Qilin masih berada di klinik, saat ini dokter sedang memeriksa Justin. Bukan memeriksa, lebih tepatnya bertanya tanya kepada Justin apalah Justin ingat sesuatu atau tidak.
Namun Justin sama sekali tidak ingat, dan Justu menjadi sakit kepala karena Dokter menyuruhnya terus berusaha berpikir.
" Dokter, tolong jangan paksa dia lagi." Ujar Qilin dan memeluk Justin yang kesakitan.
" Saya minta maaf, di sini tidak menyediakan rontgen kepala, nona. Saya bukan dokter sepsialis radiologi, anda bisa bawa kakak anda ke rumah sakit besar untuk melakukan rontgen kepala." Ujar Dokter.
" Rumah sakit besar? Apakah tidak ada di puskeskmas atau di klinik saja, dok?" Tanya Qilin.
" Untuk rontgen kepala, tidak tersedia di puskesmas. Mungkin ada beberapa klinik atau puskesmas yang menyediakan, tetapi alangkah lebih baik lagi jika nona bertemu dengan dokter spesialis radiologi untuk mengetahui kondisi kakak anda yang bisa di katakan parah " Ujar Dokter lagi.
Qilin tampak diam, dia tidak memiliki identitas Justin, bagaimana dia akan mendaftar ke rumah sakit besar.
" Baiklah, terimakasih, Dok." Ujar Qilin.
" Ya, nona.. sama sama." Ujar Dokter.
Qilin pun keluar dengan Justin dari ruangan itu. Justin merasa kepalanya berputar putar, karena sejak tadi dokter itu memaksanya untuk mengingat.
" Qilin, kepala Justin sakit." Ujar Justin.
" Ayo kita duduk dulu." Ujar Qilin yang khawatir.
Mereka duduk di taman yang bersebrangan dengan cafe tempat Qilin bekerja, dan tak jauh dari tempat mereka duduk, ada kantin yang menjual berbagai macam jenis makanan.
" Justin, tunggu aku di sini, aku akan belikan kamu makanan." Ujar Qilin dan Justin mengangguk.
Qilin pun berjalan ke kantin, dan membeli makanan yang enak. Qilin pikir mungkin makanan enak bisa membuat hati Justin senang dan mengurangi sakit kepala Justin.
Qilin membeli sop buntut untuk Justin, dan beberapa makanan lainnya seperti kue - kue.
" Qilin, kamu di sini?" Tanya seorang pria pada Qilin.
" Oh, kak barista." Ujar Qilin memanggil pria itu barista.
Pria itu adalah barista yang bekerja di cafe tempat Qilin bekerja juga. Qilin selalu memanggilnya kak Barista, pria itu pun selalu terkekeh kecil jika di panggil Qilin seperti itu.
" Aku punya nama, lho.. kita belum berkenalan, perkenalkan namaku Fandy." Ujar Barista bernama Fandy itu dan mengulurkan tangannya.
" Ohh.. hehe, maaf kak." Ujar Qilin. Qilin pun mengulurkan tangannya.
Namun tak lama, tiba tiba Justin datang dan melepas tangan Qilin dari Fandy, lalu memeluk Qilin. Justin langsung menunjukan tatapan permusuhan pada Fandy.
" Jangan ganggu Qilin." Ujar Justin.
Fandy tersenyum kaku pada Justin, dia pikir Qilin sendirian.
" Aku tidak menggangunya, kami berteman." Ujar Fandy.
" Just.."
" Qilin, ayo pulang." Ujar Justin.
" Ah, sebentar.. makanan kita hampir jadi." Ujar Qilin.
" Kak, pesanan kakak." Ujar penjual sop itu.
" Ya, terimakasih. " Ujar Qilin.
" Kak Baris.. eh, kak Fandy, maaf aku pulang dulu." Ujar Qilin tidsk enak.
Fandy tersenyum, lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum manis.
' Rupanya dia sudah punya pacar..' Batin Fandy kecewa.
