Qilin masuk ke dalam cafe, dan sudah ada Rena di sana yang sedang berbincang dengan Fendy.
" Halo." Ujar Qilin.
Rena langsung menyeret Qilin masuk ke dalam, dan membuat Qilin kebingungan sampai hendak jatuh.
" Astaga Rena, ada apa?" Tanya Qilin.
" Qilin, tadi kita kedatangan tamu penting. Maksudku bukan penting, tapi terhormat, ya penting juga." Ujar Rena bicara dengan tidak jelas.
" Kamu ngomong apa sebenarnya." Ujar Qilin bingung.
" Tadi ada konglomerat yang mampir di cafe kita seharian." Ujar Rena.
" Aku pikir apa.." Ujar Qilin.
" Ish! Kamu ini, tidak seru." Ujar Rena.
" Aku siap siap dulu." Ujar Qilin dan masuk ke ruang ganti untuk berganti pakaian.
Di tempat lain..
Dustin sedang berada di dalam mobil saat ini, ia mendapat panggilan dari salah seorang bawahannya dan langsung keluar dari cafe itu untuk melihat secara langsung gadis bernama Qilin yang menculik kakaknya.
" What the.. dia bekerja di cafe yang sejak pagi aku singgahi??" Ujar Dustin tidak habis pikir.
" Culik dia saat dia pulang, jangan sampai membuat keributan." Ujar Dustin.
" Baik tuan muda." Ujar anak buah Dustin.
" Kau sudah tidak bisa lari lagi sekarang." Gumam Dustin dan menatap Qilin dengan tajam.
Semalaman Qilin bekerja, dan Qilin merasa pelanggannya itu tidak seperti biasanya. Pelanggannya itu berpakaian serba hitam dan sering kali menatap kearah Qilin.
' Ck! Aku memang aneh, tapi kalian tidak harus melihatku seperti itu, bukan?' Batin Qilin menjadi kesal.
Dan saat pukul 5 pagi, rekan Qilin yang akan menggantikan Qilin sudah tiba. Qilin pun bersiap ganti baju dan bersiap pulang.
" Qilin, mau aku antar?" Tanya Fendy.
" Tidak perlu, kak.. rumahku snagat dekat." Ujar Qilin sambil tersenyum.
Fendy sebenarnya merasakan keanehan dengan para pria yang duduk di cafe sejak malam hingga pagi tanpa kejelasan, dan juga mereka sering kali melihat kearah Qilin.
" Apa kekasihmu tidak datang menjemputmu?" Tanya Fendy.
" Kekasih? Aku tidak punya kekasih." Ujar Qilin, dan itu mengejutkan Fendy.
" Pria yang saat itu bertemu di kantin?" Tanya Fendy.
Qilin pun ingat, mungkin yang di maksud Fendy adalah Justin.
" Oh, dia kakakku." Ujar Qilin terpaksa berbohong.
Entah mengapa seperti ada udara segar yang menerpa hati Fendy ketika mengetahui bahwa Qilin tidak memiliki kekasih.
" Oh.. Jadi dia kakakmu?" Ujar Fendy, dan Qilin mengangguk.
" Kalau begitu aku pulang dulu." Ujar Qilin dan langsung pergi.
Fendy tersenyum senyum sendiri jadinya, jika Qilin tidak memiliki kekasih, itu artinya dirinya memiliki kesempatan intuk mendekati Qilin.
Qilin sendiri saat ini sudah keluar dan berbelok dari cafe masuk ke dalam gang, namun tiba tiba sebuah tangan membekap mulut Qilin dari belakang.
Qilin meronta ronta namun tak lama dia lemas dan hilang kesadaran. Qilin di bawa masuk ke dalam mobil, dan mobil itu pun pergi dari sana.
Fendy keluar dari Cafe dan hendak mengejar Qilin, tapi rupanya Qilin sudah tidak ada di manapun.
" Cepat sekali dia menghilang." Gumam Fendy.
Fendy tahu Qilin tinggal di bekas rumah Rena, dan itu memang dekat, jadi Fendi mengira Qilin sudah masuk ke dalam rumahnya.
_______________
Qilin bangun dan merasakan pusing di kepalanya, ia juga merasa silau ketika ia membuka matanya.
" Dimana ini?" Gumam Qilin.
Qilin melihat sekitarnya, dan itu hanya sebuah ruangan kaca yang begitu terang.
Ingat dengan ruangan yang di gunakan Arthur untuk mengurung Julia hingga tewas bunuh diri, di situlah Qilin berada saat ini, di ruangan yang sama.
Tiba tiba pintu terbuka, dan masuklah seorang wanita paruh baya yang cantik dan anggun, Sierra.
" Anda siapa?" Tanya Qilin.
" Duduklah." Ujar Sierra.
Qilin pun patuh dan duduk di kursi, hanya ada dua kursi dan satu meja kecil di sana.
" Kamu Qilin?" Tanya Sierra, dan Qilin pun mengangguk.
" Ya, saya Qilin." Ujar Qilin dengan wajah penuh kebingungan.
Tiba tiba Sierra meneteskan air matanya, dan Qilin pun menjadi bingung.
" Nyonya, kenapa anda menangis?" Ujar Qilin.
