Semua orang saat ini sedang mencari Justin, Qilin bahkan berlari kesana kemari sambil menangis, dengan anak buah Arthur yang mengikutinya .
' Tolong jangan sampai terjadi sesuatu kepadamu, Justin. Tuhan.. tolong lindungi Justin.' Batin Qilin.
Qilin sudah mendatangi semua tempat yang sering di kunjungi olehnya bersama Justin, namun tidak ada Justin di sana.
Semua anak buah Arthur juga menyebar untuk mencari keberadaan Justin, namun mereka tidak menemukan Justin di manapun.
Mata Qilin menatap kesana kemari, dan akhirnya tatapannya terkunci pada jaket yang dia kenali. Jaket yang ia belikan untuk Justin di mall kemarin.
Qilin pun berlari menghampiri pria yang sedang duduk itu, dan rupanya benar, itu Justin dengan mata sembab dan wajah yang kacau.
" Qilin." Ujar Justin dan langsung memeluk Qilin. Qilin pun menangis memeluk Justin.
Dari jauh Sierra dan Arthur terkejut melihat putra sulungnya yang anti wanita itu memeluk Qilin dengan begitu eratnya.
" Kenapa kamu keluar? Kan sudah aku bilang, jangan kemana mana." Ujar Qilin namun sambil menangis.
" Qilin tidak pulang, Justin mencari Qilin." Ujar Justin sambil menangis.
Qilin menghapus air mata Justin dengan kedua tangannya, hatinya saat ini juga begitu merasa sesak. Orang tua Justin sudah menemukan Justin, yang artinya Justin akan di bawa pergi darinya.
" Qilin kenapa meninggalkan Justin?" Ujar Justin, dan Qilin menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak meninggalkan Justin, tidak pernah." Ujar Qilin dan sebutir air mata menetes dari pelupuk matanya. Qilin merasa sangat sesak di dadanya saat ini.
Sierra, Arthur dan Malvin yang baru tiba melihat interaksi Justin dan Qilin yang begitu dekatnya. Mereka menjadi tahu bahwa Qilin tidak menyakiti Justin sama sekali.
" Justin.." Ujar Qilin sambil melihat kearah Sierra dan Arthur.
Qilin mencoba tersenyum dan menghapus air matanya, lalu lembali menatap Justin.
"Justin bilang Justin ingin sembuh, bukan?" Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.
" Justin tahu, sepertinya ciuman Justin kemarin menjadi nyata." Ujar Qilin, sambil tersenyum.
" Orang tua Justin datang menemukan Justin." Ujar Qilin dengan menahan sesak di dadanya.
" Di sana.. mereka ada di sana." Ujar Qilin menunjuk Sierra dan Arthur.
Justin berbalik dan melihat Sierra yang sedang menangis menatapnya.
" Itu adalah ibu dan ayah Justin." Ujar Qilin.
Justin tersenyum, Sierra dan Arthur merentangkan tangan mereka Dan Justin pun berjalan menghampiri mereka.
Qilin menutup mulutnya dan menangis melihat setiap langkah Justin yang pergi menjauh darinya. Hatinya benar benar sakit saat ini.
" Ini mommy dan daddy, sayang." Ujar Sierra.
Justin pun memeluk Sierra, ikatan batin anatara ibu dan anak yang begitu kuatnya membuat Justin yakin bahwa itu memang ibunya, walau dia hilang ingatan.
" Mommy.." Gumam Justin.
Sierra menangis tersedu sedu, di dalam pelukan Justin dan Arthur. Sierra sempat putus asa dan berpikir bahwa dia tidak akan bertemu lagi dengan Justin, tapi rupanya Tuhan mendengarkan doa nya.
Qilin berjalan mendekat kepada Justin, dia ingin melihat Justin sekali lagi, sebelum akhirnya Justin akan pergi dengan kedua orang tuanya, namun Malvin mencegahnya dan menarik Qilin ke sisi lain yang tidak terlihat oleh Justin.
" Nona Qilin, saya mengucapkan sangat banyak terimakasih kepada anda karena telah menyelamatkan dan menjaga tuan muda kami." Ujar Malvin.
" Tapi demi demi keselamatan tuan muda, tolong anda jauhi tuan muda. Tuan muda bukan orang yang bisa bergaul dengan sembarang orang." Ujar Malvin lagi.
Mendengar itu, air mata Qilin kembali menetes. Qilin sadar, dirinya dan Justin akan berpisah selamanya dan tidak akan bisa bertemu lagi.
" Di dalam koper ini, ada sejumlah uang. Anggaplah itu adalah kompensasi atas kebaikan anda menyelamatkan dan menjaga tuan muda kami. " Ujar Malvin dan menyodorkan koper kepada Qilin.
