Roh anak kecil di gang dan Fakta Nona Zen

Di Area TKP sebelumnya.

"Hei... Hei... apa yang kalian lakukan?" Faraz menatap aneh karena orang-orang mulai bisa keluar masuk bebas ke area itu , padahal demi penyelidikan Faraz bersusah payah membuat TKP tetap aman.

Semua petugas yang bekerja hanya ada 3 orang di sana menatap Faraz sebentar, lalu mengabaikannya.

"Kau tidak bisa melihatku seperti itu, lagipula mengapa semuanya dibebaskan seperti ini? Kau tahu apa artinya?" Protes Faraz masih tak terima.

Melihat situasi TKP dengan orang-orang yang sudah mulai bebas keluar masuk tentu saja membuat Faraz emosi.

"Semuanya akan dikosongkan sementara, warga di sini berjumlah sekitar 20 orang dan semuanya lansia juga beberapa pasangan yang masih muda. Kita akan mengevakuasinya sementara ke tempat penampungan yang sudah disediakan polisi." Seseorang menjelaskan keadaan saat itu.

"Kita akan kehilangan salah satu pelaku yang lain." Faraz langsung mencela perkataan polisi tadi.

"Orang yang kau tangkap kemarin? Dia memang warga disini, tanyakan saja pada anak buahmu polisi baru itu, dia yang melakukan interogasinya." Jelasnya lagi merasa sudah melakukan tindakan yang benar.

Ekspresi Faraz tampak tak puas, di tengah perasaannya yang bingung ingin sekali mempercayai hantu licik yang mengatakan jika dia adalah pelaku pembunuhan. Tapi keterangan dari polisi tentu saja bertentangan, lagipula dia tidak mungkin meragukan keputusan itu karena polisi sudah melakukannya dengan profesional.

Faraz hanya bisa mematung sambil berjalan lagi menuju rumah tadi, perlahan dia mengabaikan bagaimana situasi yang sudah kacau dalam kasus ini.

Tak lama ketika dia memasuki toko di sana, Faraz kemudian menerima pesan singkat yang menjelaskan jika kasus ini sudah dialih tangankan. Emosi sudah tersulut di matanya. Bagaimanapun tidak mungkin semudah itu dan sesingkat itu. ingin sekali dia protes tapi itu bukan cara yang akan dilakukannya.

Tampak senyum menyeringai di sudut bibirnya, Faraz dengan tekad yang sudah bulat dia tetap memasuki TKP dan ingin melakukan penyelidikannya sendiri, setidaknya sampai dia menemukan apakah benar Nona Zen sudah meninggal. Mungkin sampai sana saja.

Di sepanjang jalan dia berjalan melewati pemukiman di sana, ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya hingga membuat Faraz menghentikan langkahnya kemudian memastikan sekitar, matanya melihat ke beberapa arah hingga dia yakin tidak ada orang yang mengamati ke arahnya.

Tubuh Faraz menyelinap memasuki gang yang ada di dekat rumah dimana dia sudah memastikan sebelumnya bahwa gadis kecil yang menghilang di rumah, sampai sekarang dia penasaran dan yakin bahwa gadis kecil itu masih di sana.

Kaki Faraz terhenti, melihat seorang anak kecil dengan banyak luka gigitan anjing, bahkan sebagian daging dari tubuh anak itu tampak hilang terkelupas. Anak lelaki tertunduk menyedihkan di sana, tapi dari penampilan yang tampak sudah kas sekali jika anak lelaki di sana bukan lagi seorang manusia.

Faraz sangat berhati-hati ketika mendekatinya, melangkahkan kaki sampai yakin kedatangannya tidak mengganggu. Faraz meyakinkan diri, dia tahuapa yang akan dihadapinya sekarang bukanlah seorang manusia, melainkan seorang roh orang yang sudah mati penasaran. Jadi dia harus tahu aturannya bagaimana menghadapi anak itu.

Caranya tak berhasil, tampak kepala anak kecil bergerak 360 derajat ke arahnya. "Tolonglah adikku!" Perkataan yang didengar Faraz langsung menghentikan kakinya. Faraz sedikit merasa ngeri karena dia harus melihat lagi sosok hantu yang tidak biasa, wajah hantu itu berada di belakang punggungnya.

