9. Demi cinta.

Rhena mendapatkan perawatan khusus di kamar VIP. Kamar yang begitu tenang dan nyaman untuk di huni.

Para petugas medis baru bisa bernafas lega saat Rhena tidak lagi merasakan nyeri. Jangankan perawat.. bahkan senior legend di rumah sakit pun terkena omelannya saat Rhena merintih kesakitan.

Beberapa jam Letnan Arma di rumah sakit sudah cukup membuat petugas medis stress berat dan ingin segera berganti shift. Terdengar langkah kaki saja, Letnan Arma bisa menegurnya apalagi terdengar suara yang lebih besar daripada itu.

praaaangg..

Terdengar suara gelas jatuh dan Rhena menggeliat, mualnya kambuh dan merintih kesakitan.

Bel di kamar rawat Rhena memberi tanda. Seluruh team jaga sudah was was tak karuan.

"Biar saya saja yang tangani Letnan Arma..!!" Kata Bang Muksin.

"Alhamdulillah.. Terima kasih banyak bantuannya ya Dok..!!" Kata para petugas piket jaga.

"Iya sama-sama..!!" Jawab Bang Muksin lalu masuk ke kamar rawat Rhena.

~

"Mualnya sudah mereda? Masih sakit nggak kepalanya?" Tanya dokter Muksin sambil memantau kondisi Rhena setelah memberi obat tambahan.

"Sudah baikan Dok. Terima kasih." Jawab Rhena.

Bang Arma langsung menyela berdiri di hadapan Bang Muksin. Raut wajahnya sudah menunjukkan rasa tidak sukanya jika Rhena tersentuh pria lain.

"Astagfirullah Ar, dari tadi kamu sudah buat keributan. Ini aku sedang memeriksa kondisi istrimu, pegang juga hanya untuk memberi obat. Dokter sudah ada kode etik dan semua sesuai prosedur." Kata Bang Muksin ikut geregetan dengan ulah Bang Arma.

"Sejak menikah aku juga punya kode etik yang harus di pahami. Jangan mencolek istriku sembarangan..!!" Jawab Bang Arma masih teguh pendirian pada keyakinan anehnya yang merepotkan semua orang.

"Ya Tuhan, rawatlah istrimu sendiri. Aku pusing harus bertemu keluarga pasien sepertimu."

"Memangnya aku nggak pusing terus cemas memikirkan Rhena? Begini begitu harus pegang."

"Kalau begitu biar Anin saja yang memeriksa kondisi istrimu, aku angkat tangan."

~

"Semuanya baik Bang, hari ini sudah pasti mereda mualnya karena dokter sudah memberikan obat anti mual. Kalau mau pulang lebih baik besok pagi karena luka di kepala Mbak Rhena cukup besar ya." Kata dokter Anin, junior Bang Arma yang sekaligus istri Bang Muksin.

Tapi kali ini tatapan mata Rhena yang menunjukkan rasa tidak suka karena interaksi pembicaraan Bang Arma dan Anin jauh lebih intens meskipun hanya pembicaraan seputar kesehatan Rhena dan kandungan. Anin pun sosok dokter yang sopan tapi Rhena terlihat tidak suka dan Bang Muksin menangkap hal itu.

Bang Arma menyentuh tangan Rhena tapi istrinya itu menolaknya.

"Kenapa dek? Ada yang sakit?" Tanya Bang Arma.

"Sakit hati, rasakan lu.. nikmati bagaimana punya istri cemburuan." Jawab Bang Muksin. "Dulu waktu Anin hamil anak pertama, dia selalu cemburu dengan semua pasienku tanpa kecuali sampai dia nangis di ruangan Dokter, tidak bisa kerja dan hanya urus cemburu, hamil kali ini saja aku bisa nafas."

"Alhamdulillah Rhena nggak begitu."

"Jangan bicara begitu. Ini saja sudah tanda bahaya, kau belum benar merasa dalam situasi terjepit. Siapkan mentalmu Kang. Mumet yo mumet tenan." Kata Bang Muksin mengingatkan.

...

Di saat Rhena sedang tidur pulas, Bang Arma meminta Serda Budi dan Sertu Maliq bersama istri masing-masing untuk datang ke rumah sakit tentara plus Sertu Wana beserta istri sebagai saksi. Bang Arma benar-benar marah karena istri kedua Bintara tersebut sudah mengacau dan membuat istrinya mendapatkan perawatan di rumah sakit. Tak cukup dengan itu ada Sertu Setyo, istri dan juga ibu dari Sertu Setyo.

"Apa maksudnya perkataan itu? Saya menikahi istri saya ini setelah beliau berpisah dari Sertu Setyo. Saya juga sudah berpisah dari Ibu Celia. Kenapa kalian mengarang bebas?? Apa ingin mendapatkan popularitas di Batalyon????" Tegur Bang Arma masih menahan diri karena Rhena sedang tidur di ruang rawatnya.

Arah pandangan mata Bang Arma menuju ibu dari Sertu Setyo yang sama sekali tidak merasa berdosa.

"Untuk kamu Sertu Setyo, kalau kamu tidak bisa menghentikan mulut dan kelakuan ibumu, saya tidak akan segan membawanya ke jalur hukum..!!" Ancam Bang Arma.

"Siap Danki. Atas nama pribadi dan keluarga.. saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Kata Sertu Setyo.

"Apanya yang siap. Yang di dalam kandungan itu pasti anakmu. Bilang saja kalau si perempuan lintah itu masih memintamu memuaskan hasratnya. Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya..!!" Teriak ibu Bang Setyo sampai membuat Rhena terbangun.

