Arisa pergi dari taman kampus tidak lama setelah Angga pergi. Tapi saat berada di parkiran kampus, Arisa melihat Angga membukakan pintu mobil untuk seorang wanita Arisa cukup kenali.
" Itu bukannya Kak Tya ya, temannya Kak Siska. Mas Angga bilang tadi ditungguin majikannya, berarti Mas Angga itu supirnya Kak Tya " ucap Arisa pelan.
Arisa baru tahu jika itu adalah pekerjaan Angga karena ia memang mengenal Angga baru sekedar nama. Dari penampilannya, Arisa mengira Angga adalah rekan bisnis kakaknya.
" Tapi Bang Reno pasti bisa nerima Mas Angga apapun pekerjaannya. Bang Reno bukan melihat orang dari harta atau pekerjaannya " ucap Arisa sempat takut Reno tidak bisa menerima Angga sebagai calon suami dari dirinya.
Arisa melanjutkan langkahnya menuju parkiran untuk menghampiri motornya. Arisa langsung menaiki motornya itu lalu melajukannya untuk pulang ke rumah.
***
Tiga puluh menit kemudian, Arisa sudah sampai di rumah dan ia langsung memasukkan motornya ke dalam garasi karena ia tidak ada rencana untuk pergi lagi. Arisa memasuki rumah dan tidak lupa ia mengucapkan salam.
" Assalamualaikum " ucap Arisa menutup pintu utama kembali.
Tidak ada jawaban dari dalam, mungkin saja Bu Ijah sedang sibuk memasak untuk makan siang di dapur sehingga tidak mendengar saat ia mengucapkan salam.
" Mungkin Bu Ijah lagi masak di dapur " gumam Arisa.
Arisa pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi depan meja rias setelah meletakkan tas dan melepaskan sepatunya. Ia menatap wajahnya sendiri dengan sebuah plaster yang menutup luka di keningnya.
Arisa memegang plaster itu lalu tersenyum tipis. Ia kembali mengingat wajah tampan Angga saat sedang mengobati lukanya.
Deg deg deg.
Jantung Arisa pun berdegup kencang saat itu tanpa bisa ia kendalikan.
" Astaghfirullah, aku ini kenapa? " ucap Arisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Entah mengapa sekarang yang terbayang di matanya adalah wajah tampan Angga. Apa mungkin ia sudah jatuh cinta pada Angga yang baru ia temui sebanyak tiga kali.
" Masa aku jatuh cinta sih sama Mas Angga? Tapi apa bener ini jatuh cinta? Aku kan belum pernah jatuh cinta sebelumnya " ucap Arisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Arisa belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya bukan karena tidak mau ataupun Reno melarangnya tapi memang belum ada laki-laki yang bisa menarik perhatiannya.
" Kata Rini kalau jatuh cinta itu bakal deg degan dan sekarang aku rasain itu. Gak papa kan kalau aku jatuh cinta sama Mas Angga. Dia adalah laki-laki yang punya niat buat nikahin aku walaupun terpaksa. Emang seharusnya kan aku belajar mencintai dia " ucap Arisa lagi merasa bukan hal yang salah jika ia jatuh cinta pada Angga, calon suaminya itu.
Daripada semakin pusing memikirkan ia jatuh cinta pada Angga atau tidak, Arisa memilih untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya karena ada noda darah di hijab yang ia pakai. Arisa masuk ke kamar mandi dengan membawa sebuah handuk bersih.
Tidak butuh waktu lama, Arisa sudah selesai membersihkan diri. Arisa segera memakai pakaiannya lalu bersiap-siap untuk sholat dzuhur karena suara azan sudah terdengar.
Setelah selesai melaksanakan sholat dzuhur di kamarnya, Arisa keluar dengan menggunakan pakaian rumahan dan tanpa hijab karena hanya ada Bu Ijah di dalam rumah itu, sedangkan Pak Rusli akan selalu berjaga di pos satpam dan untuk makanan Bu Ijah yang akan mengantarkannya ke sana.
" Sudah siap makan siangnya, Bu? " tanya Arisa saat sudah berada di meja makan.
