Seminggu berlalu, tiba hari dimana kepulangan menggenggam tangan kanan ibu berjalan masuk ke bus besar rute kampung tanah hijau. Tidak ada toleh, salam perpisahan, lambaian atau pelepas kepergian. Pilihan Bilqis menetap tidak mau di sebut sebagai anak durhaka. Hujan deras, angin membawa air hujan ke sela jendela.
Di dalam harapan yang Bilqis panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa berharap kebahagiaan di hidupnya. Kepalanya basah kebas, dia menutupi bagian atas kursi ibunya agar tidak terkena hujan. Tidak mau kepulangan menjadi perbincangan atau menambah beban pikiran keluarganya. Di depan pemberhentian bus, Bilqis membeli beberapa bungkus oleh-oleh, dia membayar becak angin untuk mengangkut barang-barang bawaan dan satu becak lagi membawa dia dan ibunya.
Baju kering di badan, rambut yang semula seperti habis di keramas mengering berganti cuaca terik. Kepulangan Hani dan Bilqis di sambut seluruh keluarga besar. Pihak-pihak sepupu dan juga para tetangga yang sengaja datang melihat Bilqis. Pelukan hangat Risa, tangisan kerinduan pada kakaknya yang sempat terpisah.
“Kak, Risa rindu sekali. Hiks, hiks.”
“Wah, wah Bilqis makin putih ya. Gendutan lagi. Huhh.”
“Anak kota gimana sekolahnya? Lancarkan? Udah jauh-jauh pisah dari keluarga, harus benar-benar sekolahnya ya jangan Cuma main-main.”
Perkataan orang-orang yang lama-kelamaan membuatnya sedikit risih. Hani menarik Bilqis masuk, dia tidak mau anaknya murung. Pertanyaan tetangga di jawab senyuman, satu-persatu mereka di beri bungkusan buah tangan.
“Terimakasih banyak bu hani.”
“Ya terimakasih bu, kami pulang ya.”
Tetangga terjulid sekampung, di sisi kanan dan kiri selalu mencari sensasi kabar rumah tangganya. Pernah suatu hari bu Jumi di tampar Hani karena membeberkan isu tidak sedap. Bilqis di kota besar di cap menjual diri demi bersekolah, mulut wanita tiga puluh lima tahun itu hampir robet di tarik paksa tangannya.
......................
Barang-barang di pisahkan ke tempat masing-masing. Risa melenggak-lenggok berputar di depan kaca mencoba baju-baju branded milik kakaknya. Dia juga memakai aksesoris, sandal yang terlempar disudut secara bergantian.
“Ini baju perawat kak? Punya siapa?”
Pertanyaan pertama di jawab sepanjang malam sampai suara adzan subuh menggema. Selimut sebagai penampung air mata Risa seolah sudah bisa di perat. “kakak, jangan di teruskan lagi. Risa nggak kuat dengarnya kak. Hiks.”
Bilqis tersenyum memeluknya, dia mengajak adiknya sholat berjamaah bersama. Keyakinannya bisa meneruskan sekolah dengan sisa uang yang dia punya. Hani mendapat kabar alamat sekolah yang menampung anak-anak kurang mampu. Letaknya berjarak satu jam mengendarai angkutan umum. Hani menyodorkan alamat sekolah yang harus dia tuju sendiri, dia harus menjadi anak yang mandiri karena ibunya hari ini mulai membuka warung untuk berjualan.
“Kamu hati-hati di jalan ya. Kalau tidak ingat angkutan mana yang di naiki jangan sembarangan tanya orang tidak di kenal. Minta ibu guru membantu kamu.”
“Ya bu, Bilqis ingat kok. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
Sekolah baru di usia yang semakin bertambah, Bilqis tidak patah semangat meneruskan langkah. Naik ke bus besar yang di penuhi para para pekerja, Bilqis berpikir dengan naik angkutan besar maka dia akan segera sampai.
“Tumben supir mau berhenti” bisik salah satu penumpang.
“Kamu lihat aja penumpangnya artis. Mulus banget, lalat aja keseleo menempel di kulitnya."
Suara mereka terdengar jelas di telinga Bilqis. Dia melototi mereka berdua, keduanya terdiam menunduk mencari pandangan lain.
“Galak!” gumam pria memakai ransel coklat.
......................
“Kak Bil_qis. Hua!” suara gagap Riky melihat kamar Bilqis yang kosong.
