Para anggota sibuk menyiapkan peralatan. Setelah meminta ijin pada Danyon, di jam santai para anggota memenuhi perintah Danki untuk mencari sapi liar di hutan belantara.
Rhena yang saat itu menunggu di rumah di temani Mbak Geeta pun terus melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
"Apa mau berangkat sekarang? Setengah jam sudah berlalu.. nggak mungkin Arma pulang cepat." Tanya Mbak Geeta.
"Ayo Mbak..!!"
...
Mbak Geeta mengantar Rhena pergi ke klinik milik Bang Anin. Di bantu Bang Muksin mereka memeriksa kandungan Rhena lebih teliti.
"Sejak kapan kamu tau kalau kandunganmu bermasalah?" Tanya Bang Muksin.
"Tepatnya tidak paham Bang, tapi Rhena rasa setiap selesai bersama Bang Arma, selalu ada flek meskipun setelahnya tidak ada lagi." Jawab Rhena.
"Kenapa tidak beritahu Bang Arma? Suamimu berhak tau." Kata Anin.
"Rhena nggak mau merusak kebahagiaan Abang. Bang Muksin dan Mbak Anin tau sendiri khan kalau Bang Arma sangat menginginkan anak ini."
"Ya ampun Rhen, tapi apa alasanmu kalau suamimu ngajak adu ilmu kesaktian. Kamu harus bedrest lho." Bang Muksin sampai ikut bingung di buatnya.
"Hmm.. nanti Rhena bilang pelan-pelan sama Abang."
"Janji ya Rhen.. ini benar-benar serius lho. Bayimu butuh istirahat dari gangguan Papanya. Kamu juga harus banyak istirahat di rumah." Bang Muksin menegaskan setegas- tegasnya.
"Iya Bang, Rhena janji pasti cerita sama Bang Arma.
Mbak Geeta mengusap lengan Rhena memberi semangat pada iparnya.
...
Sore hari truk Batalyon menurunkan dua ekor sapi yang di dapat dari hutan. Dua ekor sudah lebih dari cukup daripada mereka tidak mendapatkan hasil buruan sama sekali.
"Alhamdulillah.. perkara pengen jual sapi saja sampai harus berburu ke hutan begini." Gumam Bang Arma kemudian matanya menyisir ke sekitar untuk mencari Rhena yang mungkin sudah tiba di Batalyon.
"Waahh.. ini sapinya Bang??" Tanya Rhena dengan takjub karena sapi buruan suaminya benar-benar besar.
"Iya, besar khan?? Mau di jual kemana?" Bang Arma menyulut rokoknya. Bibirnya sudah terasa asam karena cukup lama tertunda merokok di hutan tad.
"Abang saja yang beli." Jawab Rhena mengusulkan yang membuat bibir Bang Arma ternganga.
"Kalau Abang yang beli seharusnya Abang beli saja di pasar hewan, kenapa harus berburu segala????" Protes Bang Arma karena merasa di kerjai bumilnya.
"Jadi Abang nggak mau nih?? Ya sudahlah biar laki-laki lain saja yang menghidupi Rhena." Ia mengangkat ponselnya dan bersiap menghubungi seseorang.
Bang Arma sempat melirik nama Jeva disana dan hal itu membuat pelipisnya berdenyut berang. Tangan itu dengan cepat menyambar ponsel Rhena. "Pintar sekali buat suami kesal. Kamu butuh berapa???"
"Harga yang pantas saja." Rhena berputar melihat sapi jantan yang sangat menyenangkan indera penglihatannya.
"Yang pantas itu berapa?? Kalau Abang bayar dua puluh lima ribu pantas atau tidak." Kata Bang Arma berusaha sabar menghadapi bumilnya.
"Yang besar ini Rhena discount jadi dua puluh lima juta saja, yang lebih kecil ini dua puluh juta. Jadi semua totalnya lima puluh juta." Jawab Rhena bagai pedagang fasih.
"Julehaaaa.. bagaimana hitungannya bisa begitu?? Dua puluh lima juta di tambah dua puluh juta hasilnya empat puluh lima juta, buka lima puluh juta." Lagi-lagi Bang Arma memprotes sang istri belakangan ini membuatnya sakit kepala.
"Itu tax and service Bang. Pajak jalan Abang, sama nanti biaya service di rumah." Rhena mengusap dada suaminya yang mulai jengkel dengannya.
"Ya sudah, full service ya. Awas kalau setengah jalan. Abang lilit, Abang sembur sampai kapok..!!!" Ancam Bang Arma. "Abang ke ATM dulu. Nggak pegang uang cash..!!"
Bang Arma mengambil dompet di sakunya lalu menggelar seadanya uang disana. "Ini buat beli minum ya, maaf saya mengganggu jam istirahat kalian." Bang Arma membagi dua lembar uang merah untuk kesepuluh anggota yang membantunya berburu sapi di hutan.
Teriakan girang para anggota remaja terdengar nyaring. Memang Danki mereka tidak pernah pelit soal uang, mereka pun tak pernah lapar dan haus meskipun seharian bersama Danki yang terkenal sangat galak itu.
"Terima kasih Danki..!!!"
"Sama-sama."
"Semoga selalu lancar rejekinya Danki..!!" Do'a anggota yang lain.
"Aamiin." Jawab Bang Arma meng'aamiin'i do'a para anggotanya.
"Ijin ibu.. terima kasih. Semoga selalu sehat dan jangan berhenti ngidam ya Bu Danki."
"Aamiin, terima kasih Om." Jawab Rhena dengan senyum cantiknya.
Bola mata Bang Arma membulat besar mendengarnya, ia menepak pipi anggotanya yang jahil dan tak lain adalah ajudan Letnan Ojaz. "Kamu ini, babak belur saya kalau ngidamnya begini terus."
Bang Ojaz dan Bang Renash tertawa tapi ikut mengantri di barisan terakhir sambil menodongkan tangan.
"Mana punyaku?" Tagih Bang Ojaz.
"Abang butuh rokok." Pinta Bang Renash.
"Bisa tidak kalau kalian ikhlaskan sedikit saja. Harga sapi ini mahal sekali." Bang Arma mulai mengeluh di hadapan dua pria menyebalkan di hadapannya.
"Nggak bisa, uang tidak punya saudara." Kata Bang Ojaz.
Terpaksa Bang Arma menarik uang yang tersebar di beberapa saku celana lorengnya. Masih ada tiga ratus ribu rupiah. "Ini dah, di bagi dua ya."
Tangan Bang Ojaz menyambar uang tersebut. "Ayo Bang, beli nasi padang..!!!" Teriak Bang Ojaz kemudian membawa kabur uang tersebut.
"Ya ampuuunn.. heeeehh.. bantu turunkan sapinya duluuuu..!!!!" Teriak Bang Arma karena Abang dan sahabatnya meninggalkan dirinya dengan satu sapi masih di atas truk Kompi.
"Nantiii.. aku mau beli es teh." Teriak Bang Ojaz menjawabnya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
KaylaKesya
hahahahahaha🤣 sabar abg arma🤣🤣
2024-09-28
0
KaylaKesya
hahahahaahahha🤣 ini scam Thor🤣
2024-09-28
0
Iis Cah Solo
kujur...kujurr..nduwe konco doyan es teh...😂😂😂😂
2023-10-09
2