Bab 15 - One vs One

Pukul 17.00 ...

Tepat sebelum Khadijah melangkah keluar dari gedung fakultasnya, dia mendapat pukulan dari seorang wanita berambut pirang sebahu. Khadijah sangat tahu siapa wanita itu. Namanya Kaira, mantan pacar Fattan, yang selalu mencari gara-gara dengannya.

Saat itu, tidak ada Raisa bersamanya, jadi Khadijah bisa dengan leluasa menanggapi sikap emosional Kaira.

"Aku rasa telinga kamu nggak berfungsi dengan baik. Aku sudah katakan kalau Fattan hanya main-main sama kamu tapi kamu malah membuka hati. Nggak malu? Udah nggak lulus-lulus, sok-sokan tebar pesona. Heran sama cowok-cowok yang masih mau sama kamu," ketus Kaira.

Khadijah tidak terima, dia balas mengatakan isi hatinya, "Siapa yang malu? Harusnya pertanyaan itu kamu jawab sendiri. Udah mantan masih aja ngarep! Nggak ngaca?"

Orang-orang mulai berkerumun. Mereka lebih membela Khadijah karena sebab putusnya Kaira dan Fattan bukan karena Khadijah melainkan memang sifat Kaira yang cerewet.

"Kamu yang perlu kaca!" tegas Kaira. Dia berniat menarik rambut Khadijah, tapi Khadijah berhasil mengelak.

"Main tangan bisanya," sindir Khadijah.

"Oke. Mau tanding pengetahuan sosial?"

"Ogah. Emang kamu siapa? Aku lebih suka mengurus skripsi dari pada kamu."

Khadijah berpaling. Dia tidak ingin terus menerus meladeni Kaira. Memang pada awalnya hubungan mereka baik-baik saja. Khadijah tidak pernah tahu siapa Kaira sampai dia mendengar gosip tentang putusnya Kaira dan Fattan. Lalu timbullah kemarahan Kaira yang menurut Khadijah sia-sia.

Kaira menarik kemeja setengah perut Khadijah membuat beberapa kancingnya terlepas. Sontak Khadijah menarik ujungnya yang terlepas dan ditarik hingga menutupi bagian dadanya. Beruntung dia tipe wanita yang memakai underwear lengkap jadi mereka yang mengerubungi tidak akan melihat hal yang tidak seharusnya.

Khadijah membalikkan tubuhnya, menatap tajam pada Kaira, "Nggak punya etika?"

"Punyalah. Kamu yang nggak ada etika," sungut Kaira tidak merasa bersalah sama sekali.

"Hajar, Dijah. Seenaknya aja. Anak fakultas bisnis emang nggak punya etika," seru seseorang dari kubu pembela Khadijah.

"Iya, hajar aja. Jangan takut!"

"Kita belain!"

Seketika sikap pemberani Khadijah muncul. Dia menyeringai lebar. Sudah lama dia tidak melakukan gerakan pemanasan. Raut wajah Kaira yang semula menyepelekan kini terlihat panik. Dia bersiap kabur. Medan perang sudah bukan lagi miliknya.

"Mau kemana kamu?" sentak Khadijah. Dia menarik rambut paksa Kaira. Cekalan jarinya pada kemejanya sengaja dilepaskan. Tidak masalah. Yang terlihat hanyalah sesuatu yang kurang lebih sama dimiliki wanita lain. Anggap saja bonus kalau laki-laki yang melihatnya.

"Beraninya keroyokan," umpat Kaira.

"Siapa bilang keroyokan? One vs one. Kamu dan aku. Mereka hanya suporter. Takut?"

"Nggak!" elak Kaira, tapi nada bicaranya terdengar bergetar.

Tanpa basa-basi, Khadijah memulai pertikaian sengit itu. Kaira yang lebih feminim dari pada Khadijah tidak mampu melawan. Dia kalah telak. Namun sayang, satpam lebih dulu datang untuk melerai mereka.

"Huuuuu," sorakan terdengar tidak puas mengiringi langkah satpam yang menggiring Khadijah dan Kaira ke luar dari gedung fakultas.

Khadijah menatap sinis pada Kaira, "Lain kali kalau mau satu lawan satu, hubungi aja aku. Aku bisa pergi kapanpun kamu mau."

"Sombong," umpat Kaira. Dia melenggang pergi sembari menata rambutnya yang acak-acakan.

