Di dalam kamar, Arisa terus menangis di dalam pelukan Siska. Walaupun ia tahu kakaknya itu merupakan orang yang bijaksana tetapi tetap saja ia takut jika Reno akan sangat marah pada Angga dan malah menyalahkan Angga sedangkan ia merasa semua itu berawal dari kesalahannya.
" Kak kalau Bang Reno marah sama Mas Angga gimana? Ini salah aku Kak, semuanya salah aku " ucap Arisa menyalahkan dirinya sendiri.
" Tenang Arisa. Kakak kamu itu orangnya bijaksana jadi dia pasti bisa ambil keputusan yang terbaik buat kamu " ucap Siska menenangkan Arisa.
Arisa sudah menceritakan semuanya pada Siska sehingga ia dan Angga terpaksa harus menikah secepat ini.
Tak lama kemudian, pintu kamar Arisa terbuka dan muncul Reno di sana. Reno berjalan mendekati Arisa yang masih berada di dalam pelukan Siska.
" Abang " ucap Arisa menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya pada Siska.
Siska menyingkir dan membiarkan Reno duduk di samping Arisa.
" Kalian bicaralah, aku mau liat Nadia dulu " ucap Siska agar Reno dan Arisa bisa bicara berdua.
" Iya Sayang " jawab Reno.
Siska pun pergi meninggalkan Arisa dan Reno di kamar itu.
" Sudah jangan nangis lagi. Masa adik Abang ini cengeng sih " ucap Reno tersenyum pada Arisa.
Reno juga segera menghapus sisa-sisa air mata di wajah Arisa.
" Abang gak marah sama aku? Aku sudah buat Abang malu dan kecewa karena kejadian ini " ucap Arisa pada Reno karena Reno sudah pasti tahu dari Angga.
" Hust, jangan nangis " ucap Angga karena air mata Arisa jatuh kembali.
" Abang kecewa sama kamu karena kamu harus menikah dengan cara seperti ini. Abang kan mau kamu menikah nanti setelah lulus kuliah dan Abang bakal buat pesta yang meriah buat kamu. Tapi Abang gak marah dan menyalahkan takdir kamu yang memang harus kamu jalani ini. Abang juga gak mau hal-hal buruk lainnya terjadi sama kamu setelah ini. Jadi Abang izinin kamu menikah sama Pak Angga, Abang juga yakin Pak Angga itu laki-laki yang baik dan jodoh dari Allah buat kamu " lanjut Reno.
Arisa yang mendengar itu tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia pun langsung memeluk Reno dengan begitu erat.
" Terima kasih ya, Bang. Maafin aku juga sudah buat kecewa Abang " ucap Arisa sambil menangis.
" Iya, Abang bakal lakuin yang terbaik buat adik Abang ini " jawab Reno mengusap kepala Arisa.
Arisa sangat bersyukur memiliki Reno sebagai kakaknya. Dari dulu Reno selalu menjaga, merawat dan melakukan semua yang terbaik untuknya setelah kedua orang tua mereka meninggal. Perasaan yang tadi tidak karuan sekarang berubah menjadi lega.
Setelah merasa tenang, Arisa pun melepaskan pelukannya dan menghapus sisa-sisa air matanya.
" Sekarang Abang tanya sama kamu. Apa kamu siap menjadi istri Pak Angga? Pak Angga itu seorang bodyguard dari keluarga yang cukup disegani dan juga banyak musuh yang gak suka sama mereka. Pasti aja banyak juga orang gak suka dan berusaha mencelakai Pak Angga. Jadi kamu harus siap dengan apapun yang terjadi kedepannya karena pekerjaan Pak Angga penuh dengan resiko " ucap Reno pada Arisa.
Arisa yang baru mengetahui jika pekerjaan Angga adalah seorang bodyguard pun sedikit terkejut. Tapi harus siap dan menerima semua resiko yang akan terjadi kedepannya.
" Siap gak siap, Arisa harus siap Bang. Mungkin ini jalan takdir Arisa tapi Arisa yakin bisa melewati semuanya " jawab Arisa.