Qilin terdiam tidak menerima koper yang di sodorkan oleh Malvin. Ia menghapus air matanya, kemudian menatap Malvin.
" Aku tidak membutuhkan uang itu, anda bisa berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkan." Ujar Qilin, dan Malvin mengerutkan keningnya.
" Aku menyelamatkan Justin atas dasar kemanusiaan, aku menjaganya karena aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku, aku menyayanginya. Jika memang menjauhi Justin adalah yang terbaik untuk Justin, maka aku akan melakukannya." Ujar Qilin dengan menahan air matanya.
" Tapi bisakah aku melihat Justin untuk yang terakhir? Aku janji.. aku tidak akan menemuinya lagi setelah ini, aku akan menghilang dari hidupnya." Ujar Qilin.
Malvin sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya, namun dia tidak boleh lengah sama sekali. Malvin mengangguk, dan Qilin langsung kembali ke tempat Justin dan Sierra.
" Justin.." Ujar Qilin dengan suara ceria.
" Qilin, mommyku bilang aku bisa sembuh jika aku di bawa ke rumah sakit." Ujar Justin dengan senang.
" Benarkah?? Itu kabar bagus." Ujar Qilin dengan senyum manisnya.
" Qilin, nanti setelah aku pulang dari dokter, aku akan mencarimu." Ujar Justin lalu memeluk Qilin.
Qilin pun memeluk Justin, ia menikmati pelukan yang tidak akan pernah lagi dia rasakan setelah ini.
" Jaga dirimu baik baik, dan jangan sembarangan keluar rumah seperti tadi." Ujar Qilin dan Justin mengangguk.
" Qilin, ikutlah dengan Justin." Ujar Justin, namun Qilin menggeleng.
" Tidak, kamu saja yang pergi, aku harus bekerja." Ujar Qilin.
" Qilin bisa pindah kerja." Ujar Justin.
" Tidak, Justin.. Ingat apa kataku? Aku harus profesional." Ujar Qilin.
" Baiklah.. Justin akan datang lagi, setelah dari rumah sakit." Ujar Justin.
" Pergilah.. " Ujar Qilin tersenyum sambil melerai pelukannya dari Justin.
" Jaga dirimu baik baik, oke?" Ujar Qilin.
" Oke, nanti kita lanjutkan buku cerita yang belum selesai kita baca, oke?" Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
' Apakah kita bisa melakukannya?' Batin Qilin.
Justin melambaikan tangannya pada Qilin, dan Qilin juga melambaikan tangannya pada Justin. Justin langsung di gandeng oleh Sierra dan Arthur, lalu pergi dari sana.
Setelah mobil Justin pergi, Qilin menjatuhkan dirinya dan memeluk kakinya sambil menangis tersedu sedu.
Hatinya sesak, sakit, ada rasa tidak rela Justin pergi darinya. Qilin bahkan beberapa kali memukul dadanya yang terasa begitu sakitnya. Qilin tidak menghiraukan tatapan orang yang lewat sambil menatap aneh dirinya.
Dan tiba tiba saja, hujan mengguyur dengan begitu derasnya, seakan langit ikut menangis karena Qilin menangis.
" Sakit, Tuhan.. kenapa hatiku sesakit ini hiks.. Hiks.. Hiks.. ." Gumam Qilin dalam tangisnya.
Hingga tiba tiba sebuah payung melindungi Qilin dari air hujan. Qilin pikir itu Justin, dia langsung mendongak ke atas dan memanggil nama Justin.
" Justin.." Gumam Qilin, tetapi bukan.
" Kak Fendy.." Gumam Qilin dan kembali menangis.
Fendy berjongkok dan memeluk Qilin yang basah kuyup, sampai dirinya juga ikut basah kuyup.
" Jangan menangis." Ujar Fendy.
Fendy tentu tidak melihat kejadian tadi saat Justin di bawa pergi orang tuanya, karena saat Sierra dan Arthur di sana, anak buah Arthur langsung mengelilingi tempat itu, menutupinya dengan tubuh mereka untuk melindungi Sierra dan Arthur.
Qilin menangis hingga pingsan, Fendy pun langsung menggendong Qilin dan membawanya pergi dari sana dengan panik.
" Qilin.." Gumam Fendy sambil berlari menggendong Qilin.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bukannya terimakasih sama Qilin malah main pergi aja 😤😤
2025-01-16
0
Nur Bahagia
🥺😭 kasian qilin.. kenapa Sierra dan Albert ga ngajak qilin sekalian 😭
2024-09-04
1
YNa Msa
Qilin Kasian, klu Jodohmu bagaimana pun caranya pasti d pertemukan
2024-02-03
1