Khadijah tidak menyadari jika dirinya juga bernasib sama seperti Kaira. Dia bahkan jadi bahan tertawaan anak-anak yang lain. Wanita itu baru menata kembali penampilannya ketika sampai di tempat parkir.

Dari pantulan kaca jendela mobil, Khadijah menyisir rambutnya. Dia memonyongkan bibirnya ke sana kemari karena lipstiknya tercoreng ke segala arah. Beruntung sekali dia tipe yang jarang memakai lipstik tebal.

Tiba-tiba jendela mobil turun dengan perlahan. Khadijah sontak mundur. Dia baru mengetahui ada seseorang di dalam mobil. Seorang pria yang sangat dia kenal. Pria dengan wajah imut, manis dan suka memberi perhatian. Sikapnya terlampau indah untuk dilewatkan. Tidak heran jika dulunya pria tersebut pernah menjadi sosok idola.

"Hai, Dijah," sapa pria itu dengan senyum dikulumnya yang manis.

"Kak Richard?"

"Benar. Apa kabar? Em, tunggu sebentar. Aku keluar dulu," ucap pria bernama Richard tersebut. Richard membuka pintu dan beralih pada Khadijah yang masih diam. Dia mengulurkan tangannya, "apa kabar?*

"Ba-baik, Kak. Kakak gimana?"

"Baik dong. Sedang apa kamu? Kenapa wajah kamu merah-merah? Lalu baju kamu?" Richard menyipitkan matanya seakan tahu apa yang dilakukan Khadijah.

Khadijah lupa pada keadaan bajunya yang agak terbuka. Duh, malunya! Dia merapatkan tubuhnya, "Em, biasa, Kak. Banyak cobaan."

"Sebentar ya. Aku bawa jaket di mobil. Tunggu."

Richard berlari ke jok belakang mobil, membukanya dan meraih jaket kulit miliknya yang belum dia pakai. Dia mengangsurkannya pada Khadijah, "Masih belum terpakai kok."

"Terimakasih, Kak."

Khadijah menerimanya dengan enggan. Menolak pemberian kakak senior tidak baik, menerima dengan tangan terbuka juga rasanya kurang bagus.

Richard adalah senior satu tingkat di fakultas Ekonomi. Tapi berhubung Khadijah belum selesai kuliah dalam dua tahun belakangan ini, jadi jarak mereka lebih jauh dari seharusnya.

"Ada jemputan nggak? Mau aku antar?" tanya Richard.

"Kakak nggak ada kerjaan di kampus ini?"

"Sudah selesai. Kebetulan mau pulang dan aku lihat kamu."

Khadijah ingat dia punya rencana makan malam di rumah keluarga Khoirul, tapi melihat kebaikan hati Richard, lagi-lagi dia tidak bisa menolak. "Nggak merepotkan kan, Kak?"

"Nggaklah. Masuk yuk!"

"Terimakasih, Kak."

Perjalanan yang singkat menjadi lebih lama karena Richard berusaha menjalin percakapan dengan Khadijah. Sudah lama dia terpikat dengan wanita itu meskipun dia tahu Khadijah bukan tipe yang ingin berkomitmen.

Padahal wanita lain akan dengan senang hati menerima cintanya kalau Richard mengutarakan isi hatinya. Karena keunikan Khadijah membuat Richard ingin mendapatkan hatinya.

"Aku kerja di perusahaan swasta di Jakarta pusat," ucap Khoirul tanpa ditanya.

"Em, di mana, Kak?"

Richard menyebutkan nama perusahaan tersebut. Khadijah ternganga. Perusahaan itu tidak sembarangan menerima karyawan, jadi Richard termasuk orang yang beruntung.

"Udah sukses ya, Kak? Pasti banyak yang naksir?"

"Banyak tapi aku menunggu seseorang."

"Siapa?" tanya Khadijah ingin tahu.

"Kamu. Jadi, apa sekarang kamu punya keinginan untuk menikah denganku?"

"Uhuk ... uhuk!" Khadijah terbatuk-batuk.

To the point sekali, batin Khadijah.

"Kenapa?" tanya Richard geli.

"Kakak mengejutkanku."

"Usia kamu sudah dua puluh lima tahun. Siapa tahu dengan kamu menikah, kamu punya semangat untuk menyelesaikan kuliah kamu. Aku bisa membiayai kuliah kamu sampai S2 kalau perlu," jelas Richard menyakinkan Khadijah.

