Tok tok tok!
"Siapa?"
Suara yang semalaman tidak didengar Khadijah akhirnya berdering nyaring di telinga wanita itu. Khadijah memasang kuda-kuda untuk pergi tapi dia ragu. Kenapa dia harus melarikan diri? Kalau dia kabur sama saja dia memperpanjang masalah. Harusnya dia marah pada Khoirul karena tidak pulang semalam.
Meskipun Khoirul marah padanya tapi bukan berarti harus pergi bukan? Khadijah memaksakan kehendaknya bahwa yang dipikirkan itu benar. Padahal dia juga pernah kabur waktu itu.
"Siapa? Kalau tidak penting jangan ganggu!" tandas Khoirul tegas.
Khadijah mendesis pelan, "Sok sibuk." Dia mengambil napas panjang, lalu, "saya, Pak. Raisa."
"Masuk!"
Khadijah terpaksa menggunakan nama sahabatnya untuk mengelabuhi Khoirul. Wanita itu membuka pintu, masuk dengan langkah sangat amat perlahan dan berhenti di balik pintu yang tertutup.
Mendadak kepala Khadijah pusing. Bagaimana tidak pusing kalau seharian dia mencari keberadaan Khoirul? Pria itu malah dengan entengnya sibuk bergulat dengan laptopnya. Sial!
"Raisa kok wajahnya begini? Operasi plastik?" sindir Khoirul.
"Bapak pasti nggak mau terima tamu kalau itu saya kan?"
Khoirul tidak memandang wajah Khadijah. Dia meminta istrinya untuk duduk. Sebongkah kekesalan masih ada di dalam hatinya. Dia tahu apa yang dilakukan wanita itu semalam, apalagi Marwah menghubunginya untuk bertanya dimana dirinya. Tapi Khoirul enggan menjawab.
Keacuhan pria itu berlanjut hingga pagi. Dia sengaja tidak mengajar dan hanya memberikan tugas online untuk menghindari Khadijah. Tapi sore ini, dia harus pergi ke kampus untuk tugas-tugas besok sekaligus mengecek pekerjaan anak-anaknya.
Khoirul tidak menyangka Khadijah akan mendatanginya. Dari mana istrinya tahu kalau dia ada di sana? Mungkinkah Baik Sani? Tapi Khoirul sudah mengatakan untuk tidak menceritakan apapun pada Khadijah. Mungkin orang lain yang melihatnya masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa?" tanya Khoirul acuh.
"Bapak nggak mau minta maaf sama saya?"
"Untuk?"
"Untuk? Bapak kan ngilang tadi malam. Emangnya bapak nggak memikirkan perasaan saya?" dengus Khadijah kesal. Jari-jarinya terkepal di bawah sana dengan tatapan menusuk tajam.
Khoirul tersenyum geli penuh ejekan, "Emang kamu memikirkan perasaan saya waktu kamu nggak datang? Sudah berapa kali saya ingatkan kalau kemarin malam kita ada acara makan malam keluarga. Kamu lupa? Atau pura-pura hilang ingatan? Apalagi alasan kamu? Kalau saya bisa meluapkan amarah saya, mungkin seharian tidak akan cukup."
"Jadi bapak mau membentak saya?" tantang Khadijah.
"Nggak. Saya sedang sibuk kalau hanya untuk membentak kamu. Silakan keluar kalau sudah selesai," tukas Khoirul.
"Bapak mengusir saya?" tanya Khadijah sekali lagi. Pendengarannya mungkin salah.
"Kamu nggak dengar? Saya bilang silahkan keluar kalau kamu sudah selesai bicara. Saya sibuk." Kali ini Khoirul menatap tajam pada Khadijah. Kekesalannya tidak semudah itu hilang hanya karena Khadijah datang padanya. Sekali-kali wanita itu perlu diberi pelajaran. Enak saja bersikap acuh padanya yang bahkan selalu bisa mengerti semua kesalahan wanita itu.
Khadijah tidak yakin Khoirul bisa bersikap seperti itu padanya. Harga dirinya tumbang seketika. Khadijah tidak akan mengais maaf dari suaminya. Mereka sama-sama salah!
Awas saja kalau nanti malam tidur di kamar. Aku tendang sampai jatuh, batin Khadijah merencanakan niat buruk.
Khadijah keluar dari ruangan Khoirul. Sementara Khoirul kembali sibuk mengisi daftar nilai. Tapi pikirannya tidak tenang. Dia menghentikan pekerjaannya, memandang daun pintu dengan helaan napas panjang.
Apa istriku ngambek lagi? Batinnya menilai.
Khoirul sudah sempat ingin mengejar Khadijah tapi dia mengurungkan niatnya. Belum juga sepuluh menit, pintu ruangannya terbuka lagi. Khadijah muncul dengan mata berkilat marah.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Khadijah sampai di hadapan Khoirul.
"Baik, saya minta maaf," ucapnya enteng.
Khoirul tahu jika Khadijah tidak benar-benar menyesal. Tapi usahanya patut diacungi jempol.
"Oke," jawab Khoirul singkat.
