Qilin menyiapkan air panas untuk Justin mandi, di rumah itu air panas tidak tersedia secara otomatis, jadi Qilin harus merebusnya lebih dulu jika Justin hendak mandi.
Sementara Qilin sendiri dirinya sudah terbiasa mandi dengan air dingin sejak tiga tahun lalu, sejak dia di tendang keluar dari rumah besar ayah angkatnya ke rumah kecil di tepi pekarangan rumah mewah itu.
" Justin, air nya sudah siap, mandilah." Ujar Qilin.
" Oke." Sahut Justin.
Justin pun masuk ke dalam kamar mandi, sementara qilin langsung membuka kulkas, setiap hari libur, dia akan memasak sendiri makanan yang akan mereka makan.
Qilin tidak begitu pandai memasak, dia hanya bisa memasak makanan rumahan. Beruntungnya Justin sama sekali tidak pernah keberatan dengan apapun yang Qilin masak saat hari libur.
" Srek! Srek! Srek! "
" Tak! Tak! Tak! Tak! "
Suara Qilin memotong beberapa sayuran yang akan dia masak. Qilin akan membuat sup ayam hari ini.
" Sepertinya aku akan bawa Justin belanja ke pasar, agar Justin tidak bosan di rumah." Gumam Qilin.
Tak lama, Justin selesai mandi dan duduk di meja makan menunggu makanan yang Qilin buat matang. Begitulah selama satu bulan ini ketika Qilin libur bekerja.
" Harumnya.." Gumam Justin, dan Qilin terkekeh.
" Nah, sudah matang, ayo kita makan." Ujar Qilin.
Justin menyiapkan piring dan sendok, juga mengangkat nasi yang berada di penanak nasi ke meja makan. Qilin pun menghidangkan sup ayam yang di buatnya.
" Justin, bagaimana jika kita pergi ke pasar untuk berbelanja." Ujar Qilin.
" Ayo." Ujar Justin antusias.
" Kalau begitu ayo makan dulu." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.
Justin selalu begitu lahap memakan makanan yang Qilin buat. Padahal tampilannya sama seperti sop pada umumnya, tapi Justin selalu mengatakan bahwa masalan Qilin lebih enak.
" ERRRKKK!!" Justin bersendawa.
" Ups, maaf Qilin." Ujar Justin menutup mulutnya, Qilin hanya bisa terkekeh mendengarnya.
Sungguh, dalam kehidupan Justin sehari hari sebelum hilang ingatan, dia adalah pribadi yang sangat ketat. Ketat terhadap kebersihan, keamanan, dan paling utama dia tidak suka di dekati wanita.
Tapi entah mengapa setelah hilang ingatan, Justin justru begitu berbeda, mungkin karena otaknya bermasalah.
" Aku akan cuci piring dulu." Ujar Qilin.
" Justin saja, Justin bisa melakukannya." Ujar Justin.
" Tidak, tidak, tidak, kamu ganti baju saja, piring kita hampir habis karena pecah olehmu." Ujar Qilin.
Mendengarnya Justin menjadi sendu, dia merasa dirinya menjadi biang maslah bagi Qilin.
" E.. Justin, bukan begitu maksudku." Ujar Qilin merasa bersalah.
" Tidak apa apa, Qilin.. percayalah, Justin sudah bisa melakukannya." Ujar Justin.
Akhirnya Qilin pun membiarkan Justin yang mencuci piring. Jika orang lain melihat itu, mereka akan menangis darah melihatnya. Seorang Justin Xander Edward, mencuci piring.
Justin bersungguh sungguh mencuci piringnya, dia melakukan gerakan demi gerakan dengan pelan, karena piring itu licin oleh sabun, dan rupanya benar, dia bisa melakukannya.
" Bagaimana?" Tanya Justin meminta penilaian.
" Good ." Ujar Qilin mengacungkan dua jempolnya.
" Justin minta hadiah." Ujar Justin.
" Aaaaah... kamu baik ada maunya, huh?" Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.
Qilin pun mengejar Justin, tapi karena ruangan itu sempit, Justin terjerambab ke sofa, Qilin yang mencoba menarik Justin justru tertarik dan berakhir jatuh di atas tubuh Justin.
Wajah Qilin berada percis di atas wajah Justin dan keduanya saling tatap. Qilin hendak bangun tapi Justin menahan pinggang Qilin dengan memeluk Qilin.
" Qilin.." Ujar Justin.
" Hm? Lepas dulu, aku berat." Ujar Qilin sambil meronta.
" Qilin tidak berat sama sekali." Ujar Justin sambil senyum.
" Kita bicara sambil duduk saja." Ujar Qilin, namun Justin menggeleng.
" Qilin, Qilin ingat dengan buka cerita yang kita beli, tentang dongeng putri tidur?" Ujar Justin.
" Mm.. Ya, aku ingat, kenapa?" Tanya Qilin.
" Di dalam dongeng itu, pangeran mencium sang putri, lalu putri yang tadinya tertidur itu kembali bangun. Mereka akhirnya hidup bersama dan bahagia." Ujar Justin.
