Sihir hitam di udara

“Kamu dari mana nduk?”

“Baru pulang kerja bu, kan biasanya Risa pulang jam segini.”

“Sini, ibu mau bicara sama kamu..”

Hani memberitahu kejadian tadi pagi pada Risa. Dia mempercayai anaknya tidak mungkin menjadi wanita murahan merampas suami orang. Tapi melihat raut wajah Risa yang berubah, dia menyelidik apa yang telah dia lakukan sampai wanita itu berani menghakiminya.

“Bu, memang benar mas Adit suaminya bu Tari. Mereka akan segera bercerai, mas Adit adalah direktur di perusahaan tempat Risa bekerja bu. Mereka akan bercerai sebelum Risa masuk ke perusahaan itu.”

“Sebaiknya kamu jauhi laki-laki itu sebelum resmi bercerai dengan istrinya. Kalau kamu masih menganggap aku ibu mu. Maka dengarkan ucapan ku ini."

Seminggu berlalu, Risa tidak memberi kabar mengenai surat cuti atau laporan mengenai dirinya. Dia menonaktifkan ponsel mengurung diri di dalam kamar. Di tengah hari, dua mobil sedang terparkir di depan rumah. Para pelanggan yang makan menoleh melihat pria memakai jas dan dasi berwarna hijau. Ada beberapa pria lain yang mengikutinya dari belakang.

Duduk di kursi yang kosong, pria lain berdiri mengenakan kaca mata hitam di sampingnya. “Permisi, tuan-tuan ini cari siapa?”

“Maaf bu, apa benar ini rumahnya Risa?”

“Ya benar, saya ibunya. Ada keperluan apa mencari anak saya pak?”

Setelah mengetahui pria berdasi itu adalah bos anaknya, Hani mempersilahkannya masuk ke dalam. Suguhan kopi dan kue kering, pria berumur itu tersenyum melihat Risa yang keluar dari dalam kamar. Wajahnya kusut, jabatan tangan di dalam tatapannya yang dingin. Pria itu memberikan kode pada para anggotanya agar menunggu di luar. Percakapan serius mulai mengarah pada keseriusan meminta restu pada ibunya Risa. Dia menunjukkan surat perceraiannya dengan mantan istrinya.

“Saya mendengar dia datang kesini sambil marah-marah. Maaf ya bu, saya tidak bermaksud ingin menyakiti hati Risa. Saya ingin sekali menjadikannya istri..”

“Kalau kamu sabar menunggu, biar Risa menetapkan hatinya. Minggu depan kamu datang kembali atau menunggu kabar dari Risa ya..”

Kemungkinan besar untuk menetapkan hati, waktu seminggu tidak lah cukup. Risa mulai gamang melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Dia takut Adit berubah setelah berhasil mendapatkannya, pengalaman dari kakaknya Bilqis yang harus berjuang sekuat tenaga mempertahankan rumah tangga. Suaminya yang suka berselingkuh, belum lagi cobaan dari mertua yang tidak pernah menyukainya.

“Mas Adit pasti anak orang kaya, belum tentu mau menerima segala kekurangan ku” gumam Risa menatap langit.

Hadiah-hadiah untuk Risa di kirim setiap hari, bunga-bunga segar dan berbagai barang kebutuhan perlengkapan Risa. Tapi tetap saja hadiah itu di tolak dengan alasan belum memberikan jawaban. Tapi tetap saja Adi bersikeras memerintahkan anggota yang mengirim semua hadiah di tinggalkan di rumah wanita yang sangat dia nanti.

“Udah sikat aja, namanya anak perawan jadi banyak malunya” ucap rekan kerjanya.

“Tapi dia masih marah, mantan istri aku melabrak ke rumahnya Nok."

“Mmhh, kalau cari biasa nggak mempan, kamu coba cara halus deh."

***** mengajak Adit ke sebuah rumah yang terbuat dari pelepah kelapa sawit, letak rumah di dekat pinggiran sungai. Di dalamnya terlihat kepala tengkorak yang bergelantungan. Adit berjalan mundur, dia menarik lengan baju ***** supaya meninggalkan tempat itu.

“Tenang aja, urusan kamu pasti selesai disini!” bisiknya.

“Emak aku juga dukun Nok! Balik!”

