Setelah seharian ini Qilin mencoba mencari pekerjaan di tempat yang dekat dekat dengan kostan itu, akhirnya Qilin mendapatkan satu pekerjaan di sebuah cafe.
Qilin di terima tanpa adanya persaratan yang seharusnya, karena cafe itu sedang membutuhkan karyawan, dan juga Qilin begitu unik dengan rambut peraknya, dia pun di terima di sana.
Tak hanya itu, Qilin bertanya pada rekan kerjanya tentang tempat tinggal. Dan beruntungnya salah satu karyawan di sana memiliki satu rumah yang hendak di jual.
Rumahnya dekat dengan cafe itu, namun tidak terlalu ramai seperti di kost an. Tanpa pikir panjang Qilin pun mendatangi rumah milik rekan kerjanya, dan ya..
" Aku suka." Ujar Qilin.
" Kamu menyukainya? Sukurlah.. sebenarnya ini rumah ibuku, tapi ibuku sudah meninggal. Aku juga akan segera menikah dan ikut dengan calon suami ke kota tempat tinggalnya di Bandung, jadi aku jual saja rumah ini." Ujar rekan kerja Qilin.
" Baiklah, aku akan bayar secara tunai padamu." Ujar Qilin.
" Oke, aku akan urus surat suratnya sekarang. " sahut rekan Qilin.
Rumah itu berukuran kecil, tapi tidak sekecil rumah Qilin di kediaman ibu angkatnya. Rumah yang di beli Qilin ini memiliki dua lantai, dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, dan ruang keluarga yang nyaman.
Di depan rumahnya ada banyak tanaman gantung, dan pagar yang tinggi. Cocok untuk Qilin yang tidak suka keramaian.
Dan akhirnya, setelah mengurusi proses, rumah itu resmi di beli Qilin dengan harga yang tidak begitu mahal. Bahkan pemiliknya tidak mengambil barang barang di dalamnya, satupun.
Qilin mengucapkan banyak terimakasih karena rekannya yang baru di temuinya hari ini itu begitu baik padanya.
" Terimakasih banyak, aku benar benar sangat beruntung bertemu denganmu." Ujar Qilin.
" Aku yang beruntung bertemu denganmu, rumah tua ini tidak ada satupun yang mau membeli, bahkan ketika aku menjualnya dengan harga sangat murah." Ujar rekan Qilin.
" Terimakasih banyak." Ujar Qilin, lagi.
" Semoga kamu suka tinggal di sini." Ujar rekannya.
" Pasti.. " Sahut Qilin.
" Kalau begitu aku pergi dulu, barang barangku sudah tidak ada di sini, aku tinggal dengan calon suamiku di apartmen." Ujar rekan Qilin.
" Semoga pernikahan kalian nanti lancar, dan kalian bisa hidup bahagia sampai tua." Ujar Qilin, dan rekannya tersenyum mengangguk.
" Aku pergi, bye.." Ujar rekan Qilin dan Qilin melambaikan tangannya.
' Aku punya rumah.. Papa Qilin bisa beli rumah sendiri.' Batin qilin senang.
' Aku harus pulang, Justin pasti menungguku.' Batin Qilin.
Qilin mengunci rumah itu, lalu pergi dari sana. Jarak dari rumah itu ke kostan lumayan jauh, sungguh itu adalah keberuntungan bagi Qilin sebagai pendatang baru yang langsung mendapatkan apa yang di tujunya.
Mungkin memang benar, jika kita mamiliki niat baik, maka Tuhan juga akan mempermudah jalannya. Qilin tidak pernah sekalipun datang ke Jakarta, tapi dia sudah bertemu dengan orang orang baik.
Bermodalkan nekat, dia mencari pekerjaan dan tempat tinggal, untuk ia tinggali dengan Justin.
" Justin.. apakah keluarga Justin tidak mencarinya? Atau Justin di buang seperti di film film??" Gumam Qilin.
Qilin masih bertanya tanya dalam pikirannya, tapi saat Qilin sedang berjalan, dia hanya akan menunduk. Dia selalu berjalan sambil mennundukan pandangannya, hingga dia tidak melihat satupun iklan tentang Justin yang selalu terlewati olehnya.. Naas..
Qilin sampai di kostan sekitar pukul lima sore, dimana semua orang belum sampai di kostan.
" Paman, saya dan kakak saya akan pindah dari sini." Ujar Qilin pada penjaga kost.
" Ha? Mau pindah kemana, dek?" Tanya penjaga.
" Saya sudah dapat pekerjaan, dan saya akan tinggal di dekat tempat saya kerja. Terimakasih untuk bantuan paman semalam, ini biaya kost saya." Ujar Qilin.
" Bagus jika sudah dapat kerja, semoga adek cocok dengan pekerjaan adek." Ujar penjaga kost itu.
" Terimakasih, kalau begitu saya permisi, paman." Ujar Qilin.
" Iya, dek.." Ujar penjaga kost, dan Qilin masuk.
Qilin membuka pintu dan terlihat Justin yang sedang makan snack.
" Qilin.." Ujar Justin, dia bangun dan langsung memeluk Qilin.
" Justin, ayo kita pulang." Ujar Qilin.
" Pulang? tapi kita di rumah." Ujar Justin.
" Ini bukan rumah kita, kita akan pulang ke rumah kita sendiri." Ujar Qilin dengan senyum manisnya.
" Ayo.." Ujar Justin dengan senyum polosnya, Qilin pun mengusap kepala Justin.
Mereka bersiap, dan akhirnya keluar dari kostan itu.
" Justin, pakai masker saja." Ujar Qilin dan memakaikan masker pada Justin.
Qilin takut ada orang yang seperti di temuinya di halte Bogor, demi keamanan Justin, dia harus lebih siaga. Qilin memanggil taksi, dan keduanya pun pergi dari sana ke rumah baru Qilin.
Tak sampai sepuluh menit, mereka sampai di depan gang dimana rumah baru Qilin berada. Qilin dan Justin pun berjalan dari depan gang hingga sampai di rumah yang kini akan menjadi tempat tinggal Qilin selamanya.
" Ini rumah kita." Ujar Qilin, ketika mereka masuk kedalam rumah.
Di dalam rumah itu sedikit berdebu, mungkin karena sudah tidak di tinggali, tapi tak mengapa, Qilin bisa membersihkan nya.
" Ada dua kamar tidur di sini, kamu mau tidur di kamar atas atau di kamar bawah?" Tanya Qilin pada Justin.
" Tidur dengan Qilin." Ujar Justin spontan.
Qilin sampai tersedak liurnya sendiri, Justin begitu spontan berkata seperti itu. Tapi Justin sama sekali tidak memiliki maksud lain, dia hanya benar benar ingin tidur, bersama Qilin.
" Justin, kemarin kita tidur bersama karena tidak ada kamar lain. Tapi sekarang kita sudah memiliki kamar sendiri sendiri, jadi kita harus tidur di kamar kita sendiri sendiri." Ujar Qilin memberi pengertian pada Justin.
" Kenapa??" Tanya Justin.
' Aduh Tuhan, bagaimana cara menjelaskan pada pria lugu ini, tidak mungkin jika aku katakan padanya bahwa kita bukan pasangan bukan?' Batin Qilin bingung.
" Karena.. karena Justin sudah besar, dan Qilin juga sudah besar. Dua orang dewasa tidak boleh tidur bersama jika belum menikah." Ujar Qilin menjelaskan.
" Kalau begitu ayo kita menikah." Ujar Justin dengan wajah serius.
Qilin sampai terdiam mendengarnya, wajah Justin begitu serius dan sangat dekat dengan wajah Qilin.
" Ayo kita menikah, supaya Qilin bisa tidur dengan Justin." Ujar Justin membuyarkan pikiran Qilin.
' Astaga, apa yang kau pikirkan Qilin, Justin hanya pria lugu, dia tidak mungkin tahu arti menikah.' Batin Qilin.
" Qilin.." Panggil Justin.
" Hm??" Ujar Qilin.
" Qilin tidak mau menikah dengan Justin? Apakah karena Justin makan banyak?" Ujar Justin dan wajahnya menjadi penuh rasa bersalah.
" Tidak, bukan begitu.. Qilin mau mrnikah dengan Justin, tapi tidak sekarang." Ujar Qilin menyeletuk begitu saja karena panik.
" Kapan? Apakah besok?" Ujar Justin tersenyum.
' Bagaimana aku menjelaskannya, Tuhan.. ' Batin Qilin bingung.
" Qilin akan menikah dengan Justin, tapi suatu hari nanti, jika Justin sudah sembuh, tidak sekarang. " Ujar Qilin.
Justin berpikir mungkin yang di karena luka luka di wajah dan di tubuhnya, jadi dia mengangguk angguk dengan lugunya.
" Tapi Qilin akan menikah dengan Justin, kan? Qilin tidak berbohong?" Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Justin pun kembali memeluk Qilin.
' Jika pun aku tidak berbohong, entah apakah kamu akan ingat aku atau tidak saat kamu sembuh nanti, Kita bisa saja menjadi dua orang asing, ketika ingatanmu sudah kembali.' Batin Qilin.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Justin dah terpesona sama Qilin 🤭🤭
2025-01-16
0
Nur Bahagia
semoga saat ingatan asli justin kembali, ingatan nya dengan qilin ga hilang 🤲🤗
2024-09-04
1
Nur Bahagia
wkwkwk 🤣
2024-09-04
1