Malvin terlihat sedang mendatangi sebuah perusahaan taksi, itu sudah ke sekian kalinya Malvin ke sana untuk mencari supir taksi yang mengantarkan Justin dan gadis yang menculik Justin.
" Apakah pria ini belum juga datang?" Tanya Malvin menunjukan foto pada rekan supir taksi yang di carinya.
" Belum, pak.." Ujar rekan supir taksi itu.
" Apakah biasanya dia di sini? Atau di tempat lain? " Tanya Malvin.
" Di sini, pak. Tapi sejak kemarin dia belum datang, mobilnya ada di sana, itu.. itu taksi yang biasa dia bawa." Ujar rekan supir taksi itu sembari menunjuk taksi yang terparkir.
" Ada apa ini?" Tanya seorsng pria lain yang baru datang.
" Bapak ini, sedang mencari supir yang membawa taksi itu." Ujar rekannya.
" Oh, dia sedang pulang ke kampung halamannya pak." Ujar rekan yang baru datang tadi.
" Dimana kampung halamannya?" Tanya Malvin.
" Jawa tengah, tapi untuk tempatnya saya tidak tahu pak." Ujar orang itu.
" Baik, terimakasih." Ujar Malvin, lalu pergi.
Malvin masuk kedalam mobil, lalu menekan sederet angka untuk menghubungi seseorang. Rupanya Malvin menghubungi pemilik perusahaan taksi itu.
" Halo, saya asisten tuan Arthur Edward, Malvin. Saya ingin meminta tolong pada anda, saya butuh alamat salah satu supir taksi anda." Ujar Malvin.
" Baik, saya akan ke kantor anda." Ujar Malvin, lalu mematikan panggilan itu.
Malvin sama sekali tidak berhenti mengejar kemana kiranya perginya Justin. Dimana ada tanda tanda keberadaan Justin, maka dia akan datang ke sana.
Sementara iklan dan poster tentang Justin yang hilang, sudsh di cabut semua untuk keamanan Justin, karena mereka mengira Justin di culik.
" Seumur umur baru kali ini aku kesulitan menemukan satu manusia, padahal dia berada di belahan bumi yang sama denganku." Gumam Malvin, sambil melajukan mobilnya.
Sementara itu, Sierra sedang duduk sembari melihat Dustin yang tengah mengotak atik laptop di hadapannya.
" Ini adalah hasil paling jelas yang bisa Dustin dapat mom." Ujar Dustin pada Sierra.
Dustin menggunakan kecanggihannya untuk memperjelas gambar tangkapan cctv yang berada di halte Bogor, tapi dia tidak bisa mendapat gambar gadis berambut perak dengan jelas.
" Ini masih belum begitu terlihat wajah gadis yang membawa kakakmu, nak.." Ujar Sierra sedih.
" Kakak bukan orang lemah, mom. Jika kakak sungguh di culik, dia bisa saja menghabisi gadis itu dalam sekali pukul." Ujar Dustin.
" Atau jangan jangan.. Itu kekasih kakakmu?" Ujar Sierra mencoba berpikiran positif.
" Tidak mungkin, kakak itu seperti daddy, anti perempuan. Mustahil jika gadis di gambar ini adalah kekasih kakak, lagi pula lihatlah penampilannya, dari pakaiannya saja dia bukan gadis dari keluarga kaya." Ujar Dustin.
Sierra sampai geleng geleng mendengar Dustin berkata demikian.
" Jangan lupa, dulu daddy mu juga jatuh cinta dengan mommy yang masih menjadi gelandangan." Ujar Sierra.
" E-hehehe.. Tapi aku tahu kakak, mom. Kakak itu persis dengan daddy, bahkan lebih parah, sedikit." Ujar Dustin.
" Mommy harap kakakmu tidak sungguhan di culik.." Ujar Sierra kembali menyendu.
Sierra sudah tidak lagi berurusan dengan urusan menjadi hacker sejak Justin dan Dustin lahir, Arthur ingin agar Sierra menjadi ibu seutuhnya dan fokus dengan tumbuh kembang putra kembarnya itu.
Jadi Sierra tidak lagi mengerti urusan meng hack, apalagi usia Justin dan Dustin saja sudah 27 tahun. Sierra sudah tertinggal dengan kecanggihan gadget di masa kini.
" Kakak pasti baik baik saja, mom.. Jangan berpikiran yang negatif." Ujar Dustin.
Sementara itu di tempat lain.
Gadis yang sedang di bicarakan oleh semua orang di keluarga Edward saat ini sedang membeli makanan di sebuah warung makan pinggir jalan. Qilin, sedang menunggu makanannya yang sedang di bungkus.
Semua orang menatap ke arah Qilin, karena Qilin memiliki rambut perak. Perak, bukan putih. Rambut Qilin berwarna perak seperti mata uang koin negara kita.
Tapi Qilin tidak mempermasalahkannya, dia acuh saja dengan tatapan orang orang. Dia sudah biasa di rundung dan di ejek seperti nenek nenek, dan bahkan di katai monster tua jelek.
