Rina menuruni tangga, dia baru saja menyelesaikan ritual di dalam ruangan rahasia. Sebuah pintu rahasia bersembunyi di dalam lemari pakaiannya. Rina berbau kemenyan, mendekati Rita yang melemparkan semua benda-benda ke arah Arun. Pria itu hanya menutupi kepalanya, berdiri menunggu amarah istrinya yang semakin memuncak. Lontaran kata cerai, caci makian dan hinaan. Dia tidak sanggup lagi hidup satu rumah dengan pria itu.
“Rita, apa kau yakin berpisah darinya? Hahhh..” suara aneh memekik telinganya.
“Diam! Aku bilang diam setan!” teriak Rita menutup telinga.
“Nduk kamu kenapa? Tidak baik seperti ini di depan Riky anak mu!” ucap Rina mengingatkan.
“Bu, hati ku sakit! Arun membawa wanita lain ke rumah ini bu. Bagaimana aku tidak marah? Arghh!” Rita berlari masuk mengunci kamar.
Rina melarang Arun mengejarnya, dia meminta agar menjaga Riky selagi dia membujuk Rita di dalam. Dia meminta tolong, kata maaf sampai bersujud di depan ibu mertuanya. “Bu, ku mohon maafkan aku. Jangan pisahkan aku dari Rita.”
“Kalau bukan karena cucu dan anak ku, aku sudah menghabisi mu menantu biadab!” gumamnya memasang wajah tenang.
“Ya ibu akan berusaha membantu mu.”
Sementara pak Yosep meminta ijin pulang ke rumah, dia mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. Bahan belanjaan berplastik-plastik dia bawa masuk ke dalam rumah. “Bapak minta maaf ya bu, nyonya besar minta di antar ke kampung halaman mertuanya.”
Isak tangis memeluk Rita, dia tau apa yang di rasakan anaknya. Kesedihan Rita adalah kesedihannya pula. Tubuh wanita itu bergetar meminta Rita tetap kuat demi Riky. Kesabaran seujung kuku, atau di ibaratkan sebutir embun di pucuk daun. Tidak ada lagi yang bisa mengobati sakit hatinya kecuali kata perpisahan. Rina tidak mengiyakan perkataan anaknya dan tidak pula menentangnya.
Tepat di pergantian malam, Rita masuk ke dalam riky mengemasi barang-barang anaknya ke dalam koper. Riky hanya melihat kegiatan ibunya, anak laki-laki itu tidak melakukan perlawanan atau menarik tas yang biasa dia lakukan kalau Rita memasukkan semua barang-barang terutama mainannya ke dalam tas dan koper.
“Riky, dengarkan ibu ya. Kamu harus jadi laki-laki yang kuat. Ibu nggak mau kamu cengeng, minta di mandiin dan makan di suapi lagi. Paham?”
“Ya__bu” jawab Riky terbata.
Hari yang tidak sama, sepanjang malam pemadaman listrik karena hujan lebat di sertai angin kencang merobohkan pohon. Riky melepaskan ABM (Alat bantu mendengar) dari telinganya. Dia membenamkan wajahnya dengan bantal. Menahan rasa sakit hingga terlelap dengan sendirinya. Siapa yang menyangka pada malam itu ajal telah menjemput Rina. Dia merasakan sesak hingga kehilangan nyawanya. Sepasang mata dan mulut yang masih terbuka seolah mau menyampaikan pesan yang tertunda.
“Rita! Ibu mau kamu jaga diri baik-baik. Jangan kalah sama pertemuan itu. Pertahankan rumah tangga mu!”
Antara sadar dan tidak, Rita melihat ibunya Rina mengajaknya berbicara di depan pintu. Pakaian berwarna hitam, ada lumpur dan tetesan darah di sela sorot matanya yang tajam.
“Ibu! Ibu kenapa?” teriak Rita terbangun.
Duar__
Suara petir menggelegar, Rita membuka pintu memeriksa Riky. Dia menyalakan lampu emergency, melihat Riky hampir kehilangan nafas karena menutupi wajahnya dengan bantal berukuran besar. Merapikan selimut, menutup jendela yang terbuka lebar. Dia melangkah ke kamar ibunya yang terkunci suara panggilannya tidak di jawab berpikir ibunya terlelap.
“Besok aja aku ngomong sama ibu, aku yakin ibu menyetujui keputusan ku” gumamnya.
