Warning..!! Harap kebijakan dalam membaca..!!!!.
🌹🌹🌹
"Ehmm.. tolong handle tugasku ya. Sebentar saja, aku ada urusan..!!" Pinta Bang Arma.
"Okee, lanjut broo..!! Nanti ya ku transfer, uang di kartu ATM masih kosong. Hehehe..!!!"
"Aahh terserah lu dah."
...
Siang itu Bang Arma meminta Rhena untuk duduk bersamanya, bicara dari hati ke hati. Awalnya Rhena menolaknya tapi Bang Arma memaksanya hingga akhirnya Rhena mau untuk duduk bersama.
"Kita ini suami istri dan suami istri harus saling terbuka satu sama lain. Untuk apa kita berumah tangga kalau tidak ada rasa saling terbuka???" Bang Arma sudah menahan perasaannya. Tidak ingin marah tapi semakin lama perasaannya semakin tidak menentu. "Ada apa?? Abang ini suamimu dek..!!"
"Nggak ada apa-apa Bang." Jawab Rhena tapi menghindari tatapan mata Bang Arma.
"Abang tanya sekali lagi, ada apa??? Jangan sampai Abang tau dari orang lain tentang masalahmu..!!" Ancam Bang Arma tanpa disadari sudah menaikkan nada suara setingkat lebih tinggi.
Rhena gemetar ketakutan, keringat dingin mengucur dari keningnya sampai membasahi jilbabnya.
"Abang hanya bertanya dek, bukan mau membunuhmu..!!"
Mendengar itu semakin gemetar tubuh Rhena. Rasanya Bang Arma mati kutu menghadapi situasi yang terkesan lamban membuatnya geregetan.
"Deeekk..!!" Bentak Bang Arma.
"Nggak Bang, ampuun..!! Sungguh nggak ada apa-apa. Rhena nggak berniat buat jelek nama Abang..!!"
"Ya Allah Rhena.. sebenarnya apa yang terjadi, bagaimana Abang bisa membantumu kalau kamu nggak bilang apa-apa."
Belum sempat Rhena menjawab, tubuh istrinya itu sudah lemas, wajahnya pun pucat pasi.
"Aaiishh.. awas saja kalau Abang yang temukan sendiri jawabannya..!!" Gerutu Bang Arma kemudian membawa Rhena masuk ke dalam kamar.
"Papaaaa.. Mama kenapa?????" Teriak Riri histeris melihat Mamanya dalam dekapan sang Papa.
"Mama tidur, Riri main dulu ya di luar.. jangan ribut nak..!! Biar Mama istirahat sebentar..!!" Pinta Bang Arma sembari menutup pintu dan mengganjalnya dengan batu karena dirinya sedang membopong Rhena.
...
Rhena masih berkeringat dingin, seperti saat yang lalu Rhena mengigau.
Jangan pukul Rhena Bang..!!
Ibuu.. maaf.. Rhena salah.
Jangan Bang, sakiiitt.. jangan pukul lagi..!!!
Dada Bang Arma terasa sesak dan begitu sakit tak sanggup membayangkan bagaimana cara Setyo dan keluarganya memperlakukan Rhena dulu.
'Berarti pokok permasalahannya masih seputar Setyo dan keluarganya, tapi apa???? Ada apa??????'
:
Bang Arma berniat menyentuh kening Rhena tapi istrinya itu menghindar. Tak patah semangat untuk membujuk Rhena.. Bang Arma tetap menyentuh dan mengusap keningnya. "Abang suapi ya, Abang tau kamu belum makan."
Rhena kembali menangis tanpa kata, Bang Arma sigap memeluknya. "Kamu pintar sekali mengobrak abrik hati Abang. Abang ikut stress dek, menaklukkan taktik perang Abang sanggup.. tapi kenapa Abang rasanya Abang nggak punya akal untuk menaklukkan hatimu??" Ucap Bang Arma sembari curhat kecil tentang perasaannya. Bang Arma menghapus air mata Rhena lalu beralih posisi dan mendekapnya erat. Tangannya sigap menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua dan mematikan lampu kamar. "Abang tau memendam luka lama itu terlalu sakit. Kamu punya lukamu, Abang juga menyimpan luka. Tapi harus kamu ingat sayang, kita ini sudah menjadi suami istri yang sejatinya harus melupakan cerita lama dan membuka lembaran baru karena pasangan kita akan ikut terluka jika kita hanya terpaku pada masa lalu. Tolong sayang, cobalah untuk membuka pintu hatimu..!!"
Perlahan, tenang dan rapi Bang Arma memulai pendekatan tubuh pada Rhena. Mendapat perlakuan yang sangat spesial, sedikit banyak perhatian dan pikiran Rhena pun teralihkan.
