Khadijah menggeliat, "Siapa sih berisik banget pagi-pagi." Setengah mendumel wanita itu mempererat pelukannya pada Khoirul.
Sofa sekecil itu dipaksa menampung dua beban dalam semalam. Lengan Khadijah sampai kesemutan. Dia tidak tahan lagi untuk melempar beban dalam pelukannya. Dengan satu sikutan, pria di sampingnya terjatuh.
Brukk!!!
"Auu," pekik Khoirul.
"Pak Khoirul tidak apa-apa? Kok teriak? Saya buka ya?" tanya satpam cemas.
Seketika kesadaran Khadijah dan Khoirul kembali. Dua orang itu saling berpandangan penuh arti, lalu wajah mereka bersemu merah. Khadijah ternganga, dia sudah membuka mulut untuk berteriak, tapi Khoirul dengan sigap menutup mulut istrinya itu.
Khoirul terpekik tanpa suara karena kakinya terantuk kaki sofa. "Diamlah! Ada Pak satpam."
Khadijah mengangguk. Khoirul melepas telapak tangannya setelah melihat Khadijah bisa dipercaya.
"Apa yang bapak lakukan pada saya?" bisik Khadijah. Dia menarik pakaiannya untuk menutup sesuatu yang tidak seharusnya.
"Bukan saya lakukan tapi kita lakukan. Cepat pakai pakaian kamu. Sembunyi di belakang meja, saya harus menemui Pak Satpam," gumam Khoirul. Dia lupa kalau tubuhnya juga sama persis dengan Khadijah. Seenaknya dia berjalan ke arah pintu.
"Pak," bisik Khadijah.
"Apa lagi?"
"Itu," tunjuk Khadijah dengan muka tertutup telapak tangannya, tapi ada celah yang bisa membuatnya melihat ke arah mata Khoirul.
Khoirul menepuk jidatnya, "Astaga."
Bak orang bodoh yang teledor, Khoirul cepat-cepat memakai pakaiannya. Dia melihat ke arah Khadijah yang juga melakukan hal yang sama. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Dia menolak lupa apa yang terjadi semalam. Kalau diulang kembali pasti lebih nikmat.
Sialnya seseorang di depan pintu terlalu mengganggu.
"Tunggu sebentar, Pak," ucap Khoirul akhirnya. Barulah satpam itu berhenti berteriak.
Khadijah cepat-cepat beralih ke belakang meja, berjongkok di sana dengan membawa serta sepatu miliknya. Dia menahan napas, takut jika ketahuan. Bagaimana ini? Kenapa dia bisa teledor? Semalam apa yang terjadi sampai dia bisa tertidur di sana?
Jangan-jangan aku diberi minuman aneh, batin Khadijah curiga.
Khoirul membuka pintu dengan jarak yang hanya bisa dijangkau oleh satu orang. Dilihatnya satpam membawa bungkusan yang berlabel undangan pernikahan. "Ada apa, Pak?"
Satpam itu menatap Khoirul dengan curiga, "Bapak tidur di sini?"
"Em, iya, Pak. Ketiduran. Banyak tugas kemarin."
"Rambutnya berantakan sekali. Saya baru sekali ini melihat bapak tidak menyisir rambut," komentar satpam itu sembari memberikan barang milik Khoirul. Dia melihat ke arah Khoirul yang tengah menyisir rambutnya, "ini ada undangan dari Miss Tiara, Pak."
"Terimakasih, Pak."
"Saya permisi dulu."
"Iya."
Khoirul menutup pintu dengan penuh kelegaan. Beruntung dia tidak ketahuan. Sial! Kenapa dia bisa lupa diri?
"Sudah pergi," ucapnya pada Khadijah.
Khadijah melongokkan kepalanya, "Sudah ya?"
"Sudah. Duduklah!"
Khoirul menaruh bungkusan tersebut di atas meja. Dia membukanya karena baunya menggoda. Ternyata catering pagi dan roti dengan kemasan spesial. Undangan yang tampak berat itu dilihat sekilas, lalu diletakkan di sampingnya.
"Kita bisa sarapan di sini," ucap Khoirul.
Khadijah merengut, "Bapak masih bisa santai?"
"Kenapa nggak? Saya lapar. Sepertinya enak."
Dia punya sopan santun nggak sih? Aku kan jadi malu kalau harus duduk berdua lagi. Setelah semalam melakukan hubungan suami istri, lalu hampir ketahuan sekarang harus sarapan berdua? Gila sekali, batin Khadijah mendumel.
"Ngapain sih malu? Saya sudah melihat semuanya semalam," gumam Khoirul seakan tahu apa yang dipikirkan Khadijah.
Khadijah duduk dengan bibir mengerucut, "Ini pertama kalinya untuk saya, Pak. Bapak juga kenapa harus melakukannya di kampus? Tempatnya sempit, kurang nyaman. Lengan saya sakit."