Alis Khadijah saling bertautan, "Hanya oke?"
"Lalu apa?"
"Oke, Dijah, saya memaafkan kamu dan saya minta maaf karena saya membuat kamu cemas. Apa kamu tidur nyenyak semalam? Harusnya bapak membalas begitu," sungut Khadijah.
Seberapa besar kesabaran orang dalam menghadapi masalah? Khoirul yakin tidak ada yang sesabar dirinya dalam menghadapi istrinya.
Dengan senyum dikulum yang sengaja dipermanis, Khoirul mengulangi ucapannya, "Oke, Dijah, saya memaafkan kamu dan saya minta maaf karena saya membuat kamu cemas. Apa kamu tidur nyenyak semalam?"
"Tentu saja. Kenapa saya harus begadang? Saya juga sarapan dengan lahap tadi pagi. Makan siang juga nggak kalah maruknya," jawab Khadijah.
Tuh kan! Yang seperti ini yang membuat Khoirul kesal. Sudah diberi hati malah minta jantung. Nanti diberi jantung minta paru-paru. Kalau bukan Khadijah tidak akan mungkin ada.
"Kamu emang selalu nafsu makan. Kalau begitu sebagai permintaan maaf kamu, bisa tolong bantu saya? Bantu buat ini," tukas Khoirul.
Khadijah melongokkan kepalanya ke arah laptop, "Nggak mau!"
"Saya beri keringan untuk tugas kamu."
"Nilai A."
"B."
"A," tegas Khadijah.
"B plus."
"A, Pak Khoirul."
"B plus, Dijah," ucap Khoirul.
"Ya udah kalau nggak mau," sengit Khadijah. Dia berbalik tapi tidak melangkah.
B plus udah lumayan sih. Kalau A nanti malah pada curiga. Jarang-jarang aku dapat B plus dari dosen killer itu, batin Khadijah.
Lalu dia berbalik lagi, "Oke, B plus ya, Pak."
"Iya."
"Tolong minggir, Pak!" Khadijah mengambil alih kursi kebanggaan Khoirul. Wanita itu melihat pekerjaan Khoirul dan mengangguk yakin pada kemampuannya, "ini sih kecil. Tinggal begini, lalu begitu, selesai."
Kruyuk ... kruyuk!!!
"Suara apa itu?" sindir Khoirul. Dia tersenyum geli, "katanya makan dengan lahap sampai maruk tapi kok ada bunyi-bunyi aneh? Yakin makannya lahap?"
Khadijah mengumpat dalam hati. Kenapa berbunyi disaat yang tidak tepat sih?
"Ya kan ini sudah sore, Pak. Makannya tadi pagi dan siang," elak Khadijah.
"Mau makan apa? Saya bisa keluar sebentar untuk membeli makanan."
"Em, sushi, Pak. Ayam goreng kremes sama jus jeruk ya. Jeruk peras asli."
"Sudah? Kentang goreng ukuran large nggak mau?"
"Kita di sini sampai malam, Pak?"
"Mungkin."
Khadijah berpikir sejenak, "Boleh deh. Jusnya dua kalau begitu."
"Kerjakan yang teliti. Kalau sampai salah, kamu harus ulangi sampai benar," ancam Khoirul.
"Iya, ya, Pak."
Khoirul melipir ke luar sementara Khadijah sibuk menjelajahi dunia perdosenan. Dia tidak ingin menjadi pengajar karena sudah pasti banyak aturan. Dia lebih suka menjadi akuntan yang bekerja di bank negara karena gajinya lebih menjanjikan.
Berselang tiga puluh menit, Khoirul kembali dengan beberapa kantong plastik. Ketika perjalanan pulang dia melihat penjual bakso, alhasil dia juga memesan dua bungkus. Khadijah pasti tidak menyangka dirinya akan berbelanja sebanyak itu.
"Bapak bisa habisin semua ini?" tanya Khadijah bingung.
"Bukan saya tapi kamu. Makan dulu!"
Tidak perlu dua kali perintah, Khadijah sudah menyerbu makanan-makanan itu. Dia sangat tergoda dengan bakso yang kuahnya menggila. Dituangnya bungkusan tersebut ke dalam wadah plastik, lalu menikmatinya dengan lahap. Sushi yang sangat jarang dia nikmati juga turut andil masuk dalam mulutnya.
Khoirul hanya menatap Khadijah dengan senyum dikulumnya. Permasalahan yang teramat panjang akhirnya selesai hanya karena wanita itu berani memprotesnya.
Acara makan malam yang belum terlalu larut itu akhirnya selesai. Khoirul membereskan semuanya dan duduk dengan nyaman di sofa yang tidak terlalu besar itu. Ditepuknya sisi sebelah kanan, meminta dengan halus pada Khadijah untuk mengikuti arahannya.
"Semalam kamu diantar pulang sama siapa?" tanya Khoirul to the point.
Mampus aku, batin Khadijah. Jadi Khoirul tahu?
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Tita Puspita Dewi
si dijah kok kayak anak kecil ya pantesam jadi mahasiswa abadi.
2023-09-29
0