19. Tidak bisa menolak.

Bang Muksin kembali memasang selang oksigen, bahkan Letnan Arma yang pernah tertembak pun dulu tidak sampai separah ini kondisinya.

"Rhena nggak apa-apa Ar. Sungguh..!!" Bang Muksin bingung harus menjelaskan dari arah mana dulu penyelesaian perkara ini.

"Apa Rhena sudah sadar?"

Terus saja pertanyaan itu yang di lontarkan Bang Arma.

"Sudah.."

Perlahan Bang Arma bangkit, sudah jelas dirinya sangat ingin menemui Rhena.

Langkah kaki terdengar mendekat dan Bang Arma melihat Rhena baik-baik saja, ia melepas selang oksigennya tanpa perhitungan.

"Dek.. kamu nggak apa-apa??" Tanya Bang Arma.

"Nggak apa-apa. Abang yang apa-apa." Jawab Rhena masih ketus.

Bang Arma berusaha meraih tangan Rhena tapi istrinya itu menolaknya. Tak ingin menerima penolakan itu, Bang Arma menarik lengan Rhena dan memeluknya.

"Maaf.. maaf.. Abang minta maaf..!!" Bang Arma yang lebih melow dari biasanya tak bisa menutupi rasa sedihnya.

"Minta maaf sama adek. Tega sekali Papanya memilih perempuan lain..!!" Kata Rhena.

Bang Arma menatap mata Rhena dengan bingung.

"Ini..!!!!" Rhena menunjuk perutnya. "Papa nggak mau minta maaf sama adek????"

Secepatnya Bang Arma menghambur memeluk perut Rhena. Tak tau bagaimana perasaannya saat ini. Antara percaya dan tidak dengan ucap Rhena tapi sungguh ia berharap calon anaknya masih ada di dalam perut Rhena. "Papa minta maaf ya adek, Papa sudah jahat sama adek dan Mama. Papa nggak akan mengulangi lagi perbuatan seperti tadi. Papa mau adek sama Mama sehat."

"Adek maafin tapi Mama nggak..!!"

"Adek masih di perutmu??" Tanya Bang Arma masih tidak percaya.

"Ya masa di perutnya Bang Ojaz????" Balas Rhena dan di sana Bang Ojaz masih mengunyah makanan dengan tenang tanpa beban.

Abang harus bagaimana biar Mamanya mau maafin??" Tanya Bang Arma tapi matanya melirik Bang Ojaz yang tersenyum penuh aura kelicikan. Detik itu juga dirinya menyadari bahwa sesaat tadi telah di tipu mentah-mentah oleh Letnan Rojaz karena tidak mungkin seorang Rhena mampu membuat skenario jahil seperti itu, Bang Arma tau betul sebenarnya Rhena sangat lugu.

"Abang bilang i love you banyak-banyak sampai bibir kering..!!" Kata Rhena dengan gaya manjanya.

Bang Renash yang sedari tadi diam akhirnya tersenyum juga dan Bang Ojaz tertawa penuh sindiran.

'Jadi kau biang keladinya ya, aku stress hampir mati mikir Rhena dan kau malah asyik makan batagor.'

"Papa Ar sangat sayaaang sekali sama Mama Rhena." Ucap Bang Arma bagai anak muda yang sedang kasmaran.

"Rhena nggak mau yang begitu, Abang nggak bisa mesra ya???" Protes Rhena sudah memonyongkan bibirnya.

Bang Arma melirik Abang dan sahabatnya, rayuannya tadi sudah sangat maksimal. Mana mungkin dirinya yang gagah perkasa harus merayu istri tercinta di hadapan orang terdekatnya.

Rhena menepis tangan Bang Arma dengan jengkel. Ia pun beranjak pergi, secepatnya Bang Arma menarik tirai dan turun dari ranjang. Tak ingin Rhena semakin kesal, Bang Arma memeluknya.

"Ributnya di rumah saja ya sayang..!! Abang sebenar-benarnya sayang sama kamu, belah dada ini, di dalamnya hanya ada kamu." Kata Bang Arma kemudian mengecup bibir Rhena dengan sayang, mencoba membujuk Rhena yang masih merajuk marah.

"Jangan percayaaa.. bullshit semua rayuan gombal." Sambar Bang Ojaz.

Bang Arma semakin memperdalam ciumannya tapi sebelah tangannya keluar dari tirai dan memberikan acungan jari tengah untuk Bang Ojaz. Seketika pecah tawa Bang Renash dan Bang Ojaz mengurai romantisme di balik tirai.

Samar terlihat siluet manis, gambaran Bang Arma memberikan hati sepenuhnya untuk istri tercinta.

...

"Ya sudah, cepat tolong di bayarkan semua. Malu saya Yu..!! Sisanya kamu ambil saja..!!" Pinta Bang Arma lalu memberikan lima lembar uang berwarna merah pada Pratu Wahyu.

"Siap Dan, terima kasih."

"Astagfirullah.. malunya aku gara-gara ulah si Ojaazz." Gumam Bang Arma.

Sore hari itu mereka semua sudah tiba di rumah. Riri sudah bermain dengan Wibi, Mbak Geeta sudah berbincang bersama Rhena di ruang tengah sedangkan Bang Arma mengobrol di teras belakang rumah.

"Yang mulai perkara ini kamu duluan to????" Bang Ojaz mengalihkan masalah tagihan pembayaran makanan karena sahabatnya sudah mulai berang. Ia menggigit martabak manis coklat milik Riri.

"Iyaaaa, tapi bukan berarti kamu bisa mencuci pikiran Rhena. Jantungku nggak kuat Jaz, gila lu ya.. main-main soal anak. Ini nyawa Jaz, bukan mainan." Tegur keras Bang Arma yang sedari tadi sudah ingin menghantam wajah Bang Ojaz.

"Jangan salah paham lu, Rhena yang mauu." Jawab Bang Ojaz.

"Bumil ini pikirannya sedang tidak stabil, apa kalau Rhena minta kamu nyemplung sumur juga kamu ladenin????" Bang Arma sungguh tidak habis pikir dengan kelakuan jahil Bang Ojaz. Tangannya sudah menyambar kerah seragam Bang Ojaz. Untung saja yang terjadi hari ini adalah sebuah candaan, ia tidak bisa membayangkan jika benar Rhena mengalami keguguran.

"Baaaaang..!!!!" Panggil Rhena.

"Iya sayang..!!" Jawab Bang Arma jauh dari kata kasar.

"Minyak angin Rhena dimana sih Bang? Sepertinya Rhena kembung deh." Tanya Rhena dari dalam kamar.

"Sebentar Abang ambilkan ya..!!" Bang Arma melepaskan cengkeraman tangannya lalu segera mencari minyak angin milik Rhena.

Pyaaaarr..

"Rheeenn..!!" Pekik Mbak Geeta membuat Bang Arma kelabakan dan segera berlari ke kamar.

"Ada apa dek????" Bang Arma melihat Rhena menurunkan kakinya untuk memungut pecahan gelas. "Stop dek, biar Abang saja..!!"

Tangannya juga mencegah agar Mbak Geeta tidak mendekat dan Bang Renash menarik tangan istrinya.

"Kamu kenapa?? Sakit?? Nggak enak badan??" Bang Arma kembali mencemaskan Rhena.

"Tadi Rhena bilang mau jual sapi." Jawab Mbak Geeta.

"Laahh.. sapinya siapa dek? Abang nggak punya sapi." Kata Bang Arma.

"Rhena nggak minta Bang, anak Abang yang mau." Wajah Rhena sungguh polos tanpa dosa. Matanya berkedip-kedip membuat Bang Arma luluh seketika.

"Siap Bu Danki.. menyesuaikan perintah..!!" Kemudian ekor mata Bang Arma mengarah pada Bang Ojaz yang masih mengunyah makanan.

"Eehh apa lu? Gue nggak punya sapi." Jawab Bang Ojaz kini ikut cemas.

"Lu sudah macam sapi. Memamah biak tiada henti." Ucap Bang Arma melihat kelakuan Bang Ojaz yang sudah menghabiskan sekotak martabak manis sendirian.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Iis Cah Solo

Iis Cah Solo

kocaakkk bang ojaaazzzz...👍👍👍👍👍

2023-10-09

3

Cantika Ahtania

Cantika Ahtania

bang ojazzzzzzzzz

2023-07-26

1

Samsuna

Samsuna

bang Ojaz 🤣🤣😍

2023-07-05

2

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 57 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!