Pukul 17.00 ...
Tepat sebelum Khadijah melangkah keluar dari gedung fakultasnya, dia mendapat pukulan dari seorang wanita berambut pirang sebahu. Khadijah sangat tahu siapa wanita itu. Namanya Kaira, mantan pacar Fattan, yang selalu mencari gara-gara dengannya.
Saat itu, tidak ada Raisa bersamanya, jadi Khadijah bisa dengan leluasa menanggapi sikap emosional Kaira.
"Aku rasa telinga kamu nggak berfungsi dengan baik. Aku sudah katakan kalau Fattan hanya main-main sama kamu tapi kamu malah membuka hati. Nggak malu? Udah nggak lulus-lulus, sok-sokan tebar pesona. Heran sama cowok-cowok yang masih mau sama kamu," ketus Kaira.
Khadijah tidak terima, dia balas mengatakan isi hatinya, "Siapa yang malu? Harusnya pertanyaan itu kamu jawab sendiri. Udah mantan masih aja ngarep! Nggak ngaca?"
Orang-orang mulai berkerumun. Mereka lebih membela Khadijah karena sebab putusnya Kaira dan Fattan bukan karena Khadijah melainkan memang sifat Kaira yang cerewet.
"Kamu yang perlu kaca!" tegas Kaira. Dia berniat menarik rambut Khadijah, tapi Khadijah berhasil mengelak.
"Main tangan bisanya," sindir Khadijah.
"Oke. Mau tanding pengetahuan sosial?"
"Ogah. Emang kamu siapa? Aku lebih suka mengurus skripsi dari pada kamu."
Khadijah berpaling. Dia tidak ingin terus menerus meladeni Kaira. Memang pada awalnya hubungan mereka baik-baik saja. Khadijah tidak pernah tahu siapa Kaira sampai dia mendengar gosip tentang putusnya Kaira dan Fattan. Lalu timbullah kemarahan Kaira yang menurut Khadijah sia-sia.
Kaira menarik kemeja setengah perut Khadijah membuat beberapa kancingnya terlepas. Sontak Khadijah menarik ujungnya yang terlepas dan ditarik hingga menutupi bagian dadanya. Beruntung dia tipe wanita yang memakai underwear lengkap jadi mereka yang mengerubungi tidak akan melihat hal yang tidak seharusnya.
Khadijah membalikkan tubuhnya, menatap tajam pada Kaira, "Nggak punya etika?"
"Punyalah. Kamu yang nggak ada etika," sungut Kaira tidak merasa bersalah sama sekali.
"Hajar, Dijah. Seenaknya aja. Anak fakultas bisnis emang nggak punya etika," seru seseorang dari kubu pembela Khadijah.
"Iya, hajar aja. Jangan takut!"
"Kita belain!"
Seketika sikap pemberani Khadijah muncul. Dia menyeringai lebar. Sudah lama dia tidak melakukan gerakan pemanasan. Raut wajah Kaira yang semula menyepelekan kini terlihat panik. Dia bersiap kabur. Medan perang sudah bukan lagi miliknya.
"Mau kemana kamu?" sentak Khadijah. Dia menarik rambut paksa Kaira. Cekalan jarinya pada kemejanya sengaja dilepaskan. Tidak masalah. Yang terlihat hanyalah sesuatu yang kurang lebih sama dimiliki wanita lain. Anggap saja bonus kalau laki-laki yang melihatnya.
"Beraninya keroyokan," umpat Kaira.
"Siapa bilang keroyokan? One vs one. Kamu dan aku. Mereka hanya suporter. Takut?"
"Nggak!" elak Kaira, tapi nada bicaranya terdengar bergetar.
Tanpa basa-basi, Khadijah memulai pertikaian sengit itu. Kaira yang lebih feminim dari pada Khadijah tidak mampu melawan. Dia kalah telak. Namun sayang, satpam lebih dulu datang untuk melerai mereka.
"Huuuuu," sorakan terdengar tidak puas mengiringi langkah satpam yang menggiring Khadijah dan Kaira ke luar dari gedung fakultas.
Khadijah menatap sinis pada Kaira, "Lain kali kalau mau satu lawan satu, hubungi aja aku. Aku bisa pergi kapanpun kamu mau."
"Sombong," umpat Kaira. Dia melenggang pergi sembari menata rambutnya yang acak-acakan.
Khadijah tidak menyadari jika dirinya juga bernasib sama seperti Kaira. Dia bahkan jadi bahan tertawaan anak-anak yang lain. Wanita itu baru menata kembali penampilannya ketika sampai di tempat parkir.
Dari pantulan kaca jendela mobil, Khadijah menyisir rambutnya. Dia memonyongkan bibirnya ke sana kemari karena lipstiknya tercoreng ke segala arah. Beruntung sekali dia tipe yang jarang memakai lipstik tebal.
Tiba-tiba jendela mobil turun dengan perlahan. Khadijah sontak mundur. Dia baru mengetahui ada seseorang di dalam mobil. Seorang pria yang sangat dia kenal. Pria dengan wajah imut, manis dan suka memberi perhatian. Sikapnya terlampau indah untuk dilewatkan. Tidak heran jika dulunya pria tersebut pernah menjadi sosok idola.
