Sebisanya Rhena mengimbangi Bang Arma meskipun hatinya masih di liputi perasaan takut.
"Baik Danki, mohon ijin, kalau begitu kami pamit dulu.." Sertu Setyo pamit undur diri.
"Silakan."
"Kami mohon ijin Pak.. Rhen..!!"
Sertu Setyo menyenggol lengan Mira dan agaknya Mira sedikit paham.
"Ehmm.. ijin Ibu."
Rhena hanya mengangguk dan membiarkan Mira untuk pergi. "Silakan..!!"
Setelah Sertu Setyo pergi, Rhena bersandar di dinding teras rumahnya, kakinya gemetar, tangannya sampai dingin.
"Tidak ada yang perlu di sesali khan?" Tanya Bang Arma melihat mendung di wajah Rhena.
"Rhena bersyukur lepas dari Bang Setyo." Jawab Rhena.
"Ya sudah ayo kita masuk..!!" Bang Arma mengulurkan tangannya tapi Rhena belum juga menerimanya. "Maaaaa.."
"Apa sih Bang?" Rhena tersipu malu tapi kemudian menyambut uluran tangan Bang Arma.
"Aaaaarrr..!!!!!" Teriak seorang pria sebelum Bang Arma masuk ke dalam rumah. "Pinjam uaaang..!!!!!"
"Astagfirullah.. kecilkan suaramu. Kau mau satu batalyon ini tau ada perwira yang suka ngutang???" Gerutu Bang Arma.
"Maaf.. aku nggak ada uang kecil. Semua uangku beku di ATM" kata Bang Rojaz litting Bang Arma.
"Beku di ATM atau beku di mimpimu?" Ledek Bang Arma.
Bang Rojaz tidak menjawabnya tapi pandangan mata itu tertuju pada Rhena. "Subhanallah.. ayu tenan." Gumam Bang Rojaz. "Kerja sama Pak Arma ya?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Bang Arma yang melihat hal itu tak tinggal diam, ia menepak tangan Bang Rojaz.
"Singkirkan tanganmu..!! Kemana saja kamu sampai tidak hadir waktu saya memperkenalkan istri?" Tegur Bang Arma.
Bang Rojaz pun melihat tangan Bang Arma yang sedang menggandeng tangan Rhena. "Bukan main.. ini serius???? Jadi benar kamu pisah sama Celia."
"Allahu Akbar.. kuhantam juga moncong kau itu..!!" Tegur keras Bang Arma karena Rhena jadi menunduk lesu.
"Kalau dapatnya yang begini mah gue juga mau broo..!!" Kata Bang Rojaz melirik Rhena lalu memandangnya dari atas hingga ke bawah.
Sebenarnya Bang Arma tau gaya candaan littingnya itu tapi entah kenapa kali ini hatinya begitu nyeri, panas dan dongkol saat ada pria lain menatap istrinya dengan pandangan seperti itu.
Bang Arma mengarahkan Rhena di belakang punggungnya. "Aku nggak bercanda Jaz, kucolok juga nih matamu..!!!"
Jika dulu dirinya memiliki istri yang keseksiannya bisa membuat bahagia setiap mata memandang, kini dirinya merasa terluka saat ada pria yang memandang istrinya dengan tatapan tidak sopan.
"Masuk..!!" Pintanya pada Rhena.
"Bang Rojaz minum kopi atau teh Bang?" Bisik Rhena di telinga Bang Arma.
"Tumbukan kamper. Sudah kamu tidur saja sana. Masih ada banyak minum di ruang tamu..!!"
Memang Bang Arma selalu menyediakan air mineral, softdrink, camilan, permen bahkan rokok di ruang tamu dan meja teras rumahnya yang jarang sepi oleh tamu.
Tau Bang Arma sedang tidak enak hati, Rhena pun memilih masuk ke dalam rumah dan bermain kembali bersama Riri.