"Mana yang sakit? Saya periksa dulu," ucap Khoirul. Dia mengacuhkan makanan tersebut dan mengambil alih lengan Khadijah, "saya usap ya?"
"Jangan, Pak!" cegah Khadijah. Jantungnya sudah bergemuruh hebat. Dia menyesal kenapa mau menuruti Khoirul.
"Kenapa?" tanya Khoirul dengan suara serak.
"Saya ... saya .... gugup," aku Khadijah.
Khoirul tersenyum geli, "Manisnya. Saya suka kalau sikap kamu begini, Dijah. Kalau tahu kamu bisa begini, saya akan memaksa kamu."
"Bapak, tolonglah! Jangan bicara terlalu frontal."
"Kamu mau bolos nggak?"
"Hah? Bapak meminta saya bolos? Jangan-jangan bapak amnesia," cerca Khadijah. Ditatapnya suaminya dengan bingung, "nggak biasanya."
"Saya ingin mengajak kamu bulan madu. Saya booking hotel ya? Tunggu sebentar. Saya juga akan meminta izin untuk kamu pada dosen yang lain," jelas Khoirul.
Tunggu-tunggu! Kenapa Khadijah tidak bisa menolak? Jangan-jangan dia juga telah terpikat pada malam pertama mereka?
"Mau atau nggak?" tanya Khoirul dengan nada tidak sabaran.
Refleks Khadijah mengangguk, "Ma-mau, Pak."
"Bagus."
°°°
Bukan hanya hotel bintang empat tapi bintang lima, Khoirul sudah membooking satu kamar dengan satu ranjang berukuran besar. Dia bahkan sudah mencari informasi mengenai malam pertama melalui internet karena menurutnya dia tidak punya pendidikan apa-apa mengenai hal satu itu.
Mereka mampir sebentar ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian dan perlengkapan lainnya. Khoirul yang memilih semua termasuk underwear untuk Khadijah. Entah kenapa Khadijah tidak melakukan apapun. Dia hanya menunduk, mendengus pelan dan menjawab Khoirul dengan dua kata saja.
"Saya sudah ambil kuncinya," ucap Khoirul sembari menggenggam tangan istrinya. Ah, dunia begitu indah.
"Em, iya, Pak."
"Panggil Sayang."
"Nggak mau, Pak," tolak Khadijah.
Ting!
Lift terbuka. Khoirul dan Khodijah masuk. Khoirul masih belum puas dengan jawaban istrinya, dia menggenggam lebih erat lagi jari-jari mungilnya.
"Saya gugup, Dijah," ucap Khoirul.
Khadijah menoleh, "Bapak juga? Kok bisa?"
"Kenapa nggak? Ini juga kali pertama saya."
"Bapak kan sudah berumur kok masih gugup? Belum pernah jalan sama teman cewek ya? Atau bapak tipe introvert?"
"Benar. Saya jarang sekali bertatap muka dengan orang lain kalau nggak ada kepentingan. Jadi, bisa dibilang kita ada kesamaan. Sama-sama bukan orang yang suka berganti pasangan."
"Bapak salah," koreksi Khadijah.
Ting!
Lift terbuka. Mereka keluar dari ruangan itu. Dalam perjalanan menuju kamar mereka, Khadijah sengaja diam membuat Khoirul penasaran. Hingga mereka sampai di dalam kamar, Khoirul tidak mengindahkan pertanyaan Khadijah mengenai apa yang akan mereka makan nanti.
"Apa yang ingin kamu katakan tadi, Dijah? Jangan setengah-setengah bisa nggak?" gerutu Khoirul.
Khadijah memutar bola matanya, "Seenggaknya saya pernah memberi harapan palsu pada semua orang, Pak. Beda dengan bapak yang bahkan nggak tahu apa itu cinta kan? Atau jangan-jangan bapak..,"
Cup!
Jari-jari Khoirul membimbing Khadijah untuk diam. Dia mengeratkan pegangannya pada lengan istrinya. Sementara bagian yang lain sibuk membuat kecupan mesra. Oh, tidak!
Khadijah tergagap. Udara di dalam mulutnya seolah habis tidak tersisa. Jangankan menarik napas, menyingkirkan kepalanya saja dia hampir kewalahan.
Tepukan di punggung Khoirul membuat pria itu akhirnya berhenti.
Sepasang pipi merona itu menatap Khadijah bingung, "Ada apa?"
"Pelan, Pak Khoirul," sungut Khadijah sembari mengusap bibirnya yang merah.
"Ah, maaf. Saya terlalu bersemangat. Candu sekali soalnya," gumam Khoirul malu.
"Benar-benar nggak habis pikir."
°°°°
Tiga puluh menit kemudian ...
"Dijah, bisa tolong gosokkan badan saya?" teriak Khoirul dari kamar mandi.
Khadijah yang masih malas beranjak dari tempat tidur berteriak, "Ogah, Pak. Paling nanti ujung-ujungnya begitu. M-A-L-A-S!"
"Awas ya kamu," ancam Khoirul.
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments