Hancur

“Lu mau uang banyak kan? Lu sikat aja si Darma. Hancurin rumah tangga si Bilqis. Hahah” ucap Vera di dalam panggilan telepon.

Dia bahagia karena berhasil merusak rumah tangga Bilqis, musuh itu bagai parasit. Kemungkinan yang paling besar adalah menunggu korbannya sampai lumpuh total. Dia membayar mahal Titin sehingga mau mendekati Darma sampai menjadi selingkuhannya. Sepak terjang Darma mulai terbaca, surat-surat rahasia dari pacar-pacar gelap yang di kirim ke kantor atas nama Darma di ambil alih Tomi karena takut di ketahui adiknya.

“Si kurang ajar Darma blak-blakan menantang ku. Kalau aku buat keributan di kantor, nanti apa kata orang yang tidak tau masalahnya? Mereka hanya mengambil kesimpulan singkat kalau Darma si abang ipar yang kejam, memukuli adik iparnya di kantornya sendiri” batin Tomi bergerak membawa semua surat-surat itu ke dalam tas kerjanya.

Di ruangan bagian tengah, keluarga besarnya berkumpul sambil menikmati cemilan hangat selesai menutup warung. Kebahagian candaan kecil tidak bisa menutupi raut wajah ibunya. Tomi paham beban ibunya yang memikirkan anak-anaknya.

“Karena ibu mendengar Rusli sakit, untuk beberapa waktu kalian tinggal saja disini. Ibu akan mencarikan orang pintar agar mencari tau penyakit apa yang sebenarnya di derita cucu ku.”

Kalau dari pagi hingga menjelang petang, suhu tubuh Rusli baik-baik saja. Tiba di malam hari, dia sangat rewel. Tangisannya sangat kuat memekik telinga, hal yang paling aneh yaitu ketika anak yang berusia genap empat tahun itu sedang buang air besar. Aroma bangkai menyengat terbawa angin, sampai para pembeli yang tidak tahan memilih untuk pergi.

Sebelum pagi, Hani membawa pampers dan celana yang terkena kotoran cucunya ke tempat pemandian umum. Dia membungkus pampers kotor, membuangnya ke tempat sampah lalu mencuci celana Rusli. Seorang nenek yang sangat menyayangi cucunya itu membuat Minten bahagia memiliki seorang ibu mertua yang baik.

Selesai mengurus cucu, menyiapkan dagangan yang hari ini di jaga oleh Minten. Dia pergi bersama Dodon pergi menemui seorang dukun membawakan syarat yang harus di siapkan.

“Kamu ayah dari anak itu?”

“Benar mbah, saya ayahnya. Apa yang terjadi dengan anak saya?”

“Anak mu ini terkena gangguan bayi Tarakan, bayi yang keguguran atau bayi yang di puja semasa kandungannya. Buang semua pakaian anak mu dan ganti dengan yang baru. Kalungkan jimat ini di lehernya, jangan di lepas sebelum mendekati empat puluh hari.”

“Baik mbah terimakasih.”

Setelah menemui dukun, Hani menangis di dalam kamarnya. Dia menyadari perbuatan dosa besar menduakan Tuhan. Mempercayai hal-hal ghaib, meminta bantuan pada sesame manusia demi menyelesaikan masalahnya. Menyadari dosa yang dia lakukan di masa muda berkaitan besar berupa karma yang dia hadapi.

Di era masa lalu, saat dia bekerja di perkebunan kelapa sawit sebagai buruh sawit. Buruh harian lepas, wanita pekerja keras itu sering mengalami hal-hal mistis terutama pada hari yang tidak pernah dia lupakan seumur hidupnya.

Sebuah gangsingan yang berputar di dekat pohon besar, dia mendekati benda itu yang masih berputar hingga terbang di telapak tangannya. Sejak peristiwa aneh tersebut, Hani jarang sakit. Dia juga sanggup mengangkat buah sakit dengan satu tangan. Membantu memberikan pupuk, mengambil sisa buah brondolan hingga berani menyebrang sungai membawa sisa potongan besi dari pabrik mesin tenera.

