Ke esokan harinya, Qilin sudah menyiapakan makanan untuk ia makan bersama Justin. Hari ini dia bekerja di malam hari, jadi masih bisa masak lebih dulu.
" Qilin tidak berangkat kerja?" Tanya Justin, yang baru saja turun dari atas.
" Aku kerja di malam hari." Ujar Qilin, dan wajah Justin menjadi sedih.
Justin selalu sedih jika Qilin bekerja di malam hari, Qilin jadi tidak tidur dan kelelahan, Justin kasihan melihat Qilin kelelahan.
" Nah, sudah matang, ayo makan." Ujar Qilin.
" Qilin, bisa tidak jika menolak kerja malam hari? Justin tidak suka melihat Qilin kerja malam hari, Qilin jadi tidak tibur." Ujar Justin.
" Itu adalah peraturan, dan yang harus aku lakukan adalah profesional dengan pekerjaanku. Tidak apa apa, aku sudah mulai terbiasa bekerja malam hari." Ujar Qilin.
" Nanti kita tidur satu harian penuh, oke? Qilin hanya boleh bangun saat Qilin hendak bekerja." Ujar Justin.
Qilin langsung terbahak mendengarnya, Justin mengucapkan itu dengan wajah super lugu dan menggemaskan.
" Mana bisa begitu.." Ujar Qilin.
" Bisa, Justin akan pastikan Qilin tibur dengan nyaman." Ujar Justin.
" Ya.. ya.. makanlah makananmu, nanti dingin." Ujar Qilin masih dengan menahan tawanya.
Justin pun makan makanannya dengan lahap, setelah selesai makan Justin langsung bergegas bangun dan membawa piring kotor ke dapur.
" Mulai hari ini, Justin yang akan cuci piring, dan membersihkan rumah. Qilin sudah lelah bekerja, jangan bekerja lagi di rumah." Ujar Justin.
Qilin tersenyum mendengarnya, meski menjadi idiot, Justin masih memiliki pemikiran selayaknya manusia normal.
Setelah mencuci piring, Justin langsung mengambil selimut di kamar Qilin, lalu menaruhnya di sofa.
" Kenapa kamu bawa selimut?" Tanya Qilin bingung.
" Qilin harus tidur di siang hari, agar tidak mengantuk di malam hari." Ujar Justin, dan Qilin kehabisan kata kata.
" Tapi ini masih jauh dari jam bekerjaku, nanti kepalaku sakit jika terlalu banyak tidur." Ujar Qilin.
" Apa bisa seperti itu?" Tanya Justin.
" Hm.. Terlalu banyak tidur juga tidak baik." Ujar Qilin.
" Ya sudah, kita baca buku saja bersama. Maukah Qilin membacakan buku untukku?'' Tanya Justin.
'' Oke, ambil buku yang ingin kamu baca.'' Ujar Qilin dan Justin langsung berlari ke atas untuk mengambil bukunya.
'' Jangan lari, nanti kamu jatuh lagi.'' Ujar Qilin.
Qilin duduk di sofa dan menunggu Justin datang, tak lama Justin datang dengan banyak nya buku cerita yang di bawa, Qilin sampai melongo melihatnya.
'' Kamu bawa semua buku?'' Tanya Qilin dan Justin mengangguk antusias.
Justin pun duduk di sebelah Qilin dan mulai duduk dengan baik untuk mendengarkan Qilin membacakan cerita.
Sementara itu di luar sana, anak buah Arthur sedang berjalan jalan mengelilingi setiap gang untuk mencari keberadaan Qilin. Malvin sudah mengunci lokasi dan memfokuskan untuk siaga di gang gang itu.
'' Aku tidak percaya kita begitu dekat dengan kakak tapi tidak bisa menemukan dia, entah sebenarnya gadis itu punya ilmu sihir atau apa, sampai dia bisa bersembunyi dari kita.'' Ujar Dustin.
Saat ini Dustin sedang berada di cafe tempat Qilin bekerja, tentu saja Justin tidak tahu bahwa Qilin bekerja di sana, dia hanya kebetulan duduk di sana, karena cafe itu dekat dengan gang gang yang saat ini sedang di lakukan penyisiran untuk mencari Justin.
'' Dia tidak memiliki riwayat kriminal, dan hanya gadis adopsi biasa.'' Ujar Malvin.
'' Tetap saja, aku tidak habis pikir mengapa di jaman yang serba gadget ini ada manusia yang tidak memiliki gadget, bahkan rekening pun dia tidak punya, aneh.'' Ujar Dustin.
'' Kita tunggu dia di sini saja.'' Ujar Malvin.
Dan bodohnya.. Malvin tidak mengecek cctv di cafe itu, jika dia mengeceknya maka dia mungkin akan menangis darah, orang yang di pikirnya misterius itu rupanya bekerja di cafe itu. Lalai itu manusiawi, mafia juga manusia, jadi jika mafia lalai, itu wajar.
Di pinggiran jalan sudah banyak anak buah Arthur yang menunggu di berbagai titik, mereka menunggu lewatnya Qilin. Sementara yang sedang di tunggu tunggu oleh para mafia itu, saat ini masih membaca buku cerita.
'' Mereka.. hooamm... mereka pun hidup.. bersama.'' Ujar Qillin terkantuk kantuk dan akhirnya dia jatuh di pundak Justin.
Justin dengan sigap menjaga kepala Qilin agar Qilin tidak jatuh, Justin tersenyum melihat imutnya Qilin yang tertidur. Perlahan Justin bangun dan menggendong Qilin menuju ke kamar Qilin dan merebahkan Qilin secara perlahan di ranjang. Justin ikut merebahkan dirinya di ranjang Qilin, lalu ikut tidur sambil mendekap Qilin kedalam pelukannya.