Suamiku juga bisa membiayai kuliahku, Kak, batin Khadijah.

"Aku juga pekerja keras dan sudah punya beberapa tabungan. Untuk rumah, aku baru mau menyicil satu tahun ini, ya mungkin satu tahun lagi selesai. Meskipun hanya perumahan kecil tapi lokasinya sangat nyaman. Kamu pasti betah tinggal di sana," jelas Richard. Ini semacam penjelasan singkat mengenai bibit, bobot dan bebet dari calon suami.

Khadijah menahan napas. Dia merasa tidak nyaman. Secara tidak langsung dia memberi harapan palsu pada Richard. Tapi kalau harus jujur, Khadijah belum siap.

"Kita baru bertemu hari ini, Kak. Pembicaraan ini terlalu berat. Bisa nggak kita nggak bahas ini? Kalau boleh aku beri saran, kakak lebih baik cari wanita lain saja yang lebih baik dariku," tolak Khadijah secara halus.

Richard tersenyum kecut, "Kalau sudah menyangkut cari wanita lain, pasti akan ada penolakan kan? Bisa tunggu nggak? Aku masih belum memperkenalkan diriku lebih jauh lagi. Aku ... tunggu sebentar, Dijah. Ada telepon."

Richard menerima panggilan tersebut. Dia kemudian mengiyakan. Dengan muka memelasnya, dia meminta Khadijah untuk ikut dengannya, "Aku harus ke rumah atasanku untuk mengambil dokumen karena harus aku serahkan malam ini juga ke klien. Kamu ikut aku sebentar ya? Aku janji nggak akan lama. Setelah itu, aku antar kamu ke rumah."

°°°

Terpopuler

Comments

Tita Puspita Dewi

Tita Puspita Dewi

dijah 25 tahun dewasalah.....

