai kau jadi berniat ingin membunuh ku! Karena sekalipun aku mati atau setelahnya Riky meninggal. Aku akan menunjuk penerima ke panti asuhan atau rumah sakit ODGJ. Oh ya Arun, aku mulai curiga melihat tingkah sekertaris mu. Apa kau memberikan angin segar padanya?”
“Jangan di perkeruh lagi sayang, aku kan sudah berjanji tidak mengkhianati mu lagi. Semuanya milik mu..”
Sekali selingkuh maka penyakit itu tidak akan sembuh, masa umur pubertas tidak bisa di tahan. Rita menyiapkan semua hal-hal yang di butuhkan tangan kanan kepercayaannya agar semua dokumen itu segera di sah kan. Dia menelpon Yosep menunggunya di dekat lintas halte kota, mengabaikan celoteh Arun yang berusaha menenangkan suasana hatinya.
“Berhenti disini! Kau jemput anak mu, biar aku saja yang menyelesaikan semua dokumen ini.”
......................
Di dalam kamar apartemen Mawar menghempaskan tubuhnya. Dia sangat kesal pada Arun, terutama Rita yang berani kasar dan main tangan. “Apakah wanita gila itu juga memakai susuk? Sampai Arun bimbang meninggalkannya?” gumamnya.
Berpikir hari ini Arun benar-benar menguji kesabarannya. Tiba-tiba saja dia membatalkan semua rapat, mengabaikan jadwal belanja harian yang dia lewatkan dan menyuruhnya membawa semua aset properti dan semua kekayaannya.
“Hah! Kenapa aku baru sadar kalau si wanita gila itu mau mengambil alih semua kekayaan Arun? Aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus mengatakan siapa aku sebenarnya!” ucap Mawar meraih tas sandang menuju ke rumah Arun.
Mawar tidak perduli di luar rumah banyak kerumunan orang-orang atau mobil polisi yang berjejer di sepanjang jalan. Dia keluar mencari Arun, seorang pria paruh baya tersenyum ramah mempersilahkan dia duduk di kursi teras.
“Dimana pak Arun? Oh ya kenapa ada banyak polisi?”
“Ada pekerja yang baru saja meninggal tadi pagi. Ibu silahkan menunggu tuan” jawab Surip.
“Eh tunggu, ambilkan saya minuman!”
“Ya bu__”
“Huhh, galaknya melebihi nyonya besar! Kalau bukan tamunya tuan besar, sudah saya lawan!” umpat surip membawakan segelas air dingin.
Tanpa mengucapkan terimakasih, wanita itu nyelonong masuk mengamati isi rumah. Di mulai melirik furniture yang nilainya puluhan sampai ratusan juta dan benda-benda antik yang terpajang di dalam lemari. Di mengerang melihat sebuah foto berukuran besar yang terpajang di dinding. Gambar Arun bersama anak dan istrinya.
“Tunggu saja, aku akan menggantikan wajah wanita sinting itu sebagai istri sah Arun!” gumam Mawar begitu percaya diri.
Surip menelepon Rita, dia mengadukan semua sikap teman Arun yang menunggunya sedari tadi. Bukan hanya itu, Urip melihat dia mengambil salah satu benda di dalam lemari. Mendengar ucapan Surip, Rita menyuruhnya mengusir wanita itu dari dalam rumah.
“Cepat usir dia pak Emon. Saya masih sibuk di luar!”
“Anu non saya tidak berani”
“Minta nomor salah satu polisi yang ada di halaman rumah. Biar saya yang bicara.”
“Baik nyonya..”
Surip mendapatkan nomor seorang polisi yang berdiri di dekat pos. Dia memberikan nomornya kepada Rita. Tanpa perlu melalui jalur hukum, pada saat itu juga dia akan mengirim lima juta rupiah agar mengusir tamu wanita yang ada di dalam rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Viola
kasian si riky. 🥺
2023-05-31
0
👑keluarga author
up
2023-05-30
0