" Ini, kak." Ujar pelayan warung itu.
" Ini uangnya, terimakasih." Ujar Qilin, lalu pergi.
Qilin pun berjalan pulang untuk mengantarkan makanan itu pada Justin yang sedang menunggunya di rumah.
Saat Qilin lewat lampu merah menyala, Qilin pun menyeberang, saat itu juga mobil Malvin berada tepat di depan Qilin. Sayangnya Malvin sedang mengetik pesan, dan ketika Qilin sudah sepenuhnya menyebrang, Malvin baru menatap jalan raya.
Qilin masuk ke dalam gang, dan akhirnya ia sampai di rumah. Dia membuka pintu rumahnya dan terlihat Justin yang sedang tertidur di sofa.
" Dia tidur.. kasian, dia pasti bosan. " Gumam Qilin.
Qilin berpikir, karena Justin berperilaku dan bersikap seperti anak anak, mungkin akan lebih baik jika dia membelikan mainan anak anak untuk Justin.
' Tidak - tidak, jika begitu nanti Justin justru tidak cepat ingat dengan siapa dirinya.' Batin Qilin.
Qilin pun mengusap kepala Justin, dan Justin terbangun karena sentuhan tangan Qilin. Justin menatap Qilin, lalu tersenyum.
' Kenapa jika dia diam dan tersenyum seperti ini, dia tidak terlihat seperti orang idiot. Dia seperti pria dewasa, bahkan wajahnya sebenarnya tampan jika tidak ada luka ini.' Batin Qilin.
" Qilin sudah pulang?" Ujar Justin antusias dan Qilin tersenyum sambil mengangguk.
' Apa yang kau pikirkan Qilin..' Batin Qilin.
" Aku bawa makanan untukmu, ayo kita makan bersama." Ujar Qilin.
Justin bangun, tapi dia langsung memeluk Qilin. Qilin yang di peluk pun hanya diam kebingungan.
" Qilin lelah?" Tanya Justin.
" Tidak, aku baik baik saja." Ujar Qilin.
Justin pun melerai pelukannya, Qilin tidak mempermasalahkan pelukan Justin itu, karena di mata Qilin, Justin seperti anak kecil yang lugu.
" Ayo makan.." Ujar Qilin, dan Justin mengangguk.
Qilin bangun dan membawa makanannya ke ruang tengah, di ruang tengah itu berhadapan langsung dengan dapur, hanya terdapat sekat berupa meja makan kecil seperti meja bar.
Qilin menyiapkan piring dan sendok, lalu membuka makanan milik Justin.
" Mmm.. aku tidak tahu kamu ada alergi atau tidak, jadi aku tidak berani membelikanmu makanan laut. Kamu makan ayam goreng saja, ya?" Ujar Qilin.
" Oke.." Ujar Justin.
Keduanya pun memakan makanan itu.
' Sejak ada Justin, aku memiliki teman bicara. Meski dia seperti anak kecil, tapi dia baik.. tidak menghinaku atau mengejekku aneh.' Batin Qilin sambil menatap Justin yang makan dengan lahap.
' Bagaimana jika nanti Justin ingat siapa dirinya, lalu pergi.. aku akan sendirian lagi.' Batin Qilin menjadi sedih.
' Tidak, Qilin. Jangan egois, Justin pasti punya keluarga, dan keluarganya pasti saat ini sedang mencarinya. Kamu punya waktu untuk menghabiskan hari harimu bersama Justin, sampai dia bisa ingat siapa dirinya.' Batin Qilin.
' Setelah itu.. kamu hanya harus menjalani hari harimu seperti dulu, sebelum ada Justin.' Batin Qilin.
" Qilin, Justin kenyang." Ujar Justin.
" Qilin, kenapa sedih?" Tanya Justin, ketika melihat wajah sendu Qilin.
" Hehe, aku tidak sedih.. aku hanya sedang berpikir, nanti saat ingatanmu sydah sembuh, apakah kamu akan mengingat aku atau tidak." Ujar Qilin jujur.
" Pasti, Qilin.. Justin menyayangi Qilin, Justin tidak akan lupa Qilin." Ujar Justin, dan Qilin justru menangis terharu.
Justin memutari meja, dan memeluk Qilin, entah mengapa hati Justin ikut sedih melihat Qilin menangis.
" Jangan menangis Qilin." Ujar Justin.
" Aku hanya bahagia, terimakasih karena kamu tidak akan lupa padaku." Ujar Qilin.
Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, saat ini otak Justin sedang bermasalah, jadi dia berkata demikian. Tapi Justin yang sesungguhnya adalah pria yang tidak pernah tersentuh oleh wanita.
Justin kurang lebih sama seperti Arthur saat muda dulu, tidak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali Sierra, ibunya dan Sahara, oma nya.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Justin gemesin deh 🤣🤣
2025-01-16
0
Nur Bahagia
duhh rasanya pengen nyubit pipinya Thor.. bikin gemess deh ceritanya 😅
2024-09-04
1
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Sebenerna qilin ini siapa ya 🤔
2024-06-30
1