Saat acara resepsi pernikahan itu itu selesai dan semua tamu undangan sudah pergi, Arisa juga pulang bersama Nadia dan juga kedua orang tua mendiang istrinya pertama kakaknya yang akan menginap di sana. Sedangkan kakak dan kakak iparnya itu akan menginap di hotel semalam sebelum mereka pergi bulan madu. Dan selama itu, Arisa yang akan menjaga Nadia.
" Assalamualaikum " ucap Arisa saat Bu Ijah, pembantu rumah tangga rumah itu membukakan pintu.
Bu Ijah juga sempat menghadiri acara resepsi pernikahan Reno dan Siska tapi pulang terlebih dahulu karena sudah merasa sangat lelah.
" Walaikumsalam " jawab Bu Ijah.
" Ayo Abi, Umi, masuk " ucap Arisa mempersilahkan kedua pasangan paruh baya itu masuk ke dalam rumah.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
" Silahkan, Pak, Bu, kamarnya sudah saya siapkan " ucap Bu Ijah mengantarkan pasangan paruh baya itu yang sering dipanggil dengan Abi Umar dan Ummi Fatimah.
" Iya Bu " jawab Ummi Fatimah.
" Ummi sama Abi ke kamar dulu ya, Arisa " pamit Ummi Fatimah.
" Iya Ummi. Selamat beristirahat " jawab Arisa.
Abi Umar dan Ummi Fatimah pun pergi mengikuti Bu Ijah dengan membawa tas yang sepertinya berisi pakaian ganti mereka. Abi Umar dan Ummi Fatimah memang baru datang tadi sore dan langsung pergi hotel tempat acara.
" Nadia, sekarang kamu ke kamar ganti baju terus bersih-bersih. Habis itu langsung tidur ya " ucap Arisa pada Nadia.
" Iya Tante " jawab Nadia.
" Selamat malam, ponakan Tante yang cantik " ucap Arisa tersenyum mengusap lembut kepala Nadia.
" Selamat malam juga, Tante Risa " balas Nadia.
Setelah itu Nadia pergi ke kamarnya, begitu juga dengan Arisa yang langsung menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Arisa memasuki kamar dan langsung meletakkan tas yang ia bawa di atas meja belajarnya. Ia merasa benar-benar lelah hari ini.
" Aduh, capek banget " ucap Arisa mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di samping meja rias.
Arisa melepaskan sepatu high heels yang selama hampir empat jam ini ia pakai dan membuat kakinya sangat pegal. Baru setelah itu ia menghapus make up di wajahnya karena ia merasa wajahnya tidak bisa bernapas lagi karena pori-porinya tertutup make up.
" Aku harus mandi nih, kalau enggak aku gak bakal bisa tidur nyenyak " ucap Arisa melepas hijab di kepalanya.
Arisa bangkit untuk mengambil handuk bersih dari dalam lemari lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Arisa sudah keluar dengan wajah yang lebih segar. Ia tidak ingin berlama-lama di kamar mandi karena takut masuk angin, apalagi hari sudah malam. Arisa memakai sebuah piyama panjang untuk ia tidur.
Setelah itu, Risa membuka tas miliknya untuk mengambil ponselnya. Tapi saat ia membuka tas itu, ia melihat bunga pengantin yang tadi diberikan oleh pria yang tidak ia kenal sama sekali, bahkan melihatnya saja baru tadi.
Arisa pun menjadi teringat dengan ucapan Rini jika seseorang yang diberikan bunga pengantin itu akan segera menyusul menikah dengan seseorang yang memberikannya. Itu artinya ia akan segera menikah dengan pria yang tadi.
Arisa langsung menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengeluarkan bunga itu dari dalam tasnya.
" Astaghfirullah, gak mungkin ah. Lagian itu cuma mitos kan, jodoh kan Allah yang menentukan " ucap Arisa tidak ingin mempercayai ucapan Rini tentang bunga pengantin itu.
Kemudian Arisa meletakkan bunga pengantin itu di atas meja belajarnya lalu ia beranjak naik ke atas tempat tidur. Arisa mulai membaringkan tubuhnya dan membalutnya dengan selimut agar cepat tertidur.
Tiga puluh menit berlalu tapi Arisa belum juga tidur. Ia malah memikirkan tentang bunga pengantin itu dan juga pria yang memberikannya.
" Ya ampun, kok malah kepikiran gini sih " ucap Arisa mendudukkan tubuhnya.
