Bak seperti orang yang tertangkap basah mencuri bunga di taman nasional, Khadijah diam seribu bahasa. Dia mengekori langkah Khoirul dengan muka datar. Begitu mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang tidak lagi asing itu, Khoirul memeluknya.
Dahi Khadijah mengerut. Tiba-tiba dipeluk begitu tentu saja membuat jantungnya tidak aman.
"Saya pikir kamu kabur dengan pria lain," ucap Khoirul. Kelegaan jelas terdengar dalam suara pria itu.
"Awalnya emang saya ingin begitu, Pak."
Pelukan tersebut terurai. Mata elang Khoirul sudah siap menerkam Khadijah, "Maksudnya? Kamu sudah punya pemikiran itu?"
"Iya. Salah sendiri Bapak galak sama saya."
"Saya bukannya galak, Dijah, tapi kamu yang nggak mau mendengarkan saya," elak Khoirul.
Khadijah mundur beberapa langkah, "Saya lagi kan yang salah? Ya sudah kalau begitu saya kabur lagi saja." Wanita itu sudah berbalik tapi Khoirul menahan pergelangan tangannya.
"Kamu tega meninggalkan saya?"
Bolehkah Khadijah merasa tersanjung dengan ucapan suaminya? Sebuah pernyataan yang tidak diduga namun terasa nyata di telinga. Perasaan wanita akan mudah luluh jika sudah menyangkut masalah ungkapan hati seorang pria.
"Kalau begitu, bisa tolong kerjakan tugas saya?"
"Nggak! Itu namanya nepotisme," tolak Khoirul tegas. Dia melihat mata kecil Khadijah mulai bergerak tidak sabaran, dia cepat-cepat menginterupsi, "tapi kalau membantu kamu sedikit, saya masih bisa."
Khadijah mendesis, "Pelit!"
"Mau apa nggak?"
Khadijah terpaksa mengangguk. Dari pada tidak ada bantuan sama sekali. "Oke deh."
"Tunggu saya di rumah!"
"Iya. Saya permisi dulu. Ada kelas," pamit Khadijah.
"Yang rajin."
"Iya, Pak."
Khadijah keluar dari ruangan Khoirul. Ada kelegaan di dalam hatinya. Ternyata berdamai itu bisa membuat hati lebih nyaman. Semalam Khadijah uring-uringan karena Khoirul tidak meneleponnya lagi. Entah kenapa keinginan hatinya untuk diperhatikan lebih jauh sangat mendominasi.
Sekarang, setelah ucapan Khoirul terdengar, Khadijah sudah tidak lagi khawatir. Tapi yang menjadi pertanyaan apakah Khoirul sudah memiliki perasaan padanya? Ataukah Khadijah yang mulai membuka hatinya?
"Senyum-senyum nggak jelas," tegur Raisa. Dia mengapit lengan Khadijah, "kenapa tiba-tiba dipanggil Pak Khoirul? Soal tugas lagi?"
"Iya."
"Mau dibantuin?"
"Nggak deh. Aku mau menyelesaikannya sendiri," tolak Khadijah. Dia sudah dapat bantuan dari suaminya yang lebih bisa diandalkan dari pada Raisa.
"Yakin?"
"Iya."
"Ya sudah."
°°°
Tiga puluh menit rasanya seperti tiga puluh jam. Khadijah sudah banyak mendapat teguran halus namun sarat akan kekesalan dari suaminya tapi dia masih bisa bertahan. Bola matanya sudah sepenuhnya membulat, seakan memprotes ucapan Khoirul yang sulit dia mengerti.
"Masih bingung juga?" tanya Khoirul dengan helaan napas panjang.
"Menurut bapak?" sungut Khadijah.
"Bisa nggak jangan memutar balik apa yang saya tanyakan?"
"Kan bapak bertanya, saya jawab. Kalau bapak diam saya juga diam."
"Lama-lama saya bisa stress, Dijah," keluh Khoirul. Dia menekan dahinya yang nyeri akibat Khadijah. Entah kenapa wanita itu seperti menantang dirinya. Hal sepele pasti terdengar rumit.
"Kalau begitu stop saja di sini, Pak. Saya bisa minta tolong Fattan." Khadijah menutup laptopnya, berniat bangkit.
"Jngn bergerak!"
Khadijah memutar bola matanya, "Katanya stress, Pak?"
"Nggak apa-apa. Saya bisa melakukannya sampai pagi. Ayo, lanjutkan!"
"Tapi saya lapar, Pak."
"Bukannya satu jam yang lalu kamu baru makan malam?" tanya Khoirul bingung.
"Salah sendiri kenapa saya harus banyak berpikir. Pesan makanan ya, Pak? Saya sedang ingin pizza sama kentang goreng. Yang campurannya lengkap, Pak. Jamur, sosis, beef, jagung sama yang lain pokoknya. Kentangnya yang agak krispi ya. Terus ukuran pizzanya yang large."
Khoirul membulatkan matanya, speechless, "Kamu makan atau maruk?"
"Camilan, Pak."
"Bisa-bisa kamu menguap kalau makan sebanyak itu," omel Khoirul. Meskipun mulut pria itu terkesan tidak suka dengan cara makan Khadijah, tapi jarinya sibuk menekan layar ponselnya. Dia kemudian menghubungi customer service pesan antar dan menyebutkan pesanan Khadijah serinci mungkin tanpa ada yang terlupakan.
Khadijah tersenyum geli melihat tingkah suaminya. Dia membuka kembali laptopnya dan mengetikkan sesuatu. Dia bertekad harus lulus tahun ini tidak peduli bagaimana caranya.
Tiga puluh menit kemudian ...
Pesanan Khadijah sampai dengan selamat. Khoirul belum sepenuhnya duduk, wanita itu sudah mengambil makanan-makanannya. Tidak perlu banyak berbasa-basi, Khadijah mulai melahapnya.
Khoirul bukannya tidak berselera, dia hanya senang melihat Khadijah yang makan dengan lahap. Keisengan muncul. Pria itu memajukan wajahnya, "Satu suap dong."
"Makan sendiri, Pak," tolak Khadijah.
Belum sempat Khadijah memasukkan potongan pizza tersebut, Khoirul melahapnya dengan cepat.
Khadijah mendelik, "Bapak!"
"Hm, enak," gumam Khoirul.
"Ish, tukang serobot."
"Nggak apa-apa, punya istri sendiri."
Istri sendiri? Rasanya menggelitik hati Khadijah. Rona wajahnya bersemu merah, semakin merah ketika Khoirul mengusapnya.
"Manisnya," gumam Khoirul lagi.
Sial! Aku jadi deg-degan, batin Khadijah.
"Bapak suka sama saya?"
"Suka. Kalau nggak untuk apa saya menikahi kamu," jawab Khoirul enteng.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu bapak melamar saya? Minimal pendekatanlah. Saya selalu bertanya-tanya kenapa saya tiba-tiba harus menikah dengan dosen saya sendiri. Apa karena saya sering terlambat di mata kuliahnya atau karena dosen itu punya dendam pada saya. Sampai sekarangpun saya masih belum paham kenapa bapak bisa jadi suami saya," jelas Khadijah.
"Itu namanya takdir. Tanpa diduga dan tanpa direncanakan. Sekarang saya yang tanya, apa kamu menyesal menikah dengan saya?"
Khadijah diam. Sejujurnya sebagian hatinya bicara begitu. Dia masih terlalu muda untuk jadi istri orang apalagi dosennya sendiri. Tapi melihat bagaimana Khoirul menjaganya, dia jadi bersyukur karena mendapat suami yang bertanggungjawab.
Khoirul mendadak mempunyai firasat buruk, "Kamu menyesal." Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan.
Khadijah menghendikkan bahu, "Masih terlalu dini untuk mengatakan penyesalan, Pak."
"Saya minta maaf karena saya tiba-tiba menikahi kamu. Tapi percayalah, saya bukan ingin menghapus masa muda kamu. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik," jelas Khoirul.
Khadijah tersenyum kecut. Niat hati untuk menghabiskan pizza telah hilang karena pembicaraan itu. "Kita stop saja pembicaraan ini, Pak. Saya kurang nyaman."
"Baiklah. Selesaikan makanan kamu! Kita mulai lagi setelah saya dari kamar mandi."
"Em, baik."
Dua orang itu sama-sama belum bisa berdamai dengan hati masing-masing. Andai saja Khoirul mau menjelaskan apa yang terjadi, Khadijah pasti akan mengerti.
°°°
Paginya ...
"Nanti malam kita makan malam di rumah orangtua saya, Dijah. Kamu jangan kemana-mana setelah pulang dari kampus," ucap Khoirul.
Khadijah menegang. Dia baru sekali berinteraksi dengan keluarga Khoirul, itupun selama pesta pernikahan berlangsung. Setelahnya tidak ada pertemuan lagi. Khadijah pikir mereka tidak akan banyak berinteraksi karena memang tempat tinggal yang agak jauh. Dia belum mempersiapkan diri.
"Sepertinya saya mau belajar saja semalaman, Pak. Bapak pergi saja sendiri," elak Khadijah.
"No! Kamu harus ikut! Titik! Saya akan marah kalau kamu berlagak sibuk."
"Baiklah, kalau begitu."
°°°
Pukul 19.00 ...
"Kemana saja dia? Sudah lewat dari jam yang ditentukan. Apa dia benar-benar tidak mau menghargai saya?" sungut Khoirul dengan muka garangnya.
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Tita Puspita Dewi
hello dijah 25 loh.
2023-09-29
0