8. Ternyata...

Bang Arma duduk berhadapan dengan lima orang anggotanya plus dengan Bang Ojaz yang malah berasyik bermain boneka bersama Riri.

"Lain kali kalau kalian mendapatkan info, telusuri dulu sumbernya. Intai dulu lokasinya dan eksekusi saat sudah dapat berita yang jelas. Kalau seperti ini, kalian semua ikut andil membuat saya malu. Pikir donk, apa betul kamar Danki di serang tikus." Omel Bang Arma.

"Tadi khan Papa yang bilang kalau di kamar ada tikusnya. Mama saja sampai teriak." Protes Riri

Wajah Bang Arma langsung merah padam bingung menanggapi celoteh putrinya.

"Ii_ya Ri, ada kok tapi sudah Papa hajar." Kata Bang Arma.

"Waduuuhh.. di hajar apa di sayang? Papa Arma serius sekali nangkap tikus di dalam kamar sambil gelap-gelapan. Tikusnya cantik ya Pa?" Ledek Bang Ojaz.

"Eheem.. ini nggak lucu Jaz. Banyak 'anak-anak' " bisik Bang Arma.

"Ngapa lu?? Malu?? Kita ini semua laki-laki dewasa, laki-laki perkasa, laki-laki tulen, biasa aja donk. Cuma bedanya lu ada lawan.. gue sama 'anak-anak' belum ada, ya nggak bro??"

"Siap"

"Siap Dan."

"Astagaaa.. jangan ngajarin yang nggak-nggak donk Jaz." Tegur Bang Arma.

"Lu tobat?? Bukannya lu demen banget nonton yang begituan."

Bang Arma mulai panik saat Rhena yang kalem mendadak meliriknya dengan tatapan menusuk penuh ancaman. "Nggak dek.. beneran Abang nggak macam-macam." Kata Bang Arma meyakinkan.

Tanpa sepatah kata pun Rhena pergi meninggalkan tempat.

"Kowe iki tenan kurang ajar, wes ribut ngene terus piye??" ( Kamu ini benar-benar kurang ajar, kalau sudah ribut begini bagaimana? )" Bang Arma gemas dengan ulah jahil sahabatnya.

"Ya nggak bagaimana, Rhena khan istrimu.. bukan istriku." Jawab Bang Ojaz.

"Nih hadiah untukmu, obat sakit kepala." Bang Arma yang kesal lalu menghampiri dan menghantamkan lututnya di kening Bang Ojaz, meskipun tidak kencang tapi lumayan terasa di kepala Bang Ojaz.

"Ijin Dan.. kami pamit undur diri..!!"

"Iya.. silakan.. Terima kasih banyak sudah membuat keributan, besok guling botol di lapangan..!!" Perintah Bang Arma.

"Siaap..!!"

"Tolong saya donk..!! Saya mau lapor ke kantor POM, habis di hajar litting." Bang Ojaz mengulurkan tangannya meminta pertolongan.

***

"Dek.. sayang.. cantik.. Abang mau bicara..!!" Bang Arma mengetuk kamar Riri karena Rhema mengunci kamarnya. Hingga tengah malam Bang Arma masih gigih mengganggu Rhena.

"Berisik sekali sih Bang, Rhena sudah tidur." Jawab Rhena karena kesal.

"Terus ini yang jawab siapa?? Tikus??"

Rhena yang kesal akhirnya keluar dari kamar. Baru melihat wajah Bang Arma, Rhena langsung merasa mual dan berlari masuk ke kamar mandi.

Bang Arma yang bingung langsung menyusulnya. "Kamu kenapa? Masuk angin ya?"

"Lepas kaos lorengnya Bang..!! Abang bau singkong bakar." Kata Rhena kemudian kembali mual.

"Laah, Abang genderuwo donk..!! Ini parfum Wood series lho dek..!!"

"Buang Bang, Rhena mual..!!"

Secepatnya Bang Arma membuang kaosnya ke mesin cuci baru Rhena sedikit lebih tenang dan mualnya mulai reda.

Tak sengaja saat itu pandangan mata Rhena mengarah pada celana pendek Bang Arma.

"Hayooo.. lihat apa?? Apa mau cari singkong bakarnya yang hilang?" Ledek Bang Arma.

