Fikra terus berjalan sambil menundukkan wajah. Dalam hati sebenarnya dia ingin bertanya, sekarang apa yang sebenarnya ingin diselidiki Pak Faraz? Setelah surat perintah sudah diputuskan mengapa Pak Faraz masih saja melakukan penyelidikannya?
"Apa kau pernah melihat sesuatu?" Tanya Faraz tiba-tiba, Fikra terkejut setelah mengangkat kepala ternyata Faraz sudah berdiri di hadapannya
"Astaga." Pekik Fikra kaget. Faraz kembali berbalik dan melangkahkan kakinya lagi.
Fikra tampak membulatkan mata. "Sesuatu?" Ucapnya membuat Faraz langsung menghentikan langkah kakinya.
Faraz berbalik lagi penasaran.
"Apa ada sesuatu yang harus ku lihat?" Alibi Fikra mengalihkan perhatian Faraz. Padahal kenyataannya di beberapa kesempatan Fikra sudah melihat tingkah aneh Faraz, namun dia masih tetap tutup mulut.
"Tentukan saja sesuatu di rumah itu." Faraz mengatakan lagi tujuan mereka kembali.
Mencerna apa yang dikatakan Faraz, akhirnya Fikra mengerti ternyata tujuan Faraz masih tentang anak kecil yang hilang di rumah itu. "Jadi masih tentang misteri anak kecil yang hilang itu?" Fikra menyimpulkannya.
"Hemm." Gumam Faraz.
"Jejak anak itu sudah jelas kan?" Ucap Faraz mengungkapkan sesuatu yang janggal baginya, mungkin sampai sekarang karena alasan itu Faraz ingin melakukan penyelidikan sendiri.
Fikra diam tak menjawab, dia kehilangan akalnya untuk kembali mencerna apa yang sebenarnya ingin disampaikan Faraz, ataukah sesuatu yang ingin diperlihatkan Faraz?
"Kau bodoh sekali, aku penasaran kenapa kau ingin melakukan investigasi." Ejek Faraz merasa tidak puas, tidak puas karena orang-orang tidak bisa mengikuti apa yang dia pikirkan. Perkataan Faraz langsung membuat Fikra diam membisu dan tertunduk saja.
Sekarang benar-benar sepi, hanya dalam hitungan menit tidak sampai setengah jam tapi semua orang sudah tidak ada di sana. Orang-orang penduduk asli pemilik rumah yang sudah mengantri pergi tadi, dan para polisi juga.
"Kalian benar-benar sudah mengusir mereka dari sini." Keluh Faraz dari kejauhan yang merasa semakin tidak puas.
"Kau! Cepat pergi!" Faraz menunjukkan jari telunjuknya ke arah Fikra.
"Aku?" Tebak Fikra kaget. "Tidak, itu tidak bisa." Fikra menolaknya langsung.
Faraz diam saja melihat titahnya ditolak seperti itu, dia melihat Fikra di hadapannya dan mulai penasaran mengapa anak bawahannya itu masih saja mengikutinya kemanapun. Padahal itu tidak perlu kan? Lagi pula Fikra masih sudah tahu tentang pemutusan tugas itu. "Baiklah terserah!" Seru Faraz, tanpa akan memperlakukan lagi apa yang akan dilakukan Fikra selanjutnya. Faraz kembali masuk ke dalam rumah yang sedari awal adalah tujuannya.
Ketika masuk ke dalam rumah, ternyata di sana masih ada beberapa orang polisi yang sedang membersihkan lokasi. "Kasusnya akan ditutup setelah 3 hari, apa kau benar-benar ingin bekerja dengan dia?" Seseorang mulai mempengaruhi Fikra saat berpapasan, tentu saja Faraz tak mendengarnya karena saat itu Faraz sudah berjalan lebih dulu dan jarak antara dia juga Faraz cukup jauh. Namun Fikra hanya diam saja, lebih baik tidak merespon.
Fikra berjalan lagi menemukan Faraz yang sudah kembali fokus dengan lemari besar di sana. Fikra langsung masuk saja, kemudian dia berjalan mencari saklar lampu di sana, jika dilihat lagi mungkin hanya tinggal 1 jam dan malam akan benar-benar datang. Entah sampai kapan Fikra menemani Faraz di tempat ini.
Faraz diam saja seperti tadi yang dilihatnya. Fikra mencoba memahami apa yang dipikirkan Faraz saat itu. Sebuah lemari yang tampak normal biasa-biasa saja tapi entah mengapa Faraz melihatnya seperti ada suatu keyakinan yang ingin dia buktikan itu tampak menarik sekali.
Fikra berjalan kesana kemari, melihat lemari dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Pikiran Fikra langsung memberi tahu sesuatu tentang lemari besar yang menurutnya lemari itu juga hampir sama dengan lemari yang dipajang dibeberapa rumah.
Lamanya Fikra berpikir, dan akhirnya dia yakin ada sesuatu dengan lemari itu. Alasan mengapa lemari di sana bisa sama dengan lemari di beberapa rumah yang dia lihat.
"Lihatlah aku menemukan sesuatu!" Ucap Fikra semangat. Suaranya berhasil menarik perhatian Faraz saat itu.
Faraz menoleh, dengan tatapannya sudah mengartikan apa yang Fikra temukan?
"Lemari ini, beberapa rumah di sini memiliki lemari yang sama. Kau tahu apa itu artinya?" Jelas Fikra semangat. Begitupun reaksi Faraz langsung berubah, dia seperti menemukan sebuah jawaban tentang teka-tekinya.
Faraz terperanjat. "Apa mungkin semua orang membeli lemari yang sama? Untuk satu kawasan di sini?" Faraz menambahkan teka-teki nya. Namun itu hanya pemahaman logis yang tidak terlalu aneh.
Kedua pasang mata mereka saling meyakinkan, Fikra berjalan lebih dulu ke salah satu rumah yang jaraknya terdekat dengan rumah utama. Faraz memeriksa rumah lain yang bersebrangan bersama-sama.
Keduanya sangat bersemangat ketika menemukan sesuatu yang baru dan merupakan fakta dari apa yang dipikirkan Fikra tadi.
"Aku menemukan sesuatu!" Ucap Fikra. Rupanya Faraz kalah cepat, dia juga akan mengatakan hal yang sama.
"Rumah kedua dari sebelah kanan, selanjutnya yang ada di belakangnya sebagai rumah ke tiga, ke empat yang bersebrangan dengan rumah ke lima. Semuanya memiliki lemari yang sama persis sekali." Ucap Fikra melaporkan temuannya.
"Itu artinya ada sesuatu dengan lemari itu." Fikra masih mengoceh.
Faraz tampak langsung terjaga, dia memberikan sebuah Aba-aba agar Fikra tidak terlalu berisik. Seketika melihat titah Faraz membuat Fikra bingung. Tapi mungkin karena hari sudah malam dan kawasan di sana benar-benar akan gelap, apakah artinya akan terjadi sesuatu?
"Hati-hati!" Ucap Faraz singkat sebagai peringatan.
Mendengarkan peringatan itu seperti sebuah rambu-rambu akan adanya bahaya. Apalagi jika bukan suatu kejutan yang tak terduga.
Faraz meminta Fikra untuk berjaga di belakang langkahnya, berjalan mengendap melewati rumah-rumah di sana.
Saat itu matahari sudah benar-benar hilang dari pandangan, langit berubah menghitam, kedua orang yang masih terjaga dengan mata mereka mengamati setiap rumah dan menunggu sesuatu yang akan terjadi.
Sudah 2 jam sejak Faraz dan Fikra berdiam di sana, bersembunyi dibalik gelapnya malam, bahkan lampu-lampu rumah tidak menerangi kawasan di sana, cukup dengan sedikit cahaya dari bulan yang tidak cukup membuat orang bisa berjalan keluar dari rumah tanpa sebuah cahaya yang berasal dari alat penerangan apapun.
Faraz sangat terjaga, dia terlalu yakin sesuatu akan muncul dan keluar dari setiap rumah.
Benar seperti dugaannya, ketika ada sumber cahaya yang tiba-tiba keluar dari salah satu rumah.
Faraz segera menarik tubuhnya memberitahu Fikra seseorang keluar dari rumah di belakang mereka. Ketika Fikra ingin memastikan, namun cahaya senter nyatanya memperlihatkan mereka jika seseorang juga keluar dari rumah tempat mereka bersembunyi. Saat itu keduanya benar-benar panik, tidak pernah terpikirkan dari bagian mana mereka bersembunyi karena seluruh kawasan ini sudah dipastikan tidak ada orang.
Keduanya saling bertanya-tanya dalam hati, karena bukan hanya dua lampu senter yang tampak namun sekarang rumah ke tiga, ke empat, ke lima, bahkan cukup terhitung banyak jika dibandingkan dengan mereka yang hanya berdua.
Faraz tidak bisa berpikir apapun, sedikit saja dia melakukan kesalahan, atau jika mereka menemukannya di tempat ini entah apa yang terjadi. Kemungkinannya jika orang yang bersenjata mereka akan tak segan membuat hidupnya dan hidup anak buahnya berakhir.
Tampak senter-senter itu bergerak dan sialnya mereka juga membagikan cahaya senter itu satu sama lain. Faraz langsung meminta Fikra untuk bergerak maju, setidaknya mereka bisa masuk ke salah satu rumah lain dan keluar dari rumah itu tempat persembunyiannya.
"Rumah, masuk!" Bisik Faraz.
Mendengarnya dengan keadaan genting seperti itu membuat Fikra tidak berkomentar apapun, dia langsung nurut dan tetap akan menyegarkan apa yang dikatakan Faraz. Terlalu banyak pertanyaan yang membuatnya sangat sulit bergerak. Sedangkan Faraz yang terus mengawasi arah senter itu tampak sangat cemas dikhawatirkan jika salah satu dari mereka menemukan keberadaannya bersama Fikra.
Fikra terus merangkak di balik kegelapan, dia harus bisa masuk ke dalam rumah seperti yang dikatakan oleh atasannya. Entah apa yang terjadi dia tidak bisa bertaruh dengan kebenarannya. Andai saja di rumah itu masih ada orang yang keluar, itu hanya akan sia-sia saja. Namun karena sudah terdesak Fikra hanya bisa terus merangkak perlahan sampai keduanya bisa masuk ke dalam rumah.
Fikra segera membagikan pandangannya saat itu, meskipun sulit dengan mata telanjang untuk memastikan apakah di sana ada orang atau tidak.
"Sepertinya tidak ada siapapun." Bisik Fikra saat itu, dalam pikirannya Faraz ada di belakangnya. Namun ketika mengatakannya Faraz tidak juga memberinya jawaban. Saat itu pikirannya langsung kalut dia tidak tahu harus melakukan apa.
Fikra segera duduk mencari Faraz kemanapun, ketika dia bermaksud ingin keluar namun sesuatu membuatnya langsung mengurungkan niatnya. Fikra tidak mungkin keluar karena orang-orang sudah berkumpul dan entah ada berapa banyak orang di sana dia tidak bisa memastikannya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Kemanakah Faraz?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Rudy 59
berhasil membuat penasaran sampai sini... lanjut thor
2024-07-02
0
Rudy 59
degdegan
2024-07-02
0
🌺Zaura🌺
Ada apa dengan orang-orang itu berkumpul diluar? 🙄
2024-07-02
0