Tampak bingung menjawab, lidahnya terasa keluar dan mengunci dia untuk bicara, sampai-sampai Faraz hanya bisa menahan napas karena syok setelah sekian lama kembali berinteraksi dengan hantu.

Sebelum terpikirkan akan melakukan apa tapi roh anak kecil itu menghilang sekolah cahaya yang pergi.

"Adikku masih hidup." Tepat di telinga kiri Faraz mendengarnya. Tapi untuk sosok anak kecil itu memang sudah tidak terlihat di manapun.

Saking terkejutnya Faraz sampai melangkah mundur dan menabrak dinding gang itu. Mengejutkan sekali sampai napasnya terdengar berat.

"Adikku masih hidup." Terdengar lagi ucapan anak kecil, setelah berbalik mengikuti sumber suara, di sana Faraz melihat sosok anak itu mengarahkan telunjuk tangannya ke arah rumah.

Pikirannya langsung melayang membayangkan tentang gadis kecil yang ada di lemari itu.

Faraz ingin sekali bertanya saat itu, namun lidahnya entah mengapa masih terasa kelu. Hingga tidak ada satu katapun yang terucap dari mulutnya saat, Faraz masih saja duduk menatap anak lelaki yang menatapnya dengan tatapan kosong.

"Pak!" Terdengar suara memanggil dan menghalau perhatian Faraz.

Tampak terkejut Faraz melihat Fikra berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang aneh.

"Ada apa?" Tanya Faraz dingin. Tanpa menghiraukan Fikra di sana, Faraz cepat berdiri dan pergi melalui tubuh Fikra yang masih mematung.

Namun tanpa sepengetahuan Faraz dari tadi Fikra sudah melihatnya, menyaksikan apa yang dilakukan Faraz dari tadi.

Fikra tetap bersikap biasa saja, dia menyusul kemana Faraz pergi dan menyusulnya.

"Aku sudah menginterogasi orang yang kemarin." Ucap Fikra yang berjalan di belakang Faraz.

"Lupakan saja! kita akan mencari ke luar area di sini." Faraz tiba-tiba memberikan keputusan.

"Di luar area?" Fikra mengulangi ucapan Faraz tadi. Fikra masih tidak bisa mengutarakan maksudnya menemui Faraz, tentu saja fikra sudah menerima laporan dan surat perintah jika kasus yang dia tangani bersama Faraz sudah dialihkan.

Fikra masih biasa saja, dia akan mengikuti Faraz dengan alasan karena penasaran.

"Ia. Kau tahu kenapa?" Tanya Faraz, yang sebenarnya sudah mendahului apa yang ingin ditanyakan Fikra.

Fikra tampak menggelengkan kepala.

"Benar-benar bodoh sekali." Gumam Faraz pada dirinya sendiri membuat Fikra tampak ingin tahu apa yang dikatakan Faraz karena tidak cukup jelas terdengar.

"Cepat!" Faraz tak ingin melihat kasusnya terbengkalai. "Kita harus menyelesaikannya hari ini, atau kau mau bergabung dengan tim selanjutnya?" Tanya Faraz.

Fikra tidak menjawab, entah untuk menolak atau menerima saran Faraz. Dia hanya terus mengikuti Faraz sebagai jawaban yang ingin diperlihatkannya.

"Ketika seseorang melakukan kejahatan di satu tempat, ada dua kemungkinan yang terjadi. Pelaku akan tetap di tempat kejadian dan melakukan akting, atau dia pergi keluar dari tempat itu dan merasa sudah aman. Melarikan diri artinya jika saja kasusnya atau orang yang dia bunuh bukanlah orang terdekat atau yang dikenalnya. Dominannya seperti itu" Jelas Faraz ketika dia berjalan memutar keluar dari area di sana.

Fikra mendengarkannya dengan teliti tanpa mengatakan satu komentar pun.

"Jadi sekarang dugaannya adalah pelaku itu bukan warga di sini, dia memang sengaja atau tidak sengaja lewat ke area rumah, dua anak yang menjadi korban itu gak sengaja terbunuh karena kebetulan da di TKP." Dalam hati sebenarnya Faraz sangat berharap jika kasus ini seperti apa yang dia katakan, yang paling Faraz harapkan jika Nona Zen tidak memiliki reputasi buruk seperti laporan yang dia terima.

