Davira menggeliat di atas kasur berukuran king size yang dia tempati, ia mengerjapkan matanya beberapa kali ketika telinganya mendengar suara keributan di luar kamarnya. Dia baru saja tidur sekitar 2 jam, tapi sekarang harus terbangun membuatnya berdecak kesal.
Dor!
Davira terperanjat kaget dan segera melompat dari atas tempat tidurnya yang empuk. Matanya yang masih terasa berat terpaksa harus terbuka lebar.
"Sial, ada apa ini?" gumamnya langsung mengambil pistol yang berada di dalam lacinya.
Davira menggelengkan kepalanya cepat saat rasa pusing menghampirinya.
Jantungnya kini terasa berdebar-debar, matanya melirik jarum jam dinding yang menunjukkan pukul 2 malam.
Dor!
Dor!
Suara tembakan beruntun terdengar nyaring membuat Davira segera membuka pintu kamarnya dan menyembulkan sedikit kepalanya untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Matanya melebar melihat puluhan orang bertopeng kini menembaki para pelayan dan juga anak buahnya yang tentu saja balas menembak.
"Sial, bagaimana bisa mansion ini diserang?"
Tanpa pikir panjang, Davira yang saat ini sedang menggunakan gaun tidur yang panjangnya sampai mata kaki segera keluar dari kamarnya dan langsung menarik pelatuknya.
Dor!
Kepala salah satu dari orang yang menyerang mereka kini ditembus oleh timah panas yang berasal dari pistolnya.
"Apa yang Nona lakukan? Sebaiknya Nona kembali masuk ke dalam kamar!" teriak salah satu anak buahnya berusaha untuk melindunginya.
Namun Davira tidak menghiraukannya dan membalas tembakan orang-orang bertopeng itu. Dia tidak ingin hanya diam di kamar dan bersembunyi yang ujung-ujungnya orang-orang itu akan tetap menemukannya.
Davira terus mengumpat ketika melihat mayat para pelayannya yang bergelimpangan di lantai dengan bersimbah darah.
"Siapa yang menyuruh kalian sialan?!" teriak Davira begitu marah.
Dor!
Anak buahnya terus berjatuhan membuat Davira mulai merasa panik. Dia segera berlari sekencang mungkin mencari keberadaan Gaffar dan juga Roselyn Choi, yaitu Mama-nya.
Dengan cepat Davira berlari menuruni anak tangga yang begitu panjang yang akan membawanya ke lantai 2, wanita itu segera membuka pintu lift. Alangkah kagetnya ia saat matanya melihat sosok neneknya yang terbaring bersimbah darah dengan kepala yang berlubang.
Davira menutup mulutnya, matanya terasa begitu memanas. Namun melihat orang-orang bertopeng itu semakin dekat membuat Davira segera masuk dan menutup pintu lift itu dengan cepat.
"Nenek," Davira terisak sembari berjongkok, tangannya bergetar menyentuh tubuh sang nenek yang sudah tidak bernyawa.
Tidak dia sangka bahwa akan melihat neneknya dalam keadaan seperti sekarang ini. Selama hidupnya dia begitu menghormati sang nenek yang sangat tegas dan juga keras, tapi dibalik sikap neneknya itu terdapat kasih sayang yang luar biasa kepadanya.
Ting!
Suara pintu lift yang terbuka membuat Davira buru-buru berdiri sembari menyeka kasar air mata yang membasahi pipinya. Davira terbelalak kaget melihat ada dua pria bertopeng sudah menghadangnya.
Tanpa aba-aba Davira langsung menarik pelatuknya dan menembak kedua orang itu secara bergantian tanpa sempat mereka menghindar ataupun balas menyerang.
Davira berjongkok dan membuka topeng orang-orang itu, tangannya terkepal kuat saat melihat ada tatto kecil di leher kedua orang itu. Tatto yang membentuk sebuah naga dan huruf X yang dia tahu dibuat oleh keluarga Xie sebagai tanda untuk orang-orang Mereka.
Itu artinya orang-orang yang sekarang menyerang mansion-nya adalah suruhan keluarga Xie, pikir Davira. Wanita itu segera bangkit dan berlari menuju ke kamar Papa dan Mama-nya.
Tiba-tiba saja Gaffar terlihat dilempar keluar kamar dengan peluru yang sudah bersarang di perut buncitnya.
"Papa!" teriak Davira semakin mempercepat langkahnya untuk mendekat, Gaffar menoleh kepadanya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Dor!
"Aaaaa Papa!"
Teriakan Davira menggema saat melihat kepala Gaffar yang hancur di depan matanya. Nafas Davira sampai tercekat, dia menatap jasad Papa-nya tidak percaya. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa sempat ia hentikan.
"Davira lari!" teriakan Roselyn terdengar bersamaan dengan munculnya 2 orang pria bersenjata dari dalam kamar kedua orang tuanya.
Roselyn terlihat diseret dengan ditarik di rambutnya, wajah Mama-nya terlihat memar karena pukulan.
Davira segera mengarahkan pistolnya, namun saat dia menarik pelatuknya, tidak ada apapun yang terjadi karena ternyata peluru didalamnya sudah habis.
"Lari Davira!"
Dor!
"Mama!" teriak Davira melihat Mama-nya yang ditembak begitu saja hingga kini tergeletak di samping jasad Papa-nya.
Tubuh Davira mulai gemetar melihat apa yang terjadi, dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang begitu singkat. Di depan matanya, tanpa bisa ia cegah sebelumnya.
Davira segera mengambil pistol milik dua orang yang tadi dia tembak dan langsung menembakkan pelurunya ke arah salah satu dari orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya.
Namun bersamaan dengan itu, peluru juga dilepaskan ke arahnya.
"Akhh....."
