Qilin pulang dengan perasaan senang, meski dia belum dapat pekerjaan, tapi dia mendapat uang secara cuma cuma.
Dia membeli makanan untuk Justin, dan obat obatan untuk luka Justin. Qilin sampai di rumah sore hari, karena dia berjalan kaki tidak menaiki angkutan umum.
" Cklek." Pintu terbuka dan Qilin terkejut karena rumah kecilnya tampak berantakan, ia juga tidak melihat keberadaan Justin.
" Justin.." Panggil Qilin panik.
Qilin berlari menuju ke dapur, tapi tidak ada.. lalu dia melihat ke kamar mandi, tapi juga tidak ada. Qilin panik dan berlari keluar rumah untuk mencari Justin di sekitaran rumah, tapi tidak ada.
" Cari apa kau?" Ujar suara wanita paruh baya.
" Mama.." Gumam Qilin pias.
" Dengar, besok rumah kecilmu itu akan di bongkar, aku sudah membelikan sebuah rumah untuk kau tinggali di dekat danau, silahkan kau tinggal di sana. " Ujar ibu angkat Qilin.
" Lalu jangan panggil aku mama, aku bukan mamamu. Aku lihat kau tidak punya uang, sebagai kompensasi atas di keluarkannya kau dari kartu keluarga, aku juga memberimu uang, nah. " Ujar ibu angkat Qilin sembari memberikan amplop besar pada Qilin.
" Baik, bolehkah aku meminta kartu identitasku? Aku kesulitan hidup dan mencari pekerjaan tanpa kartu identitas." Ujar Qilin.
" Ada di dalam amplop itu beserta kunci rumah barumu, mulai sekarang diantara kita tidak ada hubungan apa apa. Hidup matimu, bukan urusanku." Ujar ibu angkat Qilin.
Qilin tersenyum ketika mendengar bahwa kartu identitasnya di kembalikan padanya. Tentang hidupnya, dia sudah terbiasa hidup susah selama tiga tahun terakhir setelah kematian ayah angkatnya.
Qilin sudah merasa bersukur karena ibu angkatnya itu sudah berbaik hati membelikannya rumah baru, setidaknya ibu angkatnya tidak membuang dia begitu saja.
" Terimakasih." Ujar Qilin, dan ibu angkat Qilin hanya melengos pergi.
" Besok pagi, rumah itu harus sudah kosong." Ujar ibu angkat Qilin sambil lalu pergi.
' Gadis bodoh.' Batin ibu angkat Qilin.
Entah apa sebenarnya alasan ibu angkat Qilin menahan kartu identitas Qilin selama ini, sejak kematian ayah angkat Qilin hingga sekarang, baru kartu identitas itu di serahkan pada Qilin.
' Aku bisa bawa Justin ke dokter dengan uang ini.' Batin Qilin. Qilin kembali teringat..
" Justin.." Gumam Qilin, dan langsung berlari kembali masuk kedalam rumah kecilnya.
Qilin menunduk ke kolong ranjang, dan ya.. Justin di sana. Dia sedang tertidur di kolong ranjang.
' Kasihan, dia pasti ketakutan saat mama masuk kemari.' Batin Qilin.
Qilin mengulurkan tangannya, dan mengusap pipi Justin dengan pelan.
" Justin, ini aku, aku sudah pulang." Ujar Qilin pelan.
Justin perlahan membuka matanya, dan tersenyum ketika melihat Qilin di hadapannya.
" Qilin.." Gumam Justin tersenyum.
Qilin pun membantu Justin keluar dari kolong ranjang dengan susah payah. Wajah dan pakaian Justin kotor karena debu di kolong ranjang Qilin.
" Qilin.." Ujar Justin lagi, lalu memeluk Qilin.
" Tidak apa apa, aku sudah pulang." Ujar Qilin.
" Grruuukkk!!!" Suara perut Justin yang terdengar.
" Hihi, kamu lapar? Aku bawa makanan untukmu, ayo kita makan." Ujar Qilin.
Justin mengangguk patuh, Qilin membuka makanan yang dia bawa, dan memberikannya pada Justin.
" Qilin tidak makan?" Tanya Justin.
" Aku masih kenyang, itu makanan untukmu " Ujar Qilin.
Justin menyendok makanan yang sedang ia makan lalu menyodorkannya kearah Qilin.
" Qilin makan." Ujar Justin dengan wajah lugu.
Qilin yang sebenarnya lapar pun akhirnya membuka mulutnya, ia menjadi terharu dengan aksi Justin. Qilin jadi teringat dengan mendiang ayah angkatnya, hanya ayah angkatnya seorang yang sering menyuapi Qilin.
" Qilin jangan sedih." Ujar Justin, dan Qilin tersenyum sembari menangis.
" Aku tidak sedih, aku bahagia. Terimakasih Justin." Ujar Qilin.
Padahal pertemuan mereka bahkan belum satu hari, tapi mereka tampak sudah dekat.