Dia mengamuk mengobrak-abrik seisi kamar. Tidak ada pekerja rumah tangga yang tahan menghadapi sikapnya. Pekerja yang paling lama mengabdi meminta pensiun setelah insiden kecelakaan pada tahun-tahun lalu. Di rumah besar itu, pekerja yang tersisa hanya pak Yosep sebagai supir pribadi. Kepulangan Bilqis menyematkan amarah, dendam dan kebencian di hati Rita.
Dia memutuskan segala hal mengenai Bilqis dan tidak mau sedikitpun mengetahui kabar keluarganya yang di kampung. Setiap hari, kerjaan wanita itu tidka lain adalah foya-foya. Kebiasaan buruk yang tidak bisa dia tinggalkan. Mengabaikan jeritan Riky bahkan tidak memperdulikan anaknya.
“Untung saja nona Bilqis di jemput ibunya di kampung bu. Kalau tidak ya jadi pekerja rumah tangga, sekolahnya berhenti. Nyonya besar juga tidak memperdulikan anaknya sendiri” ucap Yosep.
“Ya bapak benar. Tapi kalau ada pekerjaan halal lainnya yang lebih baik. Bapak harus segera meninggalkan rumah angker itu pak. Ibu saja hanya sekedar lewat mengantar bontot makan siang bapak sudah kalang kabut ketakutan” kata bu Cangkung sambil menuang teh hangat.
Teringat akan semua kebaikan Bilqis pada keluarga mereka. Sebulan sekali, mereka mengirim kabar mengenai keadaan mereka dan keluara Rita ke alamat rumah Bilqis. Selain menyambung tali silaturahmi, mereka juga ingin memastikan Bilqis baik-baik saja.
......................
Mendung kelabu di hotel Mega mendung, saksi percintaan Rita dengan Deni yang tidak terkikis oleh waktu. DI sisi lain, Mawar menghabiskan malam selalu bersama Arun. Kekuatan pelet mayat yang dia puja berhasil menaklukkan pria itu. Tanpa sadar dia menuruti permintaannya, masuk ke rumah besar sampai kehadiran Mawar di lihat oleh Riky.
“Siapa dia mas? Anak kamu?” tanya Mawar bernada mendayu.
“Ya, dia anak yang susah di atur. Hei Riky! Papi bilang kamu masuk ke dalam kamar!” bentaknya.
Riky membanting pintu, dia melemparkan semua barang-barangnya ke luar jendela. Mawar mendengar suara anak yang berkebutuhan khusus itu, dia menutup telinga karena tidak kuat mendengar suara amukannya.
“Mas, aku balik aja nih kalau anak kamu nggak bisa diam! Huh!”
“Jangan sayang! Sebentar ya aku beresin itu anak!”
Riky di tarik Arun ke sudut dinding, dia menutup mulutnya. Mengikat dengan kain, gerakan membenturkan kepalanya ke dinding. Di depan pintu, Mawar tersenyum dengan melipat tangan. Dia berpikir kenapa anak laki-laki itu tidak di bunuhnya saja. Berjalan perlahan mendekati Riky, sepatu tumit menekan bagian perut sangat kuat.
“Jangan sampai luka, nanti si Rita lihat jadi berabe!”
“Kesel banget sih aku sama anak ini. Jadi beban kamu aja! Hei anak idiot! Noh sana susul ibu lo!” ucap Mawar Kasar sambil menendangnya.
......................
Kembang desa bersinar membawa daya pikat setiap kaum adam yang singgah membeli lauk-pauk di rumah makan Hani. Hari minggu banyak para pembeli berdesakan mengantri sampai ke pinggir jalan. Mendengar kabar kepulangan Bilqis, Tomi pulang tanpa memberi kabar sebagai kejutan untuk keluarganya. Dia pulang bersama teman satu kosannya yang jarak letak rumah keluarga beberapa meter.
“Assalamualaikum bu..”
“Walaikumsalam.. Tomi! Anak lanang ku! ibu pangling nak. Pak, Bilqis, risa. Coba lihat siapa yang datang!” ucap Hani berteriak masuk ke dalam.
Menyambut kedatangan Tomi, lelaki yang ada di belakangnya senyum-senyum melihat Bilqis. Tomi menyikut temannya itu, dia bersalaman pada anggota keluarga yang lainnya.
“Kenalin bu, ini Darma teman satu kosan Tomi.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
AD Daffa kodim1
ai cantik kak ars❤
2023-06-02
0
pgri
👍👍👍👍
2023-06-02
0
Era
jangan kasih kendor. lanjut kak
2023-06-02
0