Qilin dan Justin sudah masuk ke dalam kamar kostan mereka. Kamarnya lumayan besar di bandingkan dengan kamarnya di rumah kecil. Ranjangnya juga berukuran lebih besar, setidaknya bisa untuk tidur dua orang.
" Justin, tidurlah.. kamu pasti lelah." Ujar Qilin pada Justin.
" Qilin tidur." Ujar Justin.
" Aku akan tidur setelah membereskan barang barang." Ujar Qilin seperti kemarin.
Justin pun mengangguk dan merebahkan dirinya di ranjang. Sementara Qilin, dia mengeluarkan sebuah brosur yang ia dapat dari taksi.
' Sepertinya ini brosur rumah, tapi apa uangku cukup untuk beli rumah?' Batin Qilin.
Qilin mengeluarkan amplop besar yang di berikan oleh ibu angkatnya, dan melihat sejumlah uang yang sangat banyak. Qilin mengambil kartu identitasnya dan beberapa surat penting lainnya.
' Setidaknya aku punya KTP untuk mencari pekerjaan nanti. Aku juga harus beli ponsel, untuk mencari rumah.' Batin Qilin.
Qilin menyimpan kembali amplop besarnya itu kedalam tas usangnya, lalu ia pun merebahkan dirinya di sebelah Justin.
" Aku juga harus membawa Justin ke dokter, agar dia ingat siapa dirinya. Keluarganya pasti sedang mencarinya." Gumam Qilin sambil menatap Justin.
" Kenapa keluarganya tidak memasang iklan orang hilang, apa Justin bukan orang sini? Tapi Justin berbicara bahasa lokal dengan sangat fasih." Gumam Qilin.
Qilin tidak tahu saja, sebenarnya di luar sana banyak sekali foto foto Justin yang terpampang di layar besar di pinggir jalan, cuma kebetulan dia tidak melihatnya.
Qilin memejamkan matanya, lalu tertidur. Kali ini dia tidak seperti saat di rumah kecilnya, dia tidur diam di satu tempat. Tapi kini Justin yang tiba tiba terbangun dan memeluk Qilin kedalam dekapannya.
Ke esokan harinya..
Qilin bangun karena mendengar suara berisik dari luar kamarnya. Ketika Qilin bangun, Justin juga bangun dan tatapan mereka bertemu saat ini.
Justin tersenyum manis pada Qilin, tetapi Qilin justru berkedip kedip bingung, memastikan antara itu nyata atau tidak.
Dan setelah beberapa kali Qilin mengedipkan matanya, nyawanya sudah terkumpul dan dia langsung bangun dan lepas dari pelukan Justin.
" Astaga! Maaf Justin aku tidak bermaksud mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ujar Qilin langsung bangun.
" Hm???" Justin hanya mengernyit bingung.
' Aduh Qilin, lagi lagi kamu memeluk Justin. ' Batin Qilin merasa bodoh.
" Ekhem! Maaf aku memelukmu." Ujar Qilin merasa bersalah.
" Tidak apa apa, Justin suka peluk." Ujar Justin polos dengan suara bass nya.
' Alamak, ini aku bisa di kategorikan pedof*l atau apa? Aku memeluk pria yang polos begini.' Batin Qilin frustasi.
' Mana wajahnya lugu begitu, Qilin.. kamu sudah melecehkan Justin.' Batin Qilin lagi.
" E-hehehe.. Aku mandi dulu, kamu jangan kemana mana, ya? " Ujar Qilin dan Justin mengangguk.
Qilin mengeluarkan handuk dari kopernya, juga peralatan mandinya, saat ia membuka pintu, baru terlihat jika itu adalah tempat yang ramai dengan pemuda pemudi.
' Oh, ramai juga.' Batin Qilin.
Qilin hanya senyum sambil lewat, lalu dia berjalan lurus ke kamar mandi. Beruntungnya kamar mandi di sana ada beberapa, jadi tidak begitu berdesakan jika ingin mandi.
Setelah selesai, Qilin kembali ke kamar dan melihat Justin yang sedang tanpa baju.
" Kamu kenapa?" Tanya Qilin pada Justin.
" Panas.." Ujar Justin.
" Benar juga, sejak semalam kamu pakai kaos panjang. Sebentar aku carikan kaos yang lebih tipis." Ujar Qilin.
Qilin memberikan kaos polos putih pada Justin, dan Justin memakainya.
" Justin, aku akan pergi mencari makanan, kamu di sini saja, jangan kemana mana, oke?" Ujar Qilin, dan Justin mengangguk sambil tersenyum.
' Dia irit bicara sekali, apa karena otaknya bermasalah?' Batin Qilin.
" Aku pergi dulu, selain aku.. jangan buka pintu jika ada yang datang, oke?" Ujar Qilin.
" Oke." Sahut Justin.
Qilin pun keluar, dan saat dia keluar halaman kost an itu sudah sepi penduduk. Bisa di pastikan mereka semua sudah pergi bekerja.
" Mereka semua pasti sudsh berangkat kerja." Gumam Qilin.