Hingga tak terasa hari sudah sore, keduanya masih tidur dengan posisi yang sama yakni berpelukan. Namun kini posisi Qilin memebelakang Justin, dan Justin memeluk Qilin dadi belakang.
Qilin perlahan membuka matanya dan terkejut karena dia berada di kamarnya, sampai ia menyadari bahwa Justin juga ikut tidur sambil mendekap dirinya.
'' Astaga, kami tidur berapa lama..'' Gumam Qilin.
Perlahan Qilin menyingkirkan tangan Justin dan bangun, ia melihat jam dan rupanya sudah pukul lima sore. Qilin melongo melihatnya, dia bisa tidur selama itu.
'' Aku sungguhan tidur seharian, astaga..'' Gumam Qilin, dia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.
Justin perlahan membuka matanya, dan ia terkejut karena tidak mendapati Qilin di sebelahnya. Justin pun bangun dan keluar langsung mencari Qilin.
" Qilin.." Panggil Justin.
" Aku di kamar mandi." Ujar Qilin, dan Justin menghela nafas ya lega.
Justin duduk di sofa, dan tak lama Qilin keluar dari kamar mandi.
" Ada apa?" Tanya Qilin.
" Justin pikir Qilin sudah pergi bekerja." Ujar Justin dengan suara serak dan mata sayu khas bangun tidur.
" Aku memang harus bersiap siap untuk berangkat kerja." Ujar Qilin buru buru.
Qilin kembali masuk ke dalam kamar, dia membuka lemari dan mencari baju untuk nya bekerja. Qilin membuka baju, tanpa dia memastikan terlebih dahulu pintu kamarnya tertutup atau tidak.
Dan di ambang pintu Justin melihat tubuh Qilin yang saat ini sedang tidak berbusana. Justin langsung berbalik badan karena malu.
Qilin keluar dan tidak melihat Justin di luar, ia pun naik le atas untuk berpamitan dengan Justin.
" Justin, aku pergi kerja dulu." Ujar Qilin, tapi Justin tidak menyahutinya.
" Justin.." Ujar Qilin dan masuk ke dalam kamar.
Qilin melihat Justin yang sedang menyembunyikan dirinya di balik selimut. Qilin pun mengernyit bingung, padahal tadi Justin tidak apa apa.
" Justin, kamu sakit?" Tanya Qilin, dan Kepala Justin menggeleng, tanpa melihat kearah Qilin.
" Kenapa tidak melihatku, coba lihat aku." Ujar Qilin, dan menarik tubuh Justin.
Qilin terkejut karena Justin sedang menangis. Qilin pun langsung panik karenanya.
" Kamu menangis?? Kenapa? Apa ada yang sakit, katakan." Ujar Qilin khawatir.
Tapi Justin justru kembali menyembunyikan dirinya di balik selimut.
" Justin.. Justin, ada apa, katakan kepadaku." Ujar Qilin.
" Justin sudah jadi orang jahat.." Ujar Justin, dan Qilin mengernyit bingung.
" Ha?? Memangnya apa yang kamu lakukan??" Ujar Qilin bingung.
Justin duduk dan menatap mata Qilin, lalu dia menatap ke arah bagian dada Qilin. Qilin mengikuti arah pandang Justin, tapi dia masih tidak mengerti apa yang coba Justin katakan.
" Justin, melihat tubuh Qilin." Ujar Justin, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Qilin pun menjadi pias sendiri mendengarnya, ia mengingat ingat tadi saat dia mengganti baju, dia tidak memastikan dulu pintunya terkunci atau tidak.
' Astaga! Qilin.. apa yang kamu lakukan.' Batin Qilin, merutuki dirinya sendiri.
' Tapi kenapa Justin yang menangis? Seharusnya aku yang menangis.' Batin Qilin bingung sendiri.
Qilin mencoba tenang walau sebenarnya dia malu, karena Justin telah melihat tubuhnya. Dia pun mengusap kepala Justin dengan sayang.
" Maaf, ya.. Aku tidak bermaksud jahat padamu. Kamu juga bukan orang jahat, itu adalah kecelakaan. Kamu tidak sengaja melihatnya, jadi lupakan saja." Ujar Qilin, lalu memeluk Justin yang sesenggukan.
' Dia hanya pria dengan otak anak anak, Qilin..' Batin Qilin.
" Maaf, Qilin.." Gumam Justin.
" Tidak apa apa, itu kecelakaan. Lain kali saat mau masuk ke kamar, ketuk pintu lebih dulu, oke?" Ujar Qilin dan Justin mengangguk.
" Aku berangkat kerja dulu, ya? Nanti aku terlambat." Ujar Qilin.
" Hati hati, Qilin." Ujar Justin dengan wajah beler nya.
" Lihat, kamu sampai ingusan." Ujar Qilin dan mengambil tisue untuk mengelap hidung Justin.
" Aku pergi dulu, ya.. jangan kemana mana." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.
Qilin bangun, lalu dia pun menutup kamar Justin dan keluar dari rumah.
' Astaga, memalukan sekali Qilin..' Batin Qilin merona sendiri.
" Tuan, saya melihat gadis itu." Ujar seorang pria berpakaian serba hitam.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
jd deg deg gan nih 😱😱
2025-01-16
0
YNa Msa
deg"n
2024-02-03
1
YNa Msa
🤣🤣🤣 orang 1 d kepung Sama pasukan Mafia, yg Benar Aja
2024-02-03
1