Qilin sedang merapihkan semua bekas bekas dia mengobati Justin, sementara Justin sendiri tidak terlihat di sana.
" Aku sudah selesai." Ujar suara Justin.
" Jangan teriak, aku dengar." Ujar Qilin panik.
Qilin masuk kedalam ruangan itu dan melihat Justin yang sedang duduk namun sudah berganti pakaian.
" Lain kali bicaralah yang pelan, aku takut ada yang dengar dan kamu akan di usir nanti, mengerti? " Ujar Qilin, dan Justin mengangguk angguk polos.
" Celananya terlalu kecil." Bisik Justin pada Qilin.
" Ah? Apa, aku tidak dengar." Ujar Qilin.
Justin melambaikan tangannya, dan Qilin mendekat kearah Justin. Justin lalu mlkemudian berbisik di telinga Qilin.
" Celananya.. terlalu kecil, pan*atku sakit." Ujar Justin, dan Qilin langsung merona mendengarnya.
' Terus terang sekali dia, dia hilang ingatan apa jadi idiot sebenarnya?' Batin Qilin.
" A-aku akan cari celana lain, tunggu sebentar." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.
Qilin kembali membuka lemarinya, pakaiannya bahkan tidak ada yang bagus, semuanya kuno dan usang. Qilin tidak memiliki banyak pakaian, apalagi celana yang ukurannya lebih besar.
' Masa aku bongkar pakaian milik papa?' Batin Qilin.
Qilin menarik sebuah koper besar yang berdebu di bawah ranjang, lalu membukanya. Di dalam koper itu ada pakaian milik pria dewasa, yang tampaknya bisa di pakai Justin.
' Papa, maaf.. Qilin pinjam pakaian papa untuk teman Qilin.' Batin Qilin.
Qilin mengambil satu set, ****** *****, celana panjang, dan kaos putih. Lalu kembali menutup koper itu, dan mendorongnya kembali masuk ke kolong ranjang.
Qilin mencium wangi pakaian itu, dan langsung meneteskan air matanya. Ia jadi merindukan papa nya yang sudah meninggal.
' Qilin merindukan papa.' Batin Qilin.
Tapi Qilin langsung menghapus air matanya, dia tidak mau sang papa sedih di surga. Dia bangun dan kembali menghampiri Justin, lalu memberikan satu set pakaian itu pada Justin.
" Pakai ini." Ujar Qilin.
Justin memperhatikan wajah Qilin, tiba tiba Justin menarik tangan Qilin hingga Qilin jatuh di hadapan Justin.
" Aiya! Jangan menarikku begitu keras, aku bisa jatuh. Panggil saja namaku, atau kau toel - toel. Kenapa? kamu butuh sesuatu?" Tanya Qilin.
Tapi Justin tiba tiba memeluk Qilin dan berkata..
" Jangan menangis.." Ujar Justin.
Mendengar itu, Qilin justru kembali terpancing emosional nya. Qilin justru menangis di pelukan Justin.
" Jangan menangis.." Ujar Justin khawatir.
" Aku tidak menangis, hiks.." Ujar Qilin, tapi masih sesenggukan.
Justin akhirnya hanya memeluk Qilin dan mengusap usap punggung Qilin sampai akhirnya Qilin menjadi lebih tenang. Setelah Qilin merasa tenang, ia pun melepaskan pelukannya dari Justin.
" Terimakasih, kamu baik." Ujar Qilin.
Justin mengulurkan tangannya dan menghapus sisa air mata di pipi Qilin, lalu tersenyum.
Akhirnya Qilin meninggalkan Justin agar Justin berganti pakaian. Dan Justin pun selesai.
" Aku selesai." Ujar Justin, dan Qilin kembali panik dan berlari ke dalam.
" Justin, aku sudah bilang jangan berteriak." Ujar Qilin.
" Aku sudah berbisik, tapi kamu tidak dengar." Ujar Justin polos.
' Sepertinya dia benar benar idiot, apakah otaknya bermasalah? Aduh Tuhan, bagaimana caraku membantu dia supaya bisa ke rumah sakit?' Batin Qilin.
" Maaf aku lupa." Ujar Qilin, dan akhirnya membantu Justin bangun dan memapahnya menuju ranjang.
" Tidurlah.. " Ujar Qilin.
" Kamu juga." Ujar Justin, sembari menepuk ranjang dengan polos.
' Alamak, jika dia tidur di ranjangku, aku tidur di mana? Aku hanya punya satu ranjang.' Batin Qilin.
Dan ranjang Qilin, bukan ranjang berukuran King atau Qween size. Ranjang Qilin adalah ranjang single bed untuk anak anak.
" Kamu duluan saja, aku masih harus membereskan sesuatu." Ujar Qilin.
Justin pun mengangguk dengan polos, dan memejamkan matanya.