"Nggak..!!" Rhena memalingkan wajahnya tapi ekor mata itu masih melirik area terlarang dengan jelas.

"Ehemm.. awas..!!" Bang Arma berdiri menghadap closed.

Mata Rhena terbelalak tapi tak juga beralih dari sana. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. Bang Arma tersenyum geli melihatnya. "Riri sudah tidur, mau lagi nggak?" Tanya Bang Arma tak lagi memberi jarak.

Rhena malu-malu tapi akhirnya mengangguk kecil.

"Aku bukan dia yang bisanya menyakitimu, aku memberimu belai sayang, seperti harapku yang ingin mendapatkan rasa puas dan sentuhan hangat darimu. Jujur hati ini sudah penuh terisi namamu, kuharap ada namaku juga disana. Kamu di hatiku, bukan hanya sekedar pelepas rasa rindu namun juga bidadari dunia dan surgaku."

Terpana ucap manis Bang Arma, Rhena hanya diam saat Bang Arma mengangkat tubuhnya. Matanya terus menatap wajah tampan pria yang perlahan sudah mengisi hatinya juga.

"Abang tau kalau Abang ganteng, tapi jangan di lihat terus donk.. khan jadinya pengen nyamber istri." Lagi-lagi Bang Arma meledek Rhena apalagi saat tangan itu mungkin tanpa sadar mengusap dadanya.

Belum pernah Rhena merasakan di ratukan seperti ini. Sungguh hatinya melayang terbang tapi dirinya sangat takut untuk terjatuh yang kedua kalinya dan Bang Arma mengerti akan hal itu, jadi untuk sementara biarlah dirinya yang memancing Rhena lebih dulu sampai nanti istrinya itu berani 'menggodanya'.

Sesampainya di kamar, Bang Arma merebahkan Rhena lalu mengunci pintu dengan rapat. Bang Arma tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi. Saat berbalik badan dirinya terpana saat Rhena mengurai rambutnya, tak menunggu waktu lama Bang Arma menarik tali celana pendeknya. "Show time..!!"

-_-_-_-

Bang Arma menyisir jambulnya, siulnya menyambut pagi ini dengan ceria namun kemudian Rhena berlari menuju kamar mandi.

"Hhkkk..!!"

Bang Arma melongok melihat sang istri kembali mual dan muntah.

"Kalau nggak enak badan nanti nggak usah ke PAUD dek. Besok saja..!!" Kata Bang Arma kemudian membantu Rhena yang masih muntah.

"Nanti ada Danyon dan DanMar ke PAUD untuk penyambutan calon siswa baru Bang. Masa Rhena nggak datang."

"Ya sudah lah, nanti cepat pulang.. jangan terlalu lama..!!" Pinta Bang Arma sambil membantu Rhena untuk keluar dari kamar mandi dan duduk di kursi makan.

Bang Arma mengambilkan teh hangat agar Rhena meminumnya.

"Abang berangkat kerja dulu ya dek..!!" Pamit Bang Arma, tapi tiba-tiba Rhena memegangi ujung baju lorengnya.

"Jangan kerja donk Bang..!!"

"Kalau Abang nggak kerja kamu mau makan apa? Tumben rewel begini, nggak enak badan ya?"

Rhena menggeleng, mimik wajahnya sangat sedih.

"Sebentar saja dek, nanti Abang cepat pulang deh." Janji Bang Arma kemudian mengecup kening Rhena.

Mau tidak mau akhirnya Rhena mengalah dan mengijinkan Bang Arma.

...

Pukul sepuluh pagi Rhena pulang dari PAUD usai mendaftarkan Riri untuk bersekolah. Dengan sopan Rhena berpamitan dengan ibu-ibu disana. Tak jauh dari tempatnya berdiri ada sekelompok ibu-ibu yang menggunjing. Bu Budi dan Bu Maliq memandang risih terhadap Rhena.

"Yaelaaahh.. pengasuh tidak tau ini bakal ngantar anak Danki setiap hari. Hati-hati lho ibu-ibu, bapaknya nggak usah di suruh jemput anak-anak. Kalau di goda sama pengasuh yang ini nanti bisa di asuh selamanya. Bu Celia yang kece badai aja di tinggal begitu saja gara-gara pengasuh ini, gimana nasib kita coba?" Kata Bu Budi.