Sedikit demi sedikit mencerna penjelasan Faraz. Namun Fikra yang tidak lebih banyak tahu membuatnya tetap diam saja.

"Jasad anak di gang itu, dia hanya seorang gelandangan, tidak punya rumah di sini. Aku melihat di depan rumah pertama yang kita geledah ada bekas kain, banyak anak jalanan yang menggunakan kain itu untuk alas mereka tidur." faraz menjelaskannya dengan logis agar Fikra bisa lebih baik mencernanya.

"Anak jalanan? Tidak mungkin sasaran utama pembunuhan kan." Tebak Fikra tampak menemukan sendiri kunci teka-teki nya.

Faraz tak bicara lagi, dia tidak ingin menjelaskan semua yang sebenarnya dia lihat sendiri pada malam itu. Sampai tindakan ini dia hanya ingin tahu jika Nona Zen tidak terlibat dengan kasus yang dituduhkan atas karena ulahnya.

"Cepat cari sesuatu yang bisa kau temukan sekarang." Faraz kembali mengingatkan agar fokus pada apa yang seharusnya dia lakukan.

Sesuai tujuannya, Faraz melihat tempat terakhir yang dikatakan hantu cilik itu. Sebuah rumah dan saluran air.

Faraz menghentikan kakinya di sana, mengamati sekitar dan segala sesuatu yang dia lihat.

"Apa ada sesuatu lagi?" Tanya Fikra penasaran melihat Faraz yang terus menyelidiki di sana.

"Saluran air ini, pasti saluran yang sama kita lihat dan pernah temukan di salah satu rumah. Sekarang akan kita pastikan saluran air ini akan berakhir dimana!" Ajak Faraz saat itu.

Tak lama keduanya bergerak cepat meski sampai harus menerobos hutan yang ada di belakang rumah-rumah tadi.

"Tunggu!" Ucap Faraz menghentikan langkah Fikra.

"Ada jejak sepatu di sini." Sambil menunjuk ke tempat yang memang memperlihatkan sebuah jejak sepatu. "Sekarang kau ambil gambar nya dan kita akan mencocokan sesuatu nanti." Ucap Faraz. Selanjutnya Faraz masih berjalan semakin jauh, namun langkahnya terhenti lagi.

Faraz mematung melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata normal. Napasnya masih teratur, namun dia tahu siapa yang ada di hadapannya itu.

Karena Faraz berhenti Fikra pun berhenti di sana, sekarang Fikra melihat apa yang dilakukan Faraz membuatnya tak mengerti.

Jaraknya tidak terlalu jauh, Faraz berdiri dan matanya terus melihat ke arah seorang perempuan yang berdiri di sana, dan dia bukan lagi manusia. Tampak Faraz memejamkan matanya.

"Terimakasih sudah datang. Namun jasad ku sudah tidak ada lagi bersama air di sana. Kau tidak akan menemukan apapun dengan pergi ke sungai itu." Suara yang Hanya bisa didengar olehnya saja.

Ketika suara itu berakhir faraz tak melihat ada sosok perempuan yang tak lain dia adalah Nona Zen. Faraz sedikit terpukul, kata-kata hantu kecil yang selalu bersamanya kembali terngiang jelas. Ternyata memang benar, Nona Zen meninggal dengan cara Tragis.

Sayang sekali Faraz harus kecewa, dia terlambat. Tidak ada yang bisa ditemukan, itu pasti benar karena roh nona itu sendiri yang mengatakannya.

Faraz menundukkan wajah sebentar seperti ingin berdoa demi kedamaian nya di sana.

"Pak!" Ucap Fikra padanya. Menghalau semua pikiran Faraz.

"Kita kembali saja!" Ucap Faraz dengan nada bicara yang melunak. Fikra tak bisa berpikir jernih, mengerti setiap tindakan yang dilakukan Faraz. Sangat membingungkan. Padahal awalnya Faraz memintanya untuk pergi tapi sekarang dia memintanya untuk cepat kembali.

Fikra masih terdiam karena tidak cukup paham, sekarang apa yang ingin ditemukan Faraz?

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!