" Dan satu lagi, walaupun pernikahan kalian terpaksa tapi Abang gak mau kalian mempermainkan ikatan suci pernikahan. Abang kamu kalian sungguh-sungguh menjalaninya " pesan Reno pada Arisa.
" Iya Bang, Arisa gak mungkin mempermainkan ikatan pernikahan yang suci " jawab Arisa.
Setelah itu, Reno keluar dari kamar Arisa setelah sebelumnya memberitahukan jika ia dan Angga akan menikah besok.
" Semoga ini memang yang terbaik " ucap Arisa.
Arisa pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang sembab karena menangis, baru setelah itu ia pun segera beristirahat.
***
Sementara itu, Angga baru saja sampai di kediaman Keluarga Wicaksono. Angga pergi ke rumah utama untuk berbicara pada Tuan Gunawan dan Nyonya Dewi. Kebetulan mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga.
" Permisi, Tuan, Nyonya " ucap Angga menundukkan kepalanya hormat.
" Angga, ada apa? " tanya Tuan Gunawan.
" Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua " jawab Angga.
Mereka semua pun terlihat sangat penasaran karena jarang sekali Angga seperti itu.
" Duduklah, Nak " pinta Nyonya Dewi lembut.
Angga pun duduk di sofa single yang ada di sana.
" Saya ingin meminta bantuan kepada kalian semua untuk bisa mendampingi saya untuk menikahi seorang gadis. Saya juga minta tolong Tuan dan Nyonya agar bersedia menggantikan posisi kedua orang tua saya yang sudah meninggal di hari pernikahan saya besok " ucap Angga menyampaikan hal itu.
Tidak jauh berbeda dengan reaksi Reno dan Siska, mereka semua juga sangat terkejut saat Angga menyampaikan akan menikah secara tiba-tiba. Angga juga menceritakan semuanya agar mereka tidak salah paham dan mengerti mengapa ia harus menikah secepat ini.
" Kamu tidak perlu khawatir. Kami tidak akan menggantikan posisi kedua orang tua kamu karena kami juga kan orang tua kamu. Kami sudah menganggap kamu sebagai anak kami, sama seperti Andi dan Ardi " ucap Bu Dewi pada Angga.
" Terima kasih, Tuan, Nyonya. Saya sangat beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik kalian " ucap Angga terharu dengan kebaikan keluarga itu.
" Tida perlu berterima kasih, kamu melakukan ini untuk menjaga nama baik keluarga kita dan menutup celah lawan kita menghancurkan kita. Kami yang harusnya berterima kasih sama kamu " jawab Tuan Gunawan.
" Benar apa yang Ayah bilang, Kak. Kakak itu juga anggota keluarga ini jadi kami pasti akan mendampingi kakak di hari bahagia kakak besok " tambah Ardi.
" Terima kasih, Tuan Muda " ucap Angga.
Setelah itu Tuan Gunawan dan Nyonya Dewi meminta Angga untuk beristirahat. Mereka yang akan menyiapkan semua untuk dibawa ke rumah calon istri Angga. Mereka benar-benar menyiapkan itu semua seperti anak kandung mereka yang akan menikah.
Angga masuk ke dalam paviliun dan ternyata Teno masih berada di ruang tamu. Sepertinya Reno memang menunggunya.
" Gimana, Ngga? " tanya Teno pada Angga tidak sabar.
Angga mendudukkan tubuhnya dulu di sofa sebelum menjawab pertanyaan dari Teno.
" Aku akan menikah besok, Tuan Reno merestui kami " jawab Angga.
Teno pun bernapas lega karena dari tadi ia cemas jika Angga akan ditolak oleh Reno.
" Oh iya Kak, tolong carikan aku sebuah rumah. Tidak perlu besar, yang penting nyaman untuk menjadi tempat tinggal aku dan istri aku nanti " ucap Angga pada Teno.
Angga tidak mungkin mengajak Arisa tinggal di paviliun itu setelah menikah lagi, apalagi di sana juga ada Teno. Ia juga tidak ingin tinggal di rumah Reno karena ia tidak ingin hidup menumpang.
" Oke, nanti coba Abang cari " jawab Teno.
Setelah itu mereka pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena hari juga semakin malam.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments