Fikra berjalan mendekat ke arah Faraz. Tapi entah mengapa matanya selalu fokus ke bagian baju Faraz. Ketika mendapatkan apa yang ingin dilihatnya Fikra tampak tercengang tak percaya, pada pakaian itu jelas sekali sesuatu tampak meninggalkan bekas peluru tadi.
"Kau masih sempat melamun? Cepatlah jika tidak ingin ketinggalan sesuatu yang menarik." Ucap Faraz mengingatkan Fikra. Dia mengatakan seperti itu karena merasa beberapa kali mendapatkan perhatian Fikra. Merasa sudah diselidik oleh bawahannya Faraz menjadi tak nyaman, itulah mengapa Faraz tidak pernah merekrut bawahan untuk di bawah naungannya langsung.
Fikra terperanjat buru-buru mengalihkan tatapannya ke arah lain. Setelah melihat Faraz sudah berjalan di depannya dia segera mengikutinya dari belakang.
Keduanya keluar dari rumah, ketika keluar dari rumah kini tampak ada penerangan dari lampu yang sudah disediakan petugas damkar di sana, sekarang semakin jelas para polisi yang sudah berjaga di mana-mana.
dikira yang masih mengikuti Faraz terus menebak-nebak kemana perginya Faraz sekarang. Dari arahnya berjalan Fikra bisa menebaknya jika tujuan Faraz adalah rumah pertama yang selalu membuat dia melamun lama di sana, berdiam diri berapa jam lamanya sambil melihat ke arah lemari.
Tiba di dalam rumah yang sudah dipikirkan Fikra sebelumnya. "Kita akan melihat sesuatu di balik lemari ini. Kau akan terkejut ketika melihatnya." Ucapan Faraz mulai menjadi pertanyaan bagi Fikra, dia tahu akan ada kejutan yang tidak diketahuinya dan Fikra tidak bisa memikirkan apa yang sudah ditemukan Faraz sekarang.
Faraz tampak membuka lemari, sudah terbuka lagi dan dia juga membuka pintu yang tersembunyi di dalamnya. Melihatnya saja fikra langsung mengerti apakah semua lemari memiliki mekanisme yang sama seperti tadi?
Faraz lebih dulu turun ke bawah kemudian diikuti oleh Fikra.
Setibanya di ruangan yang sama seperti di rumah sebelumnya pemandangan di depan mata membuat Faraz sangat senang. Anak kecil, gadis cilik itu ada di sana dan tertidur pulas.
Fikra menyaksikannya dna menghela napas lega. Mengapa dia tidak bisa berpikir sampai di titik itu, anak kecil ini hilang begitu saja dari lemari, tentu saja dia tak sengaja pergi ke ruangan itu. "Sial!" Decak Fikra sedikit kesal karena telah banyak melewatkan detailnya.
"Kita tidak akan pernah menemukannya jika ruangan ini tidak pernah ditemukan." Ucap Faraz pada Fikra, tentu saja fikra paham dia hanya telat berpikir saja dan telat menyimpulkan.
Faraz berjalan mendekat ke arah gadis yang begitu tenang tidur. "Jangan menyentuhnya!" Terdengar sebuah larangan yang tak lain berasal dari hantu gadis kecil yang selalu bersamanya itu. Tangan Faraz langsung berhenti tertahan, dia melihat ke satu sisi memperhatikan bagaimana hantu gadis itu menjelaskan dengan detail.
"Kau tak boleh menyentuhnya sama sekali, dia sudah dikutuk karena itu semua orang yang selalu bersamanya selalu mengalami kesialan. Sekarang pergilah biarkan orang lain mengurusnya saja!" Meyakinkan Faraz agar segera menjauh.
Faraz tampak bingung dia tidak ingin percaya tapi mendengarkan hantu yang bicara Faraz sedikit goyah, dia takut.
Padahal dia sudah menemukan gadis itu namun kali ini dia sama sekali tidak boleh menyentuhnya.
Melihat tingkah aneh Faraz membuat Fikra bicara dan bertanya. "Ayo kita bawa sekarang!" Ajaknya, tapi yang Fikra dapatkan adalah keraguan Faraz.
"Itu tidak penting, sebaiknya aku akan serahkan kasus ini pada polisi lain." Ucap Faraz secara tidak langsung menolak. "Kau juga bisa berguna kan? Ayo kita lakukan saja tugas lain, kita harus pergi ke rumah itu!" Faraz benar-benar mengubah rencananya, jelas terlihat Faraz tidak ingin sama sekali membawa gadis kecil itu.
Fikra tampak tercengang karena melihat Faraz bertingkah seperti itu. Padahal hanya dia yang paling bersemangat untuk menemukan korban, lantas sekarang mengapa dia mengabaikannya?
Tak bertanya apapun, Fikra mengikuti Faraz kembali naik ke atas sedangkan anak kecil itu masih tidur di sana.
"Aku punya satu orang korban lagi, ingat dia adalah saksi pembunuhan bocah yang ada di gang itu, juga pemilik rumah yang tinggal di sini." Faraz mengatakannya pada seorang polisi yang bertugas.
Mendengarkan kabar itu dengan sigap bergegas pergi ke tempat yang disebutkan Faraz.
"Kau bercanda? Dia anak kecil. Kau membiarkannya dia di sana?" Seorang polisi wanita berkomentar.
"Sudahlah yang penting dia selamat. Aku memiliki misi yang lain dan tidak bisa menundanya lagi." Ucap Faraz sebagai alasan.
Akhirnya Faraz bisa pergi ke tempat terakhir yang akan menjelaskan tentang kematian Nona Zen, seorang polwan yang terbunuh tanpa alasan.
Hatinya tak bisa lepas dari perasaan gelisah. Tentu saja Faraz akan menjelaskan sendiri nantinya bagaimana ajal menjemput Nona Zen. Menyedihkan, karena kedatangannya sangat terlambat, dia juga bisa tahu semua ini karena bantuan dari roh yang tiba-tiba muncul terus dan memberitahu dia sesuatu.
"Apa sekarang berbeda? Kau tampak serius sekali." Ucap Fikra sekedar ingin bicara saja karena sepanjang keduanya berjalan Faraz tak bergeming.
"Lihatlah saja nanti." Faraz menjawabnya singkat. Reaksinya benar-benar sudah berubah bahkan ekspresi wajah Faraz saat itu sangat berbeda.
Setibanya di rumah yang ingin Faraz selidiki, yang sudah Faraz katakan pada Fikra, tampak faraz lebih banyak diam, menurut Fikra Faraz seperti keberatan dengan sesuatu yang akan dia temukan.
Memasuki rumah dan tampak di depan mata keduanya masih ada lemari yang terpajang di sana, lemari yang sama persis di setiap rumah. Bisa dipikirkan jika lemari itu pun pasti memiliki mekanisme rahasia seperti tadi. Pertanyaannya apa yang akan ditemukan dari lemari ini, sekarang? Faraz tidak langsung masuk seperti tadi, dia seperti banyak berpikir dan mempertimbangkannya.
"Biar aku yang masuk lebih dulu!" Ucap Fikra tak tahan melihat sikap Faraz.
Faraz tak menjawab ucapan Fikra, dia hanya diam saja dengan tangan yang mengepal sambil berpikir karena kejanggalan di setiap tempat. Bayangkan saja jika semua lemari memiliki mekanisme yang sama, artinya di setiap tempat tentu saja menyimpan rahasia besar tersendiri.
"ASTAGA!" Fikra terdengar syok sampai dia berhenti di anak tangga itu. Faraz langsung berlari menghampiri, ketika memastikan Faraz juga tampak syok dan tidak bisa berkata-kata lagi. Dilihatnya sebuah kepala dengan rambut panjang, wajah tak asing itu membuat Faraz langsung mematung diam. Dia tidak tahu jika masih ada bagian tubuh yang tersisa di sana. Ternyata bagian lain dari tubuh Nona Zen yang disembunyikan adalah kepalanya.
Faraz segera naik kembali dan berlari ke arah para polisi lain, dia menceritakan apa yang ditemukannya bersama Fikra di tempat itu.
Buru-buru beberapa polisi itu segera pergi ke tempat yang disebutkan Faraz, tapi dia tidak mengikutinya lagi. Faraz tidak bisa tenang dan tak sanggup lagi melihat wajah orang yang dikenalnya. Faraz tak pernah menyangka jika kejadian keji seperti itu bisa menimpa pada wanita baik seperti Nona Zen, polwan penting untuk kepolisian.
Tak lama setelah memberitahukan apa yang dia temukan, tampak polisi-polisi tadi sudah kembali membawa kantong jenazah.
"Kita tidak menemukan bagian tubuh lain, Nona Zen." Laporan seorang polisi padanya.
Faraz diam frustasi, semua salahnya karena dia sudah terlambat. Jika saja dirinya lebih cepat menemukan ruangan itu mungkin tidak akan ada nyawa lagi yang harus melayang.
"Aku sangat bangga pada mu, kau bahkan menemukan semua teka-teki sampai tak bersisa. Terimakasih untuk pengalaman dan bimbingannya!" Ucap Fikra tiba-tiba memberikan pujian pada atasannya ketika dia kembali dan bertemu Faraz lagi.
Tanpa mengatakan apapun Faraz langsung pergi dari hadapan Fikra, seperti yang tidak diharapkan Fikra sebelumnya. Kepergian Faraz membuat hati Fikra semakin tidak tenang saja, di matanya Faraz masih menyimpan hal terbesar yang tidak dia ketahui, terlalu banyak yang membuatnya harus berpikir cukup keras dan Fikra merasa gagal karena tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Faraz.
Fikra hanya menyimpulkan sementara jika Faraz sangat terpukul dengan pembunuhan yang menimpa nona Zen. Fikra tidak tahu apakah benar atau salah jika nona Zen dan Faraz pasti sangat dekat memiliki hubungan?
####
Faraz pergi ke salah satu mobil polisi. "Antarkan aku pulang sekarang!" Pintanya yang langsung masuk ke dalam mobil. Wajahnya tampak lelah, namun yang paling membuatnya tak biasa adalah sikap dan cara bicaranya yang melunak. Harusnya Faraz tidak bersikap seperti itu karena selama ini dia dikenal dengan polisi "Gila."
"Baiklah ayo pulang." Jawabnya pada Faraz. " kau tak bersama Fikra?" Faraz langsung terkejut dengan pertanyaan itu, ternyata dia sudah melupakan sesuatu, saking larutnya dalam situasi bercampur dengan kesedihan kemarin Nona Zen membuat Faraz melupakan bawahannya sendiri.
Faraz menoleh sebentar dari balik kaca mobil dia melihat Fikra yang sedang sibuk bicara dengan para polisi lain. "Sudahlah aku lelah sekali, hari ini aku ingin pulang dengan nyaman sendiri saja." Faraz tidak peduli, dia hanya ingin cepat keluar dari tempat itu. Dia perlu tenaga untuk hari esok, ada tugas yang begitu banyak dan dia harus menyelesaikannya.
Urusan nona Zen dia sudah menyerah, awalnya Faraz tak bisa percaya jika nona Zen mati dengan cara seperti itu, bahkan ketika sudah menjadi mayat harus dihancurkan dengan cara yang tak manusiawi. Tapi mau bagaimana lagi? Faraz memang harus percaya pada perkataan hantu itu. Meski enggan, tapi dia memang harus percaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
🌺Zaura🌺
Alurnya benar-benar.... Gak bisa ditebak kak! 😭... Jangan terlalu berbelit-belit, nanti aku gak bisa tidur nich mikirin ceritanya...
2024-07-02
0
🌺Zaura🌺
Si Fikra kayanya mulai penasaran sama si Faraz sepertinya...🙄
2024-07-02
0
Rudy 59
salut dengan faraz. alur cerita yang menarik dan susah ditebak
2024-07-02
1