"Bu, diamlah.. apa ibu ingin aku terkena banyak masalah?? Ibu mau aku di pecat??" Suara Sertu Setyo meninggi karena tidak tahan dengan kelakuan ibunya.

"Apa maksudmu??" Tanya Bang Arma menerka apa yang terjadi. Darah di kepalanya mendadak mendidih dan merangkak naik.

"Istri yang kau banggakan itu masih menawarkan tubuhnya pada Setyo meskipun mereka sudah bercerai, sudah pasti anak itu adalah anak Setyo. Agar dia tidak menuntut apapun, saya mengambil sertifikat tanah dan rumah warisan dari ayahnya sebagai harta gono gini. Saya tidak mau rugi dengan menantu serakah macam dia, tidak pernah bersyukur akan harta suami, di beri seberapa pun tidak puas."

Bang Arma meremas dadanya, ia mengatur nafas yang tidak karuan. Degub jantungnya ikut tak karuan mendengar setiap ucap tak terarah dari ibu Bang Setyo.

'Pantas saja Rhena sampai stress seperti ini. Tekanan batin yang di alami Rhena begitu berat.'

"Bawa ibumu keluar dari sini..!!" Sekuat mungkin Bang Arma menahan diri pasalnya ia menyadari wanita yang duduk di hadapannya adalah wanita tua.

"Tidak, saya harus memberi pelajaran pada Rhena. Dia sudah membuat keributan yang menyeret nama anakku..!!" Teriak Ibu Sertu Setyo lagi kemudian berdiri dan mendobrak kamar rawat Rhena.

"Ibuuuu..!!!!"

Secepatnya Bang Arma menghadang langkah Ibu Sertu Setyo. Sertu Setyo ikut berlari tapi saat itu Mira pingsan, tentu saja Sertu Setyo menangani istrinya lebih dulu.

"Dasar kau wanita lak*at, puas kau membuat keributan seperti ini. Dosa apa aku sampai bertemu dengan wanita pengganggu sepertimu..!!!!" Ibu melayangkan tamparan tapi Bang Arma memeluk Rhena untuk melindunginya.

Tangan Bang Arma hanya menahan tamparan itu tapi Ibu Sertu Setyo terpental.

"Jangan pernah kau sentuh istri saya lagi, atau saya tidak akan pernah mau tau jika usiamu akan habis di dalam jeruji besi..!!!" Ancam Bang Arma.

Tiba-tiba Rhena mengejang, istri letnan Arma itu kesulitan bernafas. Secepatnya Bang Arma menekan tombol darurat. "Muksin.. Anin.. cepat kesini..!! Rhena kejang..!!"

~

:

Bang Arma kesulitan menenangkan Rhena, ia mundur teratur tak tega melihat Bang Muksin dan Anin mengikat kedua tangan Rhena yang terus menyakiti dirinya sendiri. Istrinya itu merasa sangat kotor dan tidak bisa menerima kehamilannya. Bang Arma keluar ruangan dan menghajar Sertu Setyo tanpa ampun, tak ada belas kasihan. Ulah ibunya sudah membuat emosinya meledak, delapan orang sekaligus tidak bisa menenangkan amarah seorang Lettu Arma.

Tak lama datanglah Kapten Renash. Ia merangkul dan mendorong tubuh Bang Arma lalu memeluknya. "Abang ngerti perasaanmu Ar. Apa kau mau menghajarnya sampai mati? Jaga dulu Rhena, tenangkan Rhena.. itu yang terpenting..!!"

Baru saat itu Bang Arma merosot lemas, Bang Renash pun menahan tubuhnya.

"Tolong air minum donk. Dankimu bisa mati jantungan karena marah terus..!!"

"Siap Dan..!!"

"Setyo.. Kamu ikut saya..!!" Perintah Bang Renash Hariral.

:

Bang Arma memeluk Rhena, ikatan di tangan istrinya itu sudah di lepaskan. "Itu anakku dek, anak dari Lettu Armayudha. Jangan di sakiti"

"Dia memper**sa Rhena Bang."

Bang Arma terus memeluknya, hatinya sudah menangis kencang, batinnya teriris pedih. "Sudah beberapa bulan yang lalu saat Setyo melakukannya, dia tidak bisa punya anak. Sekarang yang sudah terjadi lupakan saja. Itu hanya mimpi burukmu. Saat ini yang ada hanya kisahmu dengan Abang. Tidak ada lagi nama Setyo di pundakmu, yang ada hanya nama Lanang Armayudha. Kamu harus kuat, harus tangguh. Ada Abang yang selalu melindungimu."

Rhena membalas pelukan Bang Arma. "Terima kasih ya Bang, Maaf istri Abang banyak kurangnya."

"Sama-sama sayang, Abang juga bukan laki-laki yang sempurna. Kita sama-sama belajar dan saling mengisi." Jawab Bang Arma kemudian mengecup bibir Rhena.

tok.. tok.. tok..

"Masuk..!!" Jawab Bang Arma.

"Ar, ini krupuknya punya siapa? Minta ya..!!" Tanya Bang Ojaz.

"Makan saja sekalian sama plastiknya.." Tak habis pikir di saat seperti ini Bang Ojaz masih saja doyan makan.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Ersa

Ersa

ya Allah..

2023-12-03

0

Ersa

Ersa

oalah nih ibu ternyata benalu tukang ngeret harta rhena

2023-12-03

0

Ersa

Ersa

laahhh belum tahu dia klo tetiba setyo di mutasi ke perbatasan Papua😂😂. yakin masih bisa nyinyir bu?

2023-12-03

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 57 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!