4. Menjelaskan status.

"Mamaaaa..!!!!" Riri berlari dan langsung memeluk Rhena.

Rhena yang mendapat sapaan baru itu seketika menyambutnya dan membalas pelukannya. "Riri panggil apa sayang??"

"Mamaa.. Riri sayang Mama."

Rhena menghujani wajah Riri dengan ciuman. "Andaikan Mama bisa punya anak, Mama akan lebih bahagia sayang tapi punya kamu saja Mama sudah sangat bahagia. Riri adalah berkah tak ternilai untuk Mama"

Bang Arma tersenyum pahit, kemudian mengusap kepala Rhena. "Sabar..!!"

Rhena menghapus air matanya.

"Nanti sore ada acara di kantor. Kamu hadir ya, Abang dampingi..!!" Kata Bang Arma.

"Bukankah nama Rhena belum naik Bang?"

"Nggak apa-apa. Hadir saja..!!" Jawab Bang Arma.

Rhena mengangguk mengiyakan. "Ehmm Bang, nanti Rhena mau pergi ke posyandu ya.. ada pembagian vitamin A..!!"

"Ya sudah, hati-hati ya. Nanti pulangnya Abang jemput..!!"

...

Siang sudah lumayan terik di jam sepuluh pagi. Maklum wilayah bagian timur memang panas meskipun di daerah tersebut juga berangin sejuk.

Tak sengaja saat itu Rhena bertemu dengan sosok mantan ibu mertuanya disana. "Astagaa.. dunia ini memang sempit, tak ada lelahnya kau menguntit anakku yang tentara itu." Ledek ibu Bang Setyo lalu menatap anak dalam gendongan Rhena. "Oohh.. sekarang jadi pengasuh kau rupanya. Sudah mandul, hanya menjadi beban saja."

Rhena begitu terpukul mendengar perkataan ibu Bang Setyo.

"Miraaa..!!" Panggil ibu pada calon menantunya.

"Iya Bu." Mira pun keluar dari dalam rumah.

"Kau mau tau wajah mantan istri Setyo..? Ya ini dia rupanya si Renha. Masih kalah cantik denganmu yang berpendidikan dan punya pekerjaan." Kata ibu. "Menantu kok tidak punya rasa syukur. Sudah untung di nikahi anakku yang berpangkat Bintara."

Mira memperhatikan wujud mantan istri calon suaminya. Kulitnya memang bersih, gayanya sederhana. "Mbak Rhena pengasuh anak?"

"Iya." Jawab Rhena singkat. "Saya permisi dulu Bu, mari Bu Setyo."

Rhena berlari pulang sembari menggendong Riri.

"Untung saja dia masih punya rasa sopan dengan memanggilmu Bu Setyo. Lain kali kau panggil dia Rhena saja dan kalau kau bertemu dengan Rhena lagi, berilah dia perintah agar dia sadar kalau dia hanya seorang pengasuh dan dia harus sadar dengan posisinya..!!" Nasihat ibu pada Mira menantunya.

...

Sore itu Rhena berangkat menuju kantor Batalyon dengan hati yang sangat berantakan. Ia teringat masa lalunya yang kelam.

"Kamu masih lemas Rhen?" Tanya Bang Arma. Sebenarnya siang tadi dirinya sudah berniat menjemput Rhena dan Riri tapi mendadak Batalyon memberinya tugas yang tidak bisa di tinggalkan.

"Nggak Bang." Jawab Rhena tapi ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong dengan keadaan.

"Bilang sama Abang, ada apa? Abang tidak suka ada yang ditutupi dan jangan sampai Abang tau ada sesuatu yang tidak beres dari orang lain." Ucap Bang Arma.

"Ternyata.. Bang Setyo ada di Batalyon ini Bang. Dia akan menikah dengan seorang wanita bernama Mira." Kata Rhena.

"Lalu?? Apa ada masalah??" Bang Arma jauh lebih tenang sebab dirinya sudah tau perihal permohonan ijin kawin Sertu Setyo.

"Bukan Bang, ibunya... Ibu dan Mira......" Rhena menggenggam dan menautkan kedua tangan, sudah jelas istri Letnan Arma itu begitu gugup.

Bang Arma mengambil segelas air minum yang selalu ada di mejanya lalu meminumkannya pada Rhena. "Nggak perlu secemas itu, jalani apa adanya. Biarkan waktu yang menjawab dan membuka mata mereka."

...

Di ruang perwakilan para pengurus dan perangkat Batalyon.. Bang Arma berdiri menggendong Riri bersebelahan dengan Rhena yang masih terlihat gugup.