" Sudah, Non " jawab Bu Ijah yang baru selesai mengisi gelas dengan air putih.
Saat melihat Arisa, Bu Ijah sangat terkejut saat melihat ada plaster di kening Arisa.
" Astaghfirullah Non, itu dahi Non Arisa kenapa? " tanya Bu Ijah khawatir Arisa kenapa-napa.
" Ah ini gak papa Bu, tadi gak sengaja nabrak pohon karena jalannya gak fokus terus dapet luka kecil ini deh " jawab Arisa tersenyum menunjukkan deretan giginya agar Bu Ijah tidak khawatir.
" Tapi beneran gak papa kan, Non? Cuma luka kecil aja kan? " tanya Bu Ijah memastikan.
" Iya Bu. Ibu gak perlu khawatir " jawab Arisa tersenyum.
Setelah itu Arisa pun duduk di kursi yang biasa ia duduki. Arisa juga mengajak Bu Ijah untuk makan siang bersama dan menemani dirinya yang tidak ingin makan siang sendirian. Bu Ijah yang sempat menolak pun akhirnya menurut karena Arisa terus memaksanya.
" Makan siang buat Pak Rusli sudah diantar, Bu? " tanya Arisa pada Bu Ijah.
" Sudah, Non " jawab Bu Ijah.
" Ya sudah, kalau gitu sekarang kita makan " ucap Arisa.
Arisa mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri lalu bergantian dengan Bu Ijah. Mereka makan siang berdua dengan tenang hingga makanan di piring mereka masing-masing habis.
" Nanti aja diberesinnya, Bu. Arisa mau ngobrol dulu sama Bu Ijah " ucap Arisa saat Bu Ijah akan membereskan bekas makan mereka.
Bu Ijah pun akhirnya duduk kembali dan mendengarkan apa yang akan diobrolkan oleh Arisa dengan dirinya.
" Ada apa, Non? " tanya Bu Ijah pada Arisa karena Arisa tidak kunjung berbicara.
" Arisa boleh denger gak Bu, cerita Ibu waktu jatuh cinta sama Pak Rusli " ucap Arisa pada Bu Ijah.
Arisa memilih bertanya agar ia tahu apa yang ia rasakan ini jatuh cinta atau bukan.
Bu Ijah tersenyum dan mengingat masa mudanya bersama Pak Rusli. " Baiklah, Ibu akan cerita sama Non Arisa " ucap Bu Ijah.
Arisa merasa senang mendengar itu dan bersiap mendengar cerita dari Bu Ijah.
" Ibu sama Pak Rusli itu pertama kali bertemu di terminal bus saat kami sama-sama merantau di Jakarta. Pak Rusli menolong Ibu saat ibu hampir kecopetan. Melihat Pak Rusli yang saat itu masih muda dan tampan membuat ibu jatuh cinta pada pandangan pertama, apalagi Pak Rusli juga jadi sosok pahlawan bagi ibu. Jantung ibu selalu deg degan kalau di dekat Pak Rusli. Kami terus bersama dan sering bertemu kalau libur kerja. Sampai akhirnya Pak Rusli bilang suka sama ibu dan berniat menikahi ibu. Pak Rusli datang ke rumah ibu bicara sama orang tua ibu dan tidak lama kami menikah sampai sekarang ini " ucap Bu Ijah menceritakan perjalanan cintanya dengan Pak Rusli.
" Jadi mungkin aja aku jatuh cinta sama Mas Angga karena dari cerita Bu Ijah hampir sama kayak aku " ucap Arisa dalam hati setelah Bu Ijah selesai bercerita.
Arisa pun tersenyum mengingat Angga dan berharap semoga Angga juga merasakan hal yang sama agar lebih mudah mereka menjalani pernikahan yang berawal dari keterpaksaan.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih 😊🙏 Tetap dukung saya ya 😘
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " 😊🙏
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Gadis Taurus
Arisa: Gak papa kan, sama calon suami sendiri juga hehe😁
2023-10-25
1
Uwie Yanti
cieeeeee Arisa.... dh JTC ya ma Angga..... 😘😆
2023-10-25
2