"Dukunnya kuat buuuu." Imbuh Bu Maliq.

Rhena berusaha tidak menggubris semuanya. Ia tau suami mereka akan bermasalah dengan Bang Arma jika ketahuan ada istri anggota yang seperti itu.

Beberapa ibu yang sudah mengetahui status Rhena sudah bersiap angkat bicara tapi Rhena melarangnya. "Jangan Bu, ibu tau bagaimana suami saya khan? Bang Arma bisa marah dan suami mereka bisa bermasalah." Bisik Rhena.

"Ini sudah keterlaluan Bu. Biar saja bapak tau.. biar tau rasa." Sahut Bu Wana.

"Mantan menantu serakah, nggak bersyukur, harta gono gini di rampas semua. Mana mandul pula.. duuhh kasiannya Pak Arma dapat sampah."

Saat mendengar itu, tubuh Rhena gemetar. Kepalanya terasa berat berkunang-kunang, perutnya terasa kram luar biasa. Seketika Rhena pingsan menghantam paving sekolah PAUD.

"Ya Allah, Bu Armaaa..!!" Pekik Bu Wana.

"Om Andriii.." Bu Wana berteriak memanggil Om Andri yang hari itu bertugas mengambil foto anak-anak PAUD.

"Siap Bu, ada apa Bu??" Jawab Serda Andri.

"Tolong hubungi Pak Arma, ibu pingsan."

"Mamaaaaaa..!!!!!!" Riri berteriak histeris saat melihat Mamanya pingsan usai bermain dengan temannya saat akan pulang sekolah.

~

Bang Arma turun dari mobil dan berlari menghampiri Rhena. Beberapa orang sudah berusaha menyadarkan Rhena tapi istrinya tak kunjung sadar.

"Ada apa ini Bu Wana?" Tanya Bang Arma.

"Maaf Pak, tapi Bu Budi dan Bu Maliq menggunjing ibu sampai akhirnya ibu pingsan." Jawab jujur Bu Wana tanpa ada yang di tutupi lagi.

Bang Arma melirik dua perusuh seakan memberi ancaman.

"Poot.. cepat di bawa ke rumah sakit..!!" Teriak Bang Ojaz.

"Bu, saya titip Riri sebentar ya..!!" Pinta Bang Arma.

"Baik Pak."

...

Mobil Bang Ojaz masuk ke lobby IGD, Bang Arma segera membawa Rhena ke ruang tindakan IGD.

"Eehh kenapa nih Ar?" Tanya Bang Muksin. Litting Bang Arma di rumah sakit.

"Istriku pingsan, tolong ya..!!" Pinta Bang Arma.

~

Kening Bang Muksin berkerut saat memeriksa hasil pemeriksaan darah Rhena.

"Nina.. tolong ambilkan alat USG donk.." Perintah Bang Muksin pada perawat jaga.

"Kenapa Sin??" Tanya Bang Arma tapi tak juga terjawab oleh Bang Muksin.

Setelah perawat menyerahkan alat tersebut, Bang Muksin menggerakkan alat USG di perut Rhena.

"Ada apa?????" Bang Arma semakin cemas tak karuan.

"Sabar lah Ar." Jawab Bang Muksin memastikan. "Naaahh.. kelihatan nih. Istrimu hamil Ar, lima minggu."

Mata Bang Arma berkaca-kaca. Tidak ada yang bisa menguraikan rasa bahagianya saat ini. "Alhamdulillah.." gumamnya berucap syukur. Ia mengecup perut Rhena. "Kamu hasil dari misi rahasia Papa nak..!!"

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Mira Lusia

Mira Lusia

misi penyerbuan pasukan tikus🤣🤣🤣

2024-05-21

0

Ita Mariyanti

Ita Mariyanti

" tikus"nya bekerja cpt ni pak Arma 😍😍😍🤩🤩 slmt RhenArma junior otw

2023-11-22

1

Destiyana Alifvia

Destiyana Alifvia

misi nangkep tikus 😀😀

2023-10-14

2

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 57 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!