Davira seketika terjatuh membentur lantai dengan sangat keras ketika satu butir peluru kini tertanam di dada kanannya. Darah segar mengalir deras dari sana, pandangannya mulai terasa buram.
Satu tetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya ketika dia melihat kedua orang tuanya yang tergeletak dengan sudah tidak bernyawa.
Tangan Davira terkepal kuat bersamaan dengan rasa bencinya kepada keluarga Xie yang semakin menguat. Kesadarannya mulai berangsur-angsur menghilang secara perlahan membuatnya kini ditelan oleh kegelapan.
π_π
Kelopak mata wanita cantik itu perlahan terbuka, dia menatap langit-langit berwarna putih di atasnya hingga tersadar akan sesuatu yang membuatnya langsung berusaha berdiri.
"Papa!" teriaknya berharap bahwa apa yang terjadi pada malam itu hanyalah mimpi, namun keadaannya sekarang menjelaskan kepadanya bahwa malam itu semuanya benar-benar terjadi.
Dia bangun dalam keadaan terbaring lemah dengan infus yang terpasang di tangannya, Davira langsung menarik paksa infus itu membuat darah segar mengalir dari punggung tangannya.
"Davira," terlihat Damian yang baru saja memasuki ruangan bersama dengan seorang dokter wanita.
Damian segera menghampiri Davira yang sedang duduk di atas kasurnya dan terlihat tengah berusaha untuk bisa berdiri di saat tubuhnya masih begitu lemah.
"Damian, bagaimana keadaan Papa dan Mama?" tanya Davira dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Damian langsung memeluk erat tubuh kekasihnya.
"Damian jawab! Papa dan Mama baik-baik saja kan?!" Davira terisak sembari meronta-ronta di dalam pelukan Damian.
Dengan diamnya Damian membuat dia mengerti bahwa malam itu dia memang benar-benar sudah kehilangan semuanya.
Davira menggelengkan kepalanya cepat, dia masih merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. Hanya dalam waktu satu malam, semua yang dia miliki dipaksa pergi darinya.
"Ini tidak mungkin Damian! I-ini pasti mimpi!" teriaknya membuat pria itu semakin mengeratkan pelukannya mencoba untuk menenangkan.
"Semuanya akan baik-baik saja, Davira," bisik Damian dangan tangan yang mengusap lembut kepala Davira.
"Orang-orang itu tiba-tiba saja datang, Damian. Mereka menembaki semuanya, nenek juga dibunuh," tubuh Davira sampai bergetar hebat, tangisannya pecah mengisi kamar hotel yang disediakan oleh Damian untuknya.
"Katakan, siapa orang-orang itu? Aku tidak menemukan siapapun selain jasad keluarga Handoko saat memeriksa mansion-mu."
Damian melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Davira, dia mengusap air mata wanita itu dengan jempolnya.
"Aku yakin orang-orang itu adalah suruhan keluarga Xie, mereka yang berada dibalik penyerangan itu," Davira meremas kuat baju yang dia kenakan.
"Apa kau yakin? Dari mana kau mengetahuinya?" tanya Damian sembari meraih tangan Davira untuk dia genggam.
"Ada tanda di leher salah satu dari mereka, apakah jasad mereka sama sekali tidak ada di mansion? Karena beberapa dari mereka berhasil kami bunuh."
"Tidak ada jasad siapapun selain keluarga Handoko, Davira. Dan kau adalah satu-satunya yang selamat dari penyerangan di malam ini."
Mendengar hal itu membuat hati Davira semakin terasa perih, itu artinya bibi, paman dan sepupunya juga berhasil dibunuh oleh mereka semua.
"Berarti jasad orang-orang itu sudah lebih dulu dibawa sebelum kau sampai," gumam Davira sembari menyeka air matanya.
"Kapan kau datang ke mansion ku?" tanya Davira penasaran.
"Sekitar jam 6 pagi aku baru mendapatkan kabar bahwa mansion mu terbakar, Davira. Aku sangat panik dan langsung memeriksa ke mansion mu, ternyata seluruh keluarga Handoko sudah dilarikan ke rumah sakit termasuk dirimu. Aku bersyukur kau masih selamat, Davira."
Tangan Damian bergerak merapikan rambut Davira yang saat ini acak-acakan.
"Jadi mansion ku dibakar? Tunggu, berapa hari aku tidak sadarkan diri?"
"Dua hari, kau di operasi untuk mengeluarkan peluru di dada kananmu. Beruntung bukan jantungmu yang ditembak."
"Apakah pemakaman sudah dilakukan?"
"Belum, pemakaman akan dilakukan setelah kau sudah sadarkan diri dan pulih. Jadi saat ini jasad keluargamu masih berada di rumah sakit," jawab Damian membuat Davira ingin segera beranjak dari ranjangnya, namun Damian segera menahan kedua pundak wanita itu.
"Kau masih belum pulih, Davira. Kita akan melihat jasad keluargamu dan melakukan pemakaman, tapi tidak sekarang," Damian kembali membawa tubuh Davira ke dalam pelukannya, membiarkan wanita itu menangis sejadi-jadinya dan menumpahkan air mata di dada bidangnya.
"Aku harus membalas semua ini, Damian. Keluarga Xie benar-benar sudah keterlaluan! Mereka begitu berani menghabisi hampir seluruh keluarga Handoko, aku akan membunuh mereka!" teriak Davira penuh dengan emosi.
"Tenanglah, Davira. Untuk balas dendam, kau harus sembuh terlebih dahulu. Aku berjanji akan membantumu, aku tidak terima jika kau dan keluargamu dilukai seperti ini. Mereka akan berurusan dengan keluarga Lee sekarang."
Continue...........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Berdo'a saja
kok curiga sama Damian yaa, jangan jangan Damian... .. entahlah
2023-06-03
1