Bab 20 - Awas Ya, Kamu!

Khadijah menggeliat, "Siapa sih berisik banget pagi-pagi." Setengah mendumel wanita itu mempererat pelukannya pada Khoirul.

Sofa sekecil itu dipaksa menampung dua beban dalam semalam. Lengan Khadijah sampai kesemutan. Dia tidak tahan lagi untuk melempar beban dalam pelukannya. Dengan satu sikutan, pria di sampingnya terjatuh.

Brukk!!!

"Auu," pekik Khoirul.

"Pak Khoirul tidak apa-apa? Kok teriak? Saya buka ya?" tanya satpam cemas.

Seketika kesadaran Khadijah dan Khoirul kembali. Dua orang itu saling berpandangan penuh arti, lalu wajah mereka bersemu merah. Khadijah ternganga, dia sudah membuka mulut untuk berteriak, tapi Khoirul dengan sigap menutup mulut istrinya itu.

Khoirul terpekik tanpa suara karena kakinya terantuk kaki sofa. "Diamlah! Ada Pak satpam."

Khadijah mengangguk. Khoirul melepas telapak tangannya setelah melihat Khadijah bisa dipercaya.

"Apa yang bapak lakukan pada saya?" bisik Khadijah. Dia menarik pakaiannya untuk menutup sesuatu yang tidak seharusnya.

"Bukan saya lakukan tapi kita lakukan. Cepat pakai pakaian kamu. Sembunyi di belakang meja, saya harus menemui Pak Satpam," gumam Khoirul. Dia lupa kalau tubuhnya juga sama persis dengan Khadijah. Seenaknya dia berjalan ke arah pintu.

"Pak," bisik Khadijah.

"Apa lagi?"

"Itu," tunjuk Khadijah dengan muka tertutup telapak tangannya, tapi ada celah yang bisa membuatnya melihat ke arah mata Khoirul.

Khoirul menepuk jidatnya, "Astaga."

Bak orang bodoh yang teledor, Khoirul cepat-cepat memakai pakaiannya. Dia melihat ke arah Khadijah yang juga melakukan hal yang sama. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Dia menolak lupa apa yang terjadi semalam. Kalau diulang kembali pasti lebih nikmat.

Sialnya seseorang di depan pintu terlalu mengganggu.

"Tunggu sebentar, Pak," ucap Khoirul akhirnya. Barulah satpam itu berhenti berteriak.

Khadijah cepat-cepat beralih ke belakang meja, berjongkok di sana dengan membawa serta sepatu miliknya. Dia menahan napas, takut jika ketahuan. Bagaimana ini? Kenapa dia bisa teledor? Semalam apa yang terjadi sampai dia bisa tertidur di sana?

Jangan-jangan aku diberi minuman aneh, batin Khadijah curiga.

Khoirul membuka pintu dengan jarak yang hanya bisa dijangkau oleh satu orang. Dilihatnya satpam membawa bungkusan yang berlabel undangan pernikahan. "Ada apa, Pak?"

Satpam itu menatap Khoirul dengan curiga, "Bapak tidur di sini?"

"Em, iya, Pak. Ketiduran. Banyak tugas kemarin."

"Rambutnya berantakan sekali. Saya baru sekali ini melihat bapak tidak menyisir rambut," komentar satpam itu sembari memberikan barang milik Khoirul. Dia melihat ke arah Khoirul yang tengah menyisir rambutnya, "ini ada undangan dari Miss Tiara, Pak."

"Terimakasih, Pak."

"Saya permisi dulu."

"Iya."

Khoirul menutup pintu dengan penuh kelegaan. Beruntung dia tidak ketahuan. Sial! Kenapa dia bisa lupa diri?

"Sudah pergi," ucapnya pada Khadijah.

Khadijah melongokkan kepalanya, "Sudah ya?"

"Sudah. Duduklah!"

Khoirul menaruh bungkusan tersebut di atas meja. Dia membukanya karena baunya menggoda. Ternyata catering pagi dan roti dengan kemasan spesial. Undangan yang tampak berat itu dilihat sekilas, lalu diletakkan di sampingnya.

"Kita bisa sarapan di sini," ucap Khoirul.

Khadijah merengut, "Bapak masih bisa santai?"

"Kenapa nggak? Saya lapar. Sepertinya enak."

Dia punya sopan santun nggak sih? Aku kan jadi malu kalau harus duduk berdua lagi. Setelah semalam melakukan hubungan suami istri, lalu hampir ketahuan sekarang harus sarapan berdua? Gila sekali, batin Khadijah mendumel.

"Ngapain sih malu? Saya sudah melihat semuanya semalam," gumam Khoirul seakan tahu apa yang dipikirkan Khadijah.

Khadijah duduk dengan bibir mengerucut, "Ini pertama kalinya untuk saya, Pak. Bapak juga kenapa harus melakukannya di kampus? Tempatnya sempit, kurang nyaman. Lengan saya sakit."

"Mana yang sakit? Saya periksa dulu," ucap Khoirul. Dia mengacuhkan makanan tersebut dan mengambil alih lengan Khadijah, "saya usap ya?"

"Jangan, Pak!" cegah Khadijah. Jantungnya sudah bergemuruh hebat. Dia menyesal kenapa mau menuruti Khoirul.

"Kenapa?" tanya Khoirul dengan suara serak.

"Saya ... saya .... gugup," aku Khadijah.

Khoirul tersenyum geli, "Manisnya. Saya suka kalau sikap kamu begini, Dijah. Kalau tahu kamu bisa begini, saya akan memaksa kamu."

"Bapak, tolonglah! Jangan bicara terlalu frontal."

"Kamu mau bolos nggak?"

"Hah? Bapak meminta saya bolos? Jangan-jangan bapak amnesia," cerca Khadijah. Ditatapnya suaminya dengan bingung, "nggak biasanya."

"Saya ingin mengajak kamu bulan madu. Saya booking hotel ya? Tunggu sebentar. Saya juga akan meminta izin untuk kamu pada dosen yang lain," jelas Khoirul.

Tunggu-tunggu! Kenapa Khadijah tidak bisa menolak? Jangan-jangan dia juga telah terpikat pada malam pertama mereka?

"Mau atau nggak?" tanya Khoirul dengan nada tidak sabaran.

Refleks Khadijah mengangguk, "Ma-mau, Pak."

"Bagus."

°°°

Bukan hanya hotel bintang empat tapi bintang lima, Khoirul sudah membooking satu kamar dengan satu ranjang berukuran besar. Dia bahkan sudah mencari informasi mengenai malam pertama melalui internet karena menurutnya dia tidak punya pendidikan apa-apa mengenai hal satu itu.

Mereka mampir sebentar ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian dan perlengkapan lainnya. Khoirul yang memilih semua termasuk underwear untuk Khadijah. Entah kenapa Khadijah tidak melakukan apapun. Dia hanya menunduk, mendengus pelan dan menjawab Khoirul dengan dua kata saja.

"Saya sudah ambil kuncinya," ucap Khoirul sembari menggenggam tangan istrinya. Ah, dunia begitu indah.

"Em, iya, Pak."

"Panggil Sayang."

"Nggak mau, Pak," tolak Khadijah.

Ting!

Lift terbuka. Khoirul dan Khodijah masuk. Khoirul masih belum puas dengan jawaban istrinya, dia menggenggam lebih erat lagi jari-jari mungilnya.

"Saya gugup, Dijah," ucap Khoirul.

Khadijah menoleh, "Bapak juga? Kok bisa?"

"Kenapa nggak? Ini juga kali pertama saya."

"Bapak kan sudah berumur kok masih gugup? Belum pernah jalan sama teman cewek ya? Atau bapak tipe introvert?"

"Benar. Saya jarang sekali bertatap muka dengan orang lain kalau nggak ada kepentingan. Jadi, bisa dibilang kita ada kesamaan. Sama-sama bukan orang yang suka berganti pasangan."

"Bapak salah," koreksi Khadijah.

Ting!

Lift terbuka. Mereka keluar dari ruangan itu. Dalam perjalanan menuju kamar mereka, Khadijah sengaja diam membuat Khoirul penasaran. Hingga mereka sampai di dalam kamar, Khoirul tidak mengindahkan pertanyaan Khadijah mengenai apa yang akan mereka makan nanti.

"Apa yang ingin kamu katakan tadi, Dijah? Jangan setengah-setengah bisa nggak?" gerutu Khoirul.