//
Bang Arma menggelar uang dua juta rupiah di atas meja. Dirinya pun tak pernah mempermasalahkan kapan littingnya itu akan mengembalikan uang sebab ia tau sahabatnya itu sedang mencukupi kehidupan ayah dan ibunya di kampung hingga merelakan belum menikah hingga saat ini, di pangkat Lettu tertua se-Indonesia raya karena bulan depan mereka akan mengalami kenaikan pangkat menjadi seorang Kapten.
"Jangan ngambek lah. Masa begitu saja buat kita jadi putus." Kata Bang Ojaz.
"Kau pandang mantanku seperti itu terserah lah, tapi jangan kau pandang Rhema dengan tatapan mesum mu. Kalau kau lakukan lagi lebih baik kita baku hantam saja..!!"
Bang Ojaz tertawa lepas pasalnya Bang Arma tidak pernah selepas ini dalam mengungkapkan perasaannya, terlebih ini adalah perasaan cemburu khas seorang pria.
"Oom Ojaaazz..!!!" Sapa Riri saat melihat om kesayangannya bertandang ke rumahnya.
"Haiii cantiknya Om Ojaz. Apa kabar cintakuuuuhh???" Bang Ojaz langsung mendudukan Riri di atas pangkuannya. "Password nya mana??"
"Om Ojaz ganteng, ai lap yu." Kata Riri.
"Sudah kubilang jangan ajari anakku begitu..!! Aku nggak suka punya anak ganjen..!!" Rasanya tekanan darah Bang Arma selalu meningkat setiap mengajari Riri sesuatu.
"Okee.. kalau begitu Om Ojaz mau tanya. Apa Riri mau adik kecil?? Adik bayi??" Tanya Bang Ojaz.
"Mau Om."
"Kalau begitu.. minta sama Mama dan Papa di buatkan adik bayi ya..!!" Kata Bang Ojaz.
"Pulanglah Jaz, please jangan buat huru hara..!!" Usir Bang Arma.
Riri terdiam sejenak kemudian menyadari sesuatu. "Papaaa.. Riri mau adik bayi..!!" Pintanya.
"Ma**us luuuu.. hahahaha.." tawa renyah Bang Ojaz terdengar membahana. "Aku pamit dulu.. selamat berpusing ria."
...
Mungkin karena terpengaruh ucapan Bang Ojaz, Riri terus menempel pada Rhena dan mengusap perut datarnya.
"Riri mau adik Ma..!!"
Seketika Bang Arma tersedak karena Riri benar-benar menagih ucapan Bang Ojaz.
"Oohh.. adik ya.. ehm.. adiknya masih kecil sekali sayang. Masih jauh." Jawab Rhena sebisa mungkin tidak gugup dengan pertanyaan balita berusia kurang dari dua tahun itu.
"Jauh dimana? Kecil sekali ya Ma?"
"Ehhmm.. iya sayang. Keciiil sekali." Rhena gelisah takut salah menjawab apalagi saat ini batinnya sedikit tertekan karena dirinya tidak bisa memberikan adik untuk Riri.
Setelah itu Riri mendekati Bang Arma. "Paa.. perut Mama kapan besar? Riri mau punya adik."
Rasanya tenggorokan Bang Arma tercekat. Bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan putri kecilnya.
"Papaaa.. Riri mau adiik..!!!" Pintanya sekali lagi.
"Sabar ndhuk, nanti kalau sudah waktunya pasti Riri akan punya adik."
Rhena berlari masuk ke dalam kamar membawa tangis yang tidak sanggup di tahannya.
"Ririi.. Riri main dulu sama si Elizabeth ya ( boneka kesayangan Riri ). Papa mau lihat Mama dulu di kamar."
~
"Abang minta maaf atas ucapan Riri."
"Bukan Riri yang salah, memang Rhena bukan wanita dan ibu yang sempurna. Rhena hanya benalu yang tidak berguna..!!" Jawab Rhena.
Bang Arma ikut bersedih, Rhena sangat terpuruk dengan keadaannya.
"Besok ada jadwal pemeriksaan ke dokter untuk syarat pengajuan nikah kita, apa kamu mau sekalian cek keadaanmu?" Saran Bang Arma.