Langit gelap, matahari tertutup awan hitam. Suara jeritan Rita memeluk jasad ibunya yang kaku. Dia tidak menyangka secepat itu di tinggal ibu yang sangat dia sayangi. Mengingat tadi malam seolah pesan terakhir, Rita terpaksa mengurungkan niat meminta bercerai dengan Arun.
“Nek__” Riky menangis mengguncang kuat tangan Rina.
Nenek yang sangat menyayangi dan perhatian padanya. Riky melihatnya Rina tidak bergerak sedikitpun, anak itu semakin kuat mengguncangkan tubuh hingga Arun menarik menjauhinya. “nak, nenek udah pulang ke Rahmatullah. Kita do’akan nenek tenang di alam sana ya” bisik Arun mengepaskan ABM supaya Riky mendengar perkataannya.
Rita pingsan, dia tidak kuat jika harus kehilangan ibunya. Suara tangisan Riky yang membangunkannya. Mencari dimana ibunya, berpikir apakah bisa di selamatkan dengan cara apapun. Dia jatuh terduduk mengikuti langkah Arun menuju ke kuburan. Letak posisi tanah kuburan di halaman belakang rumah, di pergantian sore masih banyak orang-orang yang menyambangi rumah duka.
“Ibu, ibu ku mohon bawa aku pergi bersama mu..”
Dari arah belakang, Bilqis memeluk Rita dalam tangisan melihat makam sang nenek. Dia pulang dari asrama di jemput pak Yosep karena mendengar kabar almarhumah. Dia juga memeluk Riky, mengusap punggung menguatkan kalau anak laki-laki tidak boleh menangis.
Satu bulan kepergian nek Rina selamanya.
Bilqis belum juga kembali ke asrama, Rita mulai gila di dalam kamar sering berbicara sendiri. Kesibukan Bilqis merawat Riky dan menyiapkan makanan. Setelah insiden yang menimpak pak Emon dan bi Sumi. Tidak ada pekerja baru yang berani ke rumah itu. Kini yang tersisa hanya pak Yosep dan pak Surip, keduanya datang bekerja di pagi hari dan pulang saat akan petang.
Bilqis menulis surat ke kampung, mengabarkan berita almarhumah dan surat cuti sekolah mengurus Riky. Wajah Hani berubah kecut, dia mengerut berpikir apakah anaknya akan di jadikan pembantu di rumah itu. Benar kuat dugaannya pada tahun-tahun lalu menjemputnya pulang. Dahulu dia di tahan Rina yang mengatasnamakan tali persaudaraan dan perjanjian menamatkan sekolah Bilqis.
“Aku harus menjemput anak ku” gumam Hani mengemasi barang bawaannya.
Pada malam yang larut agar suami atau anaknya tidak mengikuti maka dia pergi keluar rumah sambil mengendap-endap. Meninggalkan sepucuk surat agar jangan ada yang menyusul, Hani berjalan berkilo-kilo meter menunggu pemberhentian bus. Halte yang sepi, suasana menyeramkan dia tepis menanam tekad kuat di dalam niat demi membawa anaknya pulang.
Perjalanan satu hari satu malam. Uang tabungan, modal belanja hanya cukup untuk ongkos pergi. Tepat di depan pintu gerbang, pak Surip membukakan pintu. “Maaf ibu ini cari siapa? Sepertinya dari kota lain ya banyak sekali barang bawaannya.”
“Saya ibunya Bilqis. Mang Emon yang biasa berjaga disini pasti kenal saya pak.”
“Oh, maaf bu. Mang Emon sudah meninggal.”
“Innalillahi wa’innailaihi rojiun. Kalau boleh tau, mang emon sakit apa pak?”
“Dia__ duh saya takut mengatakannya. Ibu tanya saja ya nanti sama nona Bilqis. Mari saya antar ke dalam bu."
Pak Surip membawakan tas berjalan di belakangnya. Dia mempersilahkan duduk seperti biasa setiap tamu yang datang berada di kursi teras. Kali ini Bilqis menjatuhkan piring di atas wastafel saat mencuci mendengar ibunya datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Giri
SERAAMMM🥺
2023-06-01
0
Giri
kak ars 🥺 aq nahan ke kamar mandi dari tadi 🥺
2023-06-01
0
Viola
semua perbuatan musyrik adalah dosa besar. si Nenek belum. bertobat 🥺🥺🥺
2023-05-30
0