Bi Sumi melihat di ujung tangga ada nek Rina berpakaian hitam menatapnya. Dia menggertakan tulang kepalanya sambil tersenyum menyeringai. Langkah mundur bi Sumi bergetar ketakutan. Kakinya terlalu jauh menapak sehingga dia terjatuh ke belakang. Dia tidak sadarkan diri, kepalanya mengeluarkan darah menggenangi tubuhnya. Dari atas, penampakan sosok itu tertawa terbahak-bahak melihatnya.
Riky melotot mengintip dari balik pintu, merasakan makhluk tadii mendekati kamarnya. Dia bersembunyi di dalam lemari. Menutup kuat pintu, dari luar pintu lemari di pukul keras. Riky di tarik dari dalam, sosok yang menyerupai kuntilanak berbaju hitam menumpahkan cairan hitam ke mulutnya.
“Hahhh…”
Arun ingat di belakang rumahnya hanya ada beberapa pohon berukuran tinggi dan semak yang menghalangi pagar. Tapi saat dia berdiri di dekat pohon pinus, di depan berjejer pohon-pohon besar bergelantungan burung gagak bersuara ramai. Rita memeluk lutut di salah satu pohon, dia menangis bernada mendayu.
“Kamu bukan Rita istri ku kan? Siapa kamu?” tanya Arun menggeser rambut yang menutupi wajahnya.
Sosok wanita berwajah buruk rupa, dia menangis mengeluarkan darah mencengkram kuat lengan Arun. Wanita itu menindihnya, memuntahkan cairan hitam ke mulut Arun. Dia terbangun kembali terbanting dari atas langit-langit kamar. Arun melihat perutnya semakin lama semakin membesar, dia berteriak kesakitan. Beberapa detik rasa mual, memuntahkan darah hitam yang berisi hewan-hewan menggeliat.
“Tolong! Arghh! Bi Sumi! Mang Emon!”
Dari atas tangga dia melihat Bi Sumi bermandikan darah, dia tidak berani menyentuh pekerjanya itu karena takut menjadi tersangka. Dia berbalik mencari Riky, anaknya melotot sambil membuka rahang mengeluarkan darah memenuhi wajahnya. Arun sangat panik, dia menelepon polisi dan ambulan. Sebelum polisi datang, dia tidak berani menyentuh keduanya.
Di depan halaman depan, para tentangga keluar melihat ada aparat kepolisian dan petugas ambulan membawa anggota di rumah itu. Arun di interogasi selama berjam-jam. Polisi sigap menyelidiki dan mencari bekas sidik jari Arun yang tidak ada di tubuh Riky maupun Sumi.
“Oh ya dimana mertua ku pada saat itu ya? Sebelumnya memberikan aku segelas kopi” gumam Arun.
Dia melajukan mobil ke rumah sakit, mendengar kondisi Riky dan Sumi mulai stabil. Dia mengelus dadanya sangat lega. Hanya saja bi Sumi harus menjalani operasi di bagian kepalanya. Arun membayar semua biaya pengobatan dan menyewa salah satu dokter khusus untuk menangani anaknya. Memberi pesan melalui whatsapp pada Rita. Beberapa jam berlalu wanita itu berjalan perlahan mendekatinya. Hari ini Rita berpenampilan sederhana, wajahnya terlihat sangat pucat, lipstick yang di pakai tipis-tips dengan polesan bedak.
Dia duduk di samping Arun, matanya mengisyratkan kemarahan melihatnya. “Kejadiannya bagaimana? Kau tidak becus sehari aja menjaga keluarga!"
Tangannya memukul pundak Arun, sosok pria itu menahan tubuhnya. Dia memasang wajah memelas meminta maaf. Arun menyadari sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menjadi suami yang baik. Dering ponselnya berbunyi, nama mawar tertulis jelas di kontak. Dia sedikit ragu menekan layar panggilan hijau. Karena takut Rita curiga, sedikit gelagapan menerimanya.
“Ya halo, saya tidak bisa meeting hari ini. Tolong kamu tangani semua berkas-berkas penting yang harus di tanda tangani. Saya sedang bersama istri saya di rumah sakit.”
Klik__
Suara panggilan terputus. Mawar menggenggam kuat ponselnya, kecemburuannya mengetahui Rita istrinya dengan pria yang berusaha dia rebut hatinya. Merasa kecantikannya harus melebihi istri Arun, maka dia mempercepat pekerjaan agar menemui salah seorang dukun yang berjarak agak jauh dari perusahaan.