Qilin pun keluar, dan mencari makanan untuk Justin. Qilin mengantre untuk membeli bubur ayam untuk Justin, dan tatapannya saat ini terkunci dengan iklan di papan reklame besar yang tak jauh dari sana.
Di sana bertuliskan informasi tentang kabar orang hilang. Tapi bukan foto Justin yang yang tertera di sana, melainkan seorang gadis. Qilin pun mengalihkan pandangannya dari papan reklame itu ketika akhirnya giliran dirinya.
Dan ketika Qilin mengalihkan pandangannya, barulah muncul foto Justin yang begitu besarnya. Justin menggunakan stelan Jas rapi, dengan wajah tampannya.
" Pak, bubur ayam dua." Ujar Qilin.
" Baik." Sahut sang penjual.
Setelah Qilin membeli bubur, dia juga membeli makanan lainnya, untuk Justin. Dan tak jauh dari sana juga ada klinik umum, Qilin tersenyum melihatnya.
" Aku akan bawa Justin ke sana nanti." Gumam Qilin.
Qilin sampai di mamar kostan nya, dan Justin sedang duduk diam sendirian.
" Aku beli bubur untukmu, kamu suka bubur?" Tanya Qilin.
" Justin suka apa yang Qilin suka." Ujar Justin dengan senyum manisnya.
Dan lagi lagi, Qilin mengusap kepala Justin, entah mengapa Qilin suka dengan rambut Justin yang sangat lembut di pegang itu.
" Justin suka Qilin usap usap kepala Justin." Ujar Justin polos.
" Benarkah? Kalau begitu Qilin akan usap usap kepala Justin setiap hari." Ujar Qilin.
Tiba tiba Justin bangun, lalu memeluk Qilin, Qilin pun membalas pelulan Justin. Saat ini Justin sungguh tidak seperti Justin yang semua orang kenal, dia menjadi begitu polos dan lugu setelah hilang ingatan. Atau kita bisa menyebutnya seperti orang idiot.
' Kasihan dia.. jika aku tinggal sendirian pasti dia kesepian nanti.' Batin Qilin.
" Justin, jika aku akan pergi mencari pekerjaan, apakah kamu tidak apa apa aku tinggal seharian?" Tanya Qilin, setelah melerai pelukannya.
" Tidak apa apa.." Ujar ujar Justin.
" Nanti saat aku pulang, aku akan bawa makanan untukmu. Ini ada buah dan snack, kamu bisa makan ini jika kamu lapar. Aku juga beli beberapa minuman rasa dan air putih untukmu." Ujar Qilin sambil mengeluarkan semua makanan yang ia beli barusan.
" Tapi jangan keluar dari kamar, atau membuka pintu untuk orang lain, itu bahaya." Ujar Qilin.
" Justin tahu." Ujar Justin.
Qilin pun tersenyum, dan akhirnya dia makan bersama bubur yang di belinya itu bersama Justin.
' Anggaplah Justin seperti anak kecil, Qilin.. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan.' Batin Qilin.
Setelah makan bubur, Qilin pun akhirnya pergi untuk mencari pekerjaan. Tujuan utama Qilin sebenarnya ingin mencari tempat tinggal yang tidak begitu ramai.
Qilin adalah penyendiri dari dulu, dia yang selalu di kucilkan teman temannya dan di gunjingkan itu memilih untuk selalu sepi dan sendiri. Berada di tempat ramai seperti kost an itu, tidak cocok untuknya.
" Berkati aku, Tuhan." Gumam Qilin, dan pergi dari sana.
Di tempat lain..
Di Bogor, tepatnya di Vila mewah milik keluarga Edward.. Sierra sedang berjalan mondar mandir, dia sedang menunggu kabar tentang perkembangan Justin yang belum juga di temukan.
Arthur dan Malvin berjalan dari luar, dan melihat Sierra yang tampak berlari kearah mereka.
" Jangan lari, sayang." Ujar Arthur.
" Apakah kalian menemukan Justin?" Tanya Sierra, dan Arthur menggeleng.
" Kenapa Justin tidak di temukan dimanapun? Bukankah dia ada di Bogor?" Ujar Sierra kembali emosional.
" Sayang.. tolong sabar, ya. Kita sedang melakukan penyelidikan lagi." Ujar Arthur.
" Kami baru melihat bahwa di halte tempat Justin kemarin, ada cctv. Dan Justin di bawa pergi seorang gadis menggunakan sebuah taksi, jadi kami sedang menyelidiki kemana supir taksi itu sekarang." Ujar Malvin
" Sungguh? Kemana kiranya gadis itu membawa Justin?" Ujar Sierra.
" Kami sedang mencari tahunya, sayang.. Yang penting kita sudah menemukan titik terang." Ujar Arthur, dan Sierra mengangguk.
" Justin.." Gumam Sierra.
TO BE CONTINUED...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Justin jd gemesin 🤭🤭
2025-01-16
0
Nur Bahagia
kasian justin 🥺
2024-09-04
1
Nur Bahagia
aduhh Thor.. kamu bikin aku gemesss.. ni qilin ga nemu2 iklan orang hilang nya si justin 😅
2024-09-04
1