Khadijah memutar bola matanya, "Seenggaknya saya pernah memberi harapan palsu pada semua orang, Pak. Beda dengan bapak yang bahkan nggak tahu apa itu cinta kan? Atau jangan-jangan bapak..,"

Cup!

Jari-jari Khoirul membimbing Khadijah untuk diam. Dia mengeratkan pegangannya pada lengan istrinya. Sementara bagian yang lain sibuk membuat kecupan mesra. Oh, tidak!

Khadijah tergagap. Udara di dalam mulutnya seolah habis tidak tersisa. Jangankan menarik napas, menyingkirkan kepalanya saja dia hampir kewalahan.

Tepukan di punggung Khoirul membuat pria itu akhirnya berhenti.

Sepasang pipi merona itu menatap Khadijah bingung, "Ada apa?"

"Pelan, Pak Khoirul," sungut Khadijah sembari mengusap bibirnya yang merah.

"Ah, maaf. Saya terlalu bersemangat. Candu sekali soalnya," gumam Khoirul malu.

"Benar-benar nggak habis pikir."

°°°°

Tiga puluh menit kemudian ...

"Dijah, bisa tolong gosokkan badan saya?" teriak Khoirul dari kamar mandi.

Khadijah yang masih malas beranjak dari tempat tidur berteriak, "Ogah, Pak. Paling nanti ujung-ujungnya begitu. M-A-L-A-S!"

"Awas ya kamu," ancam Khoirul.

°°°

Episodes
1 Bab 1 - Pak Muka Killer
2 Bab 2 - Apa Kita Perlu Melakukan Malam Pertama?
3 Bab 3 - Saya Kira Bapak Nggak Sadar Diri
4 Bab 4 - Kok Kalian Sama-sama Merah Dahinya?
5 Bab 5 - Kamu Istrinya Pak Khoirul, Dijah?
6 Bab 6 - Bapak Terlalu Kolot!
7 Bab 7 - STOP!
8 Bab 8 - Dijah, Apa Saya Boleh Meminta Hak Saya?
9 Bab 9 - CUP!!!
10 Bab 10 - Mampus Saya, Pak!
11 Bab 11 - Keluar Dari Kelas Saya!
12 Bab 12 - Kabur
13 Bab 13 - Ikut Saya ke Ruangan Saya!
14 Bab 14 - Makan Sendiri, Pak!
15 Bab 15 - One vs One
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu
17 Bab 17 - Aku Nggak Akan Pergi!
18 Bab 18 - Hanya Oke?
19 Bab 19 - Aku Sudah Nggak Perawan!
20 Bab 20 - Awas Ya, Kamu!
21 Bab 21 - Panggil Sayang, Dulu!
22 Bab 22 - Siapa Nama Suami Kamu?
23 Bab 23 - Bapak Berdarah
24 Bab 24 - Bapak Suka Gajah?
25 Bab 25 - Masuk Kamar Kata Saya!
26 Bab 26 - Terserah Apa Yang Mau Kamu Lakukan
27 Bab 27 - Khadijah Sudah Menikah?
28 Bab 28 - Karena Saya Malu, Pak
29 Bab 29 - Oh, Tidak!
30 Bab 30 - Tangisan Menyebalkan
31 Bab 31 - Terpaksa
32 Bab 32 - Oh, Bapak Mengusir Saya?
33 Bab 33 - Dasar Nenek Lampir
34 Bab 34 - Mantan Toxic
35 Bab 35 - Insiden Berkali-kali
36 Bab 36 - Positif
37 Bab 37 - Hoek Hoek Hoek!
38 Bab 38 - Mereka Tahu
39 Bab 39 - Tapi Hamil Anak Saya
40 Bab 40 - Suami Kamu The Best, Dijah
41 Bab 41 - Bagiku Kehidupanku Jauh Lebih Penting
42 Bab 42 - Tragedi Lipstik Lumer
43 Bab 43 - Buletin Sialan!
44 Bab 44 - Keputusan Final
45 Bab 45 - Tekanan Batin
46 Bab 46 - Aku Benar-benar Nggak Tahan Lagi!
47 Bab 47 - Rencana Pindah
48 Bab 48 - Mulut Marwah
49 Bab 49 - Bikin Rusuh
50 Bab 50 - Bukannya Itu Kinan?
51 Bab 51 - Kalau Sedikit Sentuhan Nggak Masalah kan?
52 Bab 52 - Cobalah! Kamu Pasti Akan Suka
53 Bab 53 - Kenapa Kamu Nggak Cari Pria Lain Saja
54 Bab 54 - Apa Yang Bapak Lakukan Di sini?
55 Bab 55 - Semua Ini Salah Kamu
56 Bab 56 - Kabur!
57 Bab 57 - Pelacakan
58 Bab 58 - Yuk, Kita Progam Lagi, Sayang
59 Bab 59 - Salah Sangka
60 Bab 60 END - Karina Senja Putri Khoirul
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 - Pak Muka Killer
2
Bab 2 - Apa Kita Perlu Melakukan Malam Pertama?
3
Bab 3 - Saya Kira Bapak Nggak Sadar Diri
4
Bab 4 - Kok Kalian Sama-sama Merah Dahinya?
5
Bab 5 - Kamu Istrinya Pak Khoirul, Dijah?
6
Bab 6 - Bapak Terlalu Kolot!
7
Bab 7 - STOP!
8
Bab 8 - Dijah, Apa Saya Boleh Meminta Hak Saya?
9
Bab 9 - CUP!!!
10
Bab 10 - Mampus Saya, Pak!
11
Bab 11 - Keluar Dari Kelas Saya!
12
Bab 12 - Kabur
13
Bab 13 - Ikut Saya ke Ruangan Saya!
14
Bab 14 - Makan Sendiri, Pak!
15
Bab 15 - One vs One
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu
17
Bab 17 - Aku Nggak Akan Pergi!
18
Bab 18 - Hanya Oke?
19
Bab 19 - Aku Sudah Nggak Perawan!
20
Bab 20 - Awas Ya, Kamu!
21
Bab 21 - Panggil Sayang, Dulu!
22
Bab 22 - Siapa Nama Suami Kamu?
23
Bab 23 - Bapak Berdarah
24
Bab 24 - Bapak Suka Gajah?
25
Bab 25 - Masuk Kamar Kata Saya!
26
Bab 26 - Terserah Apa Yang Mau Kamu Lakukan
27
Bab 27 - Khadijah Sudah Menikah?
28
Bab 28 - Karena Saya Malu, Pak
29
Bab 29 - Oh, Tidak!
30
Bab 30 - Tangisan Menyebalkan
31
Bab 31 - Terpaksa
32
Bab 32 - Oh, Bapak Mengusir Saya?
33
Bab 33 - Dasar Nenek Lampir
34
Bab 34 - Mantan Toxic
35
Bab 35 - Insiden Berkali-kali
36
Bab 36 - Positif
37
Bab 37 - Hoek Hoek Hoek!
38
Bab 38 - Mereka Tahu
39
Bab 39 - Tapi Hamil Anak Saya
40
Bab 40 - Suami Kamu The Best, Dijah
41
Bab 41 - Bagiku Kehidupanku Jauh Lebih Penting
42
Bab 42 - Tragedi Lipstik Lumer
43
Bab 43 - Buletin Sialan!
44
Bab 44 - Keputusan Final
45
Bab 45 - Tekanan Batin
46
Bab 46 - Aku Benar-benar Nggak Tahan Lagi!
47
Bab 47 - Rencana Pindah
48
Bab 48 - Mulut Marwah
49
Bab 49 - Bikin Rusuh
50
Bab 50 - Bukannya Itu Kinan?
51
Bab 51 - Kalau Sedikit Sentuhan Nggak Masalah kan?
52
Bab 52 - Cobalah! Kamu Pasti Akan Suka
53
Bab 53 - Kenapa Kamu Nggak Cari Pria Lain Saja
54
Bab 54 - Apa Yang Bapak Lakukan Di sini?
55
Bab 55 - Semua Ini Salah Kamu
56
Bab 56 - Kabur!
57
Bab 57 - Pelacakan
58
Bab 58 - Yuk, Kita Progam Lagi, Sayang
59
Bab 59 - Salah Sangka
60
Bab 60 END - Karina Senja Putri Khoirul

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!