Fikra merapihkan kembali pakaian yang tadinya terbakar. Untung saja hanya pakaiannya saja yang terbakar dan sedikit panas. Ketika dibukanya ternyata kulitnya juga sebagian melepuh.
Tampak napas dari ke tiga orang seirama naik turun. Sambil merapihkan baju dan menutup lagi luka bakar di tubuh, Fikra tidak melepaskan pengawasannya sedetikpun pada orang asing Tepat berada di seberangnya saat itu. Kemudian ketika melihat ke arah Faraz, tampak kesibukan faraz menarik perhatian Fikra.
Saat menoleh matanya takjub menangkap pemandangan yang begitu detail, ada interior tulisan kuno di dinding dan juga beberapa ornamen yang has tergambar juga. Sayang sekali mungkin hanya para ahli arkeologi yang bisa mengartikan detail lukisan di ruangan.
Fikra dan faraz sama-sama tercengang. Pertama tentang sebuah ruangan rahasia yang sengaja disembunyikan dengan cara rumit, tak bisa ditebak. Kedua lantas orang-orang yang sebelumnya tinggal di sini pun memiliki lemari yang sama, tujuan mereka membuat ruangan seperti ini untuk apa selain untuk tempat persembunyian, dan atas dasar alasan apa mereka bersembunyi? Sebuah pertanyaan yang menarik perhatian Fikra.
"Menakjubkan, kita menemukannya. Selangkah lagi kita akan tahu seperti apa orang-orang di kawasan ini!" Ucap faraz kemudian perhatiannya teralihkan pada orang ketiga yang saat itu masih bersama Faraz dan Fikra.
Fikra tak berkomentar, dia tidak tahu mengapa Faraz terus menyelidiki orang-orang di kawasan ini, ketertarikan Faraz dan perhatian Faraz atas dasar apa? apa karena tentang Nona Zen? Fikra mulai menebak sebuah hubungan yang tidak di tahu.
Faraz kemudian membawa sesuatu di balik saku celananya, yaitu sebuah borgol polisi. "Seharusnya dari tadi seperti ini." Ucap Faraz pada lelaki asing yang tampak dingin dan tidak bicara apapun padanya.
Faraz tak ingin kalah, dia masih membalas tatapan tajam dari orang asing yang membuat hatinya terus bertanya. Faraz ingin tahu sejauh mana kasus Nona Zen dan keterlibatan orang-orang di kawasan ini. Kuncinya apakah mereka berpihak pada Nona Zen, atau sebaliknya? Tidak mungkin kan nona Zen melarikan diri ke suatu tempat tanpa sebuah alasan yang pasti.
Fikra melihat ke arah Faraz, seperti ada sebuah pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Faraz. "Aku penasaran sekali, di atas sana semuanya gelap tapi kau benar-benar bisa bertindak dalam keadaan gelap seperti itu?" Fikra tak menahan diri, dia mengutarakannya dan sejatinya dia masih tak percaya masih bisa selamat sampai titik ini, alasan utamanya adalah Faraz, bagaimana Faraz melakukannya hingga bisa berhasil lolos dan selamat, juga ditambah telah menangkap orang itu.
"Lelaki bodoh, dia hanya tetap mengandalkan ku, kau tahu?" Muncul lagi wujud hantu anak kecil, memaki di hadapan Fikra, namun karena memang dia adalah sosok hantu jadi tidak bisa dilihat oleh Fikra.
Tak peduli dengan ocehan hantu kecil, Faraz tidak melakukan hal yang merugikannya, yang terpenting adalah misinya berhasil saja. Meskipun dengan bantuan roh gadis kecil itu.
"Kau harus berterimakasih sekarang!" Ucapnya pada Faraz. "Akan ada banyak orang yang memuji mu kan? Atas dasar pencapaian ini itu sudah luar biasa." Ucapnya pada Faraz yang tampak tak acuh.
"Tapi ruangan ini, sepertinya bukan ruangan biasa." Komentar Fikra ketika terus mengamati segala sesuatunya yang ada.
"Sekarang kau katakan saja, dimana jasad seorang perempuan yang kalian bunuh pada malam itu. Kalian juga kan yang membunuh bocah di gang jalan sana?" Pertanyaan Faraz yang didengar Fikra. Ketika mendengarkannya Fikra baru menyadari sesuatu hal, jadi memang karena alasan Nona Zen Faraz melakukan segala hal sampai di titik sekarang.
Orang yang dituduhnya itu malah tersenyum lebar, tampak menyepelekan.
"Bukan dia. Kau masih tidak mengerti bukan dia orangnya." Oceh hantu yang selalu mengikuti Faraz memberitahu. Tapi Faraz tak mengindahkan kata-kata nya.
Dengan cara seperti tadi pun tidak membuat orang asing itu bergeming. Bahkan masih memasang sorot mata nya yang sama, tetap dingin dan menyebalkan.
"Lupakan, bukan dia orangnya." Ucap Faraz kemudian.
Fikra hanya tercengang melihatnya dan cukup bertanya-tanya.
Tidak cukup sampai di sana Faraz sekarang tampak meninggalkan mereka di bawah, sebenarnya apa yang diinginkan Faraz? Setelah bersusah payah menangkapnya, sekarang malah membiarkannya dengan cara seperti itu. Faraz juga menyimpulkan sendiri bahwa dia bukan pelakunya.
Fikra tak mengerti dia memilih mengikuti Faraz saja dan pergi menyusulnya.
"Pertama kau pergi ke rumah yang dekat dengan selokan air itu, periksa sesuatu yang tertinggal di lantai bawahnya." Tanpa menjelaskan Faraz langsung memberitahukan rencananya pada Fikra.