"Selamat sore senior dan rekan sekalian. Mohon ijin memperkenalkan Nyonya Lanang Armayudha yang sekarang mendampingi saya. Seperti yang sudah di ketahui bahwa saya.. Lettu Lanang Armayudha sudah berpisah dari Ibu Celia Angelica dan proses hukum negara telah final, secara hukum agama pun sudah selesai dengan di saksikan tiga orang anggota dan saat ini saya hanya tinggal menunggu surat putusan cerai turun dari Markas pusat." Kata Bang Arma menjelaskan secara terperinci statusnya agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. "Saya sangat menyadari ada yang tidak bisa di toleransi, dalam hal ini adalah menikah di saat administrasi saya belum final, saya bersedia menanggung segala akibat dari keputusan saya, tidak ada pembelaan yang berarti juga.. disini saya hanya memikirkan dua perkara saat memutuskan untuk menikah kembali, yang pertama adalah untuk menjaga martabat diri dan tentunya harga diri wanita terindah di samping saya ini, yang kedua adalah demi putri saya Anjania Swari."

Pertemuan singkat tersebut telah menjelaskan status Rhena di Batalyon, meskipun perkara administrasi masih menggantung tapi perwakilan anggota yang sudah mengerti masalah ini pasti akan langsung terdengar di seisi Batalyon.

Rhena pun akhirnya bersedia memperkenalkan diri sebagai Nyonya Armayudha tanpa hambatan dan halangan apapun.

ddrrtttt.. ddrrtttt.. ddrrtttt..

"Selamat sore Danki.. Mohon ijin, maaf mengganggu waktunya..!!" Kata seseorang di seberang sana.

"Ada apa?"

"Ijin.. apa besok Danki ada waktu di ruangan, saya mau minta tanda tangan untuk pengajuan nikah." Tanya Sertu Setyo.

"Saya besok sibuk, mau antar istri cek kesehatan untuk syarat pengajuan nikah juga. Kamu ke rumah saya saja. Biar istrimu juga tau ibu Dankinya." Saran Bang Arma.

"Siap Dan."

...

Malam itu Riri bermain di ruang tengah bersama Rhena. Canda tawa terdengar ceria. Tak lama berselang terdengar suara ketukan pintu dan Rhena beranjak dari tempatnya.

Sungguh kaget bukan main saat Sertu Setyo melihat Rhena berada di rumah Danki. Ia tertegun melihat sosok Rhena tidak seperti Rhena yang dulu.

"Baang, Rhena kerja di sini. Ngasuh anak Danki." Tegur Mira karena Bang Setyo tak bergeming menatap paras cantik Rhena.

"Ngasuh anak sekalian bapaknya." Sambar Bang Arma. "Silakan duduk..!!" Perintah Bang Arma. Danki sangar tiada tanding.

"Siap.. Terima kasih..!!" Hati-hati sekali Sertu Setyo melirik Rhena.

Bang Arma menggandeng tangan Rhena agar duduk mendampingi dirinya berhadapan dengan Sertu Setyo.

"Eheem..!! Mana suratnya?"

Suara itu membuat Sertu Setyo tersadar. Sertu Setyo menyerahkan map berisi surat pengajuan nikah.

"Untuk Bu Prasetyo bisa silakan berurusan dengan istri saya ya. Saya nggak tau urusan ibu-ibu." Kata Bang Arma sambil mencari bolpoin di sekitar mejanya.

Tak menemukan apa yang di carinya, Bang Arma mengarahkan pandangan pada Rhena. "Tolong ambilkan bolpoin Papa di kamar donk Ma. Di dalam tas ya sayang..!!"

Sebenarnya Rhena merasa canggung mendengar sapaan baru itu tapi dirinya harus bisa menahan diri di hadapan mantan suaminya. "Iya Pa." Jawabnya kemudian masuk ke kamar dan mengambil bolpoin di dalam tas kerja milik Bang Arma.

Bang Arma menundukan pandangan, dirinya sendiri yang memulai tapi dirinya sendiri yang tersipu salah tingkah.

"Ini Pa."

"Pintar sekali cari barang nyelip. Terima kasih Ma." Goda Bang Arma sembari mengedipkan mata dengan nakal.

"Paa.." ucap Rhena tanpa sadar, kini wajah Rhena yang tersipu malu, bagaimana bisa suaminya itu menggodanya di depan tamu.

Mendadak wajah Mira merah padam sedangkan Sertu Arma tak berani bertingkah.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

park omonim

park omonim

barang nyelip/Chuckle/

2024-11-03

0

Kayla Callista

Kayla Callista

keren bang Arma😂😂

2024-01-18

0

Rynda

Rynda

xixixi...aq pun tersipu Thor

2023-10-29

2

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 57 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!