Qilin menyeberang jalan bersama Justin, lalu mereka kembali ke rumah. Justin tidak melepaskan sama sekali tangan Qilin, bahkan setelah sampai di rumah.
Bahkan.. Justin semakin menjadi, dia bergelayut manja memeluk Qilin dari belakang, dan berjalan kesana kemari mengikuti pergerakan Qilin.
" Justin.. duduklah, kita sudah sampai rumah." Ujar Qilin.
" Justin marah." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh mendengarnya.
" Jujur sekali.. Kamu marah??" Tanya Qilin sambil tersenyum.
" Hm." Sahut Justin.
Tapi marahnya Justin justru membuat Qilin merasa lucu, dia justru menjadi begitu menggemaskan. Tubuh besar dan wajah tampan, tapi seperti anak kecil.
" Ayo duduk, kita makan dulu." Ujar Qilin.
Mereka duduk, lalu Qilin menyiapkan sip buntut yang di belinya untuk Justin, hanya untuk Justin.
" Sekarang, ayo makan supnya.. A." Ujar Qikin menyodorkan sup itu pada Justin.
" Tidak mau, Justin marah." Ujar Justin.
Qilin pun terkekeh melihat Justin yang berwajah seperti anak kecil. Qilin pun menaruh sendoknya di mangkuk dan duduk berhadapan dengan Justin.
" Kenapa Justin marah?" Tanya Qilin.
" Justin tidak suka Qilin pegang tangan pria itu, Qilin punya Justin." Ujar Justin.
' Aku di cap sebagai miliknya..' Batin Qilin merasa lucu.
" Dia teman kerjaku, kami hanya berkenalan. " Ujar Qilin memberi pengertian.
" Justin tidak suka." Ujar Justin.
" Baiklah.. maaf karena sudah membuat kamu marah, aku tidak akan dekat dengan pria lain." Ujar Qilin.
Seketika senyum manis terbit dari bibir Justin, tatapan mata Justin pun berbinar.
" Qilin tidak bohong, kan?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin langsung memeluk Qilin dengan senang. Mungkin itu naluri tubuh Justin mengutarakan rasa cemburunya, dia bagai kekasih yang tidak mau kekasihnya di dekati pria lain.
" Sekarang, makan.. Ini sudah sore." Ujar Qilin dan Justin mengangguk.
____________________
Satu bulan kemudian..
Qilin dan Justin sudah hidup bersama selama satu bulan, Qilin sama sekali tidak mengeluh karena harus menghidupi Justin. Sebaliknya, dia benar benar bahagia, karena memiliki keluarga yang menyambutnya di rumah.
Justin juga belum menunjukan tanda tanda ingatannya kembali, dia masih sama.. idiot. meski begitu, Qilin tidak pernah memaksa Justin untuk mengingat siapa dirinya, Qilin ingin agar Justin mengingat dengan sendirinya.
" Justin, lukamu sudah sembuh.. hanya bekasnya saja yang masih terlihat." Ujar Qilin, saat ini sedang membantu Justin mengoleskan obat luka di wajah Justin.
" Qilin, apakah Justin tampan?" Tanya Justin tiba tiba.
" Tentu saja tampan."Ujar Qilin.
Justin tersenyum mendengarnya, lalu mengecup pipi Qilin. Qilin terpaku sesaat, lalu kembali tersenyum. Qilin merasa akhir akhir ini hatinya kacau, entah apa sebabnya.
" Kenapa? Qilin tidak suka Justin cium?" Tanya Justin yang sempat melihat keterkejutan Qilin.
" Mana ada, tentu saja suka." Ujar Qilin, sambil tersenyum manis. Justin pun kembali mencium pipi Qilin.
''Aku berangkat kerja dulu, ingat..''
'' Jangan keluar sembarangan, banyak orang jahat di luar.'' Ujar Justin memotong ucapan Qilin.
'' Ya sudah, aku pergi dulu.'' Ujar Qilin.
Qilin keluar dari rumah dan memegangi dadanya, ia merasakan jantungnya berdebar semakin tidak karuan ketika dia berada begitu dekat dengan Justin.
