Nasib

Pergi ke kepingan waktu yang hanya di miliki kehampaan. Dunia tidak akan terlelap kalau engkau berhenti berjalan. Bayangan akan semakin nyata mengikuti di kala mentari tinggi bersinar. Kalau di katakan sedih, Bilqis mau menumpahkan satu ember besar air mata ke atas awan. Tapi, mendung akan menutupi sisa harapan menghambat hari.

Suratan nasib membawa pulang kembali ke kampung halaman.

Tengah malam bola mata Hani melotot, dia mendengar suara jeritan melengking di telinga. Berjalan menuju sumber suara. Di ujung kamar gelap gulita, kilatan cahaya dari langit memperlihatkan sosok tinggi besar melayang.

“Astagfirullah al’adzim!” ucap Hani berlari masuk ke dalam kamar.

“Rita! Kau akan mati!” gema suara mengerikan di udara.

Dia berlari tanpa alas kaki, tanah basah sesekali membanting tubuhnya ke atas lumpur. Di kejar sosok yang mengulurkan tangan mau mencekiknya. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, suara lolongan anjing, burung hantu berterbangan. Rita menangis ketakutan mencari jalan keluar. Kakinya kelu, tidak sanggup lagi berdiri.

“Rita! Kau pembunuh ibu mu! ihihihhh!”

Penampakan kuntilanak berbaju merah, rambut gimbal menjalar menarik kaki dan tangannya. Jeratan terasa kuat, tangan tersayat rambut seperti irisan pisau. Darahnya menetes kuat, dia merangkak berlari menjauh dari kejaran makhluk tersebut. Ketakutan menyelamatkan diri masuk ke dalam terowongan berbau amis. Kaki kanannya robet di tarik cakaran kuku tajam.

“Hiks, arghh!” dia berusaha menutup kuat mulutnya sendiri.

Siraman air dingin membangunkannya, dia melihat tangannya penuh darah. Kakinya yang mulus robek, ujung daging terkoyak jatuh ke lantai. “Arghh!” Rita berteriak histeris.

“Ya allah! Apa yang terjadi pada mu Rita?” tanya Hani menutup luka menekan menggunakan bajunya.

“Kakak! Ada yang mengejar ku! aku takut sekali! Hiks”

Hani meminta Arun membawanya ke rumah sakit, di dalam gendongan tampak Rita meronta tidak mau di sentuh olehnya. Sepanjang ubin, darah banjir anyir menyengat hidung. Sampai aroma berubah berubah bangkai busuk. Para pekerja menutup hidung, memperhatikan Rita di bawa masuk ke dalam mobil.

“Tenangkan diri mu Rita! Kau mau sembuh tidak?” ucap Hani panik.

Dia memakai songkok, pakaian daster menggunakan sandal jepit. Bajunya bekas darah pada luka Rita, di depan ruang UDG Riky menangis meminta masuk ikut ke dalam. Arun menahan membawanya berjalan menjauh sedangkan Hani berdiri menunggu di depan pintu.

Bilqis di rumah tidak tenang, dia di larang ikut untuk menjaga rumah. Hani berpesan agar mengunci semua pintu dan jangan membuka untuk siapapun sekalipun pekerja di rumah itu. Bilqis membuka layar ponsel, pesan whatsapp penuh pesan dari Wijaya. Dia seolah mengetahui Bilqis cuti sekolah hampir satu bulan lebih. Wijaya mencari informasi dari dokter Tya dan menanyakan semua kegiatan di sekolahnya, hingga laporan terhenti. Wijaya kebingungan mencari kabar tentang Bilqis.

......................

Musuh tidak akan pernah senang melihat kesuksesan seseorang dan sebaliknya akan bahagia kalau kehancuran yang dia benci. Mendengar kabar Bilqis, vera dan lainnya tertawa terbahak-bahak. Kali ini dia menjadi penguasa di sekolah, salah satu teman akrab yang memberikan informasi di sekolah kesehatan itu membuatnya sangat bahagia.

“Kabar yang mengejutkan, si anak kampung emang nggak tahan belajar. Bayangin aja sekolahnya kayak burung. Terbang sana, terbang sini. Ahahah!” ucap vera mengipasi wajahnya.

“Ya gua sependapat dengan lu. Seru juga lihat perjalanan hidupnya. Hahaha! Si orang kampung tetap kampung deh” kata Cila tertawa terbahak-bahak.