"Hai, Dijah," sapa pria itu dengan senyum dikulumnya yang manis.
"Kak Richard?"
"Benar. Apa kabar? Em, tunggu sebentar. Aku keluar dulu," ucap pria bernama Richard tersebut. Richard membuka pintu dan beralih pada Khadijah yang masih diam. Dia mengulurkan tangannya, "apa kabar?*
"Ba-baik, Kak. Kakak gimana?"
"Baik dong. Sedang apa kamu? Kenapa wajah kamu merah-merah? Lalu baju kamu?" Richard menyipitkan matanya seakan tahu apa yang dilakukan Khadijah.
Khadijah lupa pada keadaan bajunya yang agak terbuka. Duh, malunya! Dia merapatkan tubuhnya, "Em, biasa, Kak. Banyak cobaan."
"Sebentar ya. Aku bawa jaket di mobil. Tunggu."
Richard berlari ke jok belakang mobil, membukanya dan meraih jaket kulit miliknya yang belum dia pakai. Dia mengangsurkannya pada Khadijah, "Masih belum terpakai kok."
"Terimakasih, Kak."
Khadijah menerimanya dengan enggan. Menolak pemberian kakak senior tidak baik, menerima dengan tangan terbuka juga rasanya kurang bagus.
Richard adalah senior satu tingkat di fakultas Ekonomi. Tapi berhubung Khadijah belum selesai kuliah dalam dua tahun belakangan ini, jadi jarak mereka lebih jauh dari seharusnya.
"Ada jemputan nggak? Mau aku antar?" tanya Richard.
"Kakak nggak ada kerjaan di kampus ini?"
"Sudah selesai. Kebetulan mau pulang dan aku lihat kamu."
Khadijah ingat dia punya rencana makan malam di rumah keluarga Khoirul, tapi melihat kebaikan hati Richard, lagi-lagi dia tidak bisa menolak. "Nggak merepotkan kan, Kak?"
"Nggaklah. Masuk yuk!"
"Terimakasih, Kak."
Perjalanan yang singkat menjadi lebih lama karena Richard berusaha menjalin percakapan dengan Khadijah. Sudah lama dia terpikat dengan wanita itu meskipun dia tahu Khadijah bukan tipe yang ingin berkomitmen.
Padahal wanita lain akan dengan senang hati menerima cintanya kalau Richard mengutarakan isi hatinya. Karena keunikan Khadijah membuat Richard ingin mendapatkan hatinya.
"Aku kerja di perusahaan swasta di Jakarta pusat," ucap Khoirul tanpa ditanya.
"Em, di mana, Kak?"
Richard menyebutkan nama perusahaan tersebut. Khadijah ternganga. Perusahaan itu tidak sembarangan menerima karyawan, jadi Richard termasuk orang yang beruntung.
"Udah sukses ya, Kak? Pasti banyak yang naksir?"
"Banyak tapi aku menunggu seseorang."
"Siapa?" tanya Khadijah ingin tahu.
"Kamu. Jadi, apa sekarang kamu punya keinginan untuk menikah denganku?"
"Uhuk ... uhuk!" Khadijah terbatuk-batuk.
To the point sekali, batin Khadijah.
"Kenapa?" tanya Richard geli.
"Kakak mengejutkanku."
"Usia kamu sudah dua puluh lima tahun. Siapa tahu dengan kamu menikah, kamu punya semangat untuk menyelesaikan kuliah kamu. Aku bisa membiayai kuliah kamu sampai S2 kalau perlu," jelas Richard menyakinkan Khadijah.
Suamiku juga bisa membiayai kuliahku, Kak, batin Khadijah.
"Aku juga pekerja keras dan sudah punya beberapa tabungan. Untuk rumah, aku baru mau menyicil satu tahun ini, ya mungkin satu tahun lagi selesai. Meskipun hanya perumahan kecil tapi lokasinya sangat nyaman. Kamu pasti betah tinggal di sana," jelas Richard. Ini semacam penjelasan singkat mengenai bibit, bobot dan bebet dari calon suami.
Khadijah menahan napas. Dia merasa tidak nyaman. Secara tidak langsung dia memberi harapan palsu pada Richard. Tapi kalau harus jujur, Khadijah belum siap.
"Kita baru bertemu hari ini, Kak. Pembicaraan ini terlalu berat. Bisa nggak kita nggak bahas ini? Kalau boleh aku beri saran, kakak lebih baik cari wanita lain saja yang lebih baik dariku," tolak Khadijah secara halus.
Richard tersenyum kecut, "Kalau sudah menyangkut cari wanita lain, pasti akan ada penolakan kan? Bisa tunggu nggak? Aku masih belum memperkenalkan diriku lebih jauh lagi. Aku ... tunggu sebentar, Dijah. Ada telepon."
Richard menerima panggilan tersebut. Dia kemudian mengiyakan. Dengan muka memelasnya, dia meminta Khadijah untuk ikut dengannya, "Aku harus ke rumah atasanku untuk mengambil dokumen karena harus aku serahkan malam ini juga ke klien. Kamu ikut aku sebentar ya? Aku janji nggak akan lama. Setelah itu, aku antar kamu ke rumah."
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Tita Puspita Dewi
dijah 25 tahun dewasalah.....
2023-09-29
0