Terbawa suasana yang begitu tenang, Bang Arma melepas pakaian seragamnya dan hanya menyisakan celana pendek melekat di tubuh, sentuhan demi sentuhan membuat Rhena pun ikut terbuai hingga entah kapan cangkang kerang milik Rhena raib entah kemana dan alu sudah lepas dari perlindungan hingga akhirnya bertabrakan.
Rhena menjerit kecil tapi tak bisa bersuara saking gugupnya begitu pun dengan Bang Arma yang menahan suaranya karena terpana menatap ekspresi wajah Rhena, ia memberanikan diri membuka jilbab Rhena dan detik itu juga has*atnya tak terbendung, rindu belai manja dan saat panas seperti ini membuat Bang Arma tidak sanggup menahan apa yang ia tahan selama ini. Kali kedua ia mengulangnya namun kali ini Rhena dalam keadaan sadar total.
"Pa_paaaa.." Teriak Riri.
Cahaya terang mengagetkan Bang Arma, Riri berusaha mendorong pintu yang sempat di ganjalnya dengan batu.
"Astagaaa Ririiiii..!!!!!!!"
Saat itu Bang Arma sudah semakin tak terkendali, Rhena pun tenang dalam kungkungannya.
"Riri tutup pintu..!! Ada tikus menyerbu kamar Papa..!! Papa di serang." Perintah Bang Arma.
Riri yang memang sangat takut dengan binatang pengerat seketika menutup pintunya dengan kencang.
Terdengar suara rintih kecil dari Rhena yang menggeliat di bawahnya dan akhirnya terlepaskan semua beban dari diri Bang Arma. Pupil matanya masih terbenam merasakan calon anak buah yang sudah terpencar bahkan sampai ke semak-semak. "Kamu suka? Papanya Riri nggak pernah main kasar, kecuali Mamanya Riri minta ekstra gasss..!!" Bisik Bang Arma di telinga Rhena.
"Paaa.. sudah apa beluum??" Teriak Riri lagi.
"Belum sayang, sabar ya. Riri tunggu sebentar saja..!!" Jawab Bang Arma tapi kemudian tak sengaja mata Bang Arma dan Riri saling beradu dalam temaram. "Ada apa dek?"
Rhena membuang pandangannya, mungkin saat ini pipinya bersemu merah. Sebagai seorang pria tentu saja Bang Arma paham wanitanya. Full senyum menghias wajahnya. "Sepertinya ada yang ketagihan dongkrak sakti Papanya Riri nih. Gagah khan Ma?"
"Iihh Abaaaang" Rengek Rhena mulai terdengar manja.
tok.. tok.. tok..
"Ijin Dan.." terdengar suara berisik dari luar rumahnya.
"Daaan.. ijin..!!"
Bang Arma masih setengah melayang, pikirannya masih proses bersatu dengan raga.
"Disini Oom..!!!" Terlihat Riri mendorong pintu kamarnya lagi.
"Stop.. stoopp..!!!!! Semua berhenti di tempat..!!! Sampai pintu itu terbuka, saya jungkir kalian semua..!!!" Perintah Bang Arma, ia kelabakan mencari kaosnya lalu secepatnya menutup rok yang di kenakan Rhena. "Tak tau aturan kalian semua.. ngelamak ( kurang ajar ), bisa-bisanya kalian datang atas perintah Riri..!! Dankimu itu saya atau Riri?????" Bentak Bang Arma.
"Siap salah."
"Baang, jilbabnya Rhena kemana?" Tanya Rhena kebingungan mencari jilbabnya.
Bang Arma menepuk dahinya. "Aduuuhh.. maaf sayang, kotor."
"Yaaa.. Abaaang."
"Abang ambil di kamar sebelah. Jangan keluar dari kamar dulu ya, Abang nggak mau ada pria lain yang melihat rambut indahmu selain Abang." Bang Arma melangkah keluar namun kemudian berlari lagi untuk meninggalkan kecup sayang di bibir Rhena. "Terima kasih Ma, kamu seksi banget.. Papa suka." Kedipan mata nakal itu membuat Rhena menggeleng gemas.
"Aaarr.. awas, kudobrak pintumu. Ku usir tikusnya..!!"
"Heeeehh.. Ojaaazz..!!!!" Bang Arma bingung menutup rambut Rhena tapi Bang Ojaz sudah masuk di kamarnya membawa alat fogging. "Nggak cuma nyamuk atau tikus yang mati Jaz, aku juga bisa almarhum, pekok tenan to kowe iki Jaaazz." Bang Arma menendang alat itu agar tidak mengarah ke wajah Rhena.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Althhar Amfairuz
🤣🤣🤣🤣🤣
ojaz sumpahhh kocak parah
2024-11-17
0
Kayla Callista
🤣🤣🤣om ojaz lucu
2024-01-18
0
Ara Dhani
ya allah KDRT tu nmanya setyo
2023-12-31
0