Qilin mengangguk anggukan kepalanya, sambil ia juga mengingat ingat isi dongeng anak anak yang sudah tidak pernah dia baca lagi selama bertahun tahun itu.
" Lalu?" Tanya Qilin.
Tanpa aba aba, tiba tiba Justin mencium bibir Qilin hingga Qilin tertegun. Jantung Qilin pun langsung berdebar sangat cepat karenanya.
" Mereka melakukan itu.. " Ujar Ujar Justin, dan Qilin hanya bisa diam sambil menelan ludahnya.
" Mereka berciuman, tapi mereka berciuman dengan mulut ke mulut, lalu putri itu bangun." Ujar Justin.
" Qilin, apakah jika Qilin mencium Justin seperti di dongeng itu, Justin akan kembali mengingat siapa Justin?" Ujar Justin lagi.
Qilin sama sekali tidak bisa berkata apa apa, dia tidak bisa menjawab ucapan Justin, karena dia tidak pernah melakukan ciuman yang seperti itu.
" Qilin, kenapa diam saja?" Tanya Justin.
" E- ekhem! Apakah sungguh ada adegan seperti itu?" Tanya Qilin.
" Ya.. sebentar aku ambil." Ujar Justin. Justin pun membantu Qilin bangun, dan dia langsung menarik tangan Qilin ke atas menuju kamarnya.
" Kemana bukunya? Aku selalu lupa menaruh buku itu." Ujar Justin ketika sampai di kamarnya.
" Ah, ini dia.. Qilin kemari." Ujar Justin.
Qilin pun duduk di ranjang Justin, dan Justin membuka halaman paling akhir menuju berakhirnya cerita itu.
" Lihat, Pangeran ini mencium sang putri dari mulut, lalu putri itu kembali bangun. Mereka pun akhirnya menikah dan hidup bahagia." Ujar Justin.
' Astaga, kenapa dongeng anak anak ada gambar seperti ini.' Batin Qilin menepuk keningnya.
" Jadi maksud kamu??" Tanya Qilin.
" Justin ingin ingat kembali siapa Justin, lalu Justin akan menikahi Qilin dan hidup bahagia." Ujar Justin dengan wajah berbinar.
Qilin justru diam, Qilin selalu takut apabila Justin ingat siapa dirinya, Justin akan melupakannya.
" Itu hanya dongeng Justin, tidak ada di dunia nyata." Ujar Qilin.
" Benarkah, padahal Justin pikir ciuman sungguh bisa mengeluarkan keajaiban." Gumam Justin kecewa.
"Tapi Justin suka mencium bibir Qilin.."Ujar Justin lalu mencium kembali bibir Qilin.
" Justin.." Teriak Qilin, Qilin langsung naik keatas tubuh Justin dan menggelitiki Justin.
" Ahahahahaha.. Ampun Qilin, geli." Ujar Justin karena Qilin menggelitiki perut Justin.
Justin mengeluarkan kekuatannya, lalu ia mencekal kedua tangan Qilin dan membalik keadaan, kini Justin yang berada di atas tubuh Qilin.
Pose keduanya begitu ambigu saat ini, Qilin berada di bawah kungkungan Justin, dengan kedua tangannya yang di cekal Justin di atas kepala.
Qilin terengah engah sambil jantungnya kembali berdebar tidak karuan. Tatapannya bertemu dengan Justin yang saat ini berada di atasnya.
" Qilin sangat cantik saat tertawa." Ujar Justin sambil tersenyum.
Justin mengulurkan tangan kirinya, lalu menyingkirkan anak rambut Qilin yang menutupi wajah Qilin.
" Qilin, teruslah tertawa, Justin suka melihat Qilin tertawa." Ujar Justin lagi.
Qilin hendak menangis, tapi ia tahan. Perasaan nya kini kian membuncah pada Justin.
" Aku tidak bisa tertawa jika kamu berada di atas tubuhku terlalu lama, kamu berrrraat.." Ujar Qilin sambil berpura pura keberatan.
" Astag, Justin lupa, tubuh Qilin kecil." Ujar Justin dan langsung turun dari atas tubuh Qilin.
" Bersiaplah, kita akan pergi ke pasar." Ujar Qilin, dan langsung turun dari kamar Justin.
Sambil Qilin menuruni tangga, ia menghapus air matanya yang mengalir tanpa permisi. Qilin masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu, lalu ia menangis tersedu sedu.
' Aku tidak tahu Justin.. Aku tidak tahu apa aku masih bisa tertawa jika nanti kamu pergi.' Batin Qilin.
' Aku tidak tahu jatuh cinta akan semenyesakkan ini. Kenapa pasangan di luar sana yang saling jatuh cinta bisa tertawa bahagia, tapi aku justru merasakan sesak di dalam dadaku.' Batin Qilin.
" Hatiku sakit.." Gumam Qilin, sambil duduk memeluk kakinya di belakang pintu.
TO BE CONTINUED...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kirain pas Justin jatoh trus kepalanya kepentok bakal ingat semuanya ternyata enggak 😅😅
2025-01-16
0
Mamath Ziad Malik
kayanya nanti kepasar ketemu tobi
2024-09-29
1
YNa Msa
Semoga Justin Jodohmu Qilin
2024-02-03
1