" Apakah saya pernah menyinggung keluargamu? Atau menyakiti keluargamu, hingga kamu harus melakukan hal sebegitu keterlaluannya?" Tanya Sierra, Qilin pun semakin bingung di buatnya.
" Nyonya, apa maksud anda, saya tidak mengerti." Ujar Qilin.
Sierra mengeluarkan sebuah foto, dan itu foto Justin, Qilin pun terkejut melihatnya.
" Justin." gumam Qilin.
Dan tiba tiba Sierra menampar pipi Qilin dengan sangat keras hingga sudut bibir Qilin berdarah. Qilin terkejut hingga matanya berkaca kaca, dia tidak tahu apa salahnya, tiba tiba Sierra menamparnya.
" Apakah kamu butuh uang? Katakan pada saya berapa banyak uang yang kamu mau, tapi kembalikan Justin pada saya." Ujar Sierra.
Qilin menangis mendengarnya, lagi lagi dirinya di rendahkan karena kemiskinannya.
Qilin melihat kembali foto Justin dengan bertuliskan orang hilang. Qilin pun sadar, bahwa yang berada di hadapannya itu adalah ibunya Justin.
Bibir Qilin bergetar menahan tangis, tapi air matanya mengalir deras tidak bisa di tahan.
" Tidak usah kamu berpura pura menangis, katakan dimana Justin, saya akan berikan kamu uang yang banyak, asal putraku kembali." Ujar Sierra.
Qilin menghapus air matanya lalu menatap Sierra.
" Anda ibu Justin?" Tanya Qilin.
" Ya, saya ibunya. Kamu telah menculik putraku, dengan memanfaatkan kecelakaan putraku? Licik!" Ujar Sierra.
" Aku tidak menculiknya.." Ujar Qilin sambil menggelengkan kepalanya.
" Tidak menculiknya? Lalu apa? Menyandranya?" Ujar Sierra.
" Tidak, aku tidak tahu siapa keluarga Justin, Justin juga hilang ingatan jadi aku sulit mencari tahu siapa keluarganya." Ujar Qilin menjelaskan.
" Sulit?? Justin hilang dan banyak posternya di pasang di sepanjang jalan, seharusnya kau bisa melihatnya, bukan? kamu tidak buta." Ujar Sierra.
Qilin bingung, dia smaa sekali tidak melihat poster Justin dimana pun.
" Aku sungguh tidak melihatnya." Ujar Qilin.
Sierra menatap Qilin lamat lamat, wajah dan tatapan Qilin memang tidak berbohong.
" Di mana Justin, pulangkan dia padaku." Ujar Sierra.
Seketika Qilin ingat dengan Justin yang sendirian saat ini di rumah.
" Nyonya, jam berapa sekarang?" Tanya Qilin.
" Kenapa kau bertanya jam? Katakan di mana Justin." Ujar Sierra.
" Nyonya, Justin mengalami hilang ingatan, dan otaknya sedikit bermasalah. Aku tidak pernah meninggalkan dia begitu lama, atau dia akan mencariku." Ujar Qilin.
Sierra menjadi ikut panik, ia melihat ponselnya dan memberi tahu Qilin.
" Ini pukul empat sore." Ujar Sierra.
" Astaga, Justin pasti kelaparan. Nyonya bisakah bebaskan saya dulu, saya akan bawa anda menemui Justin, dia pasti mencariku." Ujar Qilin panik.
" Kamu jangan beralasan." Ujar Sierra.
" Demi Tuhan, nyonya.. aku tidak pernah menyakiti Justin, apalagi menahannya. Dia tinggal denganku selama ini dan hanya selalu bergantung padaku. Aku meninggalkannya sejak semalam, dia pasti khawatir karena aku tidak pulang." Ujar Qilin.
Sierra pun menjadi pias, dan akhirnya dia mengangguk. Sierra memberi kode pada Arthur yang berada di luar sana, dan membuka kunci ruangan itu, Qilin dan Sierra pun keluar.
" Sayang, ayo ke tempat tinggalnya." Ujar Sierra dan Arthur mengangguk.
Tangan Qilin di cekal anak buah Arthur agar tidak lari dan mereka pun pergi dari markas TITANES.
Sepenjang jalan, Qilin tidak berhenti khawatir. Dia mengkhawatirkan Justin yang pasti saat ini sedang khawatir mencari dirinya.
Hingga akhirnya mereka sampai, dan Qilin langsung berlari menuju ke pagar rumahnya.
" Gemboknya terbuka." Gumam Qilin dan langsung berlari masuk.
" Justin, aku pulang." Teriak Qilin.
Qilin berlari kesana kemari, Sierra dan Arthur juga masuk ke dalam rumah itu, rumah kecil yang terlihat sangat nyaman.
" Justin tinggal di sini selama ini, dad.." Gumam Sierra menangis.
" J- Justin hilang." Ujar Qilin dan Sierra terkejut.
DEG! DEG! DEG!
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kasar banget Sierra jd kesel liatnya 😠😠
2025-01-16
0
Mamath Ziad Malik
kenapa sierra ngga tanya baik baik duluya
2024-09-29
1
YNa Msa
knp Jadi kasar, Tanya dilu
2024-02-03
1