Arisa benar-benar frustasi karena terus saja memikirkan itu padahal ia sudah mencoba untuk memikirkan hal yang lain dan mencoba untuk tidur.
" Kayaknya aku harus balikin bunganya ke cowok itu deh, biar aku gak kepikiran terus gini. Siapa tau aku bisa ketemu lagi sama dia terus aku balikin " ucap Arisa memutuskan untuk mengembalikan bunga pengantin itu kepada pemilik yang sesungguhnya.
***
Di kamar yang berbeda, Angga masih merasa kesal kenapa harus dia yang mendapatkan bunga pengantin itu. Ia menolak untuk percaya tapi yang ia lihat beberapa dari temannya yang mendapat bunga pengantin itu pasti tidak lama juga menyusul menikah.
" Itu hanya mitos dan tidak mungkin aku menikah dalam waktu dekat " ucap Angga meyakinkan dirinya.
Tiba-tiba pintu kamar Angga terbuka dan ada seorang pria masuk ke dalam kamar itu.
" Ngga, Kakak pinjam charger HP dong. Punya Kakak putus kabelnya " ucap Teno menyampaikan tujuan ke kamar Angga.
Teno adalah kakak angkat Angga. Mereka sama-sama yatim-piatu dan mereka bertemu sebagai anak jalanan. Mereka berdua diangkat dan dirawat oleh Tuan Gunawan yang sekarang menjadi majikan mereka. Mereka diberi tempat tinggal di paviliun di belakang rumah Keluarga Wicaksono.
" Ambil saja di atas nakas " jawab Angga masih dengan perasaan kesalnya.
Teno merasa heran dengan wajah Angga yang terlihat kesal.
" Kamu kenapa kelihatan kesel gitu? Bukannya harusnya seneng ya habis dapat bunga pengantin biar cepet-cepet nyusul nikah " tanya Teno pada Angga.
Teno juga hadir dalam acara resepsi pernikahan Reno dan Siska itu. Ia melihat jika adik angkatnya itu yang mendapatkan bunga pengantin, sedangkan dirinya yang ikut berebut tidak mendapatkannya.
Angga pun bertambah kesal saat mendengar ucapan Teno.
" Ya sudah, kalau begitu bunga pengantinnya untuk Kakak saja agar Kakak cepat menikah " ucap Angga dengan wajah yang masih ditekuk.
" Ya udah mana bunganya? " ucap Teno dengan senang hati.
Teno memang mengharapkan mendapatkan bunga pengantin itu agar dirinya segera menikah. Di usianya yang sudah memasuki kepala tiga masih saja belum menikah, kekasih saja ia tidak bunga.
Mendengar itu, Angga pun teringat jika bunga itu sudah ia berikan kepada seorang gadis berhijab.
" Ah aku lupa Kak, bunganya sudah aku berikan pada gadis yang memakai hijab " ucap Angga yang baru ingat.
" Apa? " pekik Teno terkejut.
" Kamu kasih ke cewek? " tanya Teno pada Angga.
Angga pun menganggukan kepalanya. " Aku tidak menginginkan bunga itu jadi saat ada gadis berjalan di depanku kuberikan saja " jawab Angga.
" Wah, ini pasti sebentar lagi kamu nyusul nikah sama cewek itu. Kata Mang Asep, kalau kamu dapet bunga pengantin terus kamu kasih ke cewek itu berarti kami bakal cepet nyusul nikah sama cewek itu " ucap Teno mengatakan apa yang ia dengar dari Mang Asep, supir pribadi Nyonya Wicaksono.
Angga mendengus kesal mendengar itu. " Jangan asal bicara, Kak " ucap Angga yang tidak setuju dengan apa yang di katakan Teno.
" Lebih baik sekarang Kakak keluar. Aku ingin tidur " usir Angga.
Angga mendorong tubuh kakak angkatnya itu agar keluar dari kamar lalu menutupnya lagi.
" Itu tidak mungkin. Lagipula gadis itu juga sepertinya masih kecil " ucap Angga lalu mengingat wajah gadis yang tadi ia beri bunga pengantin.
" Ais, kenapa aku jadi memikirkan dia sekarang. Lebih baik aku tidur " ucap Angga lalu naik ke atas tempat tidur.
Angga menutup tubuhnya dengan selimut dan mencoba untuk tidur karena besok pagi ia harus bekerja.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Uwie Yanti
semangat Thor....💪
2023-10-25
2
Dwi Winarni Wina
nadia n angga kepikiran akan menikah muda,,,
2023-09-13
1