"Nggak Bang, sudah jelas Rhena ini mandul." Isak tangis Rhena begitu pilu.
Bang Arma segera memeluk Rhena. "Ya sudah, jangan nangis lagi ya. Dunia ini tidak akan runtuh hanya karena kita tidak memiliki anak." Kata Bang Arma. "Kalau kamu mau, nanti kita test sama-sama saja..!!"
"Apa maksudnya?? Bukankah Abang sudah punya Riri??"
Bang Arma mengambil sebuah berkas yang ada di dalam lemari pakaian Bang Arma lalu menyerahkan pada Rhena. "Bacalah..!!"
Rhena menerima dan membacanya kemudian menatap wajah Bang Arma yang sudah meremang memerah. "Bang.. Mbak Celia... Riri..!!!!!"
Bang Arma mengangguk kemudian menghapus titik air matanya. "Ya.. Celia memang ibunya, Abang memaafkan apapun yang terjadi pada rumah tangga kami termasuk kehamilannya dengan pria lain saat Abang dinas luar tapi dia juga yang menggugat cerai dengan serangkaian alasan untuk mengakhiri pernikahan kami. Dia tidak pernah menginginkan Rhena ada."
"Bang........"
"Demi Tuhan hati Abang tidak pernah menolak hadirnya Riri meskipun sakit teramat sakit Abang rasakan saat Celia mengakui telah hamil bersama pria lain saat Abang sedang bertugas di luar pulau. Riri tidak punya dosa apapun atas perbuatan yang sudah di lakukan ibunya."
Rhena semakin menangis mendengar apa yang di alami Bang Arma. Suaminya itu begitu tegar dalam menjalani hidup yang sangat pahit.
"Ada satu hal yang begitu mengiris batin Abang dan luka itu tidak pernah kering. Celia tidak pernah puas dengan apa yang Abang lakukan. Hingga di suatu hari dia mengatakan hal yang melukai harga diri Abang. Sebagai suami, Abang tetap melaksanakan kewajiban yang seharusnya tapi...." Lagi-lagi suara Bang Arma terdengar tercekat.
"Tapi apa Bang?
"Kamu tau hukumnya menyirami benih pria lain?? Sejak saat itu Abang belum lagi menyentuhnya, setelah Riri terlahir.. Abang berniat memperbaiki hubungan namun memang semua sulit di pertahankan. Setiap hari hidup terasa hambar, Abang stress karena pikiran bercabang kemana-mana dan yaaa.. dia meninggalkan saya dan Riri."
"Apa Abang trauma dengan pernikahan?" Tanya Rhena sudah mulai lebih rileks. Tangisnya perlahan mengering.
"Trauma pada pernikahan jelas tidak, hanya tidak bisa lagi mentoleransi segala apapun yang berhubungan dengan Celia. Lagipula mau jadi apa kalau kita trauma dengan pernikahan?" Begitu sudut pandang yang diberikan Bang Arma pada Rhena. "Sakit itu sudah lama dan Abang sudah punya obatnya."
Bang Arma mendekatkan wajahnya pada Rhena, ia ingin mencoba pendekatan lebih. Bagaimana pun juga mereka telah menjadi pasangan suami-istri. Saat ini dengan mengumpulkan seluruh keberanian, Rhena mencoba membalas kecup kecil dari Bang Arma di bibirnya.
Perlahan Bang Arma mulai berani karena Rhena juga memberikan kesempatan padanya. Tangannya mulai tidak terkontrol, Bang Arma menaikan long dress Rhena.
"Papa sayangin Mama ya?"
"Astagfirullah.." seketika Bang Arma menghindar dan duduk menenangkan diri sedangkan Rhena bingung sendiri karena Riri juga menatapnya. "Ririiiii.. Papa puyeng nih Rii..!!"
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
pecinta happy ending
wkwkwkwkw
Allahuakbar tumbukan kamper /Grin/
2025-03-19
0
Ara Dhani
aq padamu lah bang
2023-12-31
0
Ita Mariyanti
🤣🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂 mnta d gorok Arma km yoo Jaz😝😝😝
2023-11-22
1