Wanita yang kalap mata, siap menerima segala resiko yang akan dia dapat setelah berhubungan dengan iblis. Dukun janggut panjang menyiapkan air pemandian, menuangkan syarat dan bahan ritual. Bunga-bunga berwarna-warna di tambah tiga tumpukan bunga kantil. Sekuntum bunga kantil berukuran kecil yang harus di telan. Si dukun membaca mantra menyiram air darah ke wajahnya.
Air pemandian di campur irisan daun jeruk purut. Sebuah cerek panas yang baru saja mendidih di atas tungku. Tetesan air menyiram bagian perutnya, kulitnya melempuh terbakar tapi Mawar tampak sangat bahagia. Permata-permata kecil berwarna merah satu-persatu di tekan di bagian-bagian titik tertentu.
Bagian dahin, mata, bibir, leher, dada bahkan wanita yang terlalu terobsesi memiliki segala itu meminta si dukun meletakkan banyak susuk di bagian ***********. Semua permata yang di pasang menghilang tertanam di tubuhnya.
“Ingat, kamu jangan pernah makan labu makan di tengah malam. Kamu juga harus kembali setiap empat puluh hari sekali agar memastikan susuk-susuk itu tidak membusuk di dalamnya."
“Tentu saja aku akan mengingat semuanya Ki.”
Sesampainya di rumah, Mawar merasa ada sosok makhluk halus mengikutinya. Dia tidak memperdulikan sosok itu semakin mendekat. Hingga merasuki tubuhnya, wanita itu duduk di depan cermin tersenyum menyisir rambutnya.
“Aku adalah wanita tercantik, ahahah.”
Pada malam yang terlewati, Mawar menyelinap masuk ke dalam rumah Arun. Dia membanting pintu, menutup mulut salah seorang pekerja. Sosok wanita yang mengganggunya mirip penampakan kuntilanak berambut gimbal panjang. Dia menarik hati mang Emon, suara kunyahannya, mengisap darah hingga jasadnya menjadi kaku. Suara teriakannya tidak terdengar di dalam lolongan anjing.
“Bu dengar tidak?”
“Ya ibu dengar pak, baru kali ini ada suara anjing menggongong terus merintih gitu.”
Pak Yosep dan istrinya sepanjang malam berjaga mondar-mandi memastikan keadaan rumah dan anak-anaknya. Dia menunggu panggilan Rita atau Arun, bersiap-siap berpakaian menyalakan mesin. Sebelum pergi berpesan agar tetap di rumah sampai dia kembali.
“Bapak menyadari situasi sekarang ini tidak aman bu. Nanti bapak akan bawakan belanjaan selesai menjemput nyonya.”
“Hati-hati ya pak..”
Kejadian di rumah besar menjadi bahan perbincangan para tetangga. Kematian pak Emon, mayat membusuk yang baru saja meninggal dunia menyebar omongan makhluk halus atau jin pesugihan. Tapi, isu miring itu di patahkan para pekerja yang tidak mendapati hal-hal berbau mistis di rumah itu. Semua sikap majikan yang mereka lihat tidak menunjukkan ada benda atau keanehan.
“Menurut salah satu cerita dari pekerja di rumah itu, pak Arun berlari ke halaman belakang rumah memanggil nama bu Rita” bisik Jajah.
“Jangan-jangan dia bu Rita, tapi makhluk si pemakan jantung. Kasihan jasad Mang Emon. Kain kafannya tidak henti mengeluarkan bercak darah.”
Sebelum di mandikan, jasad Emon kering kerontang. Namun, setelah selesai dan di kafani, serpihan daging mengelupas mengeluarkan darah membanjiri kafannya. Pihak kepolisian tidak menemukan bekas sidik jari apapun disana. Banyak yang beranggapan kabar penganut aliran sesat mulai berkeliaran di tempat itu.
“Laporan tuan besar, rumah nyonya Rita hingga sekarang di penuhi pihak kepolisian.”
“Apa kau sudah memastikan di kamar Rita tidak di temukan obat-obatan terlarang atau sejenisnya?”
“Saya sudah membereskannya tuan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
✍️Dartok
🌹mawar? xixixixii oplas aja gak usah pake dukun ❌
2023-06-01
0
👑keluarga author
💝💝💝💝
2023-05-30
0