2023-09-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Pak Muka Killer
2 Bab 2 - Apa Kita Perlu Melakukan Malam Pertama?
3 Bab 3 - Saya Kira Bapak Nggak Sadar Diri
4 Bab 4 - Kok Kalian Sama-sama Merah Dahinya?
5 Bab 5 - Kamu Istrinya Pak Khoirul, Dijah?
6 Bab 6 - Bapak Terlalu Kolot!
7 Bab 7 - STOP!
8 Bab 8 - Dijah, Apa Saya Boleh Meminta Hak Saya?
9 Bab 9 - CUP!!!
10 Bab 10 - Mampus Saya, Pak!
11 Bab 11 - Keluar Dari Kelas Saya!
12 Bab 12 - Kabur
13 Bab 13 - Ikut Saya ke Ruangan Saya!
14 Bab 14 - Makan Sendiri, Pak!
15 Bab 15 - One vs One
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu
17 Bab 17 - Aku Nggak Akan Pergi!
18 Bab 18 - Hanya Oke?
19 Bab 19 - Aku Sudah Nggak Perawan!
20 Bab 20 - Awas Ya, Kamu!
21 Bab 21 - Panggil Sayang, Dulu!
22 Bab 22 - Siapa Nama Suami Kamu?
23 Bab 23 - Bapak Berdarah
24 Bab 24 - Bapak Suka Gajah?
25 Bab 25 - Masuk Kamar Kata Saya!
26 Bab 26 - Terserah Apa Yang Mau Kamu Lakukan
27 Bab 27 - Khadijah Sudah Menikah?
28 Bab 28 - Karena Saya Malu, Pak
29 Bab 29 - Oh, Tidak!
30 Bab 30 - Tangisan Menyebalkan
31 Bab 31 - Terpaksa
32 Bab 32 - Oh, Bapak Mengusir Saya?
33 Bab 33 - Dasar Nenek Lampir
34 Bab 34 - Mantan Toxic
35 Bab 35 - Insiden Berkali-kali
36 Bab 36 - Positif
37 Bab 37 - Hoek Hoek Hoek!
38 Bab 38 - Mereka Tahu
39 Bab 39 - Tapi Hamil Anak Saya
40 Bab 40 - Suami Kamu The Best, Dijah
41 Bab 41 - Bagiku Kehidupanku Jauh Lebih Penting
42 Bab 42 - Tragedi Lipstik Lumer
43 Bab 43 - Buletin Sialan!
44 Bab 44 - Keputusan Final
45 Bab 45 - Tekanan Batin
46 Bab 46 - Aku Benar-benar Nggak Tahan Lagi!
47 Bab 47 - Rencana Pindah
48 Bab 48 - Mulut Marwah
49 Bab 49 - Bikin Rusuh
50 Bab 50 - Bukannya Itu Kinan?
51 Bab 51 - Kalau Sedikit Sentuhan Nggak Masalah kan?
52 Bab 52 - Cobalah! Kamu Pasti Akan Suka
53 Bab 53 - Kenapa Kamu Nggak Cari Pria Lain Saja
54 Bab 54 - Apa Yang Bapak Lakukan Di sini?
55 Bab 55 - Semua Ini Salah Kamu
56 Bab 56 - Kabur!
57 Bab 57 - Pelacakan
58 Bab 58 - Yuk, Kita Progam Lagi, Sayang
59 Bab 59 - Salah Sangka
60 Bab 60 END - Karina Senja Putri Khoirul
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 - Pak Muka Killer
2
Bab 2 - Apa Kita Perlu Melakukan Malam Pertama?
3
Bab 3 - Saya Kira Bapak Nggak Sadar Diri
4
Bab 4 - Kok Kalian Sama-sama Merah Dahinya?
5
Bab 5 - Kamu Istrinya Pak Khoirul, Dijah?
6
Bab 6 - Bapak Terlalu Kolot!
7
Bab 7 - STOP!
8
Bab 8 - Dijah, Apa Saya Boleh Meminta Hak Saya?
9
Bab 9 - CUP!!!
10
Bab 10 - Mampus Saya, Pak!
11
Bab 11 - Keluar Dari Kelas Saya!
12
Bab 12 - Kabur
13
Bab 13 - Ikut Saya ke Ruangan Saya!
14
Bab 14 - Makan Sendiri, Pak!
15
Bab 15 - One vs One
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu
17
Bab 17 - Aku Nggak Akan Pergi!
18
Bab 18 - Hanya Oke?
19
Bab 19 - Aku Sudah Nggak Perawan!
20
Bab 20 - Awas Ya, Kamu!
21
Bab 21 - Panggil Sayang, Dulu!
22
Bab 22 - Siapa Nama Suami Kamu?
23
Bab 23 - Bapak Berdarah
24
Bab 24 - Bapak Suka Gajah?
25
Bab 25 - Masuk Kamar Kata Saya!
26
Bab 26 - Terserah Apa Yang Mau Kamu Lakukan
27
Bab 27 - Khadijah Sudah Menikah?
28
Bab 28 - Karena Saya Malu, Pak
29
Bab 29 - Oh, Tidak!
30
Bab 30 - Tangisan Menyebalkan
31
Bab 31 - Terpaksa
32
Bab 32 - Oh, Bapak Mengusir Saya?
33
Bab 33 - Dasar Nenek Lampir
34
Bab 34 - Mantan Toxic
35
Bab 35 - Insiden Berkali-kali
36
Bab 36 - Positif
37
Bab 37 - Hoek Hoek Hoek!
38
Bab 38 - Mereka Tahu
39
Bab 39 - Tapi Hamil Anak Saya
40
Bab 40 - Suami Kamu The Best, Dijah
41
Bab 41 - Bagiku Kehidupanku Jauh Lebih Penting
42
Bab 42 - Tragedi Lipstik Lumer
43
Bab 43 - Buletin Sialan!
44
Bab 44 - Keputusan Final
45
Bab 45 - Tekanan Batin
46
Bab 46 - Aku Benar-benar Nggak Tahan Lagi!
47
Bab 47 - Rencana Pindah
48
Bab 48 - Mulut Marwah
49
Bab 49 - Bikin Rusuh
50
Bab 50 - Bukannya Itu Kinan?
51
Bab 51 - Kalau Sedikit Sentuhan Nggak Masalah kan?
52
Bab 52 - Cobalah! Kamu Pasti Akan Suka
53
Bab 53 - Kenapa Kamu Nggak Cari Pria Lain Saja
54
Bab 54 - Apa Yang Bapak Lakukan Di sini?
55
Bab 55 - Semua Ini Salah Kamu
56
Bab 56 - Kabur!
57
Bab 57 - Pelacakan
58
Bab 58 - Yuk, Kita Progam Lagi, Sayang
59
Bab 59 - Salah Sangka
60
Bab 60 END - Karina Senja Putri Khoirul

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!