' Patuh sekali dia, seperti anak kecil.' Batin Qilin.
Sekarang Qilin sendiri yang bingung, di ranjang sekecil itu bagaimana bisa di tidur berdua dengan Justin. Qilin jadi merindukan kamarnya sendiri di rumah besar yang berada tak jauh dari sana.
Qilin keluar dari rumah kecil itu, dan memandangi sebuah jendela kamar yang masih menyala lampu, tanda pemiliknya belum tidur.
" Papa.. " Gumam Qilin.
Dulunya itu adalah kamar Qilin, lebih tepatnya tiga tahun yang lalu, sebelum papa angkatnya meninggal dunia.
Qilin di adopsi oleh papa angkatnya, dan tentang asal usul Qilin, sama sekali tidak ada yang tahu. Hingga tiga tahun lalu, papa angkatnya meninggal dunia dan Qilin di usir dari rumah besar ke rumah kecil itu oleh ibu angkatnya.
Qilin selalu di juluki anak aneh, karena memiliki rambut berwarna perak, dan dia sering di panggil nenek nenek oleh teman temannya dulu.
" Huft.. sabar Qilin, sudah bagus kamu masih bisa memiliki tempat tinggal." Gumam Qilin.
Tapi walau Qilin masih tinggal di pekarangan rumah itu, ibu angkatnya tidak peduli sama sekali terhadap Qilin. Qilin harus bekerja dan menghidupi dirinya sendiri selama tiga tahun terakhir ini.
Sementara mengapa pakaian ayah angkat Qilin berada di rumah kecil itu, karena ibu angkat Qilin sudah menikah lagi, dan pakaian milik ayah angkatnya di buang begitu saja, oleh sebab itu Qilin memungut dan menyimpannya.
Qilin menghapus air matanya dan kembali masuk ke dalam. Terlihat Justin yang sudah tertidur lelap, Qilin mau tidak mau tidur di samping Justin walau sempit, karena ia tidak memiliki opsi lain.
Jika saja Qilin memiliki kasur lipat atau setidak nya tikar, dia mungkin akan tidur di bawah, tapi dia bahkan hanya memiliki satu selimut saja, yang saat ini di pakai Justin.
Qilin merebahkan dirinya di sisi Justin, kemudian terlelap. Dan tanpa sadar, semakin malam, Qilin semakin menempelkan dirinya pada Justin karena dia kedinginan.
Justin pun memeluk Qilin, dan posisi tidur mereka saling berpelukan saat ini. Selimut yang sebelumnya di pakai Justin, kini sudah menyelimuti mereka berdua.
Di sisi lain kota itu, para tim penyelamat masih mencari keberadaan Justin. Arthur bahkan mengerahkan anak buah gelap nya untuk mencari sang putra sulung.
" Tuan, saya menemukan parasut milik tuan muda, tapi tidak ada tuan muda di sini." Ujar anak buah Arthur lewat Ear piece nya.
" Beri saya posisimu, saya ke sana." Ujar Arthur.
Arthur semakin tua semakin tampan, dia sangat berkarisma, berwibawa, dan wajahnya itu seolah menolak tua, masih sangat mempesona. Dia berjalan dengan langkah lebarnya menghampiri anak buahnya yang menemukan parasut Justin.
" Ini tuan, ini milik tuan muda." Ujar anak buah Arthur.
Arthur melihat parasut yang compang camping itu dengan tatapan sedih. Di hutan tidak mustahil jika ada binatang buas. Tapi kemudian Arthur melihat tali dari parasut itu yang sepertinya di potong menggunakan benda tajam.
" Justin menyelamatlan diri." Ujar Arthur.
" Cari di sekitar, Justin melepas talinya dengan benda tajam, dia masih hidup." Ujar Arthur.
" Baik tuan." Ujar anak buah Arthur.
Ke esokan harinya..
Qilin menggerakan tubuhnya, karena nyaman dan hangat.
' Hangatnya..' Batin Qilin.
' Eh, hangat??' Batin Qilin lagi bingung.
Qilin kemudian merasakan hembusan nafas yang masih teratur menerpa wajahnya. Qilin langsung membuka matanya dan terkejut, dia mundur hingga akhirnya ia terjatuh dari ranjang.
Gubrak.." Aduh, pan*atku.." Gumam Qilin kesakitan.
Qilin kemudian menatap Justin yang masih tertidur pulas, padahal gerakan Qilin saat terkejut dan jatuh dari ranjang itu lumayan keras.
' Ya Tuhan, aku.. a-aku tidur memeluk dia?? ' Batin Qilin pias.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
tuhkan bener kl kehidupan Qilin menyedihkan 😒😒
2025-01-16
0
Nur Bahagia
wkwkwk toel2 😅
2024-09-04
1
Nur Bahagia
kehidupan qilin menyedihkan kayaknya 🥺
2024-09-04
1