Qilin sampai di cafe, dan sudah ada Rena yang rupanya sudah datang lebih dulu.
'' Qilin.. kamu kenapa? Wajahmu merah, apakah kamu sakit?'' Tanya Rena.
'' Eh, tidak.. aku hanya kepanasan.'' Ujar Qilin.
'' Panas? Rumahmu bahkan ada di belakang cefe ini, tidak begitu jauh.'' Ujar Rena terkekeh.
Tiba tiba calon suami Rena datang, Rena menyambut calon suaminya itu dengan pelukan, lalu calon suami Rena juga mengecup pipi Rena. Mereka berdua tampak sangat bahagia walau hanya membahas sebuah pembahasan yang tidak penting, yaitu Rena lupa melepas helm di kepalanya.
Qilin memperhatikan interaksi mereka, dan entah mengapa Qilin teringat dengan semua sikap dan perhatian manis Justin padanya. Tanpa sadar Qilin tersenyum ketika mengingatnya, ada perasaan yang tidak bisa Qilin deskripsikan, dia tidak tahu apa itu.
'' Qilin, kamu kenapa melamun.'' Ujar Rena yang sudah kembali.
'' Oh, eh.. hehe, aku hanya senang melihat kebersamaanmu dan calon suamimu.'' Ujar Qilin jujur.
'' Ekhem.. sepertinya kamu membayangkan seseorang hingga kamu tersenyum senyum sendiri.'' Ujar Rena, dan Qilin tersenyum mendengarnya.
'' Kamu tersenyum, jadi aku benar, apakah kamu sedang jatuh cinta?'' Tanya Rena. Dan ucapan Rena membuat Qilin terdiam.
' Jatuh cinta? Apakah aku jatuh cinta pada Justin?' Batin Qilin.
Qilin tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, jadi dia tidak tahu rasanya jatuh cinta seperti apa. Qilin hanya merasakan jantungnya berdebar tidak menentu di momen momen tertentu saat bersama Justin, dan hatinya juga terasa ada yang tidak beres.
'' Kalian sedang membicarakan apa?'' Tanya Fendy yang masuk.
'' Ekhem! Qilin, apakah dengan Fendy?'' Bisik Rena pada Qilin.
Rena tidak tahu bahwa Qilin tinggal dengan Justin selama ini, karena Rena sendiri sama sekali tidak pernah mampir ke rumah Qilin. Rena hanya sering melihat tatapan penuh kagum dari Fendy untuk Qilin.
'' Renaaa....'' Ujar Qilin ambigu, Rena pun mengira bahwa Qilin menyukai Fendy.
Qilin pergi masuk kedalam dan mengganti bajunya dengan seragam Cafe, dia juga mengenakan apronnya lalu dia menguncir tinggi tinggi rambut peraknya dan menatap dirinya di pantulan kaca.
' Apa aku jatuh cinta pada Justin? Tapi Justin bahkan tidak tahu siapa dirinya.' Batin Qilin.
' Justin juga tidak mungkin mencintai aku.. aku adalah orang aneh. Justin pasti hanya menganggap aku sebagai satu satunya keluarga yang dia miliki. Qilin.. apa yang kamu lakukan..' Batin Qilin lagi.
Tapi memikirkan fakta itu, entah kenapa hatinya merasa sakit. Tanpa sadar Qilin meneteskan air matanya, namun langsung dia usap sebelum ada yang melihatnya.
' Tidak Qilin.. jangan menjadi orang jahat, Justin bahkan tidak ingat keluarganya. Fokuslah untuk membantu Justin agar dia bisa ingat dan bertemu kembali dengan keluarganya, agar dia bisa mendapatkan kembali ingatannya. ' Batin Qilin.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Little Fox🦊_wdyrskwt
aku mampir jangan lupa mampir juga iya/Determined//Determined//Determined/
2025-03-27
1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ternyata Justin bisa merajuk 🤭🤭
2025-01-16
1
YNa Msa
hahaha yg Lagi Ngerajuk
2024-02-03
1