18. Danki kalah telak.

"Abang bilang juga apa???? Hari sial nggak ada di kalender..!!!!" Bang Renash memapah Bang Arma bersama dengan Bang Ojaz yang tidak terlihat cemas sama sekali dan itu menimbulkan ribuan tanda tanya dalam benak Bang Renash.

"Tolong anakku Bang, lain kali aku nggak akan buat Rhena ngambek lagi." Jawab Bang Arma di balik isakan tangisnya.

Baru kali ini juga para anggota melihat seorang Letnan Arma teramat begitu bersedih, wajah garangnya hilang, sikap kakunya melunak, sifat dinginnya memudar, ia terus memohon agar calon bayinya bisa di selamatkan.

"Ono opo pot??"

Bang Arma sampai merosot meminta agar Bang Muksin menolong Rhena. "Rhena berdarah-darah setelah marah sama aku Sin.. Tolong.. tolong..!! Aku benar-benar lemas, nggak kuat lihat Rhena sakit, aku juga sudah menunggu anakku ini sejak lama poott..!!"

Terbersit rasa kasihan dalam hati Bang Muksin meskipun littingnya itu teramat menjengkelkan jiwa dan raga.

"Iya, sebisanya aku akan membantumu..!!"

Bang Muksin melirik Rhena tapi kemudian matanya memicing karena ada yang aneh. Setelah itu dirinya tersadar saat Bang Ojaz menyentuh pundaknya.

"To_long..!!!!" Pinta Bang Ojaz dengan raut wajahnya yang tidak kalah meminta pertolongan.

Detik itu juga Bang Muksin menyadari ada permainan di balik semua kejadian ini.

:

Di dalam ruang tindakan, Rhena lumayan banyak berbincang dengan Bang Muksin dan Anin. Tak hanya itu, Rhena malah sempat makan sepiring nasi goreng karena istri Letnan Arma itu mengeluh lapar.

Berbeda dengan kondisi di luar ruangan. Letnan Arma sampai nyaris tak sadarkan diri saking paniknya. Wajahnya sembab, ia terus menangis menyesali perbuatannya tadi. "Abang janji tidak akan melirik wanita lain. Abang minta maaf ya dek..!!" Ucapnya lirih.

"Makanya jadi orang jangan celamitan to Aarr.. kalau istri jadi begini terus bagaimana??? Lu mah pintar buat masalah jadi runyam."

Mendengar itu Bang Arma semakin down, apalagi Bang Renash yang murni tidak tau apa-apa tentang masalah ini ikut menceramahi adiknya itu karena geram.

"Abang sudah bilang jangan cari perkara sama bumil, kenapa kamu nggak peka sekali Ar?????" Tegur Bang Renash.

"Aku benar nggak tau kalau Rhena itu cemburuan Bang." Jawab Bang Arma.

"Pikiranmu mawur kemana Ar??? Namanya istri pasti punya rasa cemburu. Kamu juga nggak peka banget, masa mau ikut latihan senam di tempat gym sama perempuan. Abangmu ini atlet tapi sekalipun nggak pernah punya pikiran sampai ngucap hal itu di depan Geeta, Abang sudah paham resikonya.. hancur lebur atau masuk liang kubur." Bang Renash ikut jengkel dengan kecerobohan adiknya itu.

Bang Muksin membuka pintu ruang tindakan kemudian membuka masker medisnya. "Ehh.. sabar dulu..!!" Pelan-pelan Bang Muksin membuka pembicaraan karena mata nanar Bang Arma terus menatapnya.

"Muksiiinn.. jangan bilang begitu, aku sungguh akan membayarmu, berapapun yang kamu mau. Mobil, tanah, apapun yang kamu mau ambil saja. Aku nggak ingin apapun, aku hanya mau Rhena yang sehat dan anakku selamat." Terlalu banyak menangis sampai histeris membuat nafas Bang Arma begitu sesak. Ia sampai tak kuat lagi merasakan sedihnya sampai kemudian Bang Arma tak sadarkan diri.

"Waduuuh Ar, badan segede gaban begini bagaimana angkatnya?????" Gerutu Bang Ojaz.

:

"Kenapa nggak bilang sih Bang??" Protes dokter Anin.

"Mau bilang bagaimana??? Arma sudah histeris begitu, wajarlah dia cemas apalagi lihat istri berdarah-darah, paniknya berkali lipat." Jawab Bang Muksin.

Kini Bang Ojaz duduk di hadapan Bang Renash yang berkacak pinggang. Ingin sekali rasanya ikut menegur Rhena tapi adik iparnya itu sedang asyik menyantap semangkok lontong sayur.

"Kamu ini yang waras juga, jangan ikutan tingkah bumil donk Jaz. Kalau nurutin bumil ya bisa saja itu bumil minta kamu memanggul pohon palem." Tegur Bang Renash yang akhirnya tau persekongkolan di balik drama yang menggegerkan Batalyon. "Satu Batalyon ribut mengira Rhena keguguran. Arma syok berat nggak bisa terima kenyataan karena mengira calon anaknya sudah nggak ada."

Bang Ojaz mencolek bumbu gado-gado milik Rhena yang belum di santap dengan kerupuk yang sedang ia makan.

"Kamu dengar atau tidak Jaazz????"

"Siap Bang, dengar..!!" Jawab Bang Ojaz dengan santainya.

Saat itu Bang Arma tersadar, ia meraba dadanya yang masih terasa sangat sakit. Aura kesedihan masih terpancar nyata, bibirnya kelu. "Astagfirullah hal adzim..!!" Bang Arma terus meratapi 'kepergian' calon bayinya.

Bang Renash menghampiri adiknya. Sebagai seorang kakak jelas rasanya tidak tega tapi semua ini bermula karena ulah adiknya itu sendiri.

"Rhena di mana Bang? Apa sudah sadar?" Tanyanya lirih.

Baru Bang Renash membuka mulut, tapi Bang Ojaz sudah menyambarnya.

"Di ICU bro, belum sadar juga."

"Ya Allah.. Rhena..!!" Bang Arma semakin meremas dadanya yang terasa tertusuk sebilah pisau. "Abang minta maaf ya dek.." dirinya berusaha tegar tapi hatinya benar-benar rapuh untuk saat ini.

Bang Arma tak menyadari bahwa di balik tirai, Rhena dan Bang Ojaz sedang join menyantap berpiring- piring makanan dengan santainya.

"Ada batagor di depan Rumkit Rhen, mau nggak?" Bisik Bang Ojaz.

"Mau Bang, yang super pedas ya..!!" Pinta Rhena.

"Jangaaaann.. urusan yang ini sudah pedas, setelah ini Abang pasti perang sama suamimu yang galak itu. Pedas biasa saja ya..!!" Jawab Bang Ojaz berbisik lirih. "Kalau kamu beneran ada apa-apa, Abang bisa di cacah sama Arma."

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Hilmi Miluri

Hilmi Miluri

aku ga bisa ngomong thorr😁😁😁

2025-01-20

0

Althhar Amfairuz

Althhar Amfairuz

Bang ojaz🤣🤣🤣

2024-11-18

0

KaylaKesya

KaylaKesya

hahahaahahahahha🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2024-09-28

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 57 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!