Adit yang sengaja menyembunyikan tentang jati diri keluarga kini terkuak. Bu Marina seorang dukun sakti di kampungnya, dia tidak pernah sedikitpun menginginkan ibunya ikut campur dalam kisah percintaannya. Walau demikian, Marina sudah menanam ilmu pengasih dan penjagaan pada anaknya sehingga banyak wanita yang tertarik.

Jurus terakhir agar Risa tidak menolaknya, dia terpaksa memberitahu perceraian dirinya dengan Tari dan keinginannya menjadikan Risa sebagai istrinya. Marina seolah tidak memperdulikan anaknya bercerai begitu saja. Dia mendukung segala keinginan Adit.

“Semua keputusan mu, tidak akan ibu larang. Berikan foto anak itu, ibu akan mengobatinya malam ini.”

Di dalam lelap, Risa merasakan ada yang merasakan ada yang memegang tengkuknya. Menoleh perlahan melihat sosok mengerikan melotot memasukkan segumpal darah ke dalam mulutnya. Teriakannya tidak terdengar, segumpal darah berwarna hitam berdetak masuk ke dalam perutnya.

“Ibu! Arggh!”

Langit mendung di pagi hari, Hani menggedor pintu sampai membukanya sendiri menggunakan kunci cadangan. Risa mendengkur sangat keras, pakaian tidur yang di kenakan sangat tipis. Hani menepuk pelan pipinya, Risa membuka mata terkejut menatap ke sekitar.

“Duh, anak gadis jam segini baru bangun. Risa, kamu pasti nggak sholat shubuh ya? Kalau lagi banyak pikiran, justru lebih mendekatkan diri pada Allah.”

“Maaf ya bu..”

Lingkar cekung, bibirnya yang menghitam dan pandangan mata yang tajam. Hari ini, dia membuka layar ponsel meminta Adit segera datang. Perjanjian kedatangan di percepat setengah jam dari waktu yang di janjikan. Risa berdandan menunggu di depan pintu, melirik jalan sampai panggilan ibunya yang tidak terdengar.

Dia menepuk pundak anaknya, tapi Risa tetap tidak bergeming. “Risa! Ngapain? Kamu nggak dengar panggilan ibu?”

“Nungguin mas Adit bu..”

Hani memperhatikan sikap anaknya yang aneh, dia terlihat kegirangan menyambut Adit yang belum keluar dari dalam mobil. Senyum Adit berhasil menundukkan wanita yang dia inginkan, semua itu berkat bantuan ilmu hitam yang ibunya miliki.

“Kenapa nggak dari kemarin-kemarin aja ya minta tolong sama ibu. Tapi nggak apa-apa lah yang penting Risa menerima ku” gumam Adit mengelus tangannya.

Di ruang tamu memampangkan pemandangan yang membuat risih Hani, dia melotot mendehem melirik Risa. Posisi duduk di kursi yang lain, Hani menahan gerakan anaknya yang semakin aneh. “Kamu kok jadi agresif gini sih, istighfar kamu” bisik Hani di dekatnya.

Secepat menabur sihir di udara, Risa tidak mempermasalahkan kapan Adit akan meminangnya. Tidak perlu menunggu lama, pria itu memerintahkan salah satu anggotanya mengambil sebuah koper di dalam bagasi.

“Bu Hani, ini uang mahar untuk Risa. Tolong beri kami restu bu..”

Uang satu koper senilai lima ratus juta rupiah, Hani menggelengkan kepala melihat sikap Adit yang tampak menggebu-gebu. “Mohon maaf nak Adit, nilai uang tidak bisa di ukur dengan nilai hati yang tidak terbatas. Ibu tidak bahagia kalau nantinya Risa Cuma bergelimang harta tapi batinnya tersiksa. Kamu yakin bisa setia? Kamu pernah gagal dalam berumah tangga. Ibu tidak mau Risa terkena dampak dari semua ini.”

“Saya akan selalu setia, menjaga dan mencintai Risa bu. Percayalah..”

Defenisi kata percaya kebanyakan yang terucap dari kebanyakan mulut para lelaki adalah sebuah kata majemuk semu. Pembuktian setipis kulit bawang tanpa ada pembuktian yang terikat dan sanksi.

Terpopuler

Comments

yasa

yasa

suka 🙏

2023-06-04

0

Biri-biri

Biri-biri

pantang tak top ya si Vera. membuang waktu cuma melampiaskan kebahagiaan menggangu ketenangan hidup orang lain.

2023-06-04

0

moci

moci

kesel aq baca darma /Adit!

2023-06-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!