Barka mendengar jelas kabar masa cuti sekolah Bilqis, dia bersama Wijaya memberanikan diri datang menemuinya. Siap menerima amarah dari Rita. Di depan pintu, Barka menekan bel rumah dengan kaki bergetar.

“Kakaknya galak kayak singa. Mas yakin?” bisiknya mengibaskan tangan yang mulai dingin.

Di balik tirai, Bilqis terkejut melihat kedatangan Barka dan Wijaya. Dia merapikan rambut, berdiri mematung. Tidak berani membuka pintu, dari luar suara panggilan Wijaya membuyarkan pikirannya. Antara ingin membuka atau menahan agar kedua laki-laki itu pergi, suara Wijaya membuat dia tidak tega menunggunya selama berjam-jam di luar.

“Maaf mas Wijaya, Barka, datang lain hari saja ya.."

“Kamu kenapa Qis? Lagi sakit? Mas dengar dari dokter Tya kalau kamu Cuti” tanya Wijaya memperhatikan raut wajahnya yang murung.

“Qis, kalau ada masalah cerita dong sama aku. Kita kan sahabatan. Tuh kamu kurusan” Barka.

“Aku nggak apa-apa kok mas, Bar. Yasudah, Maaf ya Bilqis nggak bisa lama-lama.”

“Ya udah balik yuk kak. Barka udah telat nih” kata Barka melihat jarum jam di tangannya.

Wijaya mengedipkan mata, kode kepada sang adik agar menunggu beberapa menit lagi di patahkan gerakan memakai tas di pundak. Mereka berpamitan, jabatan tangan Wijaya pada Bilqis erat pertanda Bilqis akan meninggalkannya.

Kejadian Rita membuat jadwal pengunduran keberangkatan pulang. Hani merawat Rita hingga dia siuman. Di dalam rumah yang semakin sepi bagai tidak berpenghuni itu, hanya ada Bilqis yang menjaga Riky sepanjang hari. Arun tidak pernah pulang ke rumah, selesai bekerja langsung ke rumah sakit. Mawar sangat geram melihat sikap yang mengabaikannya.

“kenapa si Rita tidak mati aja sih!” gumamnya meremas kertas di tangannya.

Perjanjian setiap bulan atau tidak sampai empat puluh hari memastikan susuk yang di pakai masih berfungsi. Mawar melakukan ritual meminta sang dukun menggendam Arun agar tidak meninggalkannya. Persyaratan panjang, ritual yang membuatnya hampir tenggelam di makan buaya. Sungai bamban menyaksikan dirinya merendam sekujur tubuh tanpa sehelai benang.

“Engkau perlu ingat Mawar, apa yang kau tempuh ini akan memakan diri mu sendiri kalau kau tidak bisa mengendalikannya. Satu lagi, jangan pernah makan sedikitpun pantangan. Kalau tidak wajah mu akan membusuk!”

“Baik mbah, saya akan selalu mengingatnya.”

Di perusahaan itu, semua hal yang menyangkut rahasia perusahaan sampai pada keperluan pribadi di laporkan pada Mawar. Tidak terkecuali Arun yang tidak hadir di tempat, wanita itu memegang kendali berkuasa penuh mengatur semua staf, pegawai dan seluruh pekerja. Rapat-rapat penting, kursi yang seharusnya di duduki Arun kini dia yang menempatinya.

“Stthh! Coba lihat! Aku yakin si Mawar pakai guna-guna. Nggak mungkin tuan Arun sampai memberi kekuasaan penuh pada wanita itu”

“Ya kau benar Yara. Aku sering melihat Mawar tersenyum sendiri sambil bercermin. Lihatlah hiasan di kepalanya selalu ada bunga kantil!” bisik Kela.

“Hih, aku jadi merinding. Jangan-jangan dia sesat kali gais..” Pitri mengangkat bahu.

Satu perusahaan, tamu-tamu penting mengakui semakin hari kecantikan Mawar semakin tiara tertandingi. Setiap relasi kerja yang hadir di dalam rapat, banyak terperangah melihatnya tidak berkutik.

“Pak Tanto, hari ini jam kerja di percepat ya. Saya ada urusan di luar. Oh ya kalau ada masalah penting kabari saya.”

“Baik bu Mawar..”

Terpopuler

Comments

Cik ngah

Cik ngah

balik kandang biar aman. tu rumah kena benda ghaib

2023-06-01

0

Straw

Straw

ikutan kasih lop💞

2023-06-01

0

Miftah

Miftah

suka ❤❤❤

2023-06-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!