Kerja paruh waktu menjahit goni sebelum membuka usaha warung kecil-kecilan. Hani tidak melupakan kelakuannya meminta pada dukun untuk di beri pengasih agar para pembesar tidak mengeluarkannya. Pada masa itu krisis ekonomi melanda, sulitnya mencari pekerjaan sehingga dia lebih giat bekerja agar anak-anaknya tidak kelaparan.

Kedatangan Bilqis menggendong anaknya mengagetkan keluarganya. Lysa di ambil alih Risa, dia mengecup pipi dan dahi keponakannya membawa masuk ke dalam. Wajah layu, pucat berjalan tidak seimbang. Bilqis berpegangan pada tangan kursi selesai bersalaman dengan lainnya.

“Loh kok datang sendiri dik, suami kamu mana?” tanya Minten.

“Kalau di Darma jangan di tanya, dia pria yang sibuk bekerja. Oh ya dik, kamu dari mana? Kok bawa plastik obat-obatan?”

“Dari puskesmas, Bang Tomi jam segini sudah sampai rumah ya. Berarti mas Darma lembur ya mas?” tanya Bilqis sedikit meringis memijat kakinya yang pegal-pegal.

“Nanti biar si Darma saja yang menjemput mu dan keponakan ku dik.”

Bermalam di rumah orang tua tanpa kehadiran suami di sisinya, tangisan Lysa membangunkannya. Susu formula hangat, membuai anaknya perlahan meletakkan kembali di dekat Risa terlelap. Hari yang sibuk di rumah keluar besarnya, Bilqis mengambil alih membantu membereskan rumah. Dia menyusun pakaian Tomi, beberapa lembar amplop berjatuhan dari balik pakaian. Sebuah nama tertulis Darma di setiap pengirim yang berbeda. Bilqis mengambil amplop berwarna merah muda, ada gambar bibir lipstick merah tertempel di bagian depan.

Dari Ida di kampung Lalang.

Untuk mas Darma, pria yang aku cintai.

Mas kapan pulang? Adik udah menunggu lamaran kamu yang tidak kunjung tiba. Satu kampung sudah mengetahui kabar lamaran kita, adik senang sekali dengan hadiah-hadiah mahal yang mas kirim tempo hari. Adik menunggu uang jajan bulanan ya mas.

Salam kangen dari kekasih mu.

Air mata Bilqis tumpah, pada hari itu dia menutupi sisa hujan badai di ujung mata. Meminta ijin pada ibunya membawa Lysa pulang. Hani melihat wajah anaknya murung, dia tidak menahan anak dan cucunya untuk tetap tinggal. Karena khawatir, Hani memanggil sepeda becak, membawakan bekal masakan dan mencium kening cucunya berharap tetap sehat dan di lindungi sang Khalik.

“Ingat Bilqis, kalau ada apa-apa cepat kabari ibu.”

“Ya bu, Bilqis pamit ya. Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam..”

Di depan pintu, Bilqis menunggu kepulangan suaminya. Dugaannya yang kuat merasakan suaminya semalaman tidur dengan wanita lain. Kali ini pria itu pulang dengan berjalan kaki, kancing bagian atasnya lepas, rambut acak-acakan berteriak mengetuk pintu. Bilqis menarik kerah bajunya, dia melotot mencampakkan surat cinta di wajahnya.

“Duh sakit, apa kau gila? Mau jadi istri durhaka?"

“Jelasin ke aku, wanita mana lagi yang kau goda di belakang ku mas? Kenapa kau tidak pernah berubah? Lepaskan aku, biarkan aku pergi membawa Lysa. Aku tidak tahan menghadapi mu!”

Teriakan Bilqis membangunkan bayinya, dia meninggalkan Darma yang merespon sikap Bilqis dengan senyuman menyeringai. Kata cerai hanya isapan jempol, dia tidak akan bisa meninggalkannya. Pelet dan menggendam jiwa wanita itu tertanam di dalam tanah kuburan. Darma masuk ke dalam kamar melanjutkan tidurnya.

Tok, tok, tok.

“Permisi! Mas Darma.”

Suara wanita memanggil Darma terdengar nyaring, Bilqis menggendong Lysa melihat siapa tamu yang datang. Ketika membuka pintu, Bilqis terkejut melihat Titin berdiri di depannya.

Terpopuler

Comments

Kopral

Kopral

💍💍💍

2023-06-04

0

👑keluarga author

👑keluarga author

🌹🌹🌹🌹

2023-06-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!