Akhirnya mereka makan makanan itu satu kotak bersama. Justin tidak protes sama sekali, dia benar benar menjadi pria lugu yang patuh. Justin sama sekali tidak ingat siapa dirinya dan dari mana dia berasal.
" Aku beli obat, kemari biar aku bersihkan lukamu." Ujar Qilin.
Justin pun duduk dengan patuh, Qilin membuka kaos yang Justin pakai, dan baru terlihat bahwa Justin memiliki tubuh yang bagus dan proposional.
Qilin sampai menggelengkan kepalanya berulang kali untuk menyadarkan dirinya dari rasa kagumnya itu.
' Tubuhnya berotot, pantas saja aku keberatan saat menggendongnya kemari. Tapi kenapa tubuhnya berotot tapi wajahnya imut?' Batin Qilin.
" Qilin, dingin.." Ujar Justin membuyarkan Qilin.
" Ah, maaf.. sebentar aku obati lukamu dulu. " Ujar Qilin.
Qilin dengan fokus mengoleskan salep yang baru ia beli ke tubuh Justin, sampai akhirnya selesai. Lalu Qilin memakaikan kaos panjang milik ayah angkatnya pada Justin.
"Sekarang wajahmu." Ujar Qilin.
Qilin mengelap wajah Justin yang kotor karena bersembunyi di kolong dengan handuk yang ia basahi dengan air hangat. Barulah Qilin mengolskan salep di wajah Justin.
" Justin, apa kamu tidak ingat sama sekali siapa dirimu?" Tanya Qilin.
Justin tampak mengingat ingat, tetapi dia tidak ingat sama sekali, lalu menggelengkan kepalanya.
" Sudahlah, tidak apa apa.. mulai sekarang aku yang akan merawatmu sampai kamu ingat siapa dirimu." Ujar Qilin.
Qilin tidak berani melapor pada siapapun bahwa dia menemukan Justin, Justin hilang ingatan dan otaknya menjadi sedikit gesrek, jadi Qilin takut Justin di manfaat kan orang yang mengaku ngaku sebagai keluarganya.
Jaman sekarang, manusia bisa dengan kejam memanfaatkan manusia lain demi kepentingan pribadinya. Bahkan Qilin sering melihat anak kecil yang di eksploitasi oleh orang dewasa di jalan.
" Justin, bagaimana jika kita pindah dari sini?" Ujar Qilin.
" Apalah kita akan pindah?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
" Masa kontraku tinggal disini habis, jadi kita harus pindah. Aku akan mencari tempat tinggal yang lebih layak untuk kita tinggali." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.
" Aku akan bersiap dulu." Ujar Qilin.
Akhirnya Qilin menarik keluar koper milik ayah angkatnya. Qilin tidak bisa membawa banyak hal, karena dia hanya memiliki koper itu saja dengan ransel usangnya.
Qilin memasukan pakaiannya kedalam koper itu, dan barang barang yang menurutnya penting. Qilin lalu memasukan satu satunya foto yang ia miliki bersama ayah angkatnya ke dalam koper, dan selesai.
Qilin menunggu suasana di luar sepi agar dia bisa membawa Justin keluar dari sana. Dan sekitar pukul 9 malam, Qilin akhirnya keluar dari sana.
Qilin memakaikan jaket di tubuh Justin, dan kupluk di kepalanya, karena kota Bogor selalu dingin di malam hari.
" Aku akan bawa kamu keluar lebih dulu, lalu aku akan kembali kemari untuk mengambil koper ini." Ujar Qilin.
Qilin membantu Justin yang berjalan dengan pincang itu keluar diam diam dari rumah kecil itu.
" Tunggu aku di sini, jamgan pergi lemanapun, oke?" Ujar Qilin dan Justin mengangguk.
Qilin kembali masuk kedalam, dan ia mengambil kopernya. Qilin meninggalkan kunci rumah yang di berikan oleh ibu angkatnya di meja. Qilin tidak berniat untuk tinggal di sana.
Qilin benar benar akan memutuskan hubungan dari ibu angkatnya, seperti yang ibu angkatnya minta.
Di luar, mobil Gigi datang dan melihat Justin yang duduk menunduk.
" Malam malam masih saja ada pengemis, ck!" Gumam Gigi.
Justin hanya terus menunduk karena silau, jadi Gigi tidak bisa melihat wajah Justin.
" Dasar pengemis." Gumam Gigi dan masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
Setelah Gigi masuk kedalam rumah, Qilin pun keluar dan menyeret kopernya.
" Justin, ayo kita pergi." Ujar Qilin, dan akhirnya mereka berdua pun pergi dari kediaman itu berjalan kaki untuk mencari angkutan umum.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
suatu hari mereka yg jahat sama Qilin pasti nyesel 😤😤
2025-01-16
0
Nur Bahagia
suatu saat lo akan ternganga2 sama org yg lo bilang pengemis ini
2024-09-04
1
Nur Bahagia
okee bu.. awas aja kalo suatu saat qilin jadi orang kaya, kamu ngaku2 jadi ibunya 🤨 semangattt qilin 🔥
2024-09-04
1