Bang Arma terus tersenyum menyimpan rasa malu mengingat masa lalu sedangkan Rhena salah tingkah menyembunyikan wajahnya.
"Bukan main.. bagaimana dulu kalian bertemu, kenapa bisa nggak saling kenal??"
"Hmm.. itu karena........."
Flashback Bang Arma on..
Bang Arma memperhatikan satu persatu juniornya. Awalnya keahlian beladiri dan MMA membuatnya di daulat mewakili provinsi dan kemudian mewakili negara. Karena Abangnya sudah mewakili di ajang MMA maka dirinya di ajukan mewakili beladiri untuk negara.
Siang hari ada siaran bahwa nanti akan ada badai salju dan di minta untuk semua orang tetap di dalam mess masing-masing tapi saat itu Bang Arma melihat seorang gadis bertengkar dengan atlet pria club sebelah bernama Jeva. Pria yang di gadang-gadang sebagai pria tertampan pada club' negara di tahun ini.
Entah kenapa dalam hatinya tersimpan rasa khawatir yang luar biasa. Ia pun mengikuti langkah gadis itu.
...
"Aku nggak mau Bang. Aku masih sekolah..!!" Tolak Rhena berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Jeva tapi pria yang sedang mabuk itu terus saja menarik tangan Rhena.
"Dia tidak mau..!!" Kata Bang Arma kemudian menyingkirkan tangan Jeva yang masih berusaha memaksa Rhena. Bang Arma mengarahkan Rhena agar beralih ke belakang punggungnya.
"Kau jangan ikut campur Bang. Mentang-mentang kau adalah seorang tentara lalu kau bisa ikut campur urusan kami..!!"
"Kamu mabuk Jeva, menyingkir dan cepat kembali ke mess atau saya akan menghajarmu karena kamu telah melakukan pelanggaran. Saya ini tetap pelatih meskipun berasal dari kubu yang berbeda." Bang Arma sudah berusaha mengingatkan tapi sepertinya Jeva tidak mengindahkan peringatan Bang Arma.
Jeva malah menyerang Bang Arma dengan serampangan. Bang Arma yang terpancing rasa kesal akhirnya menerima dan membalas serangan dari Jeva.
"Mas Lanang.. sudah..!! Ghea nggak apa-apa." Rhena saat itu menarik lengan Bang Arma agar segera menjauh. Tak lama ada bagian keamanan mereka yang sedang menggunakan motor segera mengangkut Bang Jeva untuk di mintai keterangan dan di beri sanksi.
"Nanti akan ada bagian keamanan lain yang menjemput kalian." Kata salah seorang pihak keamanan.
"Baik.. akan kami tunggu..!!" Jawab Bang Arma.
Beberapa menit sepeninggal para bagian keamanan, deru salju mulai terdengar dan tiba-tiba badai salju yang besar bergulung di depan mata. Merasa dirinya bertanggung jawab atas diri gadis di hadapannya itu, Bang Arma segera memeluk dan membawa Rhena menunduk namun badai yang amat besar itu menggulung mereka entah kemana.
...
"Dingin ya?"
"Dingin sekali Mas." Jawab Rhena.
Dengan keahliannya, Bang Arma menghidupkan api dari ranting yang terdapat di rumah tua dan reyot di tengah hutan. Meskipun rumah itu mungkin nyaris ambruk tapi masih lebih baik daripada mereka harus kedinginan di luar rumah tersebut.
Bang Arma melepas pakaiannya dan meletakan di dekat api agar lebih cepat kering. "Bajumu basah, lepas saja..!!" Kata Bang Arma tanpa memandang wajah Rhena. Sekilas ia memercing mengatur nafas, berusaha tenang dan bersikap seakan semua baik-baik saja.
"Nggak usah Mas."
"Saya tidak akan melihatmu. Lepaskan pakaianmu..!!" Mata Bang Arma terus terfokus pada api yang di buatnya namun tidak dengan pikirannya yang terus tertuju pada lekuk tubuh Ghea. Wajar saja, sekuat apapun iman yang ada dalam dirinya jika sudah di hadapkan dengan wanita yang menarik perhatiannya pasti akan tergoda juga hasratnya.
Setelah mengamati beberapa saat, Rhena merasa Bang Arma bukanlah orang yang berbahaya. Ia pun membuka pakaiannya dan menjemur di sisi lain dari samping api yang sudah di buat Bang Arma.
Bang Arma tau mungkin Rhena merasa tidak nyaman, ia mengambil selimut tebal yang terlipat di atas meja lalu menyerahkan pada Rhena. Rhena pun mengambilnya dan menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan tank top dan hot pants.
Terdengar suara badai semakin menderu dan sedikit menghantam rumah kecil tersebut. Namun suara kembali terdengar dan menghantam rumah tersebut. Bang Arma segera berdiri dan melihat keadaan sekitar.
"Kita terjebak disini. Rumah ini ada di bawah perbukitan, cara terbaik adalah tetap menunggu bantuan."
"Apaa?? Sampai berapa lama kita disini Mas??" Tanya Rhena panik.
"Sampai kita jadi suami istri..!!!!! Kamu dengar atau tidak, kita menunggu di evakuasi." Jawab Bang Arma.
"Aku nggak mau mati disini Mas??" Pekik Rhena ketakutan.
"Mau dimana?? Mati di pelukanku??" Ledek Bang Arma.
Rhena melirik Bang Arma dengan tatapan jengah. Bang Arma kembali duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu bisa pacaran sama Jeva?" Tanya Bang Arma.
"Karena ganteng. Kulitnya bersih dan gagah."
Bang Arma berdehem lalu kembali membenahi letak arang kayu. "Ganteng itu kalau dia bertanggung jawab, meminimalisir pertengkaran. Bukan karena putih dan ganteng saja."
"Mas sendiri sudah punya pacar?" Rhena balik bertanya.
"Sudah nikah, empat bulan yang lalu tapi kita sudah tiga bulan ada disini." Suara Bang Arma merendah seperti ada yang menjadi beban pikirannya.
"Pasti juga hanya cantik tapi tidak berakhlak." Kata Rhena membalas ucapan Bang Arma.
"Kalau begitu apa kau juga mau jadi istriku?" Pandangan Bang Arma terlihat nanar, ingin melihat dengan jelas wajah Rhena tapi kurangnya cahaya malah memburamkan pandangannya.
"Nanti saja kalau Mas jadi duda." Jawab Rhena asal.
"Di kehidupan selanjutnya, aku akan menunggumu apapun keadaanmu..!!" Ucap lirih Bang Arma kemudian ambruk menimpa Rhena.
"Maaass..!!!!!!" Pekik Rhena.
Flashback Bang Arma off..
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Evy
ucapan yang terkabul...
2024-01-07
0
Ersa
tapi kenapa disiksa fisik ma setyo gak ngelawan ya?
2023-12-04
0
Umi Maryam
dan beneran pass udah jadi duda dan janda beneran nikah , walau rhena masih depresi oleh mertua edan nya.
2023-08-30
2