Fikra masih diam saja tak berkomentar, namun pikirannya berusaha keras mencerna setiap perkataan Faraz. Fikra yakin Faraz sudah tahu segalanya bahkan pelaku pembunuhan nona itu juga, dan setiap insiden di sini Faraz sudah bisa menebaknya. Orang asing hanya pengalihan saja, Faraz seperti berpikir bahwa ada hal lain yang paling menarik dari orang asing itu. Pasti sesuatu yang berkaitan dengan Nona Zen. Berarti kunci utamanya adalah kasus Nona Zen. pikir Fikra untuk mengetahui kasus apa yang ditangani oleh Faraz tentang Nona Zen.
"Heh. Kau mau diam saja di sana?" Faraz membuyarkan lamunan Fikra saat itu.
Fikra cepat menoleh dan hanya menganggukkan kepala. "Aku akan pergi ke tempat itu." Jawab Fikra.
"Jangan sampai ada yang terlewatkan." Faraz memperingatkan.
Belum sempat sampai dan masih menaiki tangga, Fikra terpikirkan sesuatu mengenai kebakaran hebat di atas sana. "Bagaimana dengan kebakarannya?" Fikra cepat bertanya.
"Takut terbakar? tunggulah bersamanya di sana. Tetap diam sampai aku kembali." Ucap Faraz. Fikra hanya mematung tak paham ketika mendengarkan jawaban Faraz, apakah Faraz memang tidak takut jika dirinya sekalipun dalam bahaya?
Fikra tampak membulatkan mata. Dia tidak bisa percaya dengan keputusan Faraz saat itu, padahal tadinya Fikra bermaksud untuk menahan Faraz agar tidak keluar di waktu dekat, dia juga tidak mungkin tetap tinggal di ruangan bawah tanah seperti ini dengan seorang yang entah siapa. Fikra hanya ingin mengulur waktu sampai dia kembali memastikan apakah polisi dan petugas damkar sudah tiba?
Fikra tak bisa hanya berdiam diri, dia segera naik ke permukaan mengusul. "Aku akan menyelediki nya!" Teriak Fikra berharap Faraz menunggunya dulu.
Dorrr ...
dorrr ...
Suara tembakan.
Fikra terdiam, di kembali mundur menuruni nak tangga itu, entah apa yang terjadi namun suara tembakan terdengar dari beberapa orang membuat Fikra harus hati-hati.
Setelah beberapa saat sampai tidak terdengar suara tembakan, tangan Fika segera mengintip keluar, supaya memperlihatkan sedikit celah saja sampai dia memastikan apa yang terjadi di luar.
Namun pemandangan yang terlihat membuat Fikra syok, setelah mengenali tubuh siapa yang terjatuh di lantai, Fira menjadi tidak yakin keluar dari persembunyiannya. Dia mulai panik, Fikra kembali turun dari arah tangga dengan hati-hati. Membayangkan kembali jika para tersangka yang membakar habis rumah disini tiba-tiba saja turun ke ruangan. Apa yang bisa dilakukannya jika seorang diri saja? Cara terbaik adalah mengamankan keselamatan saja dulu.
Buru-buru Fikra mencari segala celah dan jalan dari ruangan tersebut. Namun apa yang dia cari sepertinya tidak terlihat. Namun kesimpulannya tidak ada jalan lain, satu-satunya jalan hanya tangga di sana untuk menuju ke permukaan.
"Mereka tidak akan meninggalkan kawannya di sini sendirian. Tunggu saja!" Oceh lelaki asing yang ada di sana tampak puas mengatakannya, apalagi melihat Fikra yang mulai panik .
Fikra semakin kesal, rasanya ingin melampiaskan semua kekesalannya itu. Dia juga tidak bisa menunggu.
Di tengah perasaannya yang kalut, Fikra hanya bisa memikirkan tentang tawanan untuk negosiasi.
"Polisi lain sudah datang. Cepatlah naik dan bawa dia juga!" Suara yang terdengar familiar, suara khas Faraz.
Percaya tidak percaya tapi untuk memastikan Fikra akan naik ke atas lebih dulu.
Sebelum niatnya dilakukan dia melihat Faraz berjalan ke arahnya. Padahal tadi Fikra jelas melihat jika Faraz sudah sekarat di lantai. Kenyataan ini sungguh membuatnya merasa gila.
"Cepat!" Seru Faraz.
Fikra cepat membawa orang yang sudah diborgol itu, membawanya menaiki anak tangga.
Matanya kini tidak lepas dari sosok Faraz di sana yang sedang sibuk berbincang dengan anggota polisi lain. Entah mengapa Faraz di matanya cukup menarik untuk dia pikirkan. Kenyataan itu biar dia sendiri yang tahu dan pada saatnya dia akan mencari tahu.
Seorang petugas menghampirinya, langsung membawa lelaki yang dibawa Fikra. Sedangkan faraz tampak mengarahkan semua petugas di sana.
"Hebat! Kau bekerja sama dengan baik rupanya!" Puji seorang polisi ketika berpapasan dengan Fikra.
"Hei. Kau! Cepat kemari, sudah ku katakan ada sesuatu yang akan ku tunjukkan dan cepat ikutlah!" Faraz mengajak Fikra untuk tetap bersamanya, pergi ke tempat lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
🌺Zaura🌺
Nah... Nah... Faraz sudah mulai tahu rupanya... Semoga kecurigaan dia terbukti...
2024-07-02
0
Rudy 59
akhir penamvkapan yanh tidak bisa ditebak. bwrbeliy-belit mungkin untuk tambahannya lebih ditegaskan lagi percakapan antara siapa dengan siapa
2024-07-02
1
Rudy